
"Hai gadis kecil! Apakah kamu melihat perempuan yang seimut kamu ada di sini?"
Anak kecil itu berhenti menangis. Ia mengangkat kedua tangannya seperti minta digendong. Eman tersenyum. Ia memahami maksud anak kecil itu. Lalu dia menggendongnya sambil berkata, "Apakah kamu tak takut padaku?"
Anak kecil itu tertawa sembari menarik-narik topeng Eman. Eman membuka topengnya. Anak kecil itu mengambil topeng itu dan memasangkannya di wajahnya. Eman tertawa karena anak kecil itu memakai topengnya terbalik dan selalu gagal memasangkannya ke wajahnya.
"Sini om pasangkan."
Anak kecil itu tertawa terbahak-bahak karena topeng itu telah ada di wajahnya. Begitu pun dengan Eman. Dia tertawa hingga lupa misinya. Mones yang melihat dari jendela merasa terharu karena tak pernah melihat penjahat luluh pada seorang anak kecil. Padahal menurutnya seorang penjahat adalah orang berhati es. Tak akan luluh hanya dengan melihat kepolosan anak kecil. Ia yakin bahwa pemimpin penjahat itu adalah orang baik sebelumnya.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa menjadi jahat ya? Terus kenapa dia ingin sekali menangkap Haikal? Gawat aku baru sadar. Haikal kan sekarang ada di Unit Gawat Darurat," ujar Mones bicara sendiri dan mengintip kembali ke luar.
Mones tak melihat siapapun di luar ruangan ahli gizi. Eman dan anak kecil itu juga tak terlihat bahkan suaranya tidak kedengaran lagi. Mones mencoba keluar ruangan ahli gizi untuk memastikan keadaan Haikal. Ia sangat berhati-hati hingga memasuki ruangan UGD.
"Siapa kamu?" Tanya perawat yang tak sengaja menabrak Mones.
"Sa-ya Mones!"
"Biarkan saya di sini. Saya mau melihat Haikal.
__ADS_1
Seseorang membuka pintu ruang UGD. Mones spontan berlari ke belakang perawat itu. Mereka berdua gugup melihat seseorang yang sedang membuka pintu. Pintu itu terbuka seketika dan ternyata dia adalah Eman dan anak kecil itu. Anak kecil itu menunjuk orang-orang yang sedang mengoperasi Haikal. Ia terus menunjuk hingga Eman pun mengabulkan permintaannya. Ia berjalan melewati Mones dan perawat itu. Mones menekan bibir bawahnya. Ia tak sanggup melihat Haikal sampai diketahui oleh Eman.
"Ja-jangan ke sana!" Lirih Mones.
Anak kecil itu tetap menunjuk ke arah orang-orang yang sedang bekerja. Eman tidak menghiraukan Mones. Ia mendekati semua perawat dan juga seorang dokter. Anak itu menunjuk ke gunting kecil yang dipegang suster. Eman pun mengambil gunting yang penuh darah itu dari tangan salah seorang suster setelah berdebat panjang. Anak kecil itu tertawa sambil memain-mainkan gunting itu. Lalu ia melemparnya. Kemudian dia menunjuk kapas.
"Maaf pak! Tolong keluar dulu. Kami sedang bekerja. Kamu juga tolong keluar!" Ucap suster bernama Era menatap Mones yang berada di sisi kiri Eman.
Anak kecil itu mengambil kapas yang berada di sisi kiri Haikal. Ia meniru tindakan para suster yang sedang membersihkan luka Haikal di bagian wajahnya. Eman pun tersenyum. Ia tak memperhatikan wajah Haikal. Tatapannya hanya tertuju pada aksi konyol anak kecil itu. Kemudian ia berkata, "Ayo bidadari cantik kita keluar dari sini. Biarkan mereka merawat Abang itu."
__ADS_1
"Hah dia tidak menangkap Haikal. Itu karena anak kecil itu," gumam Mones melirik anak kecil itu yang sedang menatap semua orang dengan senyuman.
"Mana orang tua mu nak?" Tanya Eman menatap anak kecil itu yang menunjuk tangga.