Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Kantor Kepala Desa


__ADS_3

"Bu aku keluar dulu ya."


"Kamu mau pergi kemana nak? Bentar lagi ibu mau pergi. Akan ada rapat bersama dewan desa."


"Rapat apa bu?"


"Masalah Shizuka dan keluarganya itu."


"Assalamu'alaikum. Aku pulang!"


"Waalaikumsalam!" Jawab Herlina.


"Waalaikumsalam bang! Bang ada masalah besar loh di kampung kita dan masalah ini juga berkaitan dengan ayah."


"Hus diam kamu Debi. Abang kamu baru pulang kerja. Malah bahas tentang itu," ucap Herlina mengambil tas kantor Haikal.


"Makanya ibu kasih aku keluarlah. Gak lama kok."


"Mau kemana emang kamu? Nanti ibu pergi dan Abang kamu juga pasti sibuk. Kamu di rumah aja jaga rumah."


"Mau kemana kamu Debi? Tanya Haikal yang sedang membuka dasinya.


"Jalan-jalan lah. Masalah besar ini bikin aku pusing. Gak logis aja ayah kita itu juga ayah mereka," ucap Debi keceplosan.


Herlina menatap Haikal yang tampak heran.


"Kamu masuk ke kamar sana!" Perintah Herlina kesal.


"Ya bu! Padahal aku hanya sebentar aja keluarnya kok."


"Coba kamu jelaskan ucapan mu tadi dik!"


"Ucapan apa? Sudahlah. Aku stres. Aku mau nonton tv dulu," ucap Debi berjalan sambil bersiul.


"Kamu jangan mikirin ucapannya tadi. Ayo sekarang kamu mandi dulu. Mama ada masak sup ayam tadi. Sekarang mama mau ke kamar dulu."


"Tapi bu, tadi Debi bilang ada masalah besar berkaitan dengan ayah. Apa yang terjadi bu?"


"Tidak apa-apa Haikal. Dia hanya bercanda saja tadi itu."


"Mama bohong kan? Ayolah jujur bu. Kenapa harus ditutup-tutupin sih?"


Herlina hanya tersenyum.


"Bu!"


"Semua baik-baik saja nak!" Ucap Herlina meninggalkan Haikal di ruang tamu.


"Apa sih yang gak aku ketahui? Masalah apa yang dimaksud oleh Debi?" Gumam Haikal dengan wajah berkerut.


"Keterlaluan ibu! Padahal aku udah berjanji akan pergi dengan Vikram sekarang. Jadi batal deh," Gerutu Debi mencari siaran di Tv.


"Debi!" Panggil Haikal.


"Duh gawat ni kalau Abang sampai mengintrogasi aku. Kalau aku bilang yang sebenarnya, pasti Abang akan membela Shizuka. Dia kan sangat mempercayai Shizuka. Mending aku cabut ke kamar aja deh," gumamnya berlari setelah Haikal baru aja menyapanya.


"Ada apa sih sama ibu dan Debi? Kenapa mereka gak mau kasih tahu tentang masalah besar itu? Aku makin penasaran. Apalagi berkaitan dengan ayah."


"Haikal ibu pergi dulu. Kalau kamu keluar nanti, kabari ibu ya nak!"


"Iya bu. Ibu mau kemana?"


"Ibu mau ke tempat pamanmu."


"Oh. Oke deh. Hati-hati ya bu!"


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam!" Jawab Haikal dan mengunci pintu.


"Untung Haikal percaya aku ke rumah Usman. Hm sekarang aku akan ke kantor desa. Mudah-mudahan hasil rapatnya sesuai dengan yang ku harapkan."


...****************...


"Saya tidak setuju Pak Kades!"


Penolakan itu terus didengar oleh Yoman selaku ketua rapat dan kepala desa. Ia hanya bisa menulis setiap argumen yang disampaikan. Setelah semua menyampaikan argumennya masing-masing, rapat itu pun bubar. Wakil kepala desa berjalan beriringan dengan kepala desa. Ia membisu saat langkahnya sudah sampai di halaman kantor desa. Semua perangkat desa mengambil posisi masing-masing. Mereka menanti warga-warga yang antusias atas kejadian itu.


Terlihat juga dari kejauhan Herlina dan Ulvi memakai payung merah jambu. Cuaca yang agak mendung, dengan angin yang terkadang berhembus membuat Yoman tersenyum singkat. Ia duduk di kursi sejajar dengan perangkat desa lainnya.


"Ikhsan ada apa denganmu? Kenapa kamu diam saja semenjak keluar dari rapat itu?" Tanya Yoman menatapnya.


"Sebagai seorang wakil kepala desa saya juga merasakan betapa beratnya mengemban kepercayaan masyarakat. Saya merasa pundak saya timpang sebelah memikul pendapat yang tak adil ini bagi seorang gadis lugu seperti Shizuka dan Zeexsa."

__ADS_1


Yoman menarik napas panjang. Mencoba menghirup aroma ketenangan dengan melihat seluruh warga yang mulai memadati kursi-kursi yang tertata rapi di lapangan kantor kepala desa. Ia mengelus pundak Ikhsan sebagai rasa syukurnya karena ia masih memiliki rasa manusiawi dan tenggang rasa.


"Pa, Alfi datang!" Ucap Mina berulang kali menoleh ke belakangnya.


Ikhsan mengusap wajahnya dan tak ingin menunjukkan rasa cemasnya kepada Shizuka dan Zeexsa.


"Biar ajalah ma kalau dia kemari."


"Dia bisa mengacaukan hasil rapat pa. Alfi sudah tiba pa," ucap Mina menatapnya untuk kesekian kali.


"Kenapa mama harus bikin laporan kepada papa berkali-kali sih ma? Aku seperti seorang tahanan saja mama perlakukan."


"Kenapa kamu kemari? Lebih baik kamu pulang sekarang juga!"


Alfi tak menghiraukan ibunya. Ia duduk dua kursi diantara Karla dan Herlina. Tepatnya baris pertama yang berada di depan Kades.


"Permisi Pak Kades! Apakah kita sudah bisa memulai acaranya sekarang? Semua warga sudah datang dan kursi pun sudah terisi penuh," ucap Zulmansyah.


Kades mengangguk setuju.


Acara pun dimulai. Setelah dibuka dengan kata sambutan dari wakil kades. Lalu dilanjutkan dengan penyampaian hasil rapat. Sebelum hasil rapatnya disampaikan, semua warga bersorak-sorai dengan wajah berseri-seri. Ketidaksabaran beberapa warga memeras air mata beberapa perangkat desa yang tak setuju dan sebagian warga lainnya yang mendukung Shizuka dan Zeexsa. Alfi juga termasuk dari sebagian warga yang tak menerima Ketidakadilan yang diperoleh Shizuka dan Zeexsa.


"Harap semua tenang agar hasil rapat dapat dibacakan."


"Hasil rapat dari dewan desa yang dilakukan pada hari Rabu pukul 17.15 Wib adalah Shizuka,..." ucap Zulmansyah terhenti tiba-tiba.


"Tunggu dulu," potong Alfi.


"Ada apa sama anak itu?" gumam Herlina menatap heran.


"Kan sudah mama duga dia akan melakukan hal yang gak kita sangka-sangka pa," ucap Mina berbisik pada Yoman.


Yoman mengangkat tangan kanannya kepada Zulmansyah sebagai tanda untuk memberi kesempatan Alfi berbicara.


"Alfi kamu mau bicara apa?" Tanya Ranto.


"Tolong izinkan saya berbicara," ucapnya menatap ayah dan ibunya.


"Silahkan nak!" Ucap Yoman selaku ayahnya dan juga kepala desa.


"Sebel hasilnya dibacakan, saya mau bertanya. Apakah kalian semua sudah bertanya tentang masalah yang sebenarnya pada pihak korban dan pihak pelapor atau tergugat? Untuk masalah ini, kita harus adil. Kita juga harus mendengarkan kebenaran ini dari para saksi mata. Sumber masalah ini makin senjang jika tidak adanya penyampaian dari kedua belah pihak yang berseteru atau yang mengalami konflik."


Pendukung Shizuka dan Zeexsa mengangguk.


"Benar kata Alfi," ucap Ikhsan menatapnya dengan kagum.


"Sebentar! Dia hanya anak-anak yang baru beranjak dewasa. Keputusan tentang masalah ini adalah keputusan yang dinanti semua warga desa. Hanya perangkat desa yang berhak atas hasil rapat tentang persoalan ini. Setuju kan?" Ucap Jogi berteriak menyemangati warga yang pro kepada Herlina.


Keadaan makin tak kondusif.


"Diam semua!" Teriak Wakil kepala desa.


"Meskipun dia masih anak-anak tapi ucapannya itu benar. Dia tidak asal bicara saja. Bukan seperti tong kosong nyaring bunyinya. Kalian bisa melihat usianya tapi jangan anggap remeh dengan pendapatnya yang bermakna dan jelas itu," ucap Handoko bersuara diantara para warga.


"Harap tenang," ucap Zulmansyah.


"Apakah ada yang mau disampaikan lagi nak?" Tanya Kades.


"Saya hanya meminta keadilan. Terima kasih!"


Alfi mendapatkan tepuk tangan dari beberapa warga.


"Baiklah setelah mendengar pendapat dari anak kita tadi. Maka kami sebagai perangkat desa akan menyetujui ucapan dari Alfi Muhammad Kahfi yang baru saja menyampaikan pendapatnya tadi."


"Hah ini memang di luar dugaan. Saya harap Shizuka yang akan dipermalukan," ucap Herlina berharap.


"Untuk itu saya persilahkan ibu Herlina untuk berbicara tentang kejadian yang sebenarnya," ucap Zulmansyah mempersilahkan.


"Gawat dong pa! Shizuka dan Zeexsa kan sudah gak di desa kita lagi. Bagaimana itu pa?"


"Hasil musyawarah ini bisa kita tunda ma sampai Shizuka kembali."


"Maaf ikut berbicara pak, Bu. Saya juga setuju dengan Pak Kades karena ini adalah masalah yang penting. Tidak ada yang boleh dirugikan. Saya senang Alfi mengatakan hal itu. Dia membuat saya sedikit lega atas ketidakberdayaan saya."


"Kades tersenyum. Sedangkan Mina membuang mukanya. Ia sangat malu atas ucapan Alfi karena membela Shizuka dan Zeexsa.


"Sebenarnya masalah ini masalah keluarga saya. Akibat kejadian yang terjadi di kebun Usman itu, saya menjadi murka. Kalian semua tahukan suami saya pergi ke luar kota. Sampai hari ini belum juga kembali. Tanpa sengaja, saya melihat foto suami saya dengan ibunya Shizuka. Saya menemukannya di meja kantor suami saya. Kemudian saya menyelidiki foto itu. Saya mulai mengawasi suami dan juga ibunya Shizuka. Saya tidak menyangka bahwa yang saya lihat itu adalah faktanya. Keduanya tampak dekat dan telah menjalin hubungan. Saya meyakini ini karena sewaktu ibunya Shizuka di penjara, suami saya mati-matian membelanya. Bahkan sampai ibunya Shizuka meninggal pun, dia tetap mencintainya karena mereka sudah memiliki Puteri keduanya Zeexsa. Hubungan itu sudah sangat lama. Saya menyadarinya ketika melihat foto itu."


"Tapi Bu Herlina, ibunya Shizuka datang ke desa kita memang sudah mengandung anak keduanya. Kenapa ibu menuduh bahwa itu adalah anak suami ibu? Padahal dari cerita ibu tadi hubungan itu terjalin saat mereka bertemu di desa ini," ungkap Zulmansyah.


"Sudah saya bilangkan, saya terlambat mengetahui hubungan mereka. Barangkali mereka sudah sangat akrab sebelum Ibunya Shizuka kemari. Suami saya barangkali yang membawa mereka ke sini agar jarak mereka makin dekat."


"Berarti ibu hanya menduga saja."

__ADS_1


"Tidak. Saya punya buktinya. Ini foto mereka ketika Shizuka masih 6 tahun," ucap Herlina.


"Coba saya lihat!" Ucap Mina.


"Lokasi itu berada di Jembatan Miyake. Itu ada di Desa Udon."


Semua orang saling tatap.


"Berarti benar kan? Apa lagi yang kalian ragukan? Ibunya Shizuka hamil di luar nikah. Sudahi musyawarah ini karena kita sudah tahu yang benar siapa," ucap Yosep berdiri.


"Kita juga tak butuh penjelasan Shizuka karena ini adalah masa lalu Herlina dan ibunya. Dia pasti membela ibunya walaupun ibunya salah."


Zulmansyah berbisik dengan Kades dan Wakil Kades.


"Masalah pertama selesai."


"Tapi Pak Zulmansyah kita juga perlu saksi," ucap Alfi.


"Saksi apa hah?" Tanya Herlina garang.


"Silahkan kembali ke tempatnya Bu Herlina," ucap Zulmansyah memberikan ponselnya.


"Alfi bikin malu aja," gumam Mina menatap anaknya.


"Pembahasan kedua mengenai Shizuka dan laki² asing itu."


"Siapa yang akan bersaksi?" Sahut Zulmansyah lagi menatap seluruh warga.


"Kita semua mendengar dan melihat pembicaraan laki-laki itu kepada Shizuka jadi untuk apa saksi lagi. Lebih baik nyatakan saja hasil rapat ini," ujar Neli dengan suara lantang.


"Setuju! Setuju!" Teriak beberapa warga serentak.


"Apakah ada yang mengenal laki-laki itu?" Tanya Zulmansyah.


Sebagian orang terdiam dan sebagian lagi menggelengkan kepalanya.


Zulmansyah berbisik laki kepada Kades dan Wakil Kades.


Beberapa menit kemudian, Zulmansyah pun mengatakan hasil rapat itu. Ia mengatakan bahwa Ibunya Shizuka bersalah atas kehidupan dari Herlina. Begitu pun Shizuka sendiri. Hal yang dianggap mencoreng nama desa ini akan diberikan hukuman atau sanksi. Ibunya Shizuka sudah tidak ada lagi. Maka segala hukuman atau pun sanksi akan diterima oleh anaknya, yaitu Shizuka dan Zeexsa. Hukuman atau sanksinya adalah harus meninggalkan desa ini dan tidak boleh kembali lagi. Jika mereka tetap kembali ke sini maka mereka bisa terkena hukuman penjara. Nah ini adalah mufakat kita bersama karena kita masih punya perasaan jadi lebih baik mereka meninggalkan desa ini. Kita tak boleh membawa ke jalur hukum. Alasannya karena Shizuka pun sudah berjasa di desa ini, orang tuanya tidak ada lagi, dan dia pun tidak hadir dalam rapat kita pada hari ini. Bagaimana Bu Herlina dan warga lainnya?"


Beberapa orang setuju. Sementara Herlina tersenyum dengan mengangguk kan kepalanya. Berbeda dengan beberapa warga lagi dan juga Alfi. Mereka tertunduk dengan wajah mendung. Tepuk tangan dan sorakan dari sebagian warga membuat hati Ikhsan tersedu.


"Saya yang menyetujui ini. Tapi kenapa saya bersedih?"


"Sudahlah Ikhsan. Ini yang terbaik. Lihatlah Herlina dan beberapa warga telah bahagia. Kita harus ikut bahagia juga," ucap Yoman dengan suara pelan.


"Pa, Alfi menendang beberapa kursi!"


"Alfi!" Teriak Yoman emosi.


Alfi tak menghiraukannya dan pergi tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya.


Beberapa menit kemudian rapat selesai. Herlina pulang ke rumahnya sendirian. Ia berjalan dengan sangat santai. Senyuman di wajahnya pun ikut menunjukkan betapa gembiranya dirinya. Di perempatan jalan ia mengatur napasnya dan bersikap seperti biasa saja. Ia was-was dari Haikal yang belum mengetahui peristiwa yang baru saja terjadi.


"Udah hampir Maghrib ibu belum juga pulang?" Gumam Haikal menatap langit yang agak mendung.


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam!" Jawab Haikal.


"Loh kamu ngapain berdiri di depan jendela nak? Apa kamu mikirin sesuatu?"


"Iya bu. Aku heran kenapa ibu dan Debi seperti menyembunyikan sesuatu dariku."


"Itu hanya perasaan mu saja. Sana siap-siap bentar lagi azan magrib."


"Aku serius bu. Aku mohon beri tahu kepadaku bu!"


"Allahuakbar Allahuakbar!"


"Nah itu sudah azan. Sana sholat jamaah di masjid."


"Ya Allah ada apa sebenarnya? Ibu juga kelihatannya begitu bahagia karena sesuatu hal. Tapi apa itu?" ucapnya penuh curiga.


"Apa-apaan ini!" Gerutu Alfi memukul tembok rumahnya.


"Hentikan nak! Tangan mu bisa terluka. Kenapa kamu menyakiti dirimu?" ucap Mina menenangkannya.


"Apa artinya rapat jika hanya satu pihak saja yang hadir? Ini menguntungkan satu pihak saja. Apa mufakat yang dicapai? Sama saja seperti permainan yang dilakukan anak kecil saat bermain."


"Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Kamu hanya kasihan kan sama perempuan itu. Mama harap besok dan seterusnya kamu bisa melupakan ini."


"Aku gak percaya semua ini. Apakah ibu Herlina itu ingin merampas kebahagiaan Shizuka atas kepergian suaminya? Sungguh tidak masuk di akal jika dia mencoba menghancurkan kehidupan Shizuka hanya karena masalah rumah tangganya," ucap Alfi menggaruk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2