
Di sungai yang berada di Jl. Delima. Haikal duduk di rerumputan. Ia menatap sungai itu sambil melempar batu-batu kecil. Sesekali ia berhenti melempar dan tertunduk menatap foto ayahnya dari ponselnya.
"Haikal kamu jangan ke sini. Pergi sana. Kamu jaga ibu dan adik mu ya nak!" ucap ayahnya yang buru-buru masuk ke mobil sedan putihnya.
Ayahnya pergi dengan membawa se-koper barangnya. Ia pergi tanpa mengatakan apapun kepada Haikal selain menyuruhnya untuk tidak mengikutinya. Haikal yang masih duduk di bangku SMP ketika itu hanya menatap mobil ayahnya yang melaju dengan kencang. Beberapa menit setelah kepergiannya ibunya berteriak memanggil ayahnya.
"Ibu? Ayah sudah pergi," ucap Haikal.
"Kenapa kau membiarkannya nak? Ayah kamu pergi untuk selamanya. Dia pergi jauh."
"Ayah kemana Bu?"
Herlina menangis sambil memeluk Haikal.
Setelah itu Haikal menonaktifkan ponselnya. Ia menghapus air matanya. Peristiwa yang selama ini ia simpan di memorinya masih membuatnya bertanya-tanya penyebab ayahnya meninggalkan dirinya, ibunya dan adiknya. Foto itu adalah foto satu-satunya yang ia punya. Ia menganggap foto itu sebagai kenangan bersama ayahnya.
"Apakah aku hanya bisa merasakan kehangatan ayah melalui foto yang sudah lama itu?"
"Foto itu pun ketika kami sedang berjalan bersama ketika hendak menuju kamarku,"
sahutnya lagi menaikkan alisnya.
Haikal bangkit dari tempat duduknya. Ia pergi menuju mobilnya. Di sana ia memikirkan lagi tindakannya saat sampai ke rumah. Ia bingung memberi tahu ibunya atau tidak mengenai ayahnya yang ia lihat di Hotel Sasaki. Selama perjalanan menuju ke rumahnya, ia terus melamun. Lamunannya membuatnya tak memperhatikan jalannya. Para pengendara mobil dan sepeda motor mengklaksonnya karena hampir menabrak mereka.
"Mabuk kali ya!" ucap perempuan yang memakai baju dan celana pendek.
Haikal tak mendengarnya. Ia terus membawa mobilnya tanpa melihat kiri, kanan, bahkan menerobos lampu merah hingga polisi lalu lintas menghentikannya dengan meniup peluit. Haikal tak mendengarkannya juga. Sehingga polisi itu pun mengejarnya dengan mobil kepolisian. Haikal masih terus dengan lamunannya hingga ia salah jalan. Ia pergi ke jalan yang banyak pedagang, yaitu pasar Ramona. Ia terhenti seketika saat dua orang anak kecil sedang menyeberang ke pedagang khusus lauk-pauk.
"Aduh dik hati-hati dong kalau jalan. Kalian tidak apa-apa?" Ujar Haikal membantu mereka berdiri.
"Jelita, Jessi, kalian tidak apa-apa nak!" Tanya Zoya merangkul kedua anak kembarnya.
"Tolong jaga anakmu dengan hati-hati. Mereka masih sangat kecil. Jangan biarkan berjalan di tempat umum seperti ini," ucap Haikal seraya membersihkan baju kedua anak itu setelah selesai dirangkul Zoya.
"Kamu seharusnya memperhatikan jalanmu. Ini bukan tempat untuk berkendara. Kamu tak lihat apa kalau jalan ini sempit dan banyak orang di sini. Kendaraan hanya bisa diparkir di sana," ucap Zoya menunjuk ke Pamflet bertuliskan 'parkir roda empat'.
Haikal menatap orang-orang yang mengatainya. Ia baru tersadar bahwa ia salah mengambil jalan menuju rumahnya. Kemudian ia meminta maaf kepada kedua anak kecil itu dan memberikan uang untuk biaya pengobatannya. Zoya menolak uang pemberian Haikal. Ia memegang kedua tangan anaknya dan pergi menuju pedagang khusus lauk-pauk.
"Apa aku salah memberinya bantuan?" Gumam Haikal menatap Zoya dan kedua putrinya.
"Mama, Abang itu masih di sana. Dia datang ma!" ucap Jessi.
"Nak!" ucap polisi menepuk bahu Haikal.
"Ayo kita pergi Jelita, Jessi!" Ujar Zoya membeli ikan seperempat kilogram.
__ADS_1
"Mama ada polisi," ucap Jessi.
"Biar aja sayang. Abang itu tadi hampir saja menabrak kamu dan Jelita. Biar aja dia ditangkap polisi."
"Nak kenapa kamu membawa mobil dengan ngebut? Kamu juga melintas di jalan yang banyak orangnya," ucap polisi itu menatap semua pedagang di dekatnya.
"Maaf pak. Tadi saya gak fokus bawa mobil."
"Jangan berkendara saat melamun nak. Tolong tunjukkan SIM mu."
"Baik pak," ucap Haikal memberikan SIMnya.
"Aduh akhirnya kita sampai juga ke rumah," ucap Pertiwi menyandarkan kepalanya di sofa.
"Mama! Aku akan berangkat entar sore ke Nosae. Koper di kamar mama dan papa itu aku pakai ya," ucap Naoki yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya sayang. Kamu sudah berkemas? Jangan lupa kamu bawa bekal untuk makan malam mu nak!"
"Iya ma," jawab Naoki menatap Shizuka dan Zeexsa berdiri diantara mamanya.
"Naoki! Sini dulu nak," panggil Naoto.
"Ada apa pa?"
"Kamu bantu dulu Shizuka membuat buku tabungan."
"Gak apa-apa om. Biar saya dan Zeexsa aja nanti yang pergi mengurusnya."
"Tante akan temani kalian nanti ya. Kalian kan baru di desa ini.
"Naoki seharusnya kamu mau membantu orang yang butuh pertolongan."
"Pa Naoki kan sibuk. Papa jangan marahi dia ya pa," ucap Pertiwi mengikuti langkah Naoki ke kamarnya.
"Kalian jangan mencontoh Naoki ya Shizuka, Zeexsa. Om ke kamar dulu.
Shizuka dan Zeexsa saling tatap dan hanya diam saja.
"Usman kamu gak melihat si Herlina? Dia sudah bebas dua hari yang lalu. Aku dengar sih dia bebas karena Cika mencabut laporannya," ucap Karla.
"Alhamdulillah. Kenapa kamu baru ngasih tahu aku Karla?"
"Kamu kan sibuk bantuin Atik buka usahanya."
"Jadi si Cika yang melaporkan Herlina ke polisi Karla?"
__ADS_1
"Iya Ulvi. Kau juga gak tahu informasi ini?"
"Tidak. Aku jarang ke luar beberapa hari ini karena demam."
"Terus sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah sudah mendingan. Hei Usman sampaikan kepada Herlina jangan menuduh Shizuka lagi."
"Kan gak ada bukti yang menunjukkan Shizuka benar," ucap Usman mengunci rumahnya.
"Kamu ke rumah Herlina ya?"
"Tidak. Aku mau ke rumah Cika menanyai tujuan dia mencabut laporannya. Pasti ada sebabnya. Kalau tidak untuk apa dia main-main dengan hukum?"
"Iya juga ya. Kabari infonya entar ya Usman," ucap Karla meneriakinya.
"Cika pasti dijumpai oleh Shizuka," tebak Usman berjalan kaki ke rumahnya yang berada dekat dengan rumahnya.
"Kemana Usman?" Tanya Mina menghentikan mobilnya.
"Ke rumah si Cika!"
"Oh iya-iya. Saya duluan dulu."
"Dari mana Bu Kades?"
"Saya dari toko Shizuka."
"Ada apa ke sana Bu Kades? Si Alfi mau membuka usaha di toko itu. Saya duluan Usman!"
"Iya Bu Kades," ucap Yoman mencibir setelah Mina pergi.
Usman melanjutkan perjalanannya hingga tiba di rumah Cika.
"Itu Alfi!" ucap Usman melihat mereka sedang berbicara di depan rumah.
"Usman? Ada apa Usman kemari?" Tanya nenek Cika yang sedang duduk di pekarangan.
Alfi dan Cika melihat Usman. Alfi mengakhiri pembicaraannya dan pamit pulang. Usman melihat Alfi dengan tatapan curiga. Tapi Alfi tetap berjalan dengan cuek tanpa menoleh kepada Usman. Cika menghampiri Usman.
"Ada apa pak?"
" Apa benar kamu yang melaporkan Herlina ke kantor polisi?"
Cika tak menjawab.
__ADS_1
"Gak usah heran saya tahu dari mana informasi ini. Kamu kan yang melaporkan Herlina?"