
"Apa ini...Hana"
Reymond menatap sebuah amplop putih lalu pandangannya beralih ke sekertarisnya.
"Surat pengunduran diri saya pak" ucap Hana menunduk.
".............." Reymond tak peduli dengan niat Hana mengundurkan diri dan kembali menandatangani berkas-berkas didepannya.
"Saya akan ke Sidney"
"Lalu..."
"Saya akan berhenti dari pekerjaan saya.
"Apa kau ingat kau berhutang sesuatu padaku.." Reymond meletakkan penanya lalu menatap sepasang manik coklat dihadapannya.
"I-itu...ak-saya..."
Reymond berdiri dari tempatnya dan mencekal kedua lengan Hana. "Katakan padaku Hana. Berapa lama lagi aku harus menunggumu, menunggu jawabanmu. Jawaban yang seharusnya kau jawab seminggu setelah kita pulang dari Bandung, kau ingat!" Teriak Reymond. Pria itu memandang keluar jendela kaca mencoba berpikir jernih tapi terlanjur keruh. Sedangkan Hana, menunduk takut.
__ADS_1
"Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan? Kau tahu seberapa frustasinya aku mencarimu? Kau tahu bagaimana rasanya mendengar kabarmu kecelakaan sedangkan aku berada di Bangkok waktu itu. Apalagi Eric bilang kau hilang dimalam itu juga?" Reymond menatap Hana yang masih menunduk. Pria itu tahu Hana menitikkan air mata tapi Reymond tak peduli.
"Aku melacak keberadaanmu, kau tahu___" kali ini Hana terkejut. Lalu kenapa Reymond tak melanjutkan pencariannya, kenapa dia tak menolong gadis itu jika tahu keberadaannya. "Tapi aku tak mungkin menerobos sistem keamanan seorang master mafìa" sambungnya.
"Apa!!" Suara Hana nyaris tak terdengar.
"Mitchel Gavind, orang yang menabrakmu secara tak sengaja, orang yang membawamu sampai ke LA dan dia juga yang merawat mu, mungkin hingga kau sadar" ucap Reymond sedikit ada nada kecewa di akhir kalimat.
"Aku masih belum mengerti"
"Mitchel yang menyelamatkanmu adalah seorang mafia Hana, kau tahu. Untuk itu aku tak bisa menerobos masuk untuk menyelamatkanmu bukan berarti aku seorang pengecut tapi keselamatanmu lah prioritas utamaku. Jika aku gegabah menyerang markas seorang mafia. Mungkin kita pulang hanya tinggal nama. Aku hanya sanggup mengawasimu dari jauh hingga aku tahu kau telah pulih dengan baik. Tapi__" Reymond menjeda kalimatnya. Pria itu mendekat menangkup kedua pipi Hana agar menatapnya. "Tapi setelah kepulanganmu kau mulai mengacuhkan aku, kau tak peduli dengan ku yang mencemaskanmu selama ini. Aku masih bersabar untuk menahanya apalagi dengan kabar duka yang menimpa ibumu. AKU SANGGUP BERSABAR UNTUK SEMUA ITU TAPI TIDAK UNTUK KEPERGIANMU KE SIDNEY!!
"Kau mengatakan itu semua demi mencegahku pergi, iya kan..." ucap Hana.
Wanita itu menggedor pintu dan berteriak meminta tolong.
"Teriaklah sesukamu hingga pita suaramu habis" ucap Reymond lalu duduk disofa menyulut malboro merah dan menghembuskan asapnya.
"Rey...kau merokok"
__ADS_1
"Apa pedulimu"
Hana merasa bersalah disini. Setidaknya ia ingin mencoba perkataan gurunya dikala ia masih SMA.
Jika suatu hubungan salah satunya menjadi batu yang keras, alangkah baiknya yang lain menjadi tanah lumpur. Maksudnya salah satu diantaranya haruslah mengalah. Jika tidak maka hancurlah suatu hubungan itu.
"Baiklah...aku memang yang salah disini. Maafkan aku yang mengacuhkanmu. Maaf tidak langsung memberimu kabar karena waktu itu aku langsung menuju rumah sakit dimana ibu dirawat. Dan untuk seseorang yang kau katakan sebagai mafia. Sepertinya aku tak percaya" ucap Hana membuat Reymond menoleh padanya.
"Jadi bisakah aku pulang sekarang"
"Pulang katamu...setelah semua perasaanku ini kau acuhkan dan mungkin kau sia-sia kan" ucap Reymond mencengkeram rahang Hana.
"Uhh...sa..kit.."
Reymond menjadi sisi yang gelap kejam dan tak berperasaan. Kali ini tangannya mencekik leher Hana. Gadis itu terdorong ke dinding. Reymond mencekiknya hingga tubuh Hana terangkat dan nafas gadis itu terputus-putus.
"Err..Rey...kau..menya..ki..tiku.." ucap Hana terbata.
__________________❤❤__________________
__ADS_1
maaf segini aja dulu ya. author lg kangen sm mitchel jd susah bwt fokus.