Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Rumah Bordil Nona Kelly


__ADS_3

DUA MINGGU KEMUDIAN


"Apa kamu gak lihat pelanggan sudah menunggu lama di sana. Kamu masih mencuci piring juga di sini. Cepat kamu pergi ke depan. Mereka bisa pergi dari warung kita karena tak ada pelayan," Teriak Boni bergegas masuk ke ruang kasir.


Shizuka berlari sambil membawa sepuluh gelas kopi. Ia hampir saja menjatuhkan nampan yang dibawahnya. Akibat ia yang buru-buru, beberapa meja sudah kosong. Sebagian lagi menanti dengan tatapan mata melotot. Shizuka menaruh kopi ke beberapa meja yang memesan karena sebagian lagi telah pulang dan tak menanti pesanan mereka.


"Hei Boni lumayan juga pelayan kamu. Kapan jadi aku bisa membawanya?"


"Nanti sore Man."


"Benar ya. Kamu atur saja biayanya! Oh ya suruh juga perempuan itu untuk membuatkan aku kopi sebelum aku membawanya karena nanti di rumah bordil itu aku gak akan lagi menikmati kopi buatannya."


"Beres Man. Kamu bayar sekarang saja Shizuka!"


"Berapa Boni?"


"Satu Milliar Man."


"Aku bayar setengah saja dulu ya. Setelah aku terima uang dari Nona Kelly aku akan melunaskannya. Kirim saja nomor rekening mu."


"Mantap Man. Aku suka yang beginian. Ada barang, ada uang. Eh Man kamu jangan bilang ke pamanku Kamil ya dan Kadir. Kita partner bisnis," ucap Boni tertawa seraya memberikan kelingkingnya.


"Sipp Boni!" Ujar Man setuju dan mendekatkan kelingkingnya pada Boni.


"Pak Boni ini kopinya bersisa."


"Kenapa bisa bersisa?"


"Mereka sudah terlanjur pulang pak. Saya terlambat memberikannya. Maafkan saya pak!"


"Dasar perempuan ******!" Teriak Boni seraya hendak menampar Shizuka.


"Hei Boni. Jangan kasar kepadanya. Kamu sudah dengar tadi kan. Dia sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf."


"Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak menamparnya. Kalau tidak Shizuka pasti akan cacat dan dia pun gak jadi di bawa pergi oleh si Man. Syukurlah aku tak menamparnya," gumam Boni.


"Maafkan saya pak!" Ucap Shizuka lagi.


"Iya. Lain kali kamu jangan berbuat begitu lagi. Sana lanjut kerja lagi."


"Kopinya bagaimana pak?"


"Kopinya untuk saya saja. Kamu taruh di meja nomor sembilan saja," ucap Man.


"Baik pak," jawab Shizuka mengantarkan kopi ke meja nomor sembilan.


"Eh Boni. Kalau sampai kamu melukainya, aku bisa kena bunuh nona Kelly. Kamu tahu kan semua perempuan asuhannya gak boleh cacat. Jika cacat kita gak akan dapat cuan lagi."


"Iya maaf Man. Aku tadi emosi."


"Ya sudah kalau gitu. Aku ke meja nomor sembilan dulu."


"Kamu sanggup minum kopi sepuluh gelas itu?"


"Ya tidaklah. Aku akan meminumnya sebagian saja. Sisanya ya aku kasih ke orang-orang."


"Oke! Lanjutlah Man!"


"Shizuka! Nanti sore tolong kamu beli bahan-bahan dapur ya. Kamu pergi sama si Man saja."


"Tapi pelanggan kita sedang banyak pak."


"Biar saya yang urus."


"Kenapa gak bapak saja yang pergi?"


"Kamu ini banyak banget diskusinya ya. Kamu itu tahu kan tugas kamu di sini. Kamu sebagai apa di sini?"


"Maaf pak!"


"Kamu sebagai apa di sini? Jawab!"


"Pekerja pak."


"Saya sebagai apa di sini?"


"Kasir sekaligus pemilik warung pak."


"Ya sudah. Jadi jelaskan tugas kita apa. Jangan banyak diskusi lagi. Sekarang kamu bersihkan dapur dan meja-meja di depan. Sebentar lagi mau sore. Kamu pergilah dengan si Man. Saya sudah mengatakannya padanya untuk mengantarkan kamu ke pasar."

__ADS_1


"Iya baik pak."


Shizuka membersihkan seluruh meja yang kosong dan setelah itu ia membereskan dapur. Shizuka tak ada berpikir negatif atas permintaan Boni. Ia terus bekerja hingga pekerjaannya selesai. Lalu ia melepaskan celemeknya dan menghampiri Man yang sudah menantinya di motornya. Sementara Boni tersenyum ramah menatap kelancaran aksinya bersama Man.


"Nama kamu siapa?" Tanya Man.


"Nama saya Shizuka."


"Nama yang bagus."


Shizuka terdiam saja. Ia memperhatikan jalanan yang tampak sepi. Ia mulai khawatir tentang keselamatan dirinya. Man terus membawanya ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Shizuka merasa panik. Sehingga ia pun bertanya, "Apakah kita salah jalan?"


"Tentu tidak."


"Tapi kenapa jalannya sepi? Pasarnya dimana?"


"Itu di sana! Kamu ke sana sendiri aja ya."


"Tapi pasarnya dimana?"


"Makanya kamu turun dulu."


Shizuka turun dari motornya Man.


"Nah kamu lurus saja ya jalannya. Jangan takut. Di pasar kan ramai. Kamu gak usah takut ya!"


"Jalannya lurus saja?" Tanya Shizuka.


"Iya Shizuka. Nanti pasarnya akan kelihatan kok. Ya sudah aku kembali ke warung si Boni dulu."


"Eh kok aku ditinggalin. Pak!" Teriak Shizuka menatap Man yang sudah pergi.


"Halo Nona Kelly! Pesanan mu sudah aku antar. Dia sekarang berada di jalan menuju rumahmu."


"Bagus! Saya akan mengirimkan dua gadis cantikku untuk menjemputnya."


"Oke Nona Kelly."


"Namira, Laura!" Panggil Nona Kelly mematikan ponselnya.


"Iya Nona Kelly!" Jawab mereka serentak.


"Kita kedatangan bidadari bernama Shizuka. Kalian jemputlah dia. Pakai mobil saya saja."


"Dia itu cantik. Kecantikan yang luar biasa. Kamu akan terus di sini atau akan menjemputnya? Pergilah sebelum dia tersesat atau kabur!" Bentak Nona Kelly.


Namira dan Laura pergi. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok bagai Miss Universe yang berjalan di panggung. Keduanya masuk ke mobil. Beberapa gadis yang berdiri sepanjang jalan melambaikan tangan kepada mereka. Laura tersenyum. Lalu memeriksa make-up nya. Namira menyetir mobil. Ia menatap dari kaca spion seorang perempuan yang berjalan sendirian. Mereka melewatinya karena Namira kelupaan bahwa perempuan itu adalah Shizuka.


"Kenapa kamu memundurkan mobilnya Namira?" Tanya Laura menyimpan lipstik nya ke dalam tasnya.


"Sepertinya dia itu Shizuka?"


"Mana?"


"Itu? Dia sendirian dan membawa keranjang belanjaan. Dia itu polos banget ya. Dia pikir kawasan ini pasar!" Ucap Namira tertawa.


"Ya kali aja ada pasar baru buka," tambah Laura.


"Ya gak mungkinlah. Ini kawasan Nona Kelly. Mana ada usaha yang di buka di kawasan ini."


"Ya juga sih!"


"Halo!" Sapa Namira menghentikan mobilnya.


"Maaf kalian siapa ya?" Tanya Shizuka.


"Kamu butuh tumpangan? Kamu mau kemana? Biar kami antar saja."


"Aku mau ke pasar. Apakah tak masalah mengantarkan aku ke pasar? Kalian mau kemana?"


"Oh kebetulan banget. Kami juga mau ke pasar. Ayo silahkan naik!" Ajak Namira.


"Kamu akan menjadi gadis panggilan. Kasihan banget sih cewek polos ini," gumam Laura tersenyum pada Shizuka.


"Kalian tinggal dimana?" Tanya Shizuka yang duduk di belakang Laura.


"Kami berdua tinggal di dekat sini. Kalau kamu tinggal di mana?"


"A-ku, a-aku...!" Shizuka bingung mau jawab apa karena dia menumpang di rumah orang.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu dari desa Momoki kan?" Tanya Namira.


"Oh iyalah. Aku tinggal di rumah Tante Pertiwi dan Om Naoto.


"Pak Naoto kan Kepala Desa Momoki! Kamu siapanya? Kamu anaknya?" Tanya Namira takjub.


"Jika kamu anaknya, kok kamu jalan kaki sih?" Tanya Laura heran.


"Oh itu karena mereka sedang ada kerjaan."


"Mereka sibuk banget pasti ya," ucap Namira.


"Tapi ada untungnya juga jika aku akrab dengannya. Dia kan anak Kades. Apa tidak sebaiknya aku membebaskan dia dari Nona Kelly?" Gumam Laura menatap Shizuka dari kaca spion.


"Kamu sudah menikah?" Tanya Namira mengangetkan Shizuka.


"Belum. Aku masih lajang."


"Sama dong seperti kami. Menikah itu hanya akan membuat kita makin sengsara. Melayani suami, seperti babu diperlakukan mertua, dan mengurus rumah tangga, dan anak-anak yang rewel itu sangat menjengkelkan," keluh Namira memarkirkan mobil di parkiran.


"Kita sudah sampai Shizuka!" Ujar Laura tersenyum.


"Mana pasarnya?" Tanya Shizuka masih duduk di mobil.


"Pasar? Inilah pasarnya. Pasarnya itu di rumah ini," ucap Namira menahan tawanya.


"Benarkah? Pasarnya unik ya! Jauh dari keramaian dan terlihat seperti rumah. Tempat tinggal gitu," ucap Shizuka berbicara dengan rasa aneh.


"Ayo masuk! Jarang-jarang loh ada pasar yang begini! Ujar Namira lagi memegang perutnya yang geli menahan tawa.


"Kamu kenapa Namira?" Tanya Laura yang naif.


"Tidak apa-apa Laura. Kalian duluan aja ya. Aku mau menemui Nona Kelly dulu."


"Oke!" Jawab Laura memegang tangan Shizuka.


"Bodoh banget Shizuka. Tapi baguslah. Jika dia pintar, pekerjaan ku kan bisa terhambat. Sekarang Nona Kelly akan bangga denganku," ucap Namira menuju ruangan Nona Kelly.


"Laura aku mau beli gula dan beberapa bungkus bubuk kopi. Tapi kenapa di sini gak ada yang jualan ya? Justru banyak ruangan yang aku lihat. Terus penampilan mereka semua sangat terbuka," ujar Shizuka tercengang menatap perempuan-perempuan yang berdiri di depan pintu-pintu ruangan.


"Namanya juga orang kota. Ya begitulah penampilannya. Mereka itu perantau. Mereka datang dari kota ke desa ini."


"Oh pantasan. Oh ya dimana aku bisa mendapatkan daftar belanjaan ku ya Laura?"


"Kita naik ke lantai tiga aja dulu. Di sana kamu pasti menemukannya."


"Oke deh!" Jawab Shizuka seraya melangkah menaiki anak tangga.


"Halo Laura!" Sapa Anita.


"Halo kakak cantik!" Sapa Kekeh.


"Laura, ini ya perempuan beharga itu?" Tanya Marsha menatap Shizuka.


Tringgggg......tringggg! Bunyi lonceng keras.


"Kok ada lonceng?" Tanya Shizuka yang melihat semua orang berlari ke lantai tiga.


"Ayo Shizuka. Kita harus segera ke sana sebelum Nona Kelly sampai lebih dulu."


"Ada apa? Siapa Nona Kelly?"


"Nanti kamu juga tahu."


Semua orang telah berkumpul di lantai tiga. Semua berbaris rapi seperti angkatan TNI. Shizuka dan Laura berbaris di barisan terdepan. Shizuka terheran-heran karena dirinya sedang bersama perempuan-perempuan cantik dan seksi. Ia menatap mereka dengan hati yang penuh tanda tanya. Beberapa menit kemudian, Nona Kelly datang bersama ajudannya dan asisten kepercayaannya Namira, Vina, Cherry, Loni dan Sandra.


"Shizuka itu yang di tengah-tengah adalah Nona Kelly. Itu lihat! Pakaiannya yang glamor dan wajahnya yang cantik bagaikan ratu dari kebangsaan bangsawan," lirik Laura kepada Nona Kelly.


Shizuka menatap perempuan itu. Ia terkagum karena wajahnya mulus dan kulitnya yang bening. Ia memang cantik dan pintar berdandan. Itulah yang dipikirkan oleh Shizuka. Matanya tak lepas memandangnya yang di kawal oleh perempuan-perempuan seksi dan laki-laki yang kekar.


"Perhatian semuanya! Saya mau memberikan pemberitahuan yang sangat penting. Kalian pasti terkejut," Kata Nona Kelly.


"Majulah ke depan. Kamu akan menjadi primadona di tempat ter-hot ini," celoteh Laura centil.


"Maksudnya?" Tanya Shizuka tak mengerti.


"Kita kedatangan tamu spesial. Dia akan mewarisi tempat ini sekaligus menjadi permaisuri bagi pelanggan-pelanggan kita yang handsome dan berkantong tebal," ujar Nona Kelly.


"Langsung saja kita panggilkan Shizuka!"

__ADS_1


"Sana! Cepatlah ke sana. Kamu akan kaya mendadak," ujar Laura menyenggol bahu Shizuka.


"A-apa maksudnya ini semua? Aku tidak mengerti?" Gumam Shizuka melihat semua orang menatapnya dengan tepuk tangan meriah.


__ADS_2