
Mencintai tidak akan menyakitkan jika cinta itu dibalas. Kecupan yang hangat akan membuat kisah menjadi manis. Rasa itu adalah sebuah harapan yang kadang sekarang hampir tidak terbayangkan lagi. Bersama detak jantungnya yang perlahan-lahan berdetak menyebabkan dirinya hanya bisa menarik napas berulang kali.
Dia menatap seseorang yang ia cintai dari ruang yang agak gelap. Wajahnya saja tak bisa lagi ia lihat dengan jelas. Hanya bayangannya yang tampak. Ia mencoba untuk mengejarnya. Berlari tiada henti untuk melihatnya. Bayangan tersebut tiada henti membuatnya berusaha.
"Jangan tinggalkan aku."
Ternyata ia bermimpi. Ia agak dongkol dan menarik kembali selimutnya. Kali ini ia memejamkan mata lagi sambil berkata, "Kalau itu kamu mas. Aku sangat bahagia. Tapi kenapa kamu terus bersembunyi dariku? Anak kita Haikal dan Debi saja juga merindukanmu. Kapan mas kembali?"
"Sedikit resah rasanya jika ibu hanya diam di kamar saja tanpa mencari ayah."
"Haikal? Sejak kapan kamu ada di kamar ibu?"
"Baru saja kok Bu. Debi sudah memasakkan sarapan buat kita."
"Jam 9!" Ujar Herlina terkejut menatap jam dindingnya.
"Ibu mimpi indah ya? Apakah ibu mimpiin Ayah?"
"Kenapa kamu tahu ibu mimpikan ayah mu?"
"Tahulah Bu. Ibu kan lagi mikirin ayah. Meskipun ayah sudah bertahun-tahun tak kembali, ibu tetap mengingatnya. Bahkan semalam pun tampak juga dari ekspresi wajah ibu kalau ibu tak bisa melupakan ayah. Ibu selalu mencintai ayah seperti ibu mencintai kami."
"Abang aku sudah siap. Kita pergi sekarang kan?" Ujar Debi berteriak dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar ibunya.
"Iya Debi," jawab Haikal yang kemudian menutup pintu kamar ibunya.
"Kemana mereka? Kenapa gak pamit kepadaku?"
"Bu aku pergi dulu ya. Jangan lupa sarapan Bu!" Titah Haikal membuka kembali pintu kamar Herlina dan mengunci pintu kamar itu setelah menyalam ibunya.
"Sebaiknya aku gak usah tanya mereka kemana. Pasti mereka mencari ayah mereka karena Haikal sudah tahu keberadaan ayahnya dimana."
Herlina menutup pintu kamarnya. Ia menuruni tangga menuju ke dapur. Di dapur ia termenung sambil membiarkan kulkas terbuka. Ia berdiri hampir lima belas menit di depan kulkas itu. Pikirannya kembali melayang. Di dalam kulkas ia melihat makanan favorit suaminya. Bakso ayam yang tiap harinya ia hidangkan bersama anaknya beserta suaminya. Ia mengambil satu pelastik bakso dalam kemasan yang sudah tampak membeku dan merk nya pun tak terbaca lagi.
"Huh dingin!" Ucapnya mengusap kedua tangannya dan menaruh kembali kemasan berisi bakso itu ke kulkas.
Ia duduk di kursi meja makan. Menatap sarapannya yang masih tertutup rapat. Lamunannya terus saja membuatnya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Sudah hampir jam 10 ia belum juga menyentuh sarapannya.
"Mas aku tak biasa tanpa mu. Benarkah kau pergi demi perempuan itu? Tak peduli padaku juga anak-anak kita. Kau hanya mengejarnya. Setiap kali aku bertemu atau mendengarkan nama anak haram itu. Aku teringat dirimu yang sudah mempermainkan perasaan ku. Mengapa usia cintamu begitu pendek mas?" ucapnya dengan wajah tertekuk.
"Herlina!" Panggil Usman.
"Eh Abang. Kenapa gak ucapin salam terlebih dahulu atau ketuk pintu?"
"Maaf Herlina. Oh ya kamu ada waktu gak sekarang?"
"Ada apa bang?"
Usman memperhatikan pakaian Herlina yang masih memakai Piyama. Rambutnya juga berantakan. Ia juga melihat Herlina tampak sedang sedih. Sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk berbicara. Herlina menatap abangnya yang sedang bingung. Ia menegurnya dengan berkata, "Ada yang bisa aku bantu bang?"
"Oh tidak. Kita bicara nanti siang saja."
"Sekarang aja."
"Tapi kelihatannya kamu baru bangun tidur.Kamu juga pasti belum sarapan kan?"
Herlina tertawa kecil dan meminta abangnya untuk duduk sambil makan bersamanya. Usman pun ikut duduk. Namun ia hanya menanti Herlina menyelesaikan sarapannya saja. Ia sadar bahwa Herlina masih menantikan suaminya yang tak kunjung kembali.
"Herlina kamu tu kenapa gak berubah juga? Coba deh kamu sedikit peduli dengan dirimu. Kamu pasti gak akan ditinggalkan sama suami mu itu."
Herlina mengerutkan keningnya merasa dirinya sudah cantik dan tak kekurangan apapun.
"Bagaimana kamu menilai aku bang? Apakah Abang ingin aku seperti istri Abang?"
__ADS_1
"Kamu cukup jadi dirimu sendiri saja. Tapi jangan juga seperti ini."
"Emang kenapa?"
"Kamu tu jangan jorok. Terus biasakanlah merawat dirimu dengan memakai perawatan seperti luluran, mencerahkan wajah, membuat kulit lembab, dan banyak lagilah. Semua perempuan pasti tahu cara merawat dirinya."
Herlina tertawa malu sambil berkata, "Abang peduli banget samaku," ucapnya terharu.
"Debi? Bagaimana apa kamu sudah menanyai bagian administrasinya?"
"Kata mereka ayah gak bisa bertemu dengan siapapun. Jadi gimana dong sekarang bang?"
"Tunggu Abang usahain nanya ke bagain administrasinya lagi."
"Abang gak masuk kerja emang? Tu ponselnya berdering terus. Angkat aja bang."
"Iya udah. Kamu tunggu sebentar ya. Abang angkat telpon dulu. Padahal Abang sudah bilang kalau Abang agak telat masuk hari ini."
"Kasihan Abang. Semenjak ada masalah ini, dia gak pernah lagi disiplin dalam bekerja. Dia juga gak peduli dengan masa depannya," gumam Debi yang duduk di depan kursi Customer Servis.
"Ada apa Ian?"
"Kamu dimana Haikal? Kamu tahu kan kamu itu penting di perusahaan. Jangan bikin perusahaan malu dong. Kita sekarang ada meeting penting dengan perusahaan Wina Fashion."
"Maafkan saya Ian. Iya nanti saya ke sana."
"Buruan! Jangan lama ya karena Pak Faiz bisa marah entar sama saya."
"Iya kamu tenang saja. Saya ke sana sekitar sepuluh menit lagi. Kamu buka meeting nya aja dulu nanti dan persentasi aja duluan. Masalah mengenai pengenalan produk nanti urusan saya."
"Baiklah. Thank you Haikal!"
Haikal memutus telponnya dan masuk ke Hotel Sasaki. Ia menemui Customer Servis yang sedang melayani lima orang tamu. Ia berdiri sambil melihat arlojinya. Debi menghampirinya dan mengatakan lebih baik abangnya pergi bekerja saja. Tapi Haikal tetap menolak.
"Maaf permisi saya mau bertanya. Kamar 31 itu adalah ayah saya. Apakah kami bisa bertemu dengannya?"
"Tapi kami ini anaknya. Kami sudah bertahun-tahun berpisah. Kenapa kamu tak mengerti juga," ucap Haikal membentak.
"Kalian hubungi saja dulu ayah kalian nak!" Tegur ibu-ibu yang memakai kaca mata coklat.
"Bagaimana mau menghubungi Bu? Kami ini sudah lama tak berjumpa dengan ayah kami. Nomor ponselnya pun kami tidak tahu."
"Bang lebih baik Abang masuk kerja aja sekarang. Besok kita lanjutkan lagi bertemu dengan ayah."
"Besok kami kemari lagi. Tolong kamu katakan pada ayah saya bahwa kami ingin menemuinya. Anaknya yang bertahun-tahun ia tinggalkan. Tolong sampaikan ya!" Ucap Haikal agak kesal.
"Baik Pak!" Jawab Customer Servis itu dengan kepala tertunduk dan kedua tangan memohon maaf.
Siang sudah makin terik. Seseorang yang menepuk-nepuk kasur di lapangan basket itu adalah Shizuka. Ia memukul kasur itu sekuat tenaganya. Keringatnya sudah mengalir bagaikan cuaca yang membakar kulitnya tiada ampun. Ia berusaha membersihkan kasur yang tak pernah terpakai lagi. Ia memegang roknya yang panjang agar tak mengenai pasir.
"Aduh tanganku hampir patah," ucapnya menatap jemurannya yang tampak mengering.
"Naoto apakah kau melihat Shizuka? Anak itu dari tadi bersih-bersih rumah terus. Dia belum juga istirahat."
"Astaga ma! Tolong kamu katakan padanya jangan terlalu membersihkan rumah atau jangan terlalu mikirin urusan rumah. Dia kan sebentar lagi punya kegiatan ma. Coba mama cari di luar," ucap Naoto melanjutkan membaca korannya.
Pertiwi memeriksa keluar rumah. Ia melihat Shizuka yang membersihkan kasur. Ia menghampirinya dan memintanya untuk beristirahat. Shizuka mengusap keringatnya di keningnya sambil berkata, "Tanggung Tan. Ini bentar lagi kelar kok Tan."
"Kamu jangan keras kepala deh Shizuka! Ayo kita masuk ke dalam dulu. Cuacanya juga panas sekali."
"Duluan aja Tan. Nanti juga kelar kok."
"Kamu jangan berjemur kelamaan di panas matahari. Kulit kamu bisa terbakar loh."
__ADS_1
"Keringat yang bercucuran Tan."
"Itulah karena kepanasan Shizuka. Kulit kamu sudah seperti kepiting rebus. Mata kamu juga tu makin sipit."
"Iya Tan. Ini juga mau kelar."
"Ma! Papa ke warung si Tono dulu ya. Nanti ada acara di rumah si Ramadhan. Kami mau diskusi dulu," ucap Naoto pergi setelah disalam oleh Pertiwi.
"Om Naoto sibuk banget ya Tan. Dia gak pernah merasa lelah."
"Kamu juga Shizuka. Kasur ini sudah berteriak mungkin karena kamu kelamaan memukul-mukulnya diterik matahari."
Shizuka tertawa.
"Ayo nak kita ke dalam."
Shizuka pun mengikuti Pertiwi masuk ke rumah.
"Lo damai amat Vikram dengan skripsi lo yang gak naik-naik level."
"Damai apaan Radit? Lo gak lihat apa tiap hari skripsi gue dicoret mulu. Gak pernah benar. Otak gue sudah berasap ni."
"Ketimbang lo stres, mending lo gak usah lanjutkan skripsi lo. Meried aja langsung sama si Debi," ledek Radit seraya membuang puntung rokoknya ke belakangnya.
"Eh kamu pakai mata dong. Mata kamu kemana hah? Gak lihat saya apa?"
"Maaf! Saya pikir gak ada orang karena tadi di kantin ini hanya kami berdua saja."
Perempuan itu marah dengan bibirnya yang maju beberapa senti serta jalannya yang angkuh.
"Makanya mata itu dipakai Radit."
"Lo bukannya bantuin gue tadi. Malah diam aja. Senang kan lo lihat gue dimaki cewek."
"Sedikit senang," tutur Vikram meneguk nutrisarinya.
"Mau kemana lo buru-buru amat?"
"Gue mau cabut dulu. Kan Pak Frans gak datang. Jadi gue perbaiki dulu skripsi gue yang masih salah dulu. Kemarin gak sempat juga menyelesaikannya."
"Udah loh pinang aja si Debi. Hidup lo pasti berbunga seperti kaktus."
"Aneh banget si cowok itu. Dia bikin perumpamaan yang gak sesuai. Dasar cowok id*o*!" ucap perempuan yang memakinya tadi.
"Lo itu malu-maluin aja Radit. Kaktus kan gak berbunga."
"Ada. Kaktus wangi seperti bunga Raflesdi."
"Payah lo. Jangan ngomong lagi. Kalau gak gue lempar Lo sama dua ekor anjing itu," ucap Vikram membawa skripsinya dan membayar pesanannya.
"Kenapa si dengan Vikram? Itu juga cewek pemarah. Kenapa mereka marahi gue? Apa salah ucapan gue? Udah jelas gue lebih pintar dari si Vikram. Gue aja yang malas bimbingan skripsi. Kalau gak udah wisuda gue mulai tahun-tahun kemarin. Dasar adek leting sok pintar!"
"Radit jangan malu dengan tingkat kepercayaan dirimu. Itu adalah hal luar biasa!" Ucap Dita pemilik kantin.
"Makasih Bu. Tu kan Bu Dita aja muji gue. Bilang aja mereka berdua emang gak biasa ketemu orang sepintar gue," ucapnya memakan goreng pisang.
"Bagaimana Debi?" Tanya Herlina mengeringkan rambutnya.
"Gagal," ujar Debi berlari masuk ke kamarnya.
"Apa? Mereka tidak bertemu ayahnya atau mereka tidak berhasil membawa ayahnya pulang?" Ucap Herlina menatap ke luar rumah yang tak ada siapapun.
"Debi jelasin sama ibu. Apakah kalian tidak bertemu dengan ayah kalian? atau kalian bertemu dengannya tapi dia menolak untuk kemari?" Tebak Herlina lagi sambil berlari menuju kamar Debi.
__ADS_1
"Buka pintunya Debi!" Mengetuk pintu kamar Debi dengan sangat keras.
"Tolong biarkan aku sendirian Bu!" Sahut Debi.