
"Kak Shizuka belum juga pulang. Kenapa sampai jam segini juga belum pulang? Apa yang terjadi?" Pikirnya gelisah.
"Aku harus bagaimana? Lebih baik aku pergi ke warung tempatnya bekerja," tambahnya seraya mengunci pintu rumah.
"Kamu pintar banget Man mengakali Shizuka. Saya bangga punya teman seperti kamu!" Ungkap Boni.
"Ada apa dengan Shizuka?" Tanya Kamil yang baru saja tiba di warung.
"Aku pulang dulu!" Izin Man memberi hormat kepada Kamil.
"Kenapa dengan Shizuka?" Tanya Kamil dengan nada tegas.
Boni terdiam saja. Ia menatap ke segala arah agar tak melihat kemarahan pamannya. Pamannya memukul meja dengan keras. Ia mengulangi perkataannya lagi hingga Boni mengaku. Si Man menatap mereka dari motornya. Ia khawatir jika si Boni berkata jujur. Jika itu terjadi uang yang didapatkan oleh mereka berdua bisa saja diambil kembali oleh Nona Kelly. Ia terus memandangi mereka berdua. Tak berapa lama kemudian Zeexsa datang. Ia melihat Kamil dan Boni berdebat. Perdebatan itu membuatnya menghentikan langkahnya.
Ia mencoba mencari sendiri keberadaan kakaknya di warung itu. Tetapi di dalam warung tak ada siapapun lagi. Tempat itu sudah kosong dan terlihat telah rapi. Zeexsa pun kembali menghampiri Kamil yang masih memarahi Boni. Kamil melihat Zeexsa. Ia pun bertanya kepada Zeexsa tujuannya datang ke warung. Zeexsa mengatakan bahwa kakaknya belum pulang ke rumah. Makanya ia mencari ke warung. Mendengar hal itu Kamil kaget karena warung ditutup sangat cepat. Tadi sore warungnya sudah tutup. Kamil merasa Boni menyembunyikan sesuatu.
"Warung ini sudah tutup dari tadi sore Zeexsa. Kami tutup biasanya sampai malam. Tapi karena Shizuka tidak ada di sini, jadi si Boni nutup warung ini tadi sore."
"Gitu ya. Tapi kakak saya belum juga pulang pak. Dia gak tahu jalan di daerah sini dan tak ada yang ia kenal. Saya takut dia kenapa-kenapa."
"Boni! Apakah kamu tahu Shizuka dimana? Jujur kamu! Katakan dia di mana?" Teriak Kamil.
"Aku gak tahu. Pokoknya dia bilang, dia mau pulang ke rumah. Sudahlah aku mau tidur."
"Boni! Kamu gak boleh kemana-mana. Cepat katakan yang sebenarnya. Jika kamu tak mengatakannya, aku akan memenjarakan mu. Zeexsa tolong kamu telpon polisi!" Titah Kamil.
"Gawat jika aku sampai ketangkap polisi. Bisa tamat hidupku," gumam Boni.
"Baik pak!"
"Iya, iya aku akan jujur. Tapi jangan panggil polisi kemari!"
"Cepat katakan!" Ujar Kamil emosi.
"Shizuka ada di rumah Nona Kelly!" Ucapnya datar.
"Dasar kurang ajar kamu. Beraninya kamu membawanya ke tempat bi*da* itu. Gak ada ya hati nurani mu hingga kamu tega membawa Shizuka ke tempat gelap itu," ucap Kamil mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
"Ayo kita ke sana nak!" Ujar Kamil kepada Zeexsa.
"Dimana itu rumah Nona Kelly pak? Kenapa bapak begitu marah mendengar namanya?" Tanya Zeexsa terheran.
"Gawat! Aku akan menghubungi Nona Kelly bahwa keluarganya akan menjemput Shizuka," ucap Man seraya menelpon Nona Kelly.
"Itu kan laki-laki yang berbicara dengan Boni tadi," gumam Kamil curiga.
"Halo Nona Kelly. Gawat! Keluarga Shizuka sudah tahu keberadaannya. Mereka akan segera ke sana mengambilnya," kata Man.
"Kamu bicara dengan siapa?" Tanya Kamil menariknya paksa turun dari motornya.
"Tidak pak. Saya tadi bicara dengan teman saya pak."
Kamil terus menghajarnya tanpa henti. Ia membuat wajah Man seperti telur rebus. Wajahnya bengkak-bengkak dan biru lebam. Kamil terus memaksanya mengaku. Namun Man tetap tutup mulut. Dari sisi kiri pamannya, Boni datang dan memisahkan pamannya dengan Man. Boni meminta Man segera pulang. Mendengar hal itu pamannya makin murka. Ia menghajar Boni lagi hingga Boni tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Hentikan pak. Sepertinya dia sudah pingsan. Kita cari kak Shizuka saja pak. Ayo pak!"
"Iya Zeexsa! Ayo kita lewat sini!" Ucap Kamil berjalan agak lambat karena usianya yang sudah tua.
"Pak rumahnya dimana?" Tanya Zeexsa menatap jalanan yang sepi.
"Rumahnya sangat jauh. Kita naik delman saja. Itu di sana ada delman. Kamu hentikan delman itu," perintah Kamil menatap ke delman.
Zeexsa menghentikan Delman itu dengan cara berdiri di tengah-tengah jalan. Hampir saja kuda itu menabraknya. Beruntung pengemudi delman itu sigap menghentikan langkah si kuda. Ia pun bergegas naik ke delman bersama dengan Kamil.
Mereka pergi ke tempat Nona Kelly. Kawasannya sangat gelap sama seperti pekerjaannya. Kamil tak abis pikir ulah dari Boni. Ia mencengkram celananya sambil berkata, "Semoga kakakmu belum menjadi perempuan seperti mereka."
"Memangnya siapa sih Kelly? Kenapa bapak sangat khawatir?"
"Dia itu namanya Nona Kelly. Dialah pemilik dari rumah terlarang itu," ujar Kamil menatap jalanan sepi.
"Tempat terlarang? Berarti kak Shizuka dalam bahaya dong pak!"
"Sekarang kita harus mencari kakak mu di sana. Jangan mudah percaya pada mereka. Mereka licik dan mudah menipu. Kamu gak boleh terperdaya oleh kata-kata mereka."
"Maaf pak, bu! Saya hanya bisa mengantar sampai di sini."
"Kenapa? Rumahnya gak di sini. Ayo cepat kita ke sana!" Pinta Kamil.
"Maaf saya tak bisa mengantarkan kalian ke sana karena tempat itu buruk. Saya tidak mau ambil resiko. Ditambah lagi saya takut pekerjaan saya nanti jadi terganggu atau tak halal."
"Kamu berkata apa? Tolong kamu antarkan kamu ke sana. Saya akan menambah ongkosnya."
"Ya sudah! Ni bayaran kamu. Menolong orang tua saja kamu gak mau. Apalagi di tempat gelap dan pedalaman begini."
"Maaf kan saya pak. Ini saya punya senter. Tempat ini sangat gelap dan bahaya. Bapak dan ibu berhati-hatilah. Nona Kelly itu sangat menakutkan. Kalian bisa saja terpesona akan kecantikannya," saya permisi dulu ucapnya dengan ramah.
"Kamu dengar kan Zeexsa. Kita harus hati-hati. Tak ada seorang pun yang bisa menutup atau mengalahkan Nona Kelly. Kita harus pintar jaga diri," ucap Kamil menyinari jalanan dengan senter seadanya.
"Kenapa bisa begitu pak?"
"Panjang ceritanya nak. Kita harus cepat mengeluarkan kakakmu di sana. Ayo nak!" Ucap Kamil berjalan dengan terburu-buru.
"Pak kakakku juga cerdas. Dia gak akan mudah tertipu."
"Semoga saja dia bisa menjaga dirinya. Tapi setahu saya nak, perempuan baru yang datang ke sana mereka akan dikenalkan kepada semua orang tinggal di sana dan dijari berpenampilan seperti mereka itu selama tiga hari."
"Kak Shizuka pasti gak akan mau diajak yang begituan pak."
"Tapi kenapa Shizuka bisa sampai ke sini ya?"
"Mungkin karena ingin menolong kedua orang laki-laki itu."
"Memang si Boni dan temannya sudah kelewat batas. Mereka hilang akal karena uang."
"Dia pasti telah merencanakan semua ini pak tanpa sepengetahuan bapak dan kak Shizuka."
"Iya nak. Saya akan memberinya pelajaran setelah mendapatkan Shizuka. Nak kita sudah hampir sampai."
__ADS_1
"Syukurlah pak. Dimana pak rumahnya?"
"Itu kamu lihat kan banyak perempuan yang berdiri di jalanan. Nah rumahnya di seberang sana. Itu rumah yang bertingkat tiga," tunjuk Kamil ke rumah mewah.
"Ayo pak kita ke sana."
"Zeexsa kamu ingat pesan saya. Jangan pakai perasaan di sini. Pakai logika!"
Zeexsa mengangguk dan beriringan melangkah ke seberang jalan. Semua perempuan yang berbaris-baris di jalan menatap mereka. Zeexsa tercengang menatap penampilan mereka yang begitu berbeda. Tapi ia langsung mengalihkan pandangan kepada Kamil yang telah masuk ke rumah itu lebih dulu. Sesampai di sana Laura menghentikan mereka.
"Halo om. Apakah om ingin mencari perempuan secantik saya? Saya bisa menemani om, jika bayarannya mahal."
"Saya mau bertemu dengan Nona Kelly. Mana dia? Tolong panggilkan dia?"
"Tak bisa dong om. Om itu gak boleh langsung ke level tinggi. Harus saya terlebih dahulu om," ucap Laura menggenggam tangan Kamil.
"Cewek secantik dan masih muda seperti dia menggoda pak Kamil? Ini tak masuk di akal ku. Terkesan seperti cewek gak benar," gumam Zeexsa ilfil.
"Tolong panggilkan Nona Kelly!" Pinta Kamil lagi seraya melepaskan tangannya dari Laura.
"Ada keperluan apa dengan Nona Kelly?" Ujar Namira yang berjalan didampingi kedua pengawalnya.
"Saya ada keperluan penting. Saya mau mengatakan sesuatu."
"Bram! Tolong periksa mereka!"
"Angkat tanganmu," ucapnya memeriksa seluruh badan Kamil.
"Kamu juga tolong angkat tanganmu!"
"Saya tidak mau," jawab Zeexsa menolak.
"Jika kamu menolak, pistol ini akan mengenai jantungmu," ucap Bram sangar.
"Oke-oke!" jawab Zeexsa gemetaran.
"Gitu dong. Harus nurut dengan aturan kami!" Ujar Namira tersenyum.
"Aman. Mereka berdua tidak ada membawa benda tajam atau hal yang membahayakan," lapor Bram kepada Namira.
"David! Tolong antarkan mereka ke taman belakang. Ingat jangan biarkan mereka pergi ke tempat lainnya."
"Siap Bu!" Ujar David.
"Kalian ikuti David. Dia akan mengantarkan kalian kepada Nona Kelly."
"Terima kasih!" Ucap Kamil dan pergi mengikuti David.
"Zeexsa, lain kali kamu jangan melawan perintah mereka. Kalau tidak kamu akan ditembak," bisik Kamil.
"Maafkan aku pak! Aku hanya melindungi diri."
"Silahkan masuk!" Ucap David membuka pintu ke taman.
__ADS_1