
"Pa, Alfi belum juga pulang. Seharusnya kemarin dia sudah pulang. Dimana Alfi pa? Apakah Alfi dicuri pak? Dia kan anak semata wayang kita dan semua orang tau Alfi dari keluarga terpandang. Dia pasti disekap pa.'
"Kamu jangan bicara seperti itu dong ma. Kita tunggu aja kabar dari polisi. Mereka pasti menemukan Alfi. Sekarang saya pergi ke kantor dulu ya ma. Ada kasus baru!"
"Papa ini bagaimana sih? Alfi hilang. Tapi masih peduli pekerjaan papa. Seharusnya sekarang kita mencari Alfi pa."
"Bukan begitu ma. Ini darurat. Papa sebagai kepala desa harus profesional dong ma. Ini terkait dengan warga kampung kita. Setelah selesai bekerja nanti, kita akan mencari Alfi."
"Gak mau! Pokoknya papa harus ikut sama mama mencari Alfi. Papa minta aja karyawan papa atau siapalah untuk gantiin tugas papa dulu."
"Tidak bisa ma! Kalau papa bekerjanya seperti itu, warga desa bisa menilai papa buruk nanti. Papa janji akan cari Alfi ma. Mama jangan khawatir ya!"
Mina mengalami tangan suaminya dengan wajah cemberut.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab Yoman dan Mina bersamaan.
"Anu pak Kades, warga-warga sekarang ribut di rumah Shizuka. Kita harus cepat pak karena warga desa tampak emosi. Mereka sepertinya ingin mengusir Shizuka dan adiknya dari kampung kita," ucap Manaf panik.
"Ayo-ayo kita segera ke sana!" Sambung Yoman menatap Mina yang masih cuek.
"Kenapa warga benci dengan Shizuka? Apa yang terjadi? Hah bodoh amat mending saya mencari Alfi saja," gumamnya berlari mengunci pintu rumahnya.
"Bu kades! Apakah mau ikut ke rumah Shizuka juga? Tanya Rosida dari sebelah rumahnya.
"Saya tidak ke sana Bu. Saya ada urusan lain," ucapnya dengan senyuman singkat.
"Shizuka pasti diusir bu karena si Herlina ternyata punya masa lalu kelam yang ada hubungannya dengan orang tua Shizuka."
"Serius kamu? Emang masalahnya apa ya? Kenapa semua orang mendiskriminasi Shizuka dan adiknya? Apakah itu masalah besar?"
"Saya belum tahu Bu. Kemarin Herlina berdebat panjang dengan si Zeexsa di kebun si Usman. Mereka disaksikan banyak orang di sana. Termasuk saya. Saya dengar kata si Herlina bahwa mereka berdua itu anak haram. Menurut pendapat saya sih ya Bu, bisa jadi ayah mereka itu adalah suami si Herlina."
"Hus ngawur kamu. Mana mungkin suami Herlina itu ayah mereka. Kan kita gak pernah tu lihat kedekatan suami Herlina dengan keluarga Shizuka. Suami Herlina juga misterius. Jarang ada di rumah dan gak pernah akrab dengan warga kampung kita."
"Makanya saya juga bingung. Ini saya mau ke sana dulu Bu. Agar saya tahu kebenarannya. Saya ke sana dulu ya bu. Entar telat dapat informasi," ucap Rosida pamit.
"Berita hangat juga tu. Tak ada salahnya aku ke sana dulu sebentar. Mengenai Alfi, saya akan mencarinya setelah itu," gumamnya.
"Eh Rosida tunggu saya," teriak Mina.
Rosida berhenti. Ia menanti Mina dengan terheran. Lalu setelah Mina telah berada di hadapannya, ia bertanya padanya tentang menghentikan langkahnya.
"Kenapa Bu Kades? Saya terburu-buru ini. Takut ketinggalan informasi."
"Saya juga mau tahu informasinya."
"Tapi tadi kata Bu Kades ada urusan yang sangat penting!"
"Iya. Tapi saya penasaran dengan masalah si Herlina bersama keluarga Shizuka itu. Ayo kita segera ke sana," ucap Mina.
Dipertengahan jalan, Alfi berpapasan dengan ibunya. Mina tak melihat Alfi yang melintas dengan hondanya. Ia dan Rosida berjalan dengan terburu-buru. langkah kaki mereka juga seiring. Tak beberapa lama kemudian, Herlina juga bertemu dengan Mina dan Rosida. Mereka bertemu di depan lorong rumah Shizuka. Herlina menyapa Mina dengan akrab. Namun Mina hanya tersenyum singkat.
Rosida mengucapkan belas kasihnya atas sikap keluarga Shizuka yang menyakiti perasaan Herlina. Dia juga menambahkan tentang laki-laki yang disebut Herlina sebagai ayahnya Shizuka dan Zeexsa. Ia mengatakan bahwa laki-laki itu tidak beruntung karena memilih ibunya Shizuka dan Zeexsa. Setelah itu ia dan Mina ikut berkerumun bersama warga lainnya.
Herlina berjalan dengan santai sambil mencari seseorang. Tampaknya dia juga telah merencanakan sesuatu. Tetapi sampai saat itu, tak seorang pun yang tahu. Ia terus melangkah menghampiri Shizuka dan Zeexsa yang sedang ditarik paksa oleh beberapa warga. Di sana ia tersenyum lebar menatap kedua perempuan yang merupakan penyebab hatinya tak tenang selama ini.
"Huf akhirnya aku sampai juga," ucap Debi dengan napas tersengal-sengal.
"Kamu juga di sini Debi. Benaran ya informasi itu? Ayah kamu direbut oleh ibu mereka?" Ujar Nelsa.
"Aku gak tahu. Tapi sepertinya itu benar juga. Ayo kita lihat mereka! Ucap Debi.
"Bu!" Bisik anak muda berpakaian seperti aktor film.
Herlina menoleh padanya.
Anak muda menatap wajah Herlina. Kemudian keduanya saling mengedipkan mata dan mengangguk. Lalu anak muda itu tiba-tiba saja meraih tangan Shizuka. Semua orang terheran karena Shizuka diam saja dibawa olehnya.
"Siapa dia?" ucap Rosidah dari kejauhan.
"Lihat dia sama persis dengan ibunya. Siapa pun dia rayu. Apalagi dalam situasi seperti ini, dia masih sempat-sempatnya romantis di tempat umum," ucap Herlina menatap anak muda itu yang sedang merangkul Shizuka.
"Kalian emang gak tahu malu ya. Beraninya berbuat mesum di sini," ucap Mina memisahkan Shizuka dari laki-laki itu.
"Tidak. Anda tidak boleh kasar dengan Shizuka," ucap laki-laki itu dengan tegas.
"Kamu siapa?" Tanya Mina.
"Mama kok di sini? Bukannya mama mau cari Alfi? Apakah Mama udah mencari Alfi ya?" gumam Yoman yang tak jauh dari mereka.
"Shizuka adalah kekasih saya. Saya mencintainya."
Semua orang terheran.
Plakkk.... (Bunyi tamparan)
"Shizuka?" ucap laki-laki itu memegang pipi kanannya yang ditampar Shizuka.
"Saya tidak mengenal kamu. Kenapa kamu berbohong. Saya tidak pernah dan tidak ada dekat sama laki-laki mana pun. Kamu jangan asal bicara ya. Saya dan dia tidak saling kenal," ucap Shizuka menatap ke semua orang.
"Tidak. Saya ini adalah laki-laki yang beberapa Minggu lalu yang membayarmu Shizuka. Kamu lupakah?" ucap laki-laki itu menggenggam tangan Shizuka.
"Belum selesai masalah dengan saya, dia sudah menambah topik masalah lain," ujar Herlina.
"Pak Kades usir saja mereka dari kampung kita. Dia telah mengotori kampung kita pak. Ayo pak!" Teriak Dito.
Warga lainnya setuju. Tanpa menunggu jawaban dari Kepala Desa, mereka menyeret Shizuka dan Zeexsa keluar dari pekarangan rumah mereka. Mereka ditarik dengan sangat keras. Kedua sandal Shizuka saja terlepas karena para warga bukan hanya satu atau dua yang menariknya. namun sangat banyak. Rambut Shizuka juga teracak-acak. Sementara Zeexsa yang berada di belakang Shizuka, terus dipukuli beberapa warga. Kepala Desa berteriak untuk menghentikan mereka semua. Tetapi tak ada yang mendengarnya.
"Kamu siapa? Apakah Shizuka pacar bayaran mu?" Tanya Debi gugup.
"Saya tidak suka berbicara dengan orang asing. Maaf sepertinya saya salah pilih perempuan."
"Tunggu sebentar!" ucap kepala desa.
Laki-laki itu menoleh kearah kepala desa. Lalu pergi begitu saja setelah itu. Herlina tersenyum dengan tindakannya yang sesuai perintahnya.
"Mau kalian bawa kemana saya? Saya tidak bohong. Saya tidak tahu menahu tentang suami Bu Herlina. Apalagi laki-laki tadi."
"Sudahlah jangan ngeles. Kamu itu sudah ketahuan. Jangan main drama juga," ucap pria berkumis tipis.
"Benar pak Tomi! Dia menyembunyikan keburukan ibunya dan juga dirinya dibalik kesuksesannya," ucap Aan.
"Sulaman cinta mu itu Shizuka emang telah berhasil menipu kami," tambah Melin.
"Saya berjanji pada diri saya, saya akan membakar semua baju buatan kamu dan sulaman-sulaman yang pernah kamu berikan pada anak saya saat kursus," ujar Tivani.
"Bakar aja Tivani. Sekalian orangnya!" ucap Rika tertawa.
"Kalian semua salah menilai saya dan keluarga saya. Tolong lepaskan saya!"
"Udah diam kamu. Jangan bicara lagi!" ucap Tomi membentaknya.
"Assalamu'alaikum! Permisi Bu, Shizukanya ada?"
"Waalaikumsalam! Kamu gak tahu ya Cika? Mulai detik ini kamu jangan lagi bekerja dengannya. Hm buat ruginya aja tahu!" ucap Ida pergi meninggalkannya dengan dua ibu-ibu yang berdiri di sebelah kanan Cika.
"Ada apa ya ini? Kenapa banyak orang di sini? Aku masuk aja deh ke rumah Shizuka," gumam Cika.
"Cika!" Panggil Debi.
"Debi kamu di sini juga? Saya mau bertemu dengan Shizuka dulu ya."
"Shizuka tidak ada."
"Kemana? Zeexsa bagaimana?"
__ADS_1
"Sama."
"Kemana mereka? Sekarang kan jadwal kerja."
"Mereka dibawa warga desa ke stasiun kereta api. Katanya sih seluruh warga tidak mau menerima mereka lagi."
"Apa? Kenapa begitu? Apa yang terjadi?"
"Shizuka perempuan murahan. Ibunya juga," jawab Debi terbahak-bahak.
"Apa yang lucu? Kamu ini berbicara tanpa ada bukti."
"Cika itu semuanya benar. Buka mata kamu! Dia itu gak se-lugu yang kamu kira. Kamu sih ketinggalan informasi. Jadi kamu gak tahu apa-apa kan. Sekarang mending kamu nyusul ke stasiun deh!" Pinta Debi berlalu darinya.
"Ya Allah kok jadi serumit ini ya? Kenapa Shizuka dan Zeexsa mengalami konflik sebesar ini? Bagaimana sekarang?" Gumam Cika tertunduk iba.
Cika berjalan dengan lesu menuju toko Shizuka.
Beberapa warga di rumah Shizuka masih bergunjing tentang keluarga Shizuka. Yoman dan Mina yang berada di hadapan masyarakat mencoba menenangkan warga. Tetapi tetap tak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara. Semua orang telah terbakar emosi. Terutama Herlina yang menyimpan dendam di masa lalunya.
"Pak Yoman kita semua setuju agar Shizuka dan Zeexsa pergi meninggalkan kampung kita. Mereka berdua pantas menerima ini."
"Saya juga sependapat dengan bapak Ipul," ujar Raya.
"Toko yang kita persembahkan untuk Shizuka juga harus ditutup atau ganti saja pengelolanya," ucap Gadih.
"Toko itu hak bapak sebagai kepala desa. Jadi bapak Yoman harus bertindak tegas. Jangan mudah terhasut oleh warga desa," ujar Ulvi.
"Ulvi kamu masih membela Shizuka? Apa kamu gak lihat dia telah melakukan hal buruk. Ibunya juga."
"Saya hanya berkata sesuai fakta. Kades lah yang dapat mengambil keputusan. Bukan kamu Atik dan bukan pula warga lainnya.
"Ulvi kamu jangan sok benar. Memang Kades lah yang ambil keputusan. Tapi kitalah sebagai warga yang membantu memberikan pendapat agar Kades menerima keputusan kami juga sebagai warganya dari kampung Unicorn."
"Shizuka itu anak yang baik. Dia gak akan melakukan hal yang mencemari kampung ini."
"Wah Ulvi kamu sudah pintar dalam menilai ya!" Ucap Herlina bertepuk tangan.
"Herlina kamu lah sumber masalahnya. Saya tahu kamu susah dengan masalah suami kamu yang beberapa bulan ini belum pulang. Saya juga tahu Herlina kamu kesal karena Haikal akrab dengan Shizuka, dan kamu juga iri karena dia sukses dibidang Desain serta dia juga menjadi pengusaha hebat yang sekarang anak kamu Debi pun ikut memujinya dengan belajar desain pada Shizuka."
"Benar juga ya kata Ulvi," ucap Malika berbisik pada Alma.
"Sumber masalah katamu! Saya tahu bahwa kamu ini orangnya baik. Berniat membantu Shizuka dan Zeexsa. Tapi kamu itu salah orang. Mereka tak pantas mendapatkan belas kasih kamu Ulvi. Saya hanya bertindak sesuai dengan nurani saya. Ibunya Shizuka lah yang mencuri laki-laki yang menjadikan saya istrinya. Saya istri sahnya. Ibu Shizuka adalah selingkuhannya," ucap Herlina berbicara dengan nada tinggi.
"Masalah Haikal dan Debi yang akrab dengan Shizuka, itu juga adalah hal menyakitkan memang buat saya. Saya tidak suka anak haram itu dekat dengan anak-anak saya. Kamu paham kan?" Tambah Herlina lagi.
"Diam semua. Tolong hentikan keributan ini!" Ucap Yoman.
"Pa lebih baik kita nyusul Shizuka dan Zeexsa saja pa. Kalau warga main hakim sendiri, papa bisa malu dan kampung kita ini akan tercoreng dengan ulah mereka yang tergesa-gesa," bujuk Mina berbicara pelan-pelan.
"Iya ma!"
"Semuanya tolong bubar. Saya akan menemui Shizuka dan Zeexsa. Kalian jangan memperburuk suasana dengan berkelahi atau pun membuat masalah baru lagi," sahutnya lagi meninggalkan warga desa setelah menutup dengan salam.
"Pak Kades! Pak Kades tunggu sebentar!" Ucap Mulyoto mengejarnya.
"Ada apa lagi Mulyoto? Saya buru-buru ini."
"Lebih baik bapak di sini dulu. Kita semua mau berbicara sama bapak."
"Bicara apa lagi. Hidup Shizuka dan Zeexsa sekarang bahaya. Kalau warga bertindak di bawah kendali bagaimana? Apa kamu atau warga lainnya akan mau bertanggung jawab?"
"Mereka hanya diusir pak. Gak mungkin dibunuh. Ya kan?" ujar Mulyoto melihat seluruh warga yang berdiri di belakangnya.
"Iya benar pak! Lebih baik bapak tutup saja toko Shizuka. Sekarang kami minta bapak untuk ke toko Shizuka dan menutup atau menurunkan pamflet toko Shizuka," ucap Wernis maju sejajar dengan Mulyoto.
"Kalian ini sudah gak waras apa. Segala sesuatu itu harus dimusyawarahkan. Bukan begini caranya. Sekarang yang lebih utama itu adalah menyelamatkan Shizuka dan Zeexsa dari amukan massa. Jika kalian menghalangi saya lagi, saya akan membawa masalah ini ke pihak berwajib."
"Tapi bagaimana dengan tokonya?" Tanya Mulyoto.
"Itu bisa kita bahas nanti atau besok. Kalian semua boleh bubar. Tolong kerja samanya!"
"Saya juga!" Ucap Ulvi.
"Baiklah. Bagi kalian yang mau ikut silahkan. Tapi jangan main hakim sendiri lagi ya," pinta Kades.
"Ayo pa! Kita harus segera ke sana!" Ujar Mina.
Seluruh warga yang bersama Shizuka dan Zeexsa telah sampai di stasiun kereta api. Mereka di dorong sekerasnya saat di depan pintu masuk loket. Orang-orang yang berada di sana pun menatap dengan aneh karena sikap kasar warga. Zeexsa yang terduduk di tanah oranye, memanggil nama kakaknya. Shizuka berlari mengejar adiknya. Ia jongkok memeluk Zeexsa dengan air matanya. Keduanya histeris penuh ketakutan. Warga-warga itu masih tetap di sana sambil berbisik-bisik. Kemudian salah seorang dari loket stasiun kereta api mendekati Shizuka dan Zeexsa. Ia bertanya tentang hal yang membuat mereka bersedih dan diperlakukan dengan kasar.
Shizuka tak menjawabnya. Begitu pun Zeexsa yang terus menangis dengan sangat kencangnya. Warga-warga dari desa Unicorn itu pun meninggalkan mereka. Tapi ada dua diantara mereka yang mengeluarkan ujaran kebencian. Satu diantaranya perempuan sebaya Zeexsa. Ia meneriaki mereka dengan kasar.
"Dasar gak tahu malu! Jangan kembali lagi ke desa kami orang murahan!" ucapnya dengan bengis.
"Pelita gak cukup dengan mengucapkan itu," mereka harus menerima ini," ucap Vito menggosokkan tanah oranye ke wajah Shizuka dan Zeexsa.
"Hei apa yang kamu lakukan?" Teriak ibu² yang menghampirinya tadi.
"Mereka ini sampah di desa kami. Biarkan mereka menerima amarah kami Bu," ucap Pelita.
"Kalian siapa? Kenapa main hakim sendiri? Ini sudah keterlaluan!"
"Kami gak akan begini kalau mereka itu punya harga diri. Ibu jangan membela mereka. Mereka ini berpura-pura polos."
"Ini terjadi dihadapan saya dan saya sebagai manusia yang punya hati nurani, saya gak akan tega melihat orang dianiaya seperti ini. Kalian berdua harus jujur. Kalian ini siapa? Kalian tinggal dimana?"
"Itu Shizuka dan Zeexsa pa! Tapi siapa perempuan yang di dekat mereka itu?"
"Itu dari desa lain sepertinya Bu," ucap Ulvi.
"Assalamu'alaikum! Permisi!" ucap Kades.
"Waalaikumsalam! Jawab ibu itu menatap Kades dan yang lainnya.
"Maaf ibu siapa ya?" Tanya Mina.
"Saya Pertiwi. Kalian siapa? Apa kalian mengenal mereka ini? Tadi saya melihat banyak orang yang menggotong kedua anak perempuan ini dengan sangat kasar. Terus kedua anak ini, Mencemooh dan menaruh tanah oranye ke wajah mereka ini," ucap Pertiwi memegang kedua pundak Shizuka dan Zeexsa.
Kades, Mina, Ulvi, dan Karla menatap Pelita dan Vito dengan wajah kesal.
"Vito, Pelita, minta maaf cepat sama mereka! Kalian sudah berbuat hal yang salah!" Ucap Karla menarik tangan mereka ke hadapan Shizuka dan Zeexsa dengan jarak beberapa senti.
"Tapi bibi semua warga juga memperlakukan mereka buruk. Kenapa kami harus minta maaf?" Ucap Pelita.
"Minta maaf saja sekarang. Jangan banyak nanya."
"Maaf!" ucap Pelita dan berlari pergi setelah itu.
"Pelita!" Teriak Karla mengejarnya.
"Sekarang giliran mu Vito. Cepat minta maaf," pinta Ulvi.
"Tidak. Saya tidak mau," ucap Vito yang juga pergi meninggalkan semua orang.
"Kalian tahu apa yang terjadi? Kenapa mereka mempermalukan kedua anak ini?" Ucap Pertiwi membantu mereka berdiri.
"Kami minta maaf Shizuka, Zeexsa," ucap Yoman memohon.
"Shizuka, Zeexsa kalian tidak apa-apakan?" Ucap Mina memeriksa kondisi Shizuka dan Zeexsa.
"Ibu?" Teriak seorang pemuda.
"Itu pasti Naoki!" ucapnya menatap ke loket.
"Apakah ibu mau berangkat?" Tanya Zeexsa cegukan.
"Iya. Ada apa nak?"
__ADS_1
"Zeexsa maafkan kakak yang tidak bisa melindungi mu! Kakak minta maaf dik!" ucap Shizuka merangkulnya lagi.
"Tidak apa-apa kak. Ini bukan salah kakak. Jangan merasa bersalah lagi kak."
"Ibu? Ibu di sini. Aku mencari ibu kemana-mana. Kereta apinya mau berangkat sebentar lagi Bu."
"Iya Naoki. Tunggu sebentar. Nama kamu Shizuka?"
Shizuka mengangguk dengan wajah berlinang air mata.
"Kamu jangan menangis lagi ya nak. Kamu adalah seorang kakak. Jadi harus bisa menjaga adik kamu. Meskipun ibu tidak tahu masalah kalian itu apa, ibu berharap semuanya dapat selesai dengan baik. Kalian tinggal dimana?"
"Oh mereka ini tetangga kami Bu," sahut Mina sigap.
"Untung aku jawabnya cepat. Kalau tidak bisa tercoreng wajah papa sebagai Kades," gumam Mina tersenyum.
"Ibu apakah aku bisa minta tolong!" Ucap Zeexsa dengan wajah sayu.
"Ibu cepat kita mau terlambat!"
"Sebentar Naoki!"
"Katakan nak! Apa yang bisa ibu bantu?"
"Tolong bawa kami bersamamu Bu! Apakah boleh Bu?"
"Zeexsa!" Tatap Shizuka malu.
"Apa yang kamu katakan Zeex? Kamukan punya rumah. Ayo nak kita pulang bareng!" Ucap Mina dengan lembut.
Zeexsa menolak dengan berdiri semakin dekat dengan Pertiwi.
"Ada apa nak? Kita akan selesaikan pokok masalah kalian. Jangan pergi begitu saja. Ayo sini!"
"Iya Shizuka, Zeexsa, kalian jangan khawatir. Kami akan melindungi kalian," ucap Yoman.
"Sebenarnya saya merasa kasihan dengan mereka ya. Saya ini juga manusia. Khususnya seorang ibu. Melihat kondisi mereka ini sepertinya mereka takut dan trauma. Mungkin Zeexsa ingin berada dekat dengan orang tuanya."
"Saya sudah mengganggap mereka seperti anak saya sendiri. Jadi kamu gak usah khawatir. Saya akan menjaga mereka."
Zeexsa menggelengkan kepalanya.
"Bolehkah kami ikut denganmu Bu?"
"Boleh nak. Tapi bagaimana dengan kedua orang tua kalian?"
"Mereka hanya tinggal berdua Bu. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya telah meninggalkan ibunya ketika ibunya sudah mengandung Zeexsa," ucap Ulvi iba.
"Innalilahi wa innailaihi roziun. Maaf kan ibu ya nak. Ibu tidak tahu bahwa ibumu meninggal."
"Iya Bu. Jadi kita bisa pergi sekarangkah Bu?"
Tanya Zeexsa ingin cepat berangkat meninggalkan desa itu.
"Iya nak," ucapnya menggenggam tangan Zeexsa dan Shizuka.
Shizuka dan Zeexsa pergi tanpa berbicara dengan Yoman, Mina, dan Ulvi.
"Kami permisi dulu!" Ucap Pertiwi.
"Ayo Naoki!" Teriak Pertiwi.
...****************...
"Rumah kosong! Kemana ibu?" ucap Alfi mencari ke kamar orang tuanya.
"Assalamu'alaikum Bu Mina, Pak Kades!"
"Waalaikumsalam! Jawab Alfi menemui seseorang yang berada di luar rumah.
Alfi membuka pintu rumahnya.
"Nak Alfi mana Kades dan Bu Mina? Seluruh warga masih belum bubar nak. Mereka semua meminta jawaban atas toko Shizuka."
"Ada apa ini? Apa maksudnya? Saya gak ngerti."
"Kamu belum tahu ya nak?"
"Apa? Apa yang gak saya ketahui? Coba ceritakan. Ayo masuk dulu," ucap Alfi mempersilakan masuk ke dalam rumahnya.
"Saya gak bisa lama-lama nak. Semua warga masih melakukan demonstrasi. Lebih baik kamu panggil aja dulu pak Kades atau Bu Mina."
"Orang tua saya tidak ada di rumah. Tolong bapak ceritakan dulu kepada saya yang terjadi sekarang!"
"Begini nak. Herlina kemarin ribut dengan Zeexsa. Akibat keributan itu, Herlina merasa dipermalukan. Ia emosi. Sehingga membuka rahasia yang telah terkubur bertahun-tahun lamanya. Rahasia itu tentang suaminya. Ternyata suaminya adalah ayah dari Shizuka dan Zeexsa. Ditambah lagi, tadi tiba-tiba saja ada seorang pemuda tampan yang gak kami kenal muncul hendak membawa Shizuka. Pemuda itu mengaku sebagai kekasihnya."
"Apa? Shizuka sudah punya kekasih?" gumamnya pasrah.
"Begitulah ceritanya. Semua warga sudah tahu karena informasi itu menyebar secepat kilat. Akibat masa lalu mereka yang kelam dan mencoreng nama baik kampung ini, warga pun mengambil tindakan sendiri untuk mengusir Shizuka dan Zeexsa dari kampung ini dan berencana untuk menutup toko Shizuka."
"Ayo kita ke rumah Shizuka! Shizuka masih di sana kan?"
"Dia tidak ada di sana lagi."
"Kemana Shizuka?"
"Beberapa warga membawanya ke stasiun kereta api. Mereka mengusirnya dengan sangat keras bahkan memperlakukan mereka seperti hewan. Saya kasihan dengan mereka. Tapi saya juga malu membantu mereka karena sikap mereka yang tidak patut dicontoh."
"Apa kalian semua sudah ada bukti pak? Apakah kalian menghakiminya tanpa berpikir secara logika tentang karakternya? Tidak mungkin ibunya merebut ayah si Haikal. Itu gak masuk diakal. Terus mengenai dia punya kekasih apakah salah emang pak?"
"Alfi kamu benar. Tapi jika diperhatikan semenjak mereka datang ke desa ini, bapak dan seluruh warga emang tak pernah melihat ayah mereka. Kamu pikir sudah meninggal atau bercerai. ternyata tidak. Kemudian ayah si Haikal juga gak pernah terlihat lagi selama mereka berada di sini. Cuma sekali sih ayahnya terlihat waktu itu. Itu pun saat ibu Shizuka ditangkap oleh polisi. Kemudian tidak ada lagi terlihat. Terus tentang Shizuka nak Alfi. Dia itu perempuan panggilan. Dia dibeli sama laki-laki itu."
Alfi syok batin. Ia mundur beberapa langkah hingga terjatuh ke lantai. Tatapannya kosong. Melihat keadaan Alfi, Arlan pun ikut khawatir. Ia membantu Alfi duduk di sofa. Setelah itu ia memberikan minuman air putih yang berada di ruang makan.
"Minumlah Alfi. Tarik napas panjang dan keluarkan."
Alfi mengatur napasnya setelah minum air putih.
Tak lama kemudian, Kades dan Mina tiba di rumah. Mereka berlari setelah melihat Alfi duduk di sofa. Mina merangkul anaknya dengan girang gembira. Suasana hatinya yang kacau terobati berkat kehadiran Alfi.
"Arlan kok kamu bisa di sini?" Ucap Kades duduk di sebelah kanan Alfi.
"Saya datang karena warga meminta saya ke sini pak. Mereka menyuruh saya ke rumah bapak untuk menanyai mengenai toko Shizuka," ucap Arlan grogi.
"Tolong kamu sampaikan pada semua warga bahwa setelah abis ashar nanti berkumpul di kantor saya ya. Kita bahas tentang masalah itu setelah sholat Ashar. Sekarang saya tidak bisa menjumpai warga karena saya ingin mendiskusikan terlebih dahulu masalah Shizuka ini bersama perangkat desa kita."
"Baiklah pak. Saya permisi dulu!"
"Apakah tidak sebaiknya papa suruh Shizuka kembali saja pa?" Saran Mina menatap Arlan yang sudah jauh.
"Ma, Pa Kenapa Shizuka diusir dari desa? Aku gak mau tahu mama dan papa harus membawanya kembali lagi ke desa ini."
"Kenapa kamu cemas sekali? Kamu menyukainya? Jawab mama! Perempuan itu tidak pantas untuk kamu. Dia itu punya masalah besar. Keluarganya sangat hancur karena nodanya tak bisa dihilangkan."
"Aku peduli ma samanya. Dia perempuan baik dan dia juga mengharumkan nama desa kita."
"Kamu mencintainyakan?
"Aku tidak mencintainya," jawab Alfi terbata-bata.
"Mama gak mau kamu dekat dengannya. Mama memang mau dia balik lagi ke desa kita. Tapi alasannya bukan karena mama suka samanya. Mama hanya tidak mau masalah atau kejadian tadi diketahui desa lain. nama papa kamu bisa tercoreng."
"Aku tahu ma. Tapi mestinya mama jangan membiarkan para warga memperlakukannya begitu kejam."
"Warga begitu emosi. Jumlahnya juga sangat banyak. Mama dan papa saja tertahan oleh para warga."
"Terus dimana Shizuka sekarang ma?"
__ADS_1
"Mama tidak tahu."