
"Senang rasanya akhirnya waktu yang kita nantikan telah tiba. Pasti Shizuka membuat model pakaian tradisional yang unik, sederhana, dan paling penting adalah bahannya yang kuat. Sehingga bernilai ekonomis," ucap Rona berjalan mendahului Alda dan Wilda.
"Eh coba lihat! Kenapa ada banyak orang ya?" Alda terheran.
Mereka mendekati kerumunan itu. Ternyata toko Shizuka sedang dikosongkan. Seluruh properti di dalamnya ditaruh ke mobil pick up bewarna putih. Rona masuk ke toko itu memerhatikan dengan dekat. Di dalam juga ada Cika karyawan Shizuka. Ia tampak bersedih. Rona menyapanya dengan ragu.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengambil segala properti di toko Shizuka?"
Cika tak menjawab.
"Tolong kalian segera keluar. Toko ini akan kami kunci. Tolonglah jangan mempersulit pekerjaan kami," ucapnya sambil membawa beberapa kardus besar.
Mereka berdua keluar.
"Apa yang terjadi sih? Shizuka mana ya? Kok gak kelihatan?" Tanya Alda seraya merapikan rambutnya.
"Dia tidak ada di sini ya?" Tanya Wilda penasaran.
"Bagaimana dengan kerja sama kita ya?" Tanya Alda menatap Cika yang masih menangis.
"Apa kalian akan terus memikirkan pesanan kalian? Shizuka telah diusir dari desa ini. Dia menderita. Senyuman di wajahnya juga menghilang. Warga di sini menghapus mimpinya. Kenapa kalian masih membahas pesanan hah? Kalian kemari hanya untuk itu saja kan. Sekarang pergilah dari sini," ucap Cika mendorong Wilda dan dua lainnya yang berdiri di dekatnya.
"Tunggu! Saya gak salah dengar kah? Shizuka diusir? Kamu becanda kan?" ucap Rona mengguncangkan badan Cika.
"Saya sudah bilang kan bahwa Shizuka tidak ada di sini lagi. Dia sudah meninggalkan aku, toko, rumahnya, serta impiannya untuk jadi desainer hebat," jawab Cika dengan nada suara serak.
"Kasihan banget Shizuka. Terus sekarang dia dimana?"
"Saya gak tahu."
"Kenapa bisa dia diusir? Bukankah dia telah berjasa untuk desa ini?" Ucap Wilda melihat pamflet toko Shizuka yang sedang diturunkan dari atas pintu toko Shizuka.
"Saya rasa ini kekeliruan. Atas dasar apa dia diusir. Pasti ini kesalahpahaman saja. Ayo kita cari Shizuka," ucap Rona mengajak Alda, Wilda, dan Cika mencari Shizuka.
"Mau cari kemana hah? Sementara desa sangat banyak. Ada 36 desa di Kecamatan Meranti. Saya rasa kita tak bisa bertemu dengannya lagi," lirih Cika.
"Iya juga sih. Tapi jangan menyerah dulu. Kita bisa tanya pada warga atau Kades tentang Shizuka," usul Wilda menaikkan alisnya.
"Toko Shizuka telah ditutup. Sekarang toko ini tidak akan beroperasi lagi. Jadi semuanya tolong bubar," ucap Zulmansyah memegang kunci toko.
"Halo permisi pak!" Ucap Wilda menyapanya dengan lembut.
"Iya. Ada apa ya?"
"Perkenalkan saya Wilda dari perusahaan 'Elvis Presley'."
"Apa yang dilakukannya?" Gumam Rona menghampiri mereka.
"Saya Zulmansyah bekerja di kantor desa bagian sekretaris."
"Senang bisa bertemu dengan bapak di sini. Saya butuh bantuan bapak. Apakah bapak keberatan?"
"Bantuan? Apa yang bisa saya bantu nak? Jika saya bisa, saya akan membantu. Katakan saja nak!"
"Saya ini temannya Shizuka."
"Teman Shizuka? Kenapa bisa kalian saling kenal?" Ucapnya kaget.
"Shizuka baik pak. Saya dan teman saya menyukai desainnya. Jadi kami ke sini ingin melihat pakaian tema tradisional yang telah kami order sebelumnya."
"Wah sayang sekali nak. Shizuka tidak di sini lagi."
"Kalau boleh tahu dia dimana ya pak?"
"Saya gak tahu nak. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum!" Ucapnya berjalan dengan tergesa-gesa.
"Tidak dapat percaya. Kenapa gak ada satu pun yang tahu Shizuka dimana?"
"Cika apa tidak sebaiknya kita bawa perkara ini ke meja hijau saja?"
"Gila kamu Wilda. Kalau masalah ini sampai ke polisi. Desa ini akan buruk dipandang masyarakat. Terus kalau Kades dan warga-warga tahu bahwa saya yang membawa masalah ini ke polisi, saya bisa kena bullying," ujar Cika.
"Tapi kalau kita diam saja, Shizuka akan semakin buruk imagenya dihadapan semua orang. Terus sekarang saja Shizuka menghilang. Lalu toko ini pun sudah ditutup. Apakah kita harus tetap bungkam?"
"Saya takut nanti masalahnya makin besar."
"Kamu jangan khawatir. Nanti nama pelapornya bikin saja nama saya."
"Apa saya gak salah dengar? Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?"
"Iya Wilda. Kamu juga bekerja di perusahaan ternama di Kota Yosaka. Apa tidak beresiko?"
"Kamu malah ikutan cemas Rona. Halo Cika dan Rona! Kalian jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Tugas kita sekarang adalah menyelamatkan Shizuka dan Zeexsa. Jika nama Shizuka sudah bersih kita pun akan ikut bahagia karena bisa berkumpul dengannya lagi."
"Baiklah kalau kamu sudah se-yakin itu," ucap Rona terpaksa.
"Kalian harus semangat oke! Ayo sekarang kita ke kantor polisi!"
...****************...
__ADS_1
"Susah banget sih atur jadwal untuk bertemu Vikram. Mama juga gak mau izinin aku bersamanya. Lagian sih Vikram gak mau datang ke rumah. Jadi susah kan sekarang."
"Debi potong sayur sana. Mama mau menumis Kangkung. Tolong jangan lupa kamu ambilkan daun bawang di tempat pamanmu," ucap Herlina yang baru saja melintas dari kamar Debi.
Debi bangkit dari tempatnya berbaring. Ia keluar kamar dengan berjalan agak pelan. Mama ya kembali memanggilnya lagi saat hendak menuruni tangga rumah. Ia berbalik arah menghadap mamanya yang memegang beberapa kain. Debi terkesima.
"Wah baju siapa ini bu? Kenapa ibu gak bilang punya baju-baju sebagus ini? Coba aku lihat!"
"Ibu suruh kamu tadi ngapain? Ngambil Daun bawang kan?"
"Tapi tadi ibu manggil aku. Makanya aku belum pergi. Terus ini baju siapa bu? Sini aku lihat dulu."
"Ini bukan baju ibu. Ibu lupa bilang ke kamu. Ini adalah baju-baju dari Shizuka."
"Kenapa bisa sama ibu? Ibu kan gak suka sama Shizuka. Apalagi baju buatannya."
"Ibu dapat ini dari Ibu Karla. Dia kan suka jahit baju di sana. Jadi Ibu mau lihat baju buatannya. Ni kamu hantarkan ke rumah Bu Karla. Ambil plastiknya di dapur ya. Jangan lupa daun bawangnya!" Ujar Herlina memberikan tiga gamis kepada Debi.
"Bu aku mau tanya tentang ayah. Apakah benar ayah tidak kembali ke rumah karena ayah mencintai ibunya Shizuka? Apakah ayah tidak merindukan kami?"
Herlina terpaku.
"Ayah Shizuka itu adalah ayah kami bu. Apakah kami saudara tiri?"
Herlina merangkul Debi dan berkata, "Nak ini adalah masa sulit untuk kamu dan abang mu. Ibu juga sama seperti kalian. Tak percaya kenyataan yang sebenarnya. Ibu pun juga tak bisa menerima Shizuka dan Zeexsa hadir dihadapan kita. Makanya Ibu putuskan membawa perkara ini ke Kades. Agar semua orang tahu betapa menjijikkannya perilaku ibu dan anaknya itu."
"Tapi Shizuka dan Zeexsa hanya diusir bu. Mereka masih menghirup udara segar. Semestinya mereka musnah dari muka bumi ini."
"Nak kamu bersabarlah kita akan membuat kedua kakak beradik itu menyesali perbuatannya karena telah menghancurkan kehidupan kita. Sekarang mereka pasti jadi gelandangan."
"Aku juga senang bu. Semoga mereka tidak kembali lagi ke desa ini."
"Jika mereka kembali, ibu akan buat mereka menyesalinya."
"Terus kapan ayah pulang bu? Dimana ayah sekarang bu?"
"Ibu tidak tahu nak. Tidak ada kabar tentang ayahmu. Kamu jangan pikirin itu ya. Ibu janji akan membawa ayahmu pulang ke rumah kita," ucap Herlina memegang bahu anaknya seraya tersenyum.
"Baiklah bu. Aku ke rumah Bu Karla dan ke kebun paman dulu ya ma!"
"Iya nak."
...****************...
"Apakah kalian tahu dimana Shizuka dan Zeexsa terakhir berada?" Ucap polisi yang bernama Endi.
"Saya melihatnya di teras rumahnya pak. Tapi setelah itu saya tak melihatnya lagi," ucap Cika.
"Apakah dia punya musuh?"
"Sebenarnya sih tidak ada pak. Hanya saja warga desa saat itu saya lihat sedang melakukan demonstrasi di rumah Shizuka. Mereka beramai-ramai di sana. termasuk kepala desa juga ada di sana. Saya tidak tahu sumber masalahnya apa pak. Menurut pendapat saya pasti ini berkaitan dengan seseorang yang membenci Shizuka dan juga Zeexsa karena toko Shizuka pun sampai ditutup," Tambah Cika dengan percaya diri.
"Baiklah saya akan membuat kasus laporan ini terlebih dahulu."
"Terima kasih pak. Tolong cari Shizuka dan Zeexsa ya pak. Mereka tidak punya siapa-siapa. Saya takut terjadi sesuatu kepada mereka," ucap Cika.
"Kami tunggu informasinya dari bapak. Terima kasih pak!" Ujar Rona bangkit dari kursinya.
"Iya. Saya akan mengabari kalian jika ada kabar tentang Shizuka dan Zeexsa."
"Kasihan ya Shizuka dan Zeexsa. Sekarang pasti mereka lapar dan bingung tinggal dimana," ucap Cika menyeret kakinya.
Dering ponsel dengan lagu "Red" dari Taylor Swift.
"Aduh Pak Faiz menelpon!"
"Angkat aja Alda," perintah Rona.
"Aku pasti dimarahi. Aku yang bertanggung jawab atas desain pakaian tradisional ini. Bagaimana ini?"
"Gak usah diangkat aja," ucap Wilda.
"Angkat aja Alda. Kamu mau dapat hukuman?" Ujar Rona geram.
"Oke!" Jawab Alda menarik napas panjang.
"Halo pak! Iya pak saya akan ke sana secepatnya."
Alda pucat. Ia kembali mengatur napas lagi. Rona dan Wilda penasaran dengan ucapan Faiz. Mereka menanyai Alda. Alda masih syok. Sehingga mereka pun memanggil taksi dan pamit kepada Cika.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rona saat berada di taksi.
"Bos bilang klien telah menanti kita lama. Jadi mereka pun pergi begitu saja. Terus bos bilang padaku bahwa aku harus bertanggung jawab karena tidak hadir rapat tadi pagi."
"Jangan takut ya Alda. Kami akan membantu mu," Ucap Rona menatap Wilda yang juga sependapat dengannya.
Sesampai di sana mereka bertiga menatap Salwa dan Kartika sedang duduk di taman yang berada di seberang perusahaan.
"Beres itu pak! Bapak percayakan saja sama kami agar desain mengenai pakaian tema Ibu Kartini yang bapak inginkan dapat selesai dengan cepat."
__ADS_1
"Nama kamu siapa?"
"Nama saya Kartika pak!"
"Itukan klien kita. Pak Sultan," ucap Alda menunjuk kliennya.
"Ayo kita ke sana!" Ucap Rona.
"Jadi bagaimana kalau bapak kembali menandatangani perjanjian kontrak dengan perusahaan kami lagi pak? Bapak pasti tak menyesal deh!" Bujuk Salwa dengan ramah.
"Baiklah. Dimana saya akan menandatanganinya?"
"Sebentar pak saya ambil dulu map-nya! Ini pak tolong tanda tangan di sini!" Tunjuk Salwa di kertas bermaterai.
"Saya harap kontrak kita ini berjalan dengan lancar. Oh ya kamu ya yang ambil ahli untuk desain pakaian yang saya tentukan tadi ya."
"Wah dengan senang hati pak. Saya akan menjaga kepercayaan bapak!"
"Kalau begitu saya permisi dulu!"
Asisten Sultan mendampinginya berjalan.
"Sungguh kerja sama yang menyenangkan ya Salwa. Jika kita dapat mengambil hati Pak Sultan, maka kita bisa naik jabatan dengan cepat!" Ujar Kartika terbahak-bahak menatap Sultan yang masuk ke mobil sedan merah.
"Yupz ini adalah harta karun yang aku impikan!" Ujar Salwa menepuk pundak Kartika.
"Pak Sultan sudah pergi. Kita telat. Ya sudahlah kita temui Pak Faiz aja dulu."
"Iya Alda."
"Hei Alda!" Teriak Kartika mengejarnya.
"Kemana aja kamu? Bukankah kamu yang mengambil tanggung jawab besar ini? Akibat kecerobohan mu hampir saja kita kehilangan kerja sama dengan pak Sultan."
"Kamu harus berterima kasih pada kami berdua," ucap Salwa tersipu malu.
"Tahukah kalian apa yang terjadi?"
"Eh Kartika sepertinya gak seru kalau bilangnya di sini. Lebih baik kita masuk ke dalam dan mengatakan kabar gembira ini pada pak Faiz."
"Kabar gembira apa?" Tanya Wilda.
"Nanti kalian juga mengetahuinya," jawab Kartika melangkah masuk ke perusahaan Elvis Presley.
"Haikal kamu tahu bahwa perusahan Yoshiki itu adalah perusahaan besar. Kenapa kamu tidak mengawasi kinerja karyawan yang bertanggung jawab di bidang desain itu?"
"Maafkan saya pak. Saya akan memperbaiki segalanya."
"Memperbaiki apa? Pak Sultan telah pergi dengan rasa kecewa. Apa kamu gak sadar itu?"
"Permisi pak!" Ucap Alda seraya mengetuk pintu.
"Nah ini orang yang gak bertanggung jawab itu."
"Permisi pak! Saya punya kabar baik pak."
"Kabar baik apa?" Tanya Faiz heran.
"Kita akan melakukan kerja sama dengan perusahaan Yoshiki pak. Pak Sultan juga telah menandatangani kontrak kerja samanya."
Faiz tersenyum bahagia.
"Bagaimana bisa?" Tanya Haikal.
"Kami berdua mengejar pak Sultan setelah selesai rapat tadi. Kemudian kami mengajaknya ke taman di depan perusahaan kita. Setelah membujuknya dengan sabar secara terus-menerus sehingga kami berhasil mendapatkan kepercayaan darinya. Namun yang bertanggung jawab atas proyek ini adalah kami berdua pak."
"Why? Saya adalah bagian desain di perusahaan. Kenapa kamu yang mengambil ahli pekerjaan saya?"
"Diam kamu Alda!" Bentak Faiz.
"Maaf ya Alda. Saya melakukan semua ini demi perusahaan. Jika saya tidak segera mengambil langkah ini. Barangkali perusahaan kita akan rugi besar."
"Benar kata Kartika. Seharusnya kalian malu karena tak menepati janji kalian dalam menangani proyek ini."
"Kemana saja kamu hah Alda? Kamu lupa ya pagi tadi ada rapat dengan perusahaan Yoshiki?"
"Saya minta maaf pak," ucap Alda merasa bersalah.
"Semestinya kalian berterima kasih kepada Kartika dan Salwa karena Pak Sultan masih melanjutkan kerja sama dengan perusahaan kita."
Alda, Rona, dan Wilda menatap Salwa dan Kartika.
"Ya sudah kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Saya tidak mau ini terulang lagi. Paham kalian?"
"Iya pak!" Jawab Alda, Rona, dan Wilda serentak.
"Kalian juga Haikal, Salwa, dan Kartika jangan melakukan kesalahan seperti teman kalian ini," ucap Faiz menatap Alda, Rona, dan Wilda.
"Baik pak!" Ujar Haikal dengan tegas.
__ADS_1
Kartika dan Salwa mengangguk dan melirik ketiga wajah bagian desainer sambil tersenyum.