
Di tengah puncak acara, dimana sang pemilik Abraham Company sedang melakukan sambutannya di atas panggung, tiba-tiba sekelompok pria bersenjata masuk dan melepaskan peluru sebagai peringatan. Sontak semua tamu undangan berteriak ketakutan sambil menunduk meringkuk mencari perlindungan.
Tak satupun dari mereka yang tidak terkejut termasuk keluarga Abraham sendiri.
"Abraham, apa yang terjadi? Kenapa ada suara tembakan disini? Siapa mereka" tanya Yasmin panik.
"Ibu, Zaenab takut...?!" Ucap Zaenab memeluk ibunya erat.
Belum sempat Denis menghubungi polisi, sebuah senjata menyentuh pelipisnya.
"Jangan coba-coba bergerak atau peluru ini menembus kepalamu." ucap seseorang dengan suara beratnya.
"Siapa kau!!"
"Itu tak penting..." ucap pria dengan goresan luka di pipinya.
"Tuan Gavind..." kata Abraham menyadari seseorang melangkah mendekat ke arahnya. Terlihat jelas raut kecemasan yang tergambar di wajah Abraham.
"Kenapa kau gemetar Abraham. Apa kau melakukan kecurangan padaku?"
"Tidak. Tidak. Aku tidak melakukan kecurangan apapun. Ehm...tender itu..." saking gugupnya Abraham hampir tak bisa mengunci mulutnya.
Mitchel tersenyum devil. "Tender...? Aku bahkan sudah lupa jika aku punya tender besar dan itu dicuri secara terang-terangan didepan mataku."
Abraham bersimpuh. Melihat itu Denis tidak bisa tinggal diam melihat ayahnya harus bersimpuh didepan orang asing.
Denis berlari hendak memukul Mitchel tetapi anak buah Mitchel dengan sigap mencekal kedua tangannya. "Hei...lepaskan ayahku" teriak Denis memberontak. Yasmin dan Zaenab ketakutan apalagi dua orang pria berjas hitam menodongkan senjata kearahnya.
**
Satu jam sebelumnya...
Lima mobil berwarna hitam berhenti tidak jauh dari hotel. Hanya tinggal menunggu perintah maka mereka siap untuk menyergap target mereka. Salah seorang dari mereka terlihat menghubungi seseorang. Pria itu kemudian mengangguk dan memutuskan sambungan telponnya.
Di sisi lain...
"Kau bosan? Perlukah kita pulang sekarang?" Tanya Mitchel ketika pria itu memperhatikan Hana sedang menggembungkan kedua pipinya dan bersikap tak berselera menghadiri pesta. Tiba-tiba gadis itu berdiri membuat Mitchel terkejut.
"Aku butuh udara segar. Aku akan keluar sebentar."
"Hm...." Mitchel menahan lengan Hana dan gadis itu sontak berbalik dan membentur dada bidang Mitchel.
"Wuahh...romantis sekali mereka. Coba kau lihat pasangan yang disana. Mereka sangat serasi, benarkan?" seru beberapa tamu yang secara tidak sengaja memperhatikan Mitchel dan Hana. Mendengar komentar para tamu itu membuat pipi Hana merona merah dan segera melepas tangan Mitchel padanya tapi cekalan Mitchel semakin erat dibuatnya.
Mitchel mencondongkan wajahnya mendekat membuat pipi Hana semakin merona. "Jangan coba-coba mendekati pria lain atau aku akan membuat perhitungan denganmu" ucap Mitchel pelan.
Deg
Dengan kedua tangannya, Hana mendorong dada bidang Mitchel. "Apa kau penggemar CEO dingin yang menyiksa kekasih kontraknya?" Ucap Hana pada Mitchel.
Mitchel menyeringai lalu melepas cekalannya. "Jika kau tak mendengarnya maka akan ada hukuman untukmu" ucap Mitchel lagi.
"Iya, iya aku tahu" balas Hana lalu melangkah keluar.
Mitchel meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Tunggu perintah dariku" ucapnya kemudian.
"Aku akan menghancurkanmu sampai tak tersisa...karena aku sudah muak melihat senyum kemunafikanmu, Abraham..." ucap Mitchel saat melihat Abraham dan keluarganya menyambut para tamunya dengan kebahagiaan.
**
__ADS_1
"Apa kau tahu bahwa penerus dari Abraham Company pernah kecelakaan dan terjadi kebutaan pada kedua matanya. Rumor yang aku dengar Ceo Abraham melakukan segala cara untuk mengembalikan penglihatan putranya. Bahkan yang kotor sekalipun..."
"Benarkah? Kalaupun rumor itu benar kita bisa apa? Karena dia sebentar lagi akan menjadi bos kita selanjutnya"
"Hei...kalian tahu pendonor itu dengar-dengar dari rekan bisnis bos kita yang dari Jakarta. Apa kalian pernah dengar perusahaan Central Blue Sky?" Sebagian mereka menggelengkan kepala karena tidak ada yang mengenal perusahaan yang dimaksud.
Hana yang tadinya tak ingin mendengar kini menyimak pembicaraan orang-orang yang sedang membicarakan bos mereka, siapa sangka pembicaraan mereka menjadi bom waktu bagi mereka.
Gadis itu berjalan mendekat, hatinya bergemuruh mendengar nama perusahaan tempatnya bekerja dulu. Di tempat itu pula ia menemukan cinta sejatinya meski kini tak bisa bersama dengannya lagi.
"Kalian ? Apa yang kalian tahu dari perusahaan Central Blue Sky, huh?" tanya Hana menahan diri.
Seorang pria berkacamata bertanya, "Wow, gadis cantik darimana ini?"
"Ada yang bisa kami bantu nona manis" tanya pria bergigi tonggos dengan senyum mempesona.
"Atau dia kemari ingin...." ucap pria yang sedikit tampan mencoba meraih dagu Hana.
PLAKKK
Entah setan apa yang merasukinya hingga gadis itu menampar salah satu dari karyawan Abraham yang sedang merokok diluar ruangan itu. Pria itu terkejut karena tamparan yang dilayangkan Hana padanya.
"Dasar ****** !!! Berani sekali kau menamparku. Teman-teman pegangi dia, kita bisa menyewa kamar hotel sekalian disini dan bersenang-senang dengannya, ayo..." dua orang pria dari mereka siap memegang tangan Hana tapi suara bariton membuat mereka menoleh.
"Menyentuh wanitaku, berarti kalian siap kehilangan nyawa kalian!!!" suara Mitchel penuh ancaman bahkan Hana yang mendengarnya pun bergidik ngeri.
"Siapa kau berani mengganggu kami" tanya salah satu dari mereka.
Mitchel pun mendekati pria itu. "Aku yang akan mencabut nyawa kalian jika kalian berani menyentuhnya. Bahkan, menghancurkan perusahaan dan keluarga kalian pun aku mampu."
Mereka yang mendengar ancaman Mitchel pun terpaku. Mitchel meraih lengan Hana meninggalkan para karyawan Abraham.
Hana meringis kesakitan, "Lepaskan tanganku. Kau menyakitiku. Mitchel....!!"
Mitchel mendorong bahu Hana hingga membentur dinding. "Hana, bukannya aku sudah memperingatimu, jangan mendekati pria lain. Jika kau melakukannya maka aku sendiri yang akan menghukummu, kau ingat?"
Hana menunduk ketakutan. Sorot mata Mitchel yang tajam mengisyaratkan kekesalan padanya. Mitchel meraih dagu Hana agar gadis itu menatapnya. Hana pun menatap mata Mitchel, kini raut wajah Mitchel berubah lembut.
Cupp...
Mitchel mengecup kening gadisnya dan berkata, "Bawa kunci mobil ini dan tunggu aku disana, oke?" Mitchel mengusap pucuk kepala Hana. "Aku akan menyelesaikan beberapa urusan setelah itu kita bisa pulang. Ingat jangan kemana-mana sampai aku datang. Tunggu didalam mobil" sambungnya lagi.
Hana menatap kunci mobil yang ada di genggamannya lalu meraba keningnya yang dikecup oleh Mitchel.
"Dia itu?? Selalu seenaknya saja menciumku ! Sebal !!!" Hana menuju tempat parkir mobil sambil menghentakan kakinya kesal.
**
Saat ini pesta ulang tahun dan juga penyerahan kursi kepemimpinan Abraham Company harus berakhir sia-sia. Semua tamu yang hadir dipaksa untuk kembali kerumah mereka masing-masing. Jika tidak ada yang menurut dan bekerja sama anak buah Mitchel tidak segan-segan membunuhnya.
"Tuan Denis apakah kau tahu ayah Anda melakukan segala hal bahkan yang kotor sekalipun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan?" Tanya Mitchel pada putra Abraham dan melihat reaksi sang ayah apa yang akan dilakukannya.
Denis memberontak ketika cengkraman dibahunya semakin kuat. "Apa maksudmu !!"
Mitchel melempar berkas-berkas tentang operasi matanya di Indonesia beberapa bulan lalu. Denis meraih lembaran demi lembaran dan membacanya. Kedua matanya melebar tatkala membaca surat perjanjian antara Abraham, Norman Martin selaku ayah Reymond Martin dan Dokter bedah yang turut andil didalamnya.
Dengan menyusupkan kedua tangannya kedalam saku celana, Mitchel kembali berkata, "Dan busuknya lagi ayahmu menyusupkan mata-mata ke perusahaanku dan mencuri tender yang sedang ku kerjakan. Tapi sayangnya semua rencananya sudah ku gagalkan. Abraham Company besok pagi hanya tinggal namanya saja."
"Apa yang kau bicarakan. Suamiku tidak seperti yang kau katakan. Dia suami dan ayah yang baik untuk keluarganya" sela Yasmin membela Abraham.
__ADS_1
"Yang dikatakan ibuku benar. Ayahku tidak seperti itu. Dia sangat jujur dan pekerja keras jadi..." Zaenab pun turut membela sang ayah tapi ucapannya terpotong oleh Mitchel.
Seringaian terukir di wajah Mitchel. " Cih... nona manis apa belum jelas semua bukti yang mengarah ke ayahmu. Dan asal kau tahu, sekarang polisi sedang dalam perjalanan kemari untuk menangkap ayahmu dan orang-orang yang bekerja sama dengannya."
Zaenab membekap mulutnya rapat begitu juga dengan ibunya yang pingsan karena syok.
"Gerald, awasi mereka sampai polisi datang kemari. Aku ada urusan lain yang lebih penting" ucap Mitchel melangkah pergi.
"Siap Tuan" sahut Gerald.
"BRENGSEK KAU GAVIND " teriak Abraham tak terima seraya mengarahkan senjata pada Mitchel .
DORRR
Sebuah peluru melesat begitu cepat saat Abraham berhasil merebut senjata api dari anak buah Mitchel. Gerald mengarahkan senjatanya ke Abraham dan amunisi itu melukai betisnya. Membuat pria beranak dua itu berlutut dengan darah membanjiri celana hitamnya.
Zaenab berlari dan menopang tubuh Abraham. "Tidak....Ayah! Dasar kau Psycophat, brengsek! Manusia macam apa kau! Apa kau tidak punya belas kasihan! Huu...huu..." teriak Zaenab pada Gerald. Pria dingin itu tak peduli sejatinya dia tak memiliki rasa belas kasihan di lubuk hatinya.
Tepat ketika Mitchel meraih gagang pintu, suara sirine mobil polisi tiba di hotel. Sekali lagi Mitchel melirik ke arah Abraham yang merintih kesakitan akibat luka tembak.
"Aku sudah menebusnya Ayah. Meski ingin sekali membunuhnya dengan kedua tanganku tapi ada seseorang yang mencegahku melakukannya" ungkap Mitchel dalam hati.
"Kuserahkan padamu komisaris Marco!" Kata Mitchel ketika bertemu dengan salah satu pihak berwajib itu.
"Terima kasih atas kerja samanya" balas Marco menjabat tangan Mitchel.
**
Tok tok tok
Mitchel mengetuk kaca mobil tepat disamping kursi kemudi. Terlihat gadis itu sempat tertidur didalam mobil karena menunggu Mitchel terlalu lama. Mitchel tersenyum geli melihat Hana meringkuk seperti kelinci kedinginan.
"Hei, kenapa kau menguncinya?"
"Ouh kau sudah kembali. Masuklah. Aku takut ada orang jahat menculikku lagi maka dari itu aku menguncinya. Lagi pula kau sangat lama sampai-sampai aku tertidur begini, huaaah" sahut Hana panjang lebar.
Mobil pun melaju namun ada yang aneh menurut Hana. Karena arah kemudi terkadang sedikit berbelok ke kiri lalu ke kanan secara tiba-tiba. Hana memegang pundak Mitchel dan pria itu merintih pelan.
"Kau sakit?"
"Hanya luka kecil. Aku masih bisa menahannya" ucap Mitchel sambil tersenyum. Padahal saat berjabat tangan dengan komisaris Marco dia sempat mengaduh karena Marco meremas pundaknya dengan bangga karena dapat membantunya menangkap Ceo Abraham Company.
"Jangan berbohong padaku" Hana merasakan bahu Mitchel basah dan lengket.
"Argh...ini darah. Kau berdarah Mitchel. Sebelah mana yang sakit" teriak Hana panik sambil memeriksa tubuh Mitchel.
"Hei... hentikan. Apa yang kau lakukan Hana. Apa kau tak melihat aku sedang mengemudi, huh?"
Hening
Mitchel menghembuskan nafas pelan. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud kasar hanya saja____kau lihat sendiri kan aku sedang menyetir?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Kita ke rumah sakit dan mengobati lukamu."
"Baiklah, Nona Rayhana" Balas Mitchel. Hatinya berdebar-debar kali ini karena ini pertama kalinya Hana memperdulikannya.
"Apa perlu membuat diriku sakit agar kau mau peduli denganku? Ah...senangnya" bathin Mitchel berbicara.
"Kau sangat menyeramkan saat tersenyum sendiri seperti sekarang Tuan Mitchel Gavind? Aku___jadi takut padamu" ucap Hana mencengkeram sabuk pengaman dengan kuat.
__ADS_1
"Itu karena aku jatuh cinta padamu___"