
Dalam sebuah kehampaan tak ada lagi terdapat senandung-senandung penyejuk jiwa. Rasanya seluruh hari-hari yang telah dilalui dan hari-hari esok yang akan datang begitu menyedihkan. Tak ada ritme atau nada yang terlihat di mana pun ia berdiri. Selalu kosong dan ketiadaan yang menghantui. Selagi napas dan iman masih menyatu kuat menggenggam roh, disaat itu tak ada sedikit juga keberanian untuk melepas hidup yang beharga. Telah diciptakan dan telah ditakdirkan tiap insan kapan menemui ajal. Tapi dirinya sendiri kerap dibayangi bayang-bayang tak kasat mata. Bayang hitam yang berbisik untuk menghampiri kegelapan. Di sudut kamar tanpa cahaya lampu, ia terbaring kaku. Kepalanya miring ke kiri dan kedua tangannya terentang seperti orang pasrah. Entah apa saja yang ia pikirkan. Ia terkadang menangis, terkadang termenung, dan terkadang berhalusinasi. Waktu itu masih sore. Ia masih menghabiskan waktu di kamar seorang diri. Pintu kamarnya dikunci. Agar tak seorang pun mengganggunya.
"Aku ingin bertemu denganmu," ketiknya di ponselnya bewarna merah.
"Kenapa," jawab dari seseorang yang ia kirimi pesan.
"Aku mau bercerita. Kita ketemu sekarang ya. Ini penting. Aku gak tahu harus bercerita kemana lagi, selain padamu."
"Maaf aku gak bisa."
"Sebentar saja kok. Gak lama. Boleh ya!"
Setelah itu tak ada jawaban lagi. Ia terus menanti balasan pesan dari laki-laki yang ia cintai. Tetapi tak juga ada balasan. Hatinya makin teriris. Perasaannya telah banjir luka. Ia bingung harus bercerita kemana lagi. Sampai senja pun tiba, ia masih menanti pesan seseorang yang ia harapkan. Ia menangis. Menangis menatap ponselnya yang tak kunjung ada respon dari orang yang ia nantikan. Lalu pikirannya pun mulai merajalela. Seonggok tawa atau pun senyuman telah lenyap dari aksara wajahnya. Ia diam bagaikan mayat. Tak bicara atau pun melakukan aktivitas apapun. Begitulah ia hingga matahari tenggelam sampai terbit. Ia hanya diam, diam, dan diam. Saat mendengar kebisingan di depan kamarnya, ia pun berlari. Bergegas keluar kamar dengan perasaan yang masih belum beres. Ditambah lagi ibu dan abangnya berdebat dihadapannya mengenai sosok ayah yang gak pernah ia dapatkan lagi. Ibu dan abangnya terus saja berdebat panjang. Dirinya makin stres. Ia pun mengambil tindakan untuk pergi dari rumah. Sebelum itu ia memarahi abangnya, tapi abangnya justru membuatnya makin sedih karena tak berpihak pada pendapatnya.
Semenjak kejadian itu, dirinya tak lagi hadir diantara ibu dan abangnya. Ia pergi untuk selamanya dari dunia fana karena lautan biru menelannya tanpa ada toleransi. Ia begitu hampa. Dibalik kecemasan dan ketakutannya yang sangat dahsyat, sebenarnya ia membutuhkan sandaran. Namun tak seorang pun yang memberikan pundaknya kepadanya. Orang yang dianggapnya dapat menolongnya pun, tak mengulurkan tangannya. Malahan ia melepas tangannya secara paksa meski awalnya ia berkata mencintainya.
"Debi maafkan aku!" Lirih laki-laki yang duduk termenung di meja makan.
"Kenapa lagi si Vikram? Makanannya gak disentuh. Apakah dia sakit?" Tanya Alfi menatap Vikram.
"Gak tahu tu. Dia begitu semenjak Debi meninggal," tutur Radit sambil menyantap baksonya.
"Hm berarti dia sangat mencintainya!" Ujar Alfi masih menatapnya.
"Dia gak mencintai Debi. Mana pernah ni anak suka sama cewek yang biasa saja. Debi kan gak cantik dan gak punya sesuatu yang bisa dibanggakan?" Sambung Radit.
"Bu, makanlah!"
"Ibu tidak lapar nak. Kamu saja yang makan Haikal. Jaga kesehatan mu nak. Makanlah yang banyak. Ibu mau ke kamar Debi dulu."
Herlina pergi ke kamar Debi tanpa menyentuh sedikit pun makanannya. Haikal tertunduk menatap makanan ibunya. Ia menyapa ibunya dan makanan itu secara bergantian. Kemudian ia juga ikut meninggalkan meja makan. Ia pergi keluar. Berdiri di depan pintu mengingat Debi yang pergi terakhir dari rumah. Wajah Debi saat itu tampak emosi. Haikal mendekati bayangan Debi sambil berkata, "Debi tunggu! Jangan pergi ninggalin ibu dan abang mu. Kembalilah Debi!"
__ADS_1
Ia tersentak saat bayangan itu hanya khayalannya saja. Orang-orang yang berada di luar sana, menatap Haikal dengan tatapan aneh. Haikal memalingkan wajahnya ke mobilnya. Ia masuk ke mobilnya dan melajukannya.
"Ulvi sepertinya Haikal masih sedih atas kehilangan adiknya itu. Kasihan ya!" Ucap Mones.
"Gimana gak sedih, dia adik satu-satunya dan kepergiannya juga gak wajar. Yaudahlah ayo kita ke kebun sekarang."
"Vikram kamu masih mikirin Debi?" Tanya Alfi yang telah menyelesaikan makan siangnya.
"Dia gak dengar Alfi," ucap Radit masih memegang sendok makan.
"Biar aku samperin dia!" Ucap Ali mendekatinya.
"Hm Vik-ram!" Vik-ram!" Tegur Ali yang berdiri di sebelah kanannya.
"Iya! Iya Debi."
"Kita sedang makan siang bertiga," gerutu Ali dan kembali ke kursinya.
"Kirain apa? Makan tu makanan mu. Sudah dingin. Kelamaan berkhayal sih kamu," kata Radit melanjutkan menyantap makanannya.
...****************...
"Kalian telah gagal menangkap Shizuka. Kenapa kalian bisa gagal? Mereka hanya seperti seekor lalat kecil dan kalian seperti seekor gagak besar. Bisa-bisanya kalian kalah. Dasar ceroboh!" Bentak Nona Kelly mengambil sapu.
"Rasakan ini orang-orang payah!" Ucapnya lagi memukul kelima orang yang mencari Shizuka dan lainnya tadi.
"Maafkan kami Bu. Maksud saya Nona Kelly. Tadi kami hampir saja berhasil membawa mereka kemari. Tapi ada orang lain yang menyelamatkan mereka."
"Apa? Siapa mereka yang berani ikut campur urusanku?"
"Mereka berdua adalah Pak Naoto dan Bu Pertiwi."
__ADS_1
"Oh Kades desa Momoki," ucapnya tertawa.
Kelima preman itu terheran.
"Lekas kalian berlima siap-siap. Kalian akan menculik Shizuka saat malam sudah larut."
"Maksudnya Nona Kelly kami akan ke rumah Pak Naoto?"
"Kamu bertanya lagi. Iyalah. Itu aja gak paham."
"Baiklah Nona Kelly!" Jawab mereka serentak.
"Pergilah!"
"Syukurlah Shizuka bebas dari penjara ini," gumam Laura seraya bersolek.
"Jika Shizuka tak bisa kembali ke sini lagi, aku bisa dalam masalah," ujar Namira masuk ke kamar Laura.
"Ada apa Namira?"
"Shizuka kabur. Akibat ulahnya, aku bisa menderita."
"Kenapa begitu?"
"Aku diminta Nona Kelly untuk mencari perempuan cantik pengganti dirinya. Shizuka telah bermain-main padaku."
"Kenapa kamu khawatir sekali. Bagus kan jika dia bebas. Dia perempuan baik. Gak pantas di tempat ini," ucap Laura menatap Namira dari cerminnya.
"Justru itulah hal yang baik. Dia masih bisa diatur karena dia baru di sini. Tapi dia sudah kabur begitu saja. Aku harus mencarinya," tambah Namira dan pergi keluar dari kamar Laura.
"Aneh banget si Namira. Selalu patuh dengan perintah Nona Kelly. Makanya dia jadi bonekanya. Yasudah lah yang penting aku gak terlibat dengan Shizuka," ucapnya tersenyum
__ADS_1