
Haikal gagal mendapatkan ayahnya. Wajahnya tampak kesal karena sudah mengejarnya dalam waktu hampir satu jam, namun tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia membuka dasinya dan melemparnya ke lantai. Tepat di depan kamar 31 Haikal menyandarkan dirinya. Ia berbicara sendirian mengenai kekecewaannya yang tidak bisa menghentikan ayahnya. Lima belas menit berlalu, ponsel Haikal berdering. Itu merupakan panggilan dari Rona. Haikal tak menjawab telponnya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya.
"Mana mungkin aku bisa melupakan kejadian ini. Tadi itu aku sangat yakin bahwa dia adalah ayah ku. Sudah bertahun-tahun aku tak melihatnya. Ternyata ayah ada di hotel ini," ucapnya menatap ke sekelilingnya yang penuh dengan ornamen budaya Jepang.
"Anak itu dia ada di balik pintu kamarku," gumam laki-laki tua itu yang juga bersandar di pintu kamarnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ayah lari dari ku? Kenapa ayah tidak memeluk ku?"
"Aku bisa merasakan kehadiran anak ku. Dia begitu tampan dan berwibawa. Haikal maaf kan ayah," gumam laki-laki tua itu memegang pintu kamarnya dengan memejamkan matanya.
"Permisi tuan!" Ucap pelayan hotel yang sedang membersihkan lantai.
Haikal meminta maaf pada pelayan itu dan pergi sambil mencari-cari keberadaan laki-laki tua itu.
"Kemana aku harus mencarinya?"
"Haikal!" Teriak Salwa.
"Kau lagi. Kau telah menampar ayah ku. Kenapa kau begitu kasar sebagai perempuan? Apa kau tak pernah diajarkan sopan santun," bentak Haikal.
"Kenapa kau membentak ku? Kau itu begitu emosi hari ini. Kau seperti bukan Haikal yang aku kenal dulu."
"Aku masih Haikal yang sama. Aku seperti ini karena kau membuat ayah ku jadi pergi dari ku."
"Dia ayah mu?"
Haikal tak menjawab dia pergi begitu saja.
"Haikal Pak Faiz sudah menanti mu dari tadi di meja No. 4."
"Maaf aku lagi tidak enak badan hari ini. Aku pamit pulang dulu," ucap Haikal sambil memegang keningnya.
"Iya sepertinya dia pusing," ucap Salwa merasa bersalah.
"Sepertinya Haikal sudah pergi. Aku periksa dulu," ucap laki-laki tua itu membuka pintunya.
Ia tak melihat siapapun kecuali perempuan yang sedang menyapu lantai. Kemudian ia kembali menutup pintu kamarnya. Ia terduduk di lantai sambil membayangkan kejadian tadi. Ia memejamkan matanya juga.
"Haikal anak ku. Dia sudah menjadi orang besar. Dari penampilannya terlihat bahwa dia sudah mandiri. Haikal pasti tidak kesulitan bertahan hidup tanpa diriku yang selama ini tak ada untuknya."
"Maaf apa kita bisa langsung memulai acara kita?" Tanya Ian yang melihat Haikal tak hadir di rapat mereka.
"Itu Salwa!" Ujar Rona menunjuknya.
"Haikal tak ada bersamanya. Kemana Haikal?" Tanya Faiz menatap ke semua karyawannya.
"Maaf pak saya gak bisa membawa Haikal hadir dalam rapat."
"Kenapa? Mana Haikal?" Tanya Faiz.
"Dia sudah pulang pak."
"Loh kok kamu biarin sih Salwa? Seharusnya kamu menyuruhnya kemari."
"Saya sudah berusaha pak. Tapi ini juga mungkin salah saya. Saya tadi membuatnya marah dan membuatnya pusing pak."
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Tadi kami tak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki tua itu menumpahkan kopi ke bajunya Haikal. Saya emosi dan tanpa mikir panjang saya menampar laki-laki tua itu dihadapan banyak orang. Haikal pun memarahi saya dengan sangat keras. Dia membentak saya dan sepertinya dia tidak ingin melihat wajah saya lagi."
"Hah kamu menampar laki-laki yang lebih tua dari kamu. Kamu memang gak berperasaan," ucap Faiz malu.
"Tapi kenapa Haikal sangat mempedulikan laki-laki tua itu sampai tidak ingin menatapmu lagi Salwa?"
"Wajarlah Kartika. Itu kan tidak punya rasa manusiawi kepada yang lebih tua darinya," jawab Wilda.
"Gak logis juga kali!" Balas Kartika mencibir.
"Itu karena laki-laki tua itu adalah ayahnya Haikal yang telah lama menghilang."
"Apa kamu bilang Salwa?" Tanya Ian kaget beserta yang lainnya juga tercengang.
"Ayahnya sudah kembali. Terus dimana ayah Haikal itu sekarang?" Tanya Ian lagi mendekati Salwa.
"Kau gila ya? Mana saya tahulah. Saya saja fokus nyari Haikal. Saya gak terpikir mencari ayahnya. Gak penting banget," ucapnya duduk di kursi Ian.
"Sudah jangan bahas masalah ayahnya Haikal lagi. Sekarang kita akan tetap memulai rapat kita yang tertunda. Ian kamu gantikan Haikal. Sekarang kamu yang akan persentasi."
"Iya-iya baik pak!" Ucap Ian masih memikirkan ayahnya Haikal.
"Apakah anak itu akan kembali lagi ke hotel ini mencari ku? Tidak. Aku tidak boleh tertangkap olehnya. Tapi jika aku pergi dari sini, bagaimana dengan Zoya? Dia kan sedang gak enak badan. Ditambah lagi aku harus menikahinya secepatnya," gumamnya menatap kopernya di sudut lemari.
"Permisi!"
"Siapa?" (membuka pintu)
Perempuan itu hanya diam.
Zoya masih tetap bungkam.
"Ayo masuk dulu Zoya atau kita bicara di lobi saja bagaimana?"
Zoya masih tetap diam.
"Kalau kamu gak mau di lobi, kita ke taman saja atau ke kolam atau ke cafe yang berada di hotel ini, atau kamu saja yang mencari tempat kita untuk berbicaranya. Bagaimana Zoya?"
Zoya diam tanpa berkedip.
"Ada apa Zoya? Apakah kamu pusing lagi? Kita ke rumah sakit ya?"
Zoya memberikan kertas kecil. Laki-laki tua itu menerimanya dan membaca di dalam hati, "Tolong tinggalkan aku. Pergilah pulang ke rumahmu."
"Kenapa Zoya? Bukankah kamu menyukaiku? Aku telah meninggalkan istri, anak, dan segalanya di desa Unicorn untuk kamu Zoya. Aku juga sudah banyak membantumu juga temanmu yang bernama Shima."
"Shima meninggal karena kamu. Jadi tolong jangan sebut namanya lagi dari mulut kotor mu!" Ucap Zoya tiba-tiba bicara setelah mendengar nama Shima.
Laki-laki tua itu terdiam dan hanya menatap Zoya berlari masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kamar laki-laki tua itu.
"Apakah pengorbananku tak bisa terlihat oleh Zoya? Dia telah memenjarakan namaku bertahun-tahun atas kehilangan teman karibnya. Shima perempuan polos dan lembut itu juga telah menerima kesalahanku hingga ia menghirup udara di penjara sampai napas terakhirnya. Apakah aku begitu kejam dan tak pantas menerima hati perempuan yang aku cintai?" ucapnya masih berdiri menatap pintu kamar Zoya yang tertutup.
Shizuka dan Zeexsa melewati kamar laki-laki tua itu. Mereka menoleh ke arahnya. Namun terhalangi oleh pelayan kamar yang berhenti di depan laki-laki tua itu. Pelayan itu membawa banyak kantongan pelastik. Kantongan itu hingga bertumpuk di gerobak yang hendak di dorongnya.
"Wah lelah juga ya kak jadi karyawan di hotel ini," ucap Zeexsa.
"Yang penting dilakukan dengan ikhlas. Maka kita tak akan merasa lelah.
__ADS_1
"Kak setelah ini, kita tinggal dimana?" Tanya Zeexsa membuka pintu kamarnya No. 23.
"Eh Bu Pertiwi. Ibu sedang apa?" Tanya Shizuka menghampirinya.
"Menanti kalian. Bagaimana acaranya?"
"Menyenangkan Tan. Kami jadi dapat bekal untuk memulai usaha kami," jawab Shizuka tersenyum.
"Alhamdulillah. Oh ya nanti siang kita langsung ke stasiun ya. Ini kan sudah pukul 12 siang kurang seperempat, kalian langsung siap-siap ya."
"Kami ikut dengan Tante?" Tanya Zeexsa terbata-bata.
"Iya Zeexsa. Kalian kan sudah seperti anak perempuan Tante. Jadi kalian harus ikut dengan Tante pulang ke desa Momoki.
"Makasih ya Tante," ucap Zeexsa dengan senyum lebarnya.
"Tapi bagaimana dengan perkara kami Tan? Bukankah akan diadakan musyawarah di desa ini membahas tentang masalah itu."
"Sudahlah kak. Kita anggap aja itu sebuah ujian karena tanpa masalah itu kita gak akan bisa bertemu dengan Tante Pertiwi. Kakak jangan mikirin itu lagi ya. Lagi pula ibu Herlina sudah bebas dan mengenai bukti kita gak bersalah juga tidak ada kak. Mereka gak akan percaya dengan kita hanya dengan mendengar penjelasan kita saja. Kakak harus terima faktanya."
"Kalian mulai saja lembar baru bersama Tante dan om di desa Momoki. Mengenai usaha kalian, kami akan membantu untuk mewujudkan impian indah kalian nak."
"Tante baik sekali. Semoga Tante dan om makin sukses dunia, akhirat dan berkah umurnya," ucap Zeexsa merangkul Pertiwi.
"Apa kami tidak merepotkan Tante dan om Naoto?"
"Tentu tidak nak!" Jawab Naoto yang telah membawa perlengkapan kerjanya.
"Papa. Sudah selesai pa?"
"Udah ma."
"Om jelasin sama kak Shizuka agar dia tidak merasa khawatir lagi dengan perkara kami yang lalu itu."
Naoto menatap Shizuka sambil mengatakan, " Nak hidup ini adalah permainan. Tidak ada yang mau hidup susah atau menderita. Tapi ikutilah alurnya nak. Jangan kamu pikirkan dengan keras karena kamu bisa stres bahkan sakit. Jika sudah berlalu, maka lupakan. Jika kamu susah melupakannya, maka carilah kegiatanmu yang bisa membuatmu sibuk. Entah itu dengan bekerja, beribadah, atau liburan. Walaupun masalah itu menurut mu belum kelar dan membuat mu juga menderita jika memikirkannya, maka kamu relakan saja. Kamu emang merasa teraniaya. Tapi kan kamu sudah berusaha keras mengatakan kebenarannya. Bila tak bisa diperbaiki lagi, maka kamu harus menyerahkannya pada Allah nak. Yakinlah bahwa Allah akan membantu mu."
Zeexsa bertepuk tangan dengan wajah berseri-seri.
"Saya setuju om. Berkat motivasi om saya jadi semangat untuk memulai kehidupan baru dengan Tante dan om."
"Nah Zeexsa itu adalah langkah awal dalam memulai aktivitas," ucap Naoto tersenyum.
"Kakak masih khawatir juga?"
"Kamu tetap optimis nak. Jangan pikirkan yang telah berlalu," ujar Pertiwi.
"Ayo Shizuka kita check out," ucap Naoto duluan keluar kamar.
Zeexsa menggenggam tangan kakaknya melangkah keluar kamar.
"Oh ya dana bantuan untuk wirausaha akan cair seminggu lagi," kata Naoto menatap Shizuka dan Zeexsa.
"Kalian sudah bisa membuat rekening barulah Shizuka, Zeexsa."
"Iya Tan. Nanti buku rekeningnya atas nama kak Shizuka saja karena aku kan asisten kak Shizuka."
Shizuka tersenyum menatap Zeexsa.
__ADS_1