
"Kita harus mencari Debi kemana lagi Bu? Kita tak menemukan Debi di sini," lirik Haikal pada kalung itu.
"Lantas apakah kita harus diam saja? Ayo telpon PMI atau tim SAR untuk menyelamatkan Debi."
"Bu aku hubungi tim SAR dulu."
"Iya-iya nak. Ibu yakin Debi masih bisa bertahan. Dia anak ibu yang kuat."
"Ini telpon dari kepolisian Bu!"
"Angkat dulu nak. Siapa tahu mereka sudah menemukan Debi."
"Halo!" Ucap Haikal menatap ibunya.
"Apakah ini Pak Haikal?"
"Iya saya pak. Bagaimana pak? Apakah bapak menemukan adik saya?"
"Maaf Pak Haikal! Adik anda sepertinya tidak bisa tertolong lagi. Kami sudah melacak keberadaannya. Kami menemukan lokasinya di Pantai Soucan. Ketika kami di sana, adik anda tak ada kami temukan kecuali ponselnya saja. Maafkan kami pak karena tak bisa mendapatkan adik bapak."
Haikal mematikan ponselnya. Ia terpaku dengan seribu alasan untuk tetap diam. Raganya tampak lelah hingga ia terjatuh ke pasir pantai putih itu. Sedangkan Herlina terus membuat Haikal mengatakan apa yang terjadi. Dia menanyai Haikal tanpa jeda. Mulut Haikal terkunci rapat. Ia memalingkan wajahnya ke kalung yang berada di genggaman ibunya. Haikal yang jarang meneteskan air mata, kini air mata itu jatuh menetes dengan perih. Ia tak sanggup berbicara pada ibunya.
"Apa yang terjadi? Apa yang polisi itu katakan nak?" Tanya Herlina makin panik.
"Kenapa kamu diam saja Haikal. Katakan yang sebenarnya pada ibu," ucap Herlina lagi dengan nada suara serak.
"De-bi, De-bi!" Ucap Haikal tersendat-sendat.
"Kenapa dengan Debi?" Tanya Herlina histeris.
Haikal bangun dan membawa ibunya pulang. Namun Herlina berontak karena belum menemukan Debi. Haikal terus membawa ibunya meninggalkan pantai Soucan. Hingga sandal ibunya terlepas di pantai itu. Haikal tak bisa membiarkan ibunya terus berada di sana karena pantai itu sangat angker. Ia takut ibunya mengalami hal buruk di sana. Ditambah lagi Debi pun sudah dikatakan polisi bahwa ia menghilang di Pantai Soucan. Dugaannya tentang Debi yang tenggelam itu benar.
"Kenapa kita masuk ke mobil? Adik kamu membutuhkan kita," ucap Herlina membuka pi tu mobil.
"Jangan ke sana lagi Bu!"
"Tapi Debi di sana nak. Dia membutuhkan pertolongan kita."
"De-bi sudah tidak ada lagi Bu!" Ujar Haikal dengan suara iba.
"Kamu ngawur. Debi itu masih hidup. Jangan berkata yang tidak-tidak."
"Polisi sudah mencarinya ke sini Bu. Mereka juga tak menemukan Debi selain ponselnya saja. Debi gak mungkin selamat dari pantai ini karena kemarin badai besar Bu. Kemudian Pantai Soucan juga angker. Tidak ada yang berani masuk ke Pantai Soucan Bu. Barangkali Debi sudah tak bisa berpikir jernih hingga ia menerobos masuk ke sini. Segel di depan gerbang Pantai Soucan saja sudah terbuka Bu. Gerbang itu sudah disegel oleh kepolisian karena kasus yang mengerikan. Kasus bertahun-tahun yang menimpa Shinwey."
Herlina menangis tak tahu hendak mengatakan apalagi karena perkataan Haikal itu. Ia menangis histeris dan Haikal hanya terpaku menatap gerbang Pantai Soucan. Tangisan ibunya membuat hati Haikal retak berkeping-keping. Ibunya teramat berduka. Mereka kehilangan sosok Debi yang sangat mereka cintai. Herlina terus menangis tanpa henti. Haikal pun mencoba menenangkannya dengan mengusap air mata ibunya dan menggosok-gosok punggung ibunya.
...****************...
"Kak Abang Haikal pasti menunggu kakak untuk bekerja di sana. Kenapa kakak gak berangkat kerja sekarang saja?"
"Gak mungkinlah dia menunggu kakak. Kamu tahu sendiri kan dia itu sibuk. Mana sempat mikir kakak!"
"Cie yang berharap untuk diingat!" Ledek Zeexsa.
"Hari ini kita masak apa ya Zeexsa? Bahan dapur pun sudah habis."
"Iya juga ya kak. Bagaimana kalau kita masak nasi goreng aja. Kan nasi goreng buatan kakak lezat banget!" Jawab Zeexsa yang mengambil talenan untuk memotong bawang merah.
"Iya benar juga kamu Zeexsa. Nasi goreng buatan kakak emang terenak sedunia!" Puji Shizuka sambil tertawa.
__ADS_1
"Puji diri sendiri tak masalahkan?" Sahut Shizuka lagi menatap Zeexsa yang terbahak-bahak.
"Itu gak masalah kok kak. Itu motivasi untuk diri kita sendiri!" Jawab Zeexsa sedang mencuci bawang merah.
"Alfi! Kamu menunggu siapa?" Tanya Cika yang sedang merapikan pakaian yang dipajang.
"Shizuka, Zeexsa kok belum datang?" Tanya Alfi yang menanti di depan tokonya.
"Barangkali mereka mengurungkan niatnya untuk bekerja padamu."
"Hah! Jangan asal bicara kamu Cika. Gak mungkin mereka tak menepati janji. Aku percaya mereka."
"Segitunya amat kamu memikirkan Shizuka dan Zeexsa."
"Aku juga begini ya karena mereka itu aset di toko aku."
"Gak percaya!" Ujar Cika tertawa sinis.
"Sambil menunggu mereka, aku akan duduk di sini minum kopi."
"Segitunya amat sih! Dasar cowok playboy!"
"Kamu bekerja ajalah Cika. Sana jangan banyak cakap lagi. Banyak kerjaan di dalam toko."
"Iya-iya," jawab Cika terpaksa.
"Kenapa semua orang berbondong-bondong?" Gumam Alfi.
"Hei Alfi!" Teriak Radit yang sedang berjalan dengan Vikram.
"Kalian kenapa berjalan bersama para warga?"
"Kami mau ke rumah si Debi," jawab Radit.
"Wah ketinggalan informasi kamu. Si Debi sudah gak ada lagi."
"Pintar banget kamu ngarang Radit!" Ucap Alfi tak percaya.
"Ya dia gak percaya dibilangin. Lo tanya tu pada Vikram. Dia membaca pesan-pesan si Debi sewaktu kejadian mengerikan itu."
Vikram mengangguk.
"Udah dulu ya. Kami harus ke rumah Debi. Ayo ikutan Alfi. Sibuk amat sih jagain toko. Padahal Lo udah kaya raya. Harta orang tua Lo sudah membukit," ucap Radit.
"Banyak banget cerita mu! Ayo kita ke sana!" Ujar Alfi pergi bersama mereka."
"Eh Alfi!" Teriak Cika yang membersihkan kaca toko.
"Kenapa Debi meninggal? Bukankah dia baik-baik aja kemarin-kemarin ini?" Tanya Alfi sambil berjalan serentak dengan Vikram dan Radit.
"Dia bucin. Diputusin Vikram, dia langsung gila!"
"Hah diputusin? Kenapa kamu mutusin dia Vikram? Kalian berdua ini sama aja ya gak bisa jaga perasaan cewek."
"Aku gak suka samanya lagi ya gimana? Gak mungkin kan aku terus mempertahankan hubungan kami. Aku dari awal emang gak menyukainya Alfi," ungkap Vikram.
"Tega amat kamu Vikram! Kalau gak suka samanya, meskinya kamu jangan memberikan harapan palsu padanya dengan berpura-pura mencintainya," ujar Alfi.
"Kamu sok jadi pahlawan ya Alfi. Kamu sudah jadi pakar cinta juga sekarang?" Gerutu Radit.
__ADS_1
"Ya abis kalian senang banget mempermainkan perasaan cewek. Kalian pikir cewek itu boneka kalian. Seenaknya aja main putus gitu. Gak komitmen banget sih jadi cowok."
"Eh itu ibu dan abangnya si Debi!" Ucap Radit.
"Aku malu nunjukin wajahku pada mereka. Aku tunggu di sini aja ya!" Pinta Vikram duduk di kursi panjang depan rumah Debi.
"Pengecut! Makanya jangan bermain api. Terbakar kan kamu," ucap Alfi kesal.
"Udah lo jangan membuatnya makin sedih. Simpan aja kata-kata itu untuk orang lain yang putus cinta. Jangan pada Vikram. Dia putusin Debi tu karena ingin fokus kuliah. Siapin skripsinya. Selesai kuliah ni dia juga mau lanjut S2. Dia gak mau karena pacaran, kuliahnya jadi berantakan."
"Semoga kamu bisa optimis dan tidak merusak hati cewek lain lagi!" Ujar Alfi pergi bersama Radit setelah menatap Vikram dengan emosi.
"Iya saya akan ikut ke dalam!" ucap Vikram terpaksa.
"Bu! Kenapa warga beramai-ramai kemari?" Tanya Haikal.
"Assalamu'alaikum Herlina, Haikal! Kalian sudah menemukan Debi?" Tanya Ulvi.
"Maaf ibu-ibu! Kalian semua tahu dari mana Debi menghilang?"
"Oh itu. Kami tahu dari nak Vikram. Katanya Debi pergi ke Pantai Soucan yang angker itu. Kami semua khawatir karena mendengar Pantai Soucan yang sangat angker itu. Mustahil orang selamat setelah pergi ke sana," ucap Karla.
"Iya sih. Tapi Debi itu anak yang kuat. Dia pasti pulang kok," ucap Herlina.
"Kalian tahu dari Vikram? Kok Vikram bisa mengetahuinya?" Tanya Haikal heran.
"Iya. Vikram lah yang menceritakan pada ibunya. Lalu ibunya mengatakan pada kami. Jadi kami berinisiatif kemari untuk melihat Debi," ucap Karla.
"Itu dia Vikram nya!" Ujar Serli.
"Assalamu'alaikum!" salam dari Alfi dan Vikram serentak.
"Waalaikumsalam!" Jawab semua orang.
"Dia kan laki-laki yang selalu ingin ditemui oleh adikmu Haikal!" Bisik Herlina.
"Sini kamu!" Bentak Haikal menarik kerah baju Vikram dan memukulinya dengan emosi.
"Maafkan saya bang! Saya tidak ada bermaksud untuk membuat Debi begini," ucap Vikram memicingkan mata.
"Semua ini akibat ulah mu kan? Kenapa kamu mempermainkan perasaan adik saya? Dasar cowok playboy, bangsat!" Maki Haikal yang terus menonjoknya tanpa ada perlawanan dari Vikram.
"Lepaskan tangan mu dari Vikram. Jangan main hakim sendiri. Cepat lepaskan!" Ujar Alfi berusaha memisahkan mereka.
"Kenapa kamu membela laki-laki ini hah?" Teriak Haikal yang sudah tak mampu menahan emosi.
"Saya minta maaf bang!" Ujar Vikram memohon.
"Maaf saja tak dapat mengembalikan adik saya. Dasar kamu laki-laki tak tahu malu!" Tangan Haikal mendarat ke pipi Vikram.
"Sudah cukup atas perlakuan mu. Kamu sudah kasar padanya. Dia ini juga manusia. Dia sudah menyesal. Jangan kamu hancurkan perasaan adikmu dengan memukuli dan mencacinya terus."
"Apa? Justru dengan saya perlakukan dia begini, adik saya pasti senang karena kekecewaannya terbalaskan."
"Tidak. Dia gak begitu. Debi mencintai Vikram. Dia pasti ingin Vikram baik-baik saja."
"Munafik! Sekarang pergi kalian dari sini!" Ujar Haikal mendorong Alfi, Vikram, dan Radit.
"Mereka pantas diperlakukan begitu. Ayo kita masuk nak!"
__ADS_1
"Ayo Bu!"
"Kelihatannya Herlina dan Haikal sangat kehilangan Debi. Mereka sampai menganiaya Vikram begitu. Tapi kasihan juga si Vikram. Dia kan tak melakukan apapun," ujar Ulvi menatap wajah Vikram yang babak belur.