
Naoki duduk menanti giliran keberangkatannya ke Naose. Ibu dan ayahnya telah sampai ke rumah mereka sekitar lima belas menit lalu. Naoki yang tampak sibuk dengan urusannya sebagai kepala desa membuatnya harus menghabiskan waktu di kantornya. Sementara Shizuka dan Zeexsa membantu Pertiwi memasak di dapur.
"Shizuka kamu bolehkah membantu Tante?"
"Boleh tan. Apa yang bisa saya bantu Tante?"
"Tolong kamu beli minyak goreng di warung depan lorong rumah kita," ucap Pertiwi sedang mencincang bawang merah.
"Iya tan."
"Kamu pakai saja sepeda Naoki. Dia menaruhnya di kamar."
"Tapi Tan saya gak berani masuk ke kamar Naoki."
"Sudah tidak apa-apa Shizuka. Kamar Naoki tidak berantakan dan tidak ada yang beharga di sana," ucap Pertiwi memasukkan bawang merah yang dicincang tadi ke mangkuk kecil.
Shizuka mengangguk setuju.
"Tan ini sayurnya udah matang Tan."
"Matiin aja kompornya," ucap Pertiwi sambil mencicipi rasa sayurnya.
"Sepedanya sudah bersih. Sayang untuk dipakai. Tapi Tante meminta ku memakainya agar aku cepat sampai ke warung.
"Zeexsa Tante lupa mengatakan pada Shizuka. Tolong kamu katakan pada Shizuka untuk membeli kentang 1 kg ya."
"Baiklah tan."
Shizuka sudah mengeluarkan sepedanya.
"Kakak kata Tante kakak juga harus membeli kentang 1 kg."
"Iya Zeexsa."
"Bagaimana kamar Naoki kak? Apakah kamarnya wangi seperti orangnya?"
"Kamu periksa aja sendiri," jawab Shizuka ketus.
"Dasar kakak. Naoki juga tampan. Ketampanannya melebihi si Alfi. Dia putih, tinggi, matanya bulat dan sipit, lesung pipinya ada, badannya kekar, hidungnya mancung, senyumnya juga pasti indah," ucap Zeexsa membayangkan Naoki tersenyum menatapnya.
"Aneh banget si Zeexsa muji cowok berlebihan banget. Aroma parfumnya saja dia ingat. Dasar Zeexsa. Padahal Naoki itu cowoknya cuek. Kok bisa si Zeexsa membicarakannya?"
Sesampai di warung depan lorongnya, terdengar oleh Shizuka suara pesawat. Ia menatap ke cakrawala. Menduga bahwa Naoki sudah berangkat menggunakan pesawat itu. Ia menatap pesawat itu hingga sampai terlihat seperti titik.
"Kamu mau membeli apa?"
"Naoki."
Ibu itu tersenyum dan berkata, "Kamu membeli Naoki?" Tanya ibu itu sambil tertawa.
"Naoki. Eh maksud saya Naoki sudah berangkat Bu."
"Iya saya tahu."
"Ibu tahu dari mana? Apakah ibu melihatnya dari sini bahwa Naoki yang berada di pesawat itu?"
"Mata saya tidak setajam itu nak. Memasukkan benang ke lubang jarum saja saya tidak bisa," ucap ibu itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Iya juga ya," ujar Shizuka malu.
"Kamu ingin membeli apa?"
"Minyak goreng seperempat dan kentang satu kg."
__ADS_1
"Ayo ngaku Cika?"
"Iya saya yang melaporkan Bu Herlina."
"Kenapa kamu melaporkannya? Apakah kamu bersaudara dengan Shizuka sampai kamu berani melaporkan Herlina. Apa hubungan mu dengan Shizuka. Kamu emang sudah keterlaluan Cika."
"Jangan memarahi Cika. Dia cucu saya. Tolong jangan membentaknya Usman."
"Saya melakukannya karena Shizuka adalah teman dekat saya pak."
"Sampai kamu berani melawan Herlina? Kamu gak takut resikonya? Jika kamu ingin balas dendam karena temanmu itu, tidak begitu caranya Cika."
"Dia tidak balas dendam Usman. Kamu tahu kan Shizuka itu anaknya baik. Cika sendiri pun mengenalnya cukup lama. Mereka sangat akrab seperti sesama saudara."
"Saya tahu itu nek. Tapi yang dilakukan Cika itu salah."
"Tapi kan sekarang Cika sudah mencabut laporannya. Herlina juga sudah dibebaskan."
"Iya saya tahu. Tapi kenapa kamu tiba-tiba saja mencabut laporan mu?"
"Itu karena," ucap Cika ketakutan dan tak melanjutkan ucapannya.
"Karena Shizuka?" Tebak Usman dari ucapan Cika yang belum sempat diselesaikannya.
"Usman kamu harus menahan diri nak. Shizuka itu sangat baik. Meskipun semua orang menganggapnya salah dan mempermalukannya dengan kejam hingga di usir dari rumahnya, ia tetap membela Herlina. Itulah namanya ketulusan nak."
"Tulus bagaimana maksud nenek?"
" Dia rela datang jauh-jauh menemui Cika hanya untuk mengatakan membebaskan Herlina."
"Dia tahu dari mana Herlina di penjara. Bukankah dia sudah pergi jauh dari desa ini atau jangan-jangan dia ada di rumah kalian."
"Tidak nak. Dia sudah tidak tinggal di desa ini. Dia mengetahui Herlina di penjara dari Alfi. Alfi yang mengatakannya pada Shizuka."
"Iya Usman. Kami juga mengetahui ini saat Shizuka, Zeexsa, Pertiwi, Alfi dan siapa Cika nama kepala desa Momoki itu?"
"Pak Naoto nek!"
"Jadi Shizuka tinggal di rumah Pak Kades dari desa Momoko."
"Iya syukurlah kedua anak itu masih bisa hidup. Mereka bertahan karena kebaikan dari kedua orang yang berbudi pekerti mulia."
"Shizuka tidak membenci Bu Herlina Pak. Siapa yang meminta saya mencabut laporan."
"Seharusnya kamu meminta maaf pada Shizuka. Bukan malah berburuk sangka seperti ini," ucap neneknya Cika berjalan perlahan-lahan menuju ke rumahnya.
"Maafkan saya ya Pak."
"Kamu tidak salah. Sayalah yang seharusnya minta maaf karena tidak memberimu kesempatan berbicara tadi."
"Iya tidak apa-apa pak. Saya paham perasaan bapak."
"Oh ya tadi kenapa Alfi kemari?"
"Oh itu, dia mengajak saya untuk membantunya membersihkan toko Shizuka karena toko itu akan dijadikan Alfi sebagai tempat usahanya."
"Meskipun dia tampak pemalas. Tapi kali ini dia sudah bisa bersikap seperti orang pebisnis," ucapnya tersenyum.
"Sekarang Shizuka dimana?"
"Dia tinggal bersama Pak Kades dari desa Momoki pak."
"Wah Alhamdulillah! Semoga Shizuka dan Zeexsa bahagia ya di sana. Oh ya jika kamu bertemu dengan Shizuka dan Zeexsa, tolong sampaikan permohonan maaf saya ya. Shizuka dan Zeexsa kan tidak memiliki ponsel," ucapnya dengan menyesal atas perlakuannya.
__ADS_1
"Baik pak."
"Saya permisi dulu ya Cika. Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab Cika.
...****************...
"Kenapa wajahmu begitu pucat Haikal?"
Haikal menatap ibu dengan perasaan iba dan emosi.
"Kau sakit? Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Herlina menarik tangan anaknya dengan lembut.
"Hentikan Bu. Gak usah sok peduli terhadapku. Ibu itu jahat," ucap Haikal menarik tangannya dengan sigap.
"Kenapa kau membentak ibu? Apa yang kau katakan barusan nak? Ibu jahat kenapa?"
"Ibu membuat ayah pergi dari rumah. Semuanya karena ibu."
"Kenapa kau mengatakan tentang ayahmu? Apa kau melihatnya atau kau begini karena ingin meluapkan emosimu. Kamu marah karena ibu telah membuat Shizuka pergi dari desa ini?"
"Ya aku memang marah kepada ibu. Tapi ini bukan karena Shizuka."
"Kau jangan berbohong nak pada ibu. Kau begini karena tak bisa melihat Shizuka kan? Shizuka telah hidup bahagian dengan ayahmu."
"Diam Bu!" Bentak Haikal dengan wajahnya memerah seperti api.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Debi.
"Kau berani membentak ibu Haikal. Kau sudah sangat membuat ibu marah."
"Aku lebih marah dari ibu."
"Abang kenapa Bu?" Tanya Debi mendekati ibunya.
"Ibu telah membuat aku dan Debi berpisah dari ayah. Ini karena ulah ibu."
Herlina menampar Haikal.
"Ibu tahu kah? Ayah tadi menghindari aku. Terus sekarang ibu juga membenci ku."
"Apa bang? Abang bertemu ayah?"
Tangan kanan Herlina gemetar karena menampar pipi kanan Haikal. Ia pun terkejut setelah mendengar Haikal berkata bertemu dengan suaminya. Suami yang dirindukannya. Ia mencoba menanyai Haikal tentang pertemuannya dengan ayahnya. Namun Haikal hanya menatapnya dengan air mata kecewa.
"Maafkan ibu nak. Ibu khilaf. Ibu minta maaf karena menamparmu."
"Maafin ibu ya bang," ucap Debi yang juga iba menatap ibunya.
"Ibu tahu, aku mengejar ayah sampai aku meninggalkan urusan pekerjaanku. Aku rela tidak hadir untuk mencari ayah Bu. Tapi apa yang ku dapat? Ayah terus berlari menjauhiku. Aku tidak tahu mengapa ayah seperti itu Bu."
Herlina memeluk Haikal. Mereka berdua menangis bersama. Debi juga ikut merangkul ibu dan abangnya. Herlina tak mampu menahan tangisnya. Ia mencoba menenangkan dirinya dan pergi masuk ke kamarnya.
Di kamarnya ia tertunduk memikirkan perkataan Haikal. Ia merasa sangat bersalah karena dirinya lah penyebab ayah Haikal menghindari Haikal. Bahkan hingga kini pun tak ada kabar dari laki-laki yang ia cintai itu. Ia juga menyesal atas tindakannya yang menampar anaknya.
"Abang apakah Abang melihat ayah bersama Shizuka, Zeexsa dan ibunya?"
"Tidak. Ayah sepertinya tinggal sendirian karena ayah terlihat begitu tak terurus."
"Jadi ibu berbohong maksud Abang?"
Haikal menatap Debi dan mengangguk sebagai isyarat membenarkan dugaan Debi.
__ADS_1