
"Bersihin yang di sana! Bagaimana sih ngepel aja bisa kelewatan gitu. Pel semua lantai toko ini. Pokoknya harus bersih dan mengkilap."
"Astaga kamu gak lihat apa? Aku sudah mengepel lima kali loh. Berulang-ulang sampai tulang ku hampir patah. Tega banget nyuruh aku begini," ucap Cika memegang kain pel.
"Oh yasudah jika kamu gak mau. Gajimu gak bakal aku kasih!"
"Jangan gitu dong. Oke deh aku pel lagi!"
"Gitu dong! Yasudah sana mulai kerja dari sudut sana," menunjuk ke toilet.
Cika pergi dengan berjalan menghempaskan kedua kakinya di lantai.
"Alfi!" Sapa Radit masuk ke tokonya.
"Ada apa kalian kemari? Ini udah mau sore. Aku mau pergi."
"Kenapa emang kalau sore. Kamu mau kemana?" Tanya Radit.
"Balapan motorlah."
"Terus toko mu siapa yang jaga?" Tanya Radit lagi.
"Tuh!" Jawab Alfi menatap kepada Cika.
"Oh. Eh Alfi pinjam dong jas kamu warna hitam."
"Untuk apa jas?"
"Aku mau sidang besok. Pinjamin aku dong!"
"Yaudah kamu jemput ke rumah ku aja. Aku juga mau pulang ni."
"Yes! Thank you friend!" Ucap Radit tersenyum.
"Kalian datanglah lihat aku balapan."
"Dimana emang balapannya bro?" Tanya Radit.
"Di Jl. Mahoni. Balapannya diadakan di kawasan yang agak sepilah. Kalian tahukan lapangan yang luas sebelum stasiun kereta api. Nah di sana. Pukul lima aku balapan motor."
"Boleh juga tu!" Ujar Radit tertarik menonton.
"Kamu lupa ya Radit. Nanti kan kita mau belanja perlengkapan sidang kamu. Emang kamu gak mau sidang?"
"Oh iya aku lupa. Untung kamu ingatkan aku Vikram. Maaf ya Alfi aku gak bisa datang. Aku dan Vikram mau membeli perlengkapan sidangku untuk besok."
"Oke gak masalah. Sukses ya sidang kamu."
__ADS_1
"Iya friend. Kamu datang ya besok pagi jam delapan."
"Oke. Eh aku perhatikan si Vikram banyak diam hari ini."
"Iya dia itu kepikiran mantannya."
"Udahlah Vikram. Jangan pikirkan yang sudah berlalu. Kita harus jalani kehidupan kita dengan rasa ikhlas dan semangat yang tinggi."
"Aku juga mau nya begitu. Tapi aku merasa bersalah terus."
"Yaudahlah itu hanya sebuah pikiran kamu. Lupain aja. Sekarang kita ke rumah ku yuk karena aku juga harus siap-siap ni!" Ucap Alfi melihat Cika yang sedang mengepel.
"Iya ayo kita pergi sekarang!" Balas Radit.
"Woi Cika. Titip toko ya. Jangan tutup toko terlalu cepat. Ingat kita tutup jam sepuluh malam dan jangan molor aja kerjamu!" Peringat Alfi.
"Iya. Emang kamu mau kemana?"
"Ke KUA mau daftarin pernikahan ku dengan Shizuka!" Ucap Alfi tertawa.
"Yang benar?" Tanya Cika terkejut.
"Wah hebat kamu Alfi!" Puji Radit.
"Kamu bagaimana sih Radit. Polos amat. Kita jadikan pergi?" Tanya Vikram.
"Sepertinya aku bakal jomblo lagi karena calon imamku sudah mendaftarkan perikahannya," gumam Cika mewek.
"Yang benar aja kamu mau nikah Alfi?" Tanya Radit lagi yang berlari menyusul Alfi dan Vikram yang sudah berjalan duluan.
"Ya gak lah. Aku bercanda aja tadi pada si Cika. Aku tahu dia sekarang pasti galau," ucapnya tersenyum lebar.
"Parah banget kamu Alfi. Bercandanya bikin aku kesetrum," ucap Radit naik ke motornya.
"Jika gak gitu si Cika terus baper samaku."
"Jadi kamu menolak si Cika?"
"Ya iyalah. Aku hanya menyukai satu perempuan saja. Dia sangat aku sayang."
"Cie siapa tu?"
"Shizuka!" Jawab Alfi melajukan motornya.
Shizuka, Zeexsa, Naoto, dan Pertiwi duduk di warung tempat Shizuka bekerja. Mereka menatap keponakan Kamil dengan rasa amarah. Boni yang tak berani berkata-kata lagi, hanya pasrah dengan keadaannya sekarang. Dia juga tak mendapatkan dukungan dari temannya yang bernama Man. sejak kejadian itu, Man tak kunjung menemuinya. Nomor hp nya juga tidak aktif. Boni semakin terpojok akibat ulah Man yang menyeretnya kepada hal yang tak ia duga keliru itu. Demi uang ia rela menjual Shizuka kepada Nona Kelly.
"Kamu sadar nak atas tindakanmu itu? Kamu telah membahayakan Shizuka. Kamu tak ada sedikitpun iba padanya. Tega sekali kamu menukarnya dengan uang," Celoteh Naoto terisak-isak.
__ADS_1
"Lihatlah Kades itu Boni. Kamu membuatnya menangis. Kamu bukan hanya menyakiti aku, tapi Shizuka dan keluarganya ikut kamu buat tersakiti. Sekarang katakan dimana teman mu itu?"
"Aku tidak tahu. Aku minta maaf paman."
"Rumahnya kamu tahu?"
"Tidak paman. Aku dengar dia itu tinggalnya gak nentu. Kadang tidur di warung pak Sefto, kadang di masjid, kadang di kontrakannya, dan kadang di rumah Nona Kelly."
"Orang seperti itu kok kamu mau percaya dan berteman pula samanya. Berapa uang yang kamu dapat dari menjual Shizuka hah? Tolong kamu pulangkan uang haram itu," bentak Kamil."
"Semestinya kamu kalau perlu uang, kamu bisa bekerja di kantor bapak," ucap Naoto.
"Kerja? Jangan kerja pak Kades, untuk duduk diam jaga warung saja dia gak bisa," sindir Kamil.
"Sudahlah paman. Jangan mempermalukan ku."
"Emang itu benar kan? Kamu gak bisa jaga toko. Makanya Shizuka bekerja di sini. Ini malah kamu manfaatkan pula kepolosannya. Jika Pak Naoto dan keluarganya benci padamu, mungkin sekarang kamu sudah ditahan di kantor polisi. Berterima kasihlah kamu pada kebaikan mereka," ucap Kamil meledak-ledak ingin menerkam Boni.
"Maaf kan saya pak. Saya mengaku salah, pak, Bu, Shizuka," menatap Zeexsa dan menundukkan kepalanya karena tak mengetahui nama adik Shizuka itu.
"Maaf saja gak cukup. Shizuka hampir saja menjadi gadis gak benar. Sekarang kamu harus bekerja non stop di warung," ujar Kamil memberi hukuman.
"Jangan begitu dong paman."
"Kamu saja tidak kasihan dengan Shizuka. Pikirkan itu. Untuk apa juga jika harus membuat mu banyak santai-santai di sini."
"Aku gak apa-apa kok Pak. Kasihan Pak Boni. Tolong maafkan saja dia!"
"Tapi Shizuka, dia telah melakukan hal buruk padamu."
"Iya aku tahu pak. Tapi kita maafkan saja tindakan dari Pak Boni."
"Lihat Shizuka Boni! Kamu masih diam dan gak mau minta maaf padanya?"
"Saya minta maaf Shizuka," ucapnya dengan wajah tertunduk.
"Tatap dia Boni! Tatap!" Teriak Kamil.
Boni tak sanggup menatap Shizuka. Ia gemetar karena malu. Kemudian Naoto mengatakan pada Boni bahwa tindakannya itu tak boleh diulanginya lagi baik itu pada Shizuka maupun perempuan muda lainnya. Pertiwi juga menambahkan tak akan membiarkan Shizuka bekerja lagi di warung mereka karena kejadian itu cukup memukul berat hatinya. Ia juga tak sanggup melihat Shizuka menjadi bahan ejekan desa jika hal itu terdengar warga. Apalagi ia sudah berjanji pada dirinya dan kedua perempuan muda yang bernama Shizuka dan Zeexsa akan menjaga mereka dengan penuh kasih sayang.
"Sekali lagi saya minta maaf pak. Saya juga salah karena tidak mengawasi pekerjaan Boni," ucap Kamil bersalah.
"Iya. Kalau begitu kami permisi dulu!" Ucap Naoto bangkit dari kursinya.
"Ayo Shizuka, Zeexsa, kita pulang!" Ajak Pertiwi.
"Kami pamit Pak!" Ucap Shizuka.
__ADS_1
Mereka pun pergi. Setelah itu Boni menatap punggung Shizuka dan wajahnya tampak menyesal. Ia masuk ke warung dan duduk di meja kasir. Sementara Kamil terus berdiri di luar menatap Naoto dan keluarganya berlalu dari warungnya. Ia kecewa atas sikap Boni. Baru sebentar Shizuka bekerja padanya, namun ia harus berhenti karena hal yang menyakitkan. Kamil menggelengkan kepalanya karena mengalami peristiwa yang di luar akalnya.