Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Perlawanan Sengit


__ADS_3

"Kamu tak apa-apa kan?" Tanya George.


Shizuka menatap George dalam keadaannya yang masih setengah sadar. Ia melihat George bolak-balik menatap ke jendela, terkadang ke pintu, kadang ke arahnya dan terkadang ia duduk sambil memegang pistol dari saku celananya. Ia hendak menanyainya karena ia tak tahu penyebab dirinya sudah berada di rumah sakit. Namun Shizuka masih merasakan kepalanya yang terasa pusing.


"Semoga penjahat itu tak mendapatkan kita. Aku tak tahu, sudah berapa banyak orang yang mereka lenyapkan. Kenapa mereka ingin menangkap mu? Kamu siapa?" Tanya George lagi melihat Shizuka yang tampaknya ingin menjawab pertanyaannya.


"Tunggu dulu!" Sahut George mendengar suara orang berteriak.


Ia bersiap-siap membawa Shizuka pergi lagi. Ia khawatir penjahat itu akan ke lokasi mereka. Ia menutup wajah Shizuka sambil mengatakan permintaan maafnya karena menyembunyikannya dengan kondisinya yang perlu dirawat. Setelah itu ia membuka pintu. Memperhatikan ke sisi kiri ya ataupun kanan bahwa situasi aman. Ia mengeluarkan Shizuka dari ruang kamar. Jantungnya berdegup tak karuan karena ia mendengar suara perkelahian yang tak jauh dari mereka. Ia menarik napas panjang, berdoa agar mereka memilih jalan yang benar.


"Kamu tenang saja. Aku akan menjaga mu."


George berlari mendorong kursi roda Shizuka. Ia membawanya sejauh mungkin dari kebisingan. Ia berlari. Berlari, berlari, dan terus berlari hingga napasnya terengah-engah. Shizuka juga tampak kelelahan. Ia bingung harus bersembunyi dimana. Ia menatap ke ruang UGD.

__ADS_1


"Sepertinya di sana aman," gumamnya mengangguk.


"Tolong!" Teriak Mones melihat George.


"Ada apa?" Tanya George menatapnya cemas.


"Di ruang Mawar ada pertikaian. Tolong selamatkan Haikal!" Ujar Mones melihat seseorang yang duduk di kursi roda.


"Hah? Shizuka!" Ujar Mones lagi ketika Shizuka membuka penutup kepalanya.


Shizuka mengangguk. Mones memeluknya dengan tangisannya yang begitu mengharukan. Sedangkan George sudah panik karena mereka berada di tempat terbuka. Tanpa bertanya atau mengatakan apapun, George menutup kepala Shizuka lagi dan berlari masuk ke UGD. Mones mengikuti mereka. Lalu ia meminta bantuan George untuk menyelamatkan Haikal. Tetapi George menolak karena ia tak ingin meninggalkan Shizuka. Senior dan temannya telah tiada. Jadi ia bertanggung jawab untuk tetap menjaga Shizuka hingga Shizuka keluar dari rumah sakit Sehati.


"Bagaimana ini Shizuka? Haikal dalam bahaya? Jika aku pergi ke sana sendirian, maka sam saja aku pergi mengantarkan nyawa."

__ADS_1


"Aku akan menemanimu!" Ucap Shizuka bangkit dari kursi roda.


"Apakah kamu yakin Shizuka? Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya Mones khawatir.


"Jangan. Kalian jangan ke sana. Penjahat itu sangat kuat dan anggotanya banyak. Kalian tidak akan bisa melawan mereka."


"Tapi duduk diam saja, tidak akan menyelesaikan masalah," kata Shizuka.


"Bagaimana jika kita pergi bersama-sama saja?" Tanya George berubah pikiran.


"Nah itu baru benar!" Ucap Mones setuju.


"Kita akan ke sana. Tapi kita harus membawa senjata dan melindungi diri dengan membalut seluruh badan kita dan juga kepala menggunakan kain tebal atau sesuatu yang dapat membuat kita gak gampang tertembak atau tersakiti dengan pukulan maupun benda tajam lainnya."

__ADS_1


"Iya itu ide bagus pak polisi!" Ujar Shizuka berlari mengambil senjata seperti alat-alat operasi.


Sementara Mones dan George sedang membuat keamanan pada diri mereka dengan melilitkan seprai dan selimut ke badan mereka. Lalu mereka berdua juga mengambil senjata. Kemudian mereka pergi ke tiap ruang mengambil sesuatu yang bisa dijadikan sebagai pelindung diri mereka. Setelah semuanya cukup, mereka mulai bergerak maju memasuki ruang Haikal.


__ADS_2