
"Aku harus membawanya kemana? Ini masih jam dua dini hari. Oh tidak. Shizuka bisa tiada jika tertutup begitu."
Haikal menghentikan mobilnya. Ia mendekati Shizuka yang berbalut selimut hitam. Dibukanya selimut itu dan juga penutup mata serta lakban di mulutnya. Shizuka masih belum tersadar. Haikal panik melihatnya yang pucat. Ia bergegas mengendarai mobil itu menuju rumah sakit. Selama di perjalanan, ia terus gelisah. Sesekali menatap Shizuka dan sesekali menatap jalanan yang sepi. Ia makin gemetar. Tak bisa membayangkan keadaan Shizuka. Selama dua jam mengendarai mobil, Haikal merasakan kepalanya pusing. Ia mencoba bertahan dan terus mencari rumah sakit. Tak berapa lama kemudian, dia pun melihat rumah sakit yang berada di jalan besar. Rumah sakitnya sangat besar. Bangunan itu terlihat tua seperti peninggalan penjajah Belanda. Ia mempercepat laju mobil itu. Tetapi berhenti seketika sebelum sampai ke tujuannya.
"Aduh pakai mogok segala. Masih jauh banget rumah sakitnya," ucap Haikal menerka jaraknya sekitar sepuluh meter.
"Hah terpaksa aku harus menggendongnya. Jalanan juga begitu sepi. Hanya ada rumah sakit itu aja di sini," tambahnya lagi seraya menggendong Shizuka.
"Berat juga Shizuka. Aduh tulangku bisa remuk ni. Setelah dia sadar, aku akan menyuruhnya mengembalikan tulangku yang remuk. Awas saja jika dia menolak. Akan aku balas dia nanti," ujar Haikal lagi seraya berjalan menuju rumah sakit.
...****************...
"Pa kita telat pulang. Pasti Shizuka khawatir degan kita dan mungkin juga dia takut sendirian di rumah."
"Kamu terlalu khawatir. Shizuka perempuan pemberani. Kita gak pulang semalam kan karena teman papa minta kita makan malam di rumahnya dan karena sudah jam sepuluh malam, ya gak mungkin kita pulang ma. Shizuka akan paham kok ma."
"Iya semoga aja pa," jawab Pertiwi pasrah.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Naoto dan disusul oleh Pertiwi.
"Gak ada orang pa. Apakah Shizuka gak di rumah?" Tanya Pertiwi sambil mencari ke segala ruang.
"Mungkin dia masih tidur. Papa ke kamar dulu ya, ini kan masih jam enam ma. Papa capek dan ngantuk."
"Iya pa. Mama periksa ke kamarnya dulu."
__ADS_1
"Mama!" Teriak Naoto.
Pertiwi kaget mendengar teriakan Naoto. Setelah itu ia mendekati dan menanyai Naoto penyebab ia berteriak. Naoto pun menjawab sambil menunjuk ke vas bunga yang pecah. Pertiwi melihat vas bunga yang pecah. Ia juga bertanya-tanya tentang vas bunga itu. Lalu ia berlari ke kamar Shizuka. Naoto masih berpikir tentang vas bunga sambil menaiki tangga. Sementara Pertiwi memanggil-manggil nama Shizuka. Ia tak mendengar balasan dari Shizuka. Biasanya jika ia dipanggil, ia langsung nongol disertai jawaban yang lembut. Tetapi kini ia tak mendengar suaranya. Ia juga tak melihat Shizuka berada di kamarnya.
"Apa yang terjadi? Apakah Shizuka diculik? Ti-dak, ti-dak! Aku periksa ke seluruh rumah dulu baru aku beransumsi."
"Bagaimana keadaannya sus?" Tanya Haikal ketika suster keluar ruangan Shizuka.
"Dia tidak dalam masalah besar. Dia baik-baik saja pak. Besok pagi dokter akan memeriksa keadaannya lebih lanjut lagi."
"Kenapa gak sekarang aja diperiksa oleh dokter sus? Dia dalam bahaya. Tolong selamatkan dia sus."
"Maaf pak! Dokternya jadwal nya besok pak. Sekarang pasien baik-baik saja kok pak. Oh ya bapak siapanya?"
"Oh. Kalau begitu silahkan hubungi keluarga pasien pak agar penanganannya cepat ditangani besok pagi. Saya permisi dulu pak!"
"Keluarga Shizuka kan hanya Zeexsa. Tapi ponselnya juga gak ada. Bagaimana ini?" Gumam Haikal.
"Papa!" Teriak Pertiwi memanggil Naoto.
Naoto sedang tertidur pulas. Dia tak mendengar namanya dipanggil Pertiwi. Pertiwi terus saja berteriak memanggil Naoto. Sesampai di kamarnya ia membangunkan Naoto. Naoto terpaksa membuka matanya dan duduk dengan posisi badannya terbungkuk. Pertiwi menarik tangannya. Ia membawa Naoto ke kamar Shizuka. Naoto melangkah sangat pelan. Pertiwi Geram dan mencoba membuat Naoto sadar seratus persen dengan menampar pipinya.
"Kenapa mama menampar pipi papa?"
"Papa tidak mau mendengarkan mama. Papa tahu gak, Shizuka tidak ada di kamarnya atau pun di seluruh ruang rumah ini. Dia hilang pa."
__ADS_1
"Aduh mama! Kirain kenapa. Shizuka kan sudah besar. Barangkali dia mencari udara segar. Dia olahraga atau dia sedang ke pasar mungkin."
"Papa ini aneh. Shizuka mana tahu daerah sini pa. Kalau terjadi sesuatu padanya gimana? Ayo buruan pa. Kita cari dia sekarang!"
"Papa capek banget ma. Ini mata juga gak bisa diajak kompromi. Ngantuk banget ni papa ma!"
"Atau mama tampar lagi mau pa? Agar mata papa terbuka dan gak ngantuk lagi," ucap Pertiwi siap-siap menampar Naoto.
"Iya-iya papa gak tidur lagi!" Ujar Naoto berjalan lebih dulu meninggalkan Pertiwi.
"Kita harus segera mendapatkan Shizuka pa. Papa takut dia diculik oleh anak buahnya Nona Kelly."
"Gak mungkin. Mana ada orang yang berani masuk ke rumah Kades."
"Ya mungkin saja pa. Apa sih yang gak mungkin bagi orang gak waras seperti Nona Kelly."
"Goblok! Mereka berantem hanya karena hal sepele. Cepat kalian carilah mereka berempat. Bawa mereka ke sini. Pergi sana!" Ucap Nona Kelly mengamuk.
"Maaf Nona Kelly di Rumah sakit Sisingamangaraja, mereka mengatakan Hadi tak bisa diselamatkan lagi," ujar Eman.
"Kalian bawa jasadnya kemari. Intinya kalian harus membawa ke empat orang itu kemari!"
Eman dan dua puluh pasukannya berjalan berbaris-baris keluar rumah Nona Kelly. Eman adalah tangan kanan Nona Kelly. Ia dikenal sebagai seorang ahli bela diri. Badannya tingginya 185 dan berat badannya 80. Ia merupakan laki-laki kedua setelah Hadi yang pernah ikut lomba tinju setingkat internasional. Kini ia kembali dari Swiss dengan membawa pengikutnya yang memiliki keturunan China beserta barat. Ketangguhan Eman tak dapat dikalahkan sejauh ini. Otot lengannya begitu besar, wajahnya bulat dan rambutnya setipis rambut bayi. Dia dijuluki sebagai Taring Nona Kelly karena gigitannya sangat tajam. Mampu mengoyak lawannya seperti makan daging ayam. Pukulannya juga tak kalah mengejutkan karena satu pukulan saja bisa membuat satu atau puluhan orang jatuh sekejap mata bahkan kehilangan nyawa.
Ia berjalan santai, namun karismatik masih terlihat. Seluruh pasukannya tak ada satu pun yang berjalan mendahuluinya. Mereka hanya akan mendahuluinya ketika Eman dalam bahaya. Eman masuk ke mobil hitam yang di dalamnya ada beberapa perempuan cantik. Melihat hal itu Eman gusar. Ia meminta semua perempuan itu turun dari mobilnya. Perempuan itu tetap tidak menuruti kemauan Eman. Sehingga Eman pun menyeret mereka satu persatu tanpa mematahkan leher mereka karena mereka semua adalah harta Nona Kelly. Eman sangat membenci perempuan. Perempuan adalah kelemahannya. Ia tak sanggup kasar atau melawan perempuan karena hidupnya bisa seperti sekarang itu karena Nona Kelly. Jadi ia sangat menghargai perempuan selama perempuan itu juga menghargainya. Di sisi lain ia membenci perempuan karena ibunya sendiri meninggalkannya di depan rumah Nona Kelly. Sehingga di hatinya hanya ada kebencian. Kecuali kepada Nona Kelly.
__ADS_1