Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Penculikan


__ADS_3

"Nona Kelly gak usah khawatir. Sekarang kami telah berada di halaman rumahnya. Kami akan mengabari Nona setelah semuanya beres," ujar Jadi mematikan telponnya.


"Hadi! Itu lihat di kursi sana. Ada seseorang," ucap David.


"Siapa dia?" Tanya Hadi berjalan mengendap-endap.


"Barangkali satpam," jawab Rido menyusulnya selangkah di depannya.


"Kalian berjalanlah pelan-pelan! Jangan sampai satpam itu terbangun," pinta Hadi menatapnya curiga.


"Kenapa kamu menatapnya begitu Hadi?" Tanya Widi melihat Haikal yang terlelap.


"Kenapa dia terlihat seperti orang kaya? Apakah dia bukan satpam? Lihatlah penampilannya! Dia memakai pakaian dan aksesoris yang mahal."


"Benar katamu. Mungkin dia kekasih Shizuka," tebak Widi.


"Ayo kita harus bergegas masuk. Sebelum kekasihnya sadar."


"Tapi kenapa dia tidur di luar?" Tanya Widi.


"Ya mana aku tahu. Mungkin mereka berantem. Namanya juga hubungan. Pasti ada masa-masa sulitnya," kata Hadi menghentikan langkahnya.


"Ya juga sih. Ayo kita masuk sekarang. Kenapa kamu berhenti Hadi?"


"Kalian duluan saja. Aku akan berjaga-jaga di luar."


"Aku temani kamu di luar ya!" Saran David.


"Iya baiklah. Kalian bertiga cepatlah masuk. Cari Shizuka," perintah Hadi.


"Oke. Kami masuk dulu!" ucap Tian.


"Apakah dia sudah pulang?" Gumam Shizuka yang tersentak.


"Awas Rido ada vas bunga di depan mu!" Ujar Widi terlambat memberi tahu.


"Aduh kok telat sih kamu bilangnya," ucap Rido yang tak sengaja menyenggol vas bunga besar di pinggir tangga.


"Ya kan aku baru lihat. Makanya jalan itu perhatikan ke depan. Bukan ke belakang atau ke samping."


"Ya kan aku memperhatikan ke sekeliling. Siapa tahu ada yang lihat kita."


"Suara kaca yang pecah. Siapa yang pecahinnya? Apakah Haikal masuk? Hah tidak! Gila emang si Haikal ini. Awas saja jika benar itu dia. Aku akan menonjok dirinya hingga dia takut kembali ke sini lagi," ucap Shizuka beranjak dari ranjangnya.


"Kamarnya di mana ya? Rumahnya besar sekali," ucap Rido.

__ADS_1


"Namanya saja rumah Kepala Desa. Ayo kita naik ke atas," ucap Widi mengajak yang lainnya.


"Hus lihat di sana. Itu Shizuka!" Ujar Tian menatap Shizuka yang berada di ruang tengah.


"Kalian berdua berpencar. Aku akan berjalan lurus. Sementara kalian harus berada di sisi lain. Agar dia tak bisa kabur. Obat biusnya keluarkan Widi!" Perintah Tian.


"Aku tak melihat siapa pun. Tapi tadi ada suara kaca pecah. Pasti ada yang tak sengaja menjatuhkannya. Tapi siapa? Apa aku salah dengar?" Ujar Shizuka berjalan ke dekat tangga.


"Hai Shizuka!" Sapa Tian.


"Kamu kan laki-laki yang waktu itu mengejar ku. Kenapa kamu kemari?"


Dari belakang Shizuka Widi berjalan perlahan-lahan. Shizuka mengetahui keberadaan Widi yang di belakangnya. Ia segera berlari keluar rumah. Rido berhasil mengejarnya. Namun Shizuka mendorongnya dengan keras. Ia kaget karena di luar ada juga dua orang laki-laki suruan Nona Kelly. Ia bingung hendak berlari ke arah mana karena ia telah dikelilingi oleh kelima preman.


"Tolong! Tolong!" Teriak Shizuka.


"Cepat tutup mulutnya!" Perintah Hadi.


"Widi pun menutup mulutnya dengan sapu tangan yang telah ada obat bius di sapu tangan itu. Shizuka melawan. Ia berhasil lari karena di depannya ada peluang. Dia lari ke arah Haikal yang sedang tertidur. Ia membangunkan Haikal. Haikal membuka matanya. Ia langsung mengajak Shizuka untuk ikut padanya.


"Shizuka ayo ikut aku ke perusahaan ku," ucap Haikal setengah sadar.


"Sadarlah Haikal. Laki-laki aneh. Tengah malam masih mikir kerjaan. Cepat bangun!"


"Beginilah nasibmu jika mencoba menghalangi kerjaan kami," ucap David menampar kecil pipi Haikal dan meludasinya.


Haikal mengamuk dan kembali memukul wajah David. Pukulannya ditepis oleh Widi. Widi kehilangan kesabaran. Ia mengeluarkan pistol dari kantong celana belakangnya. Pistol itu diarahkannya tepat di jantung Haikal. David tertawa melihat Haikal yang tak berkutik sedikit pun. Kembali ia meludasinya lagi. Kali ludahnya mengenai jas Haikal. Haikal mengepal tangannya. Ia hendak sekali memukul David. Tetapi karena pistol itu telah menempel di dadanya, jadi ia hanya diam saja.


"Aku duluan Widi!" Ucap David tersenyum kepada Haikal yang tak membalasnya.


"Oke dan kamu laki-laki pecundang tetaplah duduk manis di sini seperti semalaman itu. Kamu akan selamat jika tak mengganggu urusan kami. Ayo duduklah. Aku pergi dulu."


Setelah sejauh setengah meter Widi berjalan, Haikal berlari dari arah lain untuk menghentikan mobil Shizuka. Shizuka yang masih belum sadarkan diri, membuat Haikal tak bisa melihatnya atau pun mendengarkannya karena Shizuka dibaringkan di kursi paling belakang dan ditutupi oleh selimut panjang berwarna hitam.


"Aku harus ngumpet. Nah di sini saja!" ucapnya membuka bagasi mobil.


"Cepatan Widi!" Teriak Hadi.


"Iya tunggu sebentar."


"Sepertinya tadi ada suara. Suara mobil dibuka atau bagasinya tadi terbuka. Tapi tidak ada siapapun," gumam Widi.


Widi masuk ke mobil. Ia melihat ke belakangnya. Ia gak percaya dengan yang ia lihat karena tadi ia mendengarkan suara. David mengetahui Widi sedang kebingungan. Dia pun bertanya kepada Widi tentang yang dipikirkannya. Widi mengatakan hal yang baru ia dengar tadi dan ia menambahkan lagi bahwa suara itu tak tahu sumber dari mana serta setelah dicari tak ada apapun di sana.


"Kamu mencari kemana?"

__ADS_1


"Di sekitar mobil saja sih."


"Kenapa gak cari ke dalam mobil atau bagasi?"


"Nanti kalian kelamaan nungguin aku. Jadi aku masuk ke mobil saja. Mungkin hanya halusinasi ku saja."


"Ya bisa jadi. Sekarang kamu tenangkan pikiran mu. Barangkali itu karena kamu lelah.


"Nona Kelly pasti bangga pada kita semua karena kita telah menangkap emas itu kembali," ungkap Hadi tersenyum dan menoleh ke arah Shizuka yang bertutup selimut gelap.


"Berapa lama dia akan terus tidur Hadi?" Tanya Rido.


"Nanti dia akan terbangun sendiri kok. Sebelum sampai rumah Nona Kelly dia akan sadar," ucap Hadi.


"Laki-laki tadi bagaimana? Kalian telah menghabisinya?" Tanya Hadi lagi sambil menyetir.


"Dia masih hidup."


"Kenapa kalian gak mengakhiri hidupnya saja?"


"Kami gak tega Hadi. Kami minta maaf ya!" Ucap Widi malu.


Hadi menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Mobil itu dipaksa berhenti di tikungan tajam yang jalanannya sepi. Hadi mengomeli mereka bertiga. Ia meminta mereka bertiga untuk turun dari mobil. Widi, David, dan Rido turun dari mobil. Mereka saling tatap karena Hadi terlihat emosi. Hadi mendekati mereka bertiga. Ia melayangkan pukulan keras ke perut mereka bertiga. David spontan membalas pukulan Hadi. Mereka berdua pun saling memukul satu sama lain. Widi dan Rido terdiam menatap perkelahian itu. Tian yang berada di mobil pun langsung keluar. Ia memisahkan David dan Hadi yang sedang bertinju. Perkelahian itu tak bisa dihentikan. Hingga Tian sendiri ikut terjatuh karena pukulan dari mereka berdua. Perkelahian terus terjadi, hingga tiada yang sadar bahwa Haikal telah mengemudikan mobil mereka.


"Kenapa dengan Hadi? Dia memukul kita begitu saja tanpa alasan jelas. Aku gak terima diperlakukan seperti kacung. Aku harus menuntut balas," ujar Widi berlari dan menarik kerah baju Hadi.


"Memang benar kata Widi. Hadi bukanlah pemimpin kami. Dia sama seperti kami. Jadi apa hak dia menghakimi kami?" Ucap Rido yang juga membantu Widi memegangi Hadi.


David berulang kali memukuli tubuh Hadi. Ia mendaratkan pukulan terakhirnya di pelipis mata Hadi. Sehingga Hadi tak berdaya lagi. Ia jatuh tersungkur dan tak bisa melihat apapun dengan jelas karena lebam di kedua matanya. Tian tercengang menatap Hadi yang telah banjir darah. Ia emosi dan berkata buruk kepada mereka bertiga.


"David, Widi, dan kamu Rido kalian sudah keterlaluan. Kalian memukulinya seperti binatang. Apa yang kalian pikirkan? Dia adalah teman kita. Ayo cepat tolong dia. Sebelum dia makin sekarat."


"Jika dia teman kami, dia gak akan memperlakukan kami seperti anjing," tutur Rido hendak menonjoknya lagi.


"Cukup Rido. Jangan pukul dia lagi! Jika kalian bertiga macam-macam lagi padanya aku gak akan diam saja. Aku akan memberitahu Nona Kelly," ucap ancam Tian.


Rido mendekatinya. Ia memulai aksinya dengan menampar Tian. Tian membalas tamparannya itu. Ia terus menampar Rido hingga Rido tak bisa bicara lagi. Kemudian ia menendangnya dan memukulinya seperti yang dilakukannya kepada Hadi. Rido terjatuh di hadapan David. David hendak membalas Tian. Namun Widi menghentikan langkahnya. Widi tersenyum menatap Tian dan Hadi. Ia berkata, "Nyamuk tetaplah nyamuk. Dia akan terus mengisap darah, meskipun tempat baginya tak ada lagi. Semua orang akan terus mengingat namanya yang busuk karena ia dianggap parasit dan tak berguna. Sekali pun ia berkembang biak, tetap saja tempatnya di dalam sampah atau di kegelapan.


"Katakan pada Nona Kelly bahwa kami tak ingin jadi tangan kanannya lagi. Dasar payah!" ucap David pergi bersama Widi yang telah memapah Rido.


"Kalian akan menyesal!" Teriak Tian menatap Hadi yang sedang berusaha bangkit.


"Tian tolong aku!" Lirih Hadi.


Tian mencoba membawanya masuk ke mobil. Namun ia terkejut karena mobil mereka tidak ada lagi di sana. Ia mulai resah. Apalagi pendarahan di kepala Hadi tak berhenti-berhenti. Ia mengambil ponselnya. Menghubungi Nona Kelly dan memintanya untuk mengirimkan ambulans. Tetapi sangat disayangkan, Hadi tak bisa bertahan lama. Ia menutup matanya saat Tian membaringkannya di rerumputan. Tian menangis melihat Hadi yang meninggalkannya sendirian. Dari kejauhan Ia melihat Ambulans datang. Ia sangat marah karena mereka terlambat menolong Hadi. Tian membiarkan jasad Hadi di rerumputan terbaring penuh luka. Ia berlari mengejar David, dan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2