Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Kepergian


__ADS_3

Setelah sekian lama rasa itu dibubuhi kerinduan. Akhirnya kini bisa juga dipertemukan dengan sosok yang terlintas dalam tiap nada serta lirik lagunya. Pada sebuah surat bewarna merah jambu tertulis nama perempuan. Nama itu sama seperti tokoh utama perempuan dalam kisah film Doraemon. Dia adalah Shizuka. Perempuan yang sering kali mampir untuk bercengkrama dalam penantiannya. Surat itu ia masuk ke kantong celananya. Kemudian ia melangkah kecil menuju Honda CBR 500 R yang terparkir di depan cafe tempatnya biasa nongkrong.


"Cepat banget kamu perginya Alfi. Kita minum kopi dululah. Ini kan hari terakhir mu sama kami," ujar Ardian yang mengatur napas akibat berlari mengejarnya.


"Kamu bicara apa? Aku harus bertemu dengan seseorang. Aku sangat ingin menemuinya," ucap Alfi yang telah bersiap-siap menyalakan Hondanya.


"Ini gak seru tanpa kamu Alf. Ayolah kita santai-santai dulu."


"Dia pasti mau menemui perempuan itu. Perempuan yang mencuri hatinya," ucap Dante dengan lantang sambil menghampiri mereka.


"Huh kalau tentang perempuan aku mundur deh. Jika aku tetap memaksa, si Alfi pasti bisa gila," ujar Ardian cemberut.


"Selama ini aja dia udah banyak melamun karena perempuan itu. Iyakan Alfi? Kamu hampa tanpanya? Zaman udah canggih tapi mereka gak pernah komunikasi melalui hp dan medsos. Malah komunikasi lewat kertas pink. Kembali ke zaman nenek moyang kita."


"Kalian belum rasain jatuh cinta. Kalau kalian sudah rasain pasti lebih parah dari aku perasaan kalian," ucap Alfi tersenyum.


"Ya sudah sanalah. Sebelum aku berubah pikiran untuk tidak membiarkan mu pergi," ujar Ardian mewek.


"Oke. Aku pergi dulu ya! Sampai jumpa friends!"


"See you next time Alfi!" Ujar Dante melambaikan tangannya bersama dengan Ardian.


"Dante kenalkan aku dengan seorang perempuan cantik dong!"


"Apaan kamu? Aku aja jomblo."


Ardian tertawa terbahak-bahak.


"Senang kamu aku jomblo? Padahal wajahku tampan seperti Kim Bum dan aku mapan."


"Sabar ajalah. Kita sama-sama menanggung jomblo. Jika aku jomblo, maka kamu juga jomblo. Kita teman sejati ya kan Dante."


"Gila!" Ucap Dante masuk ke kafe.


"Hm penasaran dengan Alfi dan perempuan itu," gumam Ardian.


"Eh Dante kamu kenal dengan perempuan yang membuat Alfi tergila-gila? Kenalkan denganku dong!" Teriak Ardian berlari menyusul Dante yang telah menyeduh kopi.


"Kenapa kalian lama sekali di luar sana bang?" Tanya Vikram yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Adik-adik gak boleh tahu. Ini urusan orang dewasa," ucap Ardian menaikkan alisnya.


"Oalah se-dewasa apa sih kamu bang Ardian?" Ledek Vikram sambil menulis.


"Adik kamu jahil banget ya Dante," ujar Ardian mengambil rokoknya di meja.


"Makanya jangan sok dewasa kamu. Usia kan bisa dewasa, tapi kepribadian maupun sikap belum tentu sejalan," pungkas Dante.


"Sama aja Abang dan adik," ujar Ardian seraya menggaruk kepala.


"Waiters! Mbak tolong mie Aceh agak pedas ya satu."


"Baik." ucap pelayan perempuan berkerudung abu-abu.


"Belum sarapan kamu ternyata. Kamu selalu begitu," ucap Dante.


"Gimana mau sarapan. Aku begadang semalaman ini. Bangun jam 11."


"Eh tolong ceritain lah tentang Alfi dan perempuan itu," ucap Ardian penasaran.


"Jangan bang. Nanti Abang Ardian jadi orang ketiga pula," ucap Vikram tertawa.


"Nyebelin kamu ya Vikram. Belajar aja yang serius agar kamu cepat menikah."


"Hah nikah? Skripsi aja belum siap."


"Jangan dengarkan dia Vikram. Si Ardian yang mau menikah tu."


"Bagaimana mau nikah? Kamu tahu kan aku jomblo!"


"Makanya ubah tu penampilan mu yang seperti preman," ujar Dante menasehati.


"Kalau aku ubah emang ada perempuan yang menyukaiku?" Tanya Ardian bimbang.


...****************...


"Nak Shizuka bagaimana pesanan ibu? Kemarin kan sudah ukur badan, jadi sekarang udah sampai mana kamu menyelesaikan baju ibu"


"Eh Karla," teriak perempuan sebayanya.


"Eh Herlina. Apa kabar?"


Shizuka memerhatikan kedua orang itu dengan tersenyum. Kedua tangannya berada di atas meja jahit. Kedua perempuan yang sebaya juga dengan ibunya itu bercanda sampai tertawa terbahak-bahak. Shizuka terdiam saja menanti mereka berdua selesai berbicara. Selang beberapa menit kemudian Alfi masuk ke toko Shizuka.


"Assalamu'alaikum! Apakah saya bisa bertemu dengan perempuan yang bernama Shizuka?"


"Alfi? Kamu anak kepala desa itu kan? Saya Cika. Saya tinggal di desa Unicorn ini juga," Ucap Cika malu-malu kucing.


"Oh iya," jawab Alfi memerhatikan ke sekelilingnya.


"Kamu ada perlu apa? Kamu mau jahit baju atau mau beli baju yang di sini?"


"Tidak-tidak!"


"Apakah kamu mau bantuin aku bekerja atau mau ada di dekatku?" ucap Cika dengan pipi memerah.


"Shizuka tidak ada di sini," gumam Alfi berjalan mencari Shizuka.


"Tunggu sebentar. Aku akan membantu kamu mencari baju muslimah. Katakan saja kamu mau baju yang bagaimana."


Alfi melihat satu ruang bertuliskan 'Dilarang masuk yang tidak berkepentingan'. Kemudian ada juga bertuliskan 'Ruang Owner'. Dia melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Tetapi ia tak melihat Shizuka di sana. Ia hanya melihat punggung kedua perempuan menghadap ke meja jahit yang berada dekat gulungan-gulungan kain setinggi tembok.


"Eh Alfi jangan ke sana!" ujar Cika panik.


"Shizuka dimana? Ini ruangannya kan?"


"Iya ini ruangannya. Kenapa gak bilang mau bertemu dengan Shizuka dari tadi?"

__ADS_1


"Kan tadi aku sudah bilang. Kamu banyak berkhayal mungkin."


"Ada apa ribut-ribut di sana?" Tanya Herlina menoleh ke belakangnya.


"Ini memang ruangan Shizuka. Tapi Shizuka nya sedang ada tamu. Jadi kamu keluar aja dulu Alfi."


"Tidak! Aku mau di sini saja. Aku akan menunggu di sini," bantah Alfi melihat Shizuka yang telah berada di hadapannya.


"Tidak bisa. Aku minta maaf ya Alfi. Peraturannya di sini emang begitu. Agar suasananya kondusif. Ayo keluar sekarang. Cepatan Alfi!" ucap Cika memaksa.


Alfi terdiam. Dia tak menghiraukan Cika. Tatapannya hanya kepada Shizuka. Kedua ibu-ibu itu mendekati mereka. Herlina menegur Alfi dengan ramah. Namun Alfi tak bisa berkedip menatap Shizuka. Shizuka diam tanpa ekspresi. Sedangkan Cika masih berusaha menarik tangan Alfi untuk keluar dari ruangan.


"Aduh apaan sih kamu? Jangan pegang-pegang! Aku kemari mau berjumpa dengan Shizuka."


"Nanti aja kamu kemari lagi ya Alfi. Sekarang Shizuka lagi sibuk. Maaf ya!" Ucap Cika berusaha menariknya hingga keluar.


"Shizuka!" Teriak Alfi seraya melepaskan tangan Cika dari pergelangan tangannya.


"Kenapa kamu di sini? Apakah kamu akan membuat kekacauan lagi?" Tanya Shizuka khawatir.


"Aku tidak pernah membuat kekacauan. Kamu salah paham di pertemuan kita yang pertama itu. Aku ke sini mau memberikan kamu sesuatu."


"Hm anak muda sekarang suka sekali merayu perempuan. Apalagi perempuan secantik, secerdas, dan sebaik Shizuka," ucap perempuan langganan Shizuka yang bernama Karla.


"Maaf Bu saya ke sini berniat baik kok. Tidak ingin membuat kacau atau pun merayu."


"Kamu Alfi? Anak si Wina dan Hardi kan?" Tanya Herlina menunjuk Alfi sambil berpikir-pikir.


"Iya itu benar. Kamu kenal orang tua saya?"


"Iya mereka adalah teman karib suami saya. Bagaimana sekarang kabar mereka? Kamu anak yang tampan dan juga kaya. Sama dengan orang tuamu."


"Shizuka ayo kita bicara sekarang," ujar Alfi menarik tangan Shizuka.


"Dasar anak gak sopan. Orang tua bicara, tapi dia gak peduli. Malah pergi begitu saja. Begitulah anak yang tak dididik orang tuanya dengan baik," ujar Herlina dengan mulut runcing.


"Dia laki-laki yang baik kok," bantah Cika seraya tersenyum.


"Kenapa mereka sangat akrab? Apakah mereka berpacaran?" Ucap Karla.


"Intinya Shizuka itu perempuan murahan. Sama dengan gosip yang beredar dan mengenai toko ini, pasti sebentar lagi akan gulung tikar."


"Kalau dipikir sih emang gak pantas dia mendapatkan ini semuanya. Tapi itulah Herlina, banyak orang yang kemari untuk belanja. Mungkin karena tokonya cantik, bajunya bagus atau harganya terjangkau ya?"


"Kamu sendiri kenapa makai jasa jahit dari Shizuka?"


"Itu karena banyak orang yang rekomendasi kepada saya bahwa Shizuka pintar dalam jahit menjahit. Desainnya juga sudah banyak dipuji warga kampung ini. Terus kamu sendiri?"


"Oh kalau saya sih karena penasaran aja kinerjanya dia itu bagaimana. Saya cuma mau lihat-lihat aja," jawab Herlina dengan kedua tangannya di pinggang sambil melihat-lihat ruang kerja Shizuka.


"Saya tidak mengenalmu? Kamu siapa?" Tanya Shizuka dengan jarak setengah meter dari Alfi.


"Benaran kamu tidak mengenal saya? Semua orang di desa ini tahu loh saya siapa. Jangankan desa ini beberapa desa tetangga kita juga mengenal saya. Coba deh kamu ingat-ingat saya siapa. Barangkali kamu kenal."


"Saya tidak suka bermain teka-teki. Saya mau lanjut kerja saja," ucap Shizuka meninggalkan Alfi.


"Shizuka tunggu dulu!" Ujar Alfi lari mengejarnya.


Alfi mundur beberapa langkah untuk mematuhi ucapan Shizuka.


"Saya ini Alfi. Saya kemari mau memberikan sesuatu untuk kamu," ujarnya memberi sepucuk surat bewarna merah jambu.


Shizuka tak mempedulikannya. Ia pergi begitu saja tanpa menerima surat itu. Namun Alfi terus mengejarnya hingga bertabrakan dengan Cika. Sepucuk surat itu terjatuh di hadapan Shizuka. Ia berhenti dengan menatap surat itu. Alfi berjalan dengan terburu-buru untuk berdiri di hadapan Shizuka.


"Tolong terimalah surat ini Shizuka," ucap Alfi yang telah mengambil surat itu dari lantai.


"Baiklah. Kamu taruh saja dulu di meja Cika. Nanti saya ambil."


"Tapi Shizuka," ucap Alfi menatap Shizuka yang telah pergi tanpa menoleh


"Surat apa itu Alfi? Surat cinta kah?" ucap Cika melirik ke surat itu.


Alfi tak menjawab. Ia pergi dari toko Shizuka dengan membawa surat itu bersamanya. Cika terheran menatapnya yang terlihat kecewa. Bersamaan dengan itu, Haikal muncul. Mereka berselisih jalan. Haikal masuk ke toko Shizuka dan menanyai Cika tentang keberadaan Shizuka. Setelah diberitahukan oleh Cika, ia menanti Shizuka di lobi.


"Berbeda banget sama sikap si Alfi. Mas Haikal ramah, sopan, berwibawa, cerdas, rapi, wangi, tampan juga, banyak banget aroma positifnya," gumam Cika sedang mencoba menghubungi Shizuka untuk menyampaikan bahwa Haikal ingin menemuinya.


"Maaf menunggu lama Bu," ucap Shizuka yang termenung beberapa menit di depan pintu ruangannya.


Herlina dan Karla menatapnya tanpa bicara.


"Saya akan menunjukkan kain yang sedang saya kerjakan agar ibu mengetahui sampai mana pengerjaannya."


"Kamu mengenal Alfi?" Tanya Herlina menghampirinya yang sedang mengambil kain jahitannya Karla.


"Tidak Bu," ucap Shizuka.


"Sudahlah Herlina. Jangan bertanya pada Shizuka lagi. Kamu lihat sendiri, anak muda itu tidak sopan. Mana mungkin mereka bisa kenal. Apalagi akrab," ujar Karla menatap kain pesanannya.


"Saya harap kamu jujur karena Alfi itu dari keluarga berada," ucap Herlina dengan mata melotot.


"Herlina sudahlah! Kamu membuatnya takut."


"Iya saya jujur Bu. Ibu gak usah khawatir," ucap Shizuka tegas.


"Satu lagi. Saya minta padamu, jauhi Haikal dan juga Debi karena mereka tak pantas kamu dekati juga. Mereka adalah anak saya. Sedangkan kamu anak yatim piatu yang miskin dan kampungan."


Air mata Shizuka kembali menetes setelah mengering beberapa bulan yang lalu. Ia hanya diam tanpa membantah ocehan dari Herlina. Karla pun menggenggam tangan Shizuka sebagai rasa empati. Ia meminta Shizuka untuk tidak bersedih. Melihat sikap Karla itu, Herlina kesal. Kemudian ia pergi begitu saja sambil berkata, "Jangan lupa dengan yang ku katakan Shizuka! Kalau tidak kamu akan menyesal."


"Maaf pak, Shizuka nya tidak mengangkat telpon saya," ucap Cika tertunduk.


"Tidak apa-apa saya akan menunggunya di sini."


"Haikal! Itu kan Haikal," gumam Herlina terheran.


"Haikal! Kenapa kamu berada di sini?" Teriak ibunya.


Haikal menoleh kearah ibunya yang baru saja berada dihadapannya.

__ADS_1


"Jangan pernah kemari lagi."


"Ibu aku ke sini ada urusan penting."


"Ibu gak mau tahu. Ayo kita pergi dari sini."


"Tapi Bu aku mau bertemu dengan Shizuka. Ini penting Bu!"


"Kalau tidak, bapak tinggalkan pesan saja untuk Shizuka. Nanti saya sampaikan," ucap Cika yang berada diantara Haikal dan Herlina.


"Kamu gak usah ikut campur. Urus saja dirimu yang malang itu karena dekat dengan perempuan bodoh itu."


"Ibu!" Ujar Haikal dengan suara keras.


"Jangan meninggikan suaramu dihadapan ibu. Itulah faktanya. Kamu harus menerima kenyataan bahwa dia tetap buruk di mata ibu maupun warga kampung ini. Meskipun dia Buka usaha, tetap saja ibu melihatnya nihil. Tidak ada yang spesial dalam dirinya."


"Ayo kita pulang!" Ucap Herlina dengan suasana hati yang telah meledak seperti bom atom.


Haikal menuruti perkataan ibunya untuk pergi dan menatap Cika dengan rasa malu bercampur kecewa karena tak bisa bertemu Shizuka.


"Ayo Haikal!" Perintah ibunya lagi yang berhenti tak jauh dari pintu masuk.


"Maaf atas ucapan ibu saya ya Cika. Kamu jangan marah ya!"


"Iya mas. Saya tidak apa-apa!"


Haikal tersenyum dan menyusul ibunya.


"Apakah Shizuka baik-baik saja di sana? Kenapa ibunya mas Haikal memperlakukannya seperti itu ya?" ucap Cika berjalan masuk ke ruang Shizuka.


Tampak olehnya Shizuka terdiam dengan air mata yang membasahi wajahnya. Karla yang berada di sana, pergi pamit pulang karena melihat Cika sudah datang. Sebelum pergi, ia menasehati Shizuka untuk tidak stres dengan ucapan Herlina. Ia juga tidak meminta Shizuka untuk buru-buru menyelesaikan pesanannya.


"Saya permisi dulu ya nak!" Ujar Karla pamit dengan wajah iba.


"Apa yang terjadi Bu?" Tanya Cika.


"Kamu jaga dan semangati Shizuka ya. Dia butuh teman yang bisa menghibur dan membuatnya bahagia."


Cika tersenyum patuh mengisyaratkan setuju dengan ucapan Karla.


...****************...


Nyanyian yang terdengar di ruang kamar seseorang membuat semua orang menyimak sambil ikut bernyanyi. Ruangan itu tertutup. Namun lagunya begitu keras terdengar. Kamar nomor 32 yang berada di sebelah kanannya itu tidak mengambil pusing tindakan dari kamar no. 31. Sehingga seharian lagu galau tersebut terus diputar.


Alfi dengan wajah datar membooking kamar hotel. Ia meminta kamar yang berada di lantai satu dengan dengan alam jendelanya agar bisa memandang dari jendela. Resepsionis pun setuju. Alfi diantarkan ke kamar no.30. Baru saja sampai ke kamarnya, Alfi juga ikut merasakan kesunyian dari lagu yang terdengar olehnya. Ia tertunduk menatap surat merah jambu di tangannya. Air matanya tidak menetes, namun kedua bola matanya seperti layu. Hati dan pikirannya juga ikut gugur bersama surat yang tak terbalas.


"Shizuka! Kenapa dia tidak memberiku kesempatan untuk mendaftar di hatinya? Apakah dia sudah memiliki penjaga hatinya? Tapi siapakah laki-laki itu? Hingga ia tak menatapku, walaupun aku berusaha mengejarnya." Ujar Alfi.


"Lebih baik aku bermain musik saja. Tapi musik yang mewakili perasaan ku ini siapa ya yang memutarnya? Apakah dia juga sedang terluka?" Ucapnya lagi membuka pintu kamar dan mengetuk pintu kamar no. 31.


"Siapa?" Teriak seseorang dari kamar 31.


"Suara laki-laki. Apakah dia juga mengalami patah hati? Seharusnya dia jangan memutar lagu sekeras ini karena aku makin teringat dengan Shizuka," ucap Alfi menanti pintu yang sedang dibuka.


"Kamu siapa?" Tanya laki-laki yang wajahnya tak jelas terlihat karena ruangannya gelap dan pintu kamarnya hanya terbuka selebar jengkal tangan anak kecil.


"Saya Alfi. Saya tinggal di sebelah kamarmu."


"Bukannya di sebelah kamar saya perempuan yang namanya Sunny?"


"Saya tinggal di kamar no. 30. Barangkali yang kamu maksud itu perempuannya ada di kamar no.32," ucap Alfi berusaha melihat wajahnya yang kurang jelas.


"Ada apa?"


"Apakah kamu ada masalah sehingga memutar lagunya dengan sangat kencang?"


"Bukan urusanmu," jawabnya menutup pintu.


"Aneh banget! Berarti dia lebih parah patah hatinya dari pada aku," gerutu Alfi.


Kamar no. 32 terbuka. Alfi masih berdiri di depan kamar 31 sambil menanti perempuan yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Perempuan itu keluar setelah beberapa menit. Ia melewati Alfi yang tampak memperhatikannya.


"Ternyata benar dia perempuan. Apakah mereka saling kenal? Jangan-jangan dia yang mematahkan hati laki-laki itu," ucap Alfi melihat perempuan itu yang telah berjalan jauh dan sedang masuk lift.


Setelah memperhatikan perempuan itu sampai menghilang, Alfi masuk ke kamarnya. Ia tertarik untuk mengetahui kedua orang yang berada di dekat kamarnya. Dimatikannya rokoknya yang hampir habis. Dibacanya kembali surat untuk Shizuka itu.


"Cinta yang tak terbalas," gumamnya membayangkan penolakan Shizuka.


"Siapa ya yang di kamar sebelahku? Dia dan perempuan itu pasti ada hubungan. Apakah aku harus terlibat? Tapi untuk apa? Sepertinya aku harus terlibat karena ini masalah hati."


Ponselnya Alfi berdering.


"Halo Dante. Ada apa? Aku sedang ada urusan," ucap Alfi.


"Jangan ditutup dulu Alfi. Kamu dimana? Orang tuamu mencarimu."


"Katakan saja pada mereka aku pulangnya besok."


"Kamu aja yang hubungi mereka. Emang kamu dimana sih?"


"Hotel," ucap Alfi memutuskan panggilan.


"Tu anak gak berubah. Selalu bersikap semaunya aja," ujar Dante menghampiri kedua orang tua Alfi.


"Dia akan pulang kok Bu, pak. Dia baik-baik saja. Ibu dan bapak jangan khawatir."


"Tapi dia dimana sekarang nak Dante?" Tanya Mina khawatir.


"Sudahlah Bu. Alfi akan pulang kok. Kamu jangan khawatir ya. Kita tunggu saja dia di rumah. Ayo kita pulang!"


"Baiklah pa!"


"Kami pulang dulu ya nak!" Ujar Yoman bangkit dari tempat duduknya.


"Iya pak!" Jawab Dante mengantarkan mereka sampai ke pintu.


"Assalamu'alaikum!" Ujar Mina dan Yoman serentak.

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" Balas Dante bingung dengan sikap Alfi.


"Bisa mati tu Alfi kalau dia nyampai rumah besok. Ada-ada aja tu kelakuannya. Gak mungkin kan aku bilang kepada orang tuanya Alfi kalau Alfi pulang besok. Bisa-bisa dicincang tu anak," gumam Dante menggelengkan kepalanya.


__ADS_2