
Flashback
"DIAM....... !!!
"huuu...huuu..huuu, paman aku ingin pulang..huu...huuuu, aku takut...biarkan aku pulang" tangis Hana kecil. Tangan dan kakinya di ikat, dia beringsut di pojokan.
"Jika masih berisik aku akan melemparmu jadi santapan buaya" teriak pria brewok kemudian mengunci pintu dari luar.
Hana kecil semakin menangis ketakutan mendengar teriakan si penculik.
"Ssst...diamlah...kita pasti akan selamat" ujar seorang anak laki-laki yang usianya tiga tahun lebih tua dari Hana.
"Aku takut...aku mau mami..hik..hik" Isak Hana kecil berurai air mata.
Dia tidak tahu dimana dia berada. Ketika membuka mata, Hana kecil sudah berada diruangan yang begitu asing dan ia merasa sulit bergerak rupanya tangan serta kakinya telah terikat. Matanya mengedarkan sekelilingnya.
Dia terkejut bahwa bukan dirinya sendiri yang berada di ruangan pengap melainkan ada sembilan anak seusianya dan kondisi atapnya rusak parah. Banyak meja dan kursi rusak bertumpuk tak beraturan. Penuh debu bersarang dijendela yang pecah
Tengah malam tiba, seorang anak lelaki mengambil pecahan kaca dibawah jendela. Sebisa mungkin dia tak menimbulkan suara kalau tidak usahannya dua hari ini akan sia-sia. Sebelumnya dia mencoba pura-pura sakit perut agar bisa mengelabui para penculik itu tapi nahas, pukulan dan tendangan yang ia peroleh.
Seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun yang pemberani. Digeseknya pecahan kaca itu ke tali yang mengikat kedua tangannya. Sesekali matanya menatap ke arah pintu. Berharap nasib baik berpihak padanya. Tangan kecilnya gemetar ketakutan, takut kalau usaha pelariannya kali ini akan diketahui oleh para penculik itu lagi dan yang pasti resiko yang ia terima pun tak terelakkan.
Untuk beberapa saat tali yang mengikat di tangannya berhasil lepas. Kemudian dengan cepat ia melepas ikatan dikakinya. Dan berhasil. Dia menolong anak-anak yang lain sambil mengisyaratkan kepada mereka agar tidak membuat suara.
Di luar ruangan, dua orang penculik tengah konsentrasi dengan permainan caturnya. Dan seorang lagi yang diketahui adalah bosnya sedang terlelap tidur. Esok pagi mereka berencana akan membawa kesepuluh anak itu akan dikirim ke Batam. Yang pasti hasil yang mereka peroleh jauh lebih banyak dari pada membuat kesepuluh anak itu menjadi budak pengemis yang berujung diringkus satpol PP.
Sambil berbisik, anak-anak yang sudah tak terikat kaki dan tangannya itu mulai mengangkat meja yang rusak kemudian diangkat ke belakang pintu sebagai pengganjal.
"Ingatlah teman, karena aku baru mengenal kalian jadi ku anggap kalian sebagai teman baru ku, ok?" Kata Rangga kecil yang pemberani itu.
Semua anak-anak termasuk Hana kecil pun menggangguk. "Jadi setelah keluar melalui jendela itu, berlarilah, selamatkan diri kalian". Rangga kecil membuka pengait jendela yang telah berkarat dan tertutup debu. Sebelah tangannya menyangga daun jendela agar terbuka dan membiarkan teman-temannya keluar membebaskan diri. Perlahan namun pasti sudah empat orang anak yang berhasil keluar. Tiga orang lagi menyusul melompati jendela.
__ADS_1
Kini tersisa dua orang gadis kecil salah satunya Hana dan Rangga, seorang anak lelaki yang sedang menyangga jendela. Tangannya tak sanggup menahan lebih lama, karena cidera yang ia terima dari tendangan si penculik semakin membuatnya meringis kesakitan.
"Cepatlah__ahh__aku tak sanggup menahan lebih lama" suaranya melemah.
Hana kecil mencoba mengangkat tubuhnya yang gemetar ke bibir jendela namun gagal. Mencoba lagi hingga kakinya menginjak pecahan kaca yang menimbulkan suara yang keras dan bersyukur ia masih mengenakan sepatu. Tapi bunyi pecahan kaca menimbulkan kecurigaan, sontak kedua penculik yang sedang fokus dengan pion catur pun melebarkan pendengarannya. Apalagi terdengar bisik-bisik kepanikan didalamnya. Derap langkah seseorang dari luar pintu membuat ketiga tubuh anak kecil yang masih diruangan itu menegang seketika.
"Cepatlah___mereka sudah mengetahuinya!!teriak Rangga tanpa suara.
Seorang anak perempuan yang entah siapa namanya langsung mengangkat tubuh Hana ke bibir jendela. Mendorong tubuh mungilnya sampai ia terjerembab ke semak-semak. Hana kecil pun berlari.
Cklek....cklekk
Pintu terbuka perlahan namun berat seperti ada yang mengganjal.
"Ayo cepat___" seru Rangga.
Ketika tiba gilirannya untuk keluar si penculik mendobrak paksa daun pintu hingga terjungkal lah pengganjal dibelakangnya. Para penculik itu murka dengan langkah cepat menarik paksa sebelah kaki Rangga kecil__
Flashback end
**
"Aku lelah, aku akan ke kamar ku" raut wajah Intan seketika sendu mendapat pesan dari seseorang, kemudian ia beranjak ke kamarnya untuk menenangkan diri.
Eric dan Hana memperhatikan sekilas perubahan Intan sedangkan Reymond melirik sebentar lalu pandangannya kembali fokus pada game-nya.
"Jadi bagaimana? Apa weekendnya dibatalkan?" Reymond bertanya ketika Hana melewatinya untuk pergi ke kamar namun pandangannya tetap fokus dengan Hero-nya.
Hana menghela nafas, ia baru tahu bosnya adalah seorang gamer ML disela-sela kesibukkannya. Bos lain mungkin akan berada di club malam mencari kesenangannya. Sedangkan yang dihadapannya ini malah bermain game. Hana terpaku begitu lama dengan lamunannya, hingga Reymond menoleh kearahnya dan mengulangi pertanyaanya.
"Jadi bagaimana? Apa weekendnya dibatalkan?" Reymond menclose power diponselnya.
__ADS_1
"Sepertinya pulang ke Jakarta lebih baik, bukankah urusanmu di perkebunan sudah selesai, sir?"
Reymond mengeryitkan alisnya. "Iya memang sudar beres, membatalkan weekend apakah pilihan mu yang tepat?" Reymond kembali bertanya dan mengikuti Hana ke kamarnya. Hana menjawab dengan deheman tanpa menoleh ke arah seseorang yang menahan kekesalannya.
Eric mendengus. "Apa kalian berdua menganggapku makhluk astral, dan meninggalkanku sendiri disini tanpa ada yang menemani?" Ucapan drama dari Eric membuat Hana dan Reymond menoleh.
"Selamat malam Eric dan maaf aku ingin istirahat" ujar Hana dan Eric pun tersenyum mendengarnya.
"Ck. Bukankah sudah ada yang menemanimu" Reymond menimpali seraya memeluk erat pinggang Hana dan melangkah masuk ke kamar.
"Siapa...siapa..." Ucap Eric menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapa pun. Reymond terkekeh.
"Hei...dari sekian kamar yang ada kenapa kalian masuk ke kamar yang sama, kalian belum halal ingat" seru Eric kesal.
"Aku tak melakukan apapun padanya Ric, dia tidur ranjangnya dan aku di sofa. Puas!" Hana ikut kesal dengan perkataan Eric.
"Apa aku tak salah dengar. Wanita tidur sofa dan kamu paman tidur diran___"
"Bukan urusanmu dia dan aku tidur dimana" Reymond menarik lengan kanan Hana posessive.
Eric menyesap kembali tehnya yang ternyata telah kosong. "Sial" geramnya. Eric ke dapur merebus air untuk membuat teh kembali. Cuacanya semakin malam semakin dingin. Bibirnya menggigil sampai-sampai terdengar bunyi gigi yang saling gemeletuk.
Tiba-tiba tengkuknya terasa dingin, seperti ada yang sedang meniup-niupnya dari belakang. Seketika halusinasi tentang villa berhantu yang pernah ia tonton di laptopnya membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan keberaniannya ia menoleh perlahan ke belakang. Oh tidak! Tubuhnya semakin menegang ketika tak ada siapapun di belakang. Kemudian ia menoleh ke depan hendak mematikan kompor, apalah daya wajahnya seketika memucat ketika melihat sosok dihadapannya. Eric limbung dan tak sadarkan diri.
"Eric...Eric..ya ampun dia pingsan" Hana memperbaiki maskernya yang sedikit terlepas di pipi akibat tawanya yang menggelegar lalu mematikan kompor.
"Ada apa, aku mendengar suara berisik di dapur" Reymond tergopoh-gopoh menuruni anak tangga. "Ada apa dengan Eric, dia pingsan? Tanyanya lagi.
Hana tertawa geli kemudian dia menceritakan apa yang terjadi. Reymond hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan sifat jahil sekretarisnya ini.
Reymond mengecup kening Hana sekilas kemudian mengangkat tubuh Eric dan memindahkannya ke kamarnya. Hana mengikuti dari belakang.
__ADS_1
____________________❤❤__________________