
Shizuka tak berbicara sejak tak bisa menolong Haikal dari para penjahat itu. Ia bagaikan bunga yang layu. Kelopaknya terputik satu persatu hingga kehilangan sebagian dari tubuhnya yang teramat berarti. Sekilas ia menatap Mones dan George yang bercengkrama riang. Mereka tampak bersinar setelah melalui kegelapan yang menyesakkan. Terlihat juga sepanjang jalan pemandangan Desa Momoki yang begitu asri dengan banyak pepohonan dan rumah-rumah tradisional. Shizuka berdiri di pintu kereta api. Ia memejamkan matanya sambil menghirup udara kebebasan. Tetapi air matanya menetes. Ia teringat tentang Haikal dan Herlina yang masih berada di RS Sehati. Ia menoleh kepada Mones dan George memastikan bahwa mereka tak melihatnya.
Saat itu kereta api melaju dengan kencang. Shizuka berpikir-pikir akan turun ketika kereta api itu berhenti di desa Yatabe. Desa itu agak dekat dengan desa Momoki. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke desa itu karena desa Momoki berbatasan dengan antara desa Yatabe dan desa Qyuri. Shizuka menatap tulisan di pinggir jalan yang bertuliskan, "Selamat datang di Desa Yatabe!"
Kereta berhenti sesuai yang dipikirkan Shizuka. Para penumpang dari beberapa gerbong turun. Ia menyelip diantara orang-orang yang turun. Mones dan George masih bercengkrama dengan sangat serius. Mereka tak menyadari bahwa Shizuka telah turun dan berlari menuju kereta api lainnya yang tujuannya ke desa Momoki. Sebelumnya ia sangat menyesal karena tak memberitahukan Mones dan George akan tindakannya. Ia masuk ke kereta api yang penumpang tidak terlalu ramai. Ia duduk di gerbong utama.
"Hei George Shizuka tidak ada di kursinya."
"Mungkin dia ke kamar mandi."
Mones tersenyum dan mempercayai ucapan George. Beberapa menit kemudian kereta api itu melaju kembali. Mereka berdua terus bicara. Pembicaraan mereka sangat lucu. Bahkan penumpang lain saja ikut tertawa mendengar percakapan mereka. Itu adalah sebuah cerita masa kecil George yang ia katakan sambil terbahak-bahak. Belum usai sampai kisah masa kecil, ia melanjutkan kisah masa remajanya.
"Ada yang lebih lucu lagi. Masa remaja ku begitu lucu. Kamu tahu kan saat aku belum bisa berpikir jernih atau pun memikirkan hal-hal yang merugikan diriku. Ya itulah makanya aku mendapatkan ledekan dari teman-teman ku."
"Apa emangnya yang terjadi?"
"Dua orang perempuan mengetuk pintu kelas kami. Sebagai ketua kelas yang saat itu guru kami sedang ada urusan sehingga mengamanahkan padaku menjaga keamanan kelas, maka aku pun tidak membiarkan mereka masuk. Mereka itu adalah kakak kelas ku. Aku gak mau membuka pintu."
"Kenapa?"
"Itu karena mereka berdua sangat menyukai ku. Makanya mereka datang. Ternyata aku diketawain oleh temanku karena mereka mengetahui bahwa kedua perempuan itu tak lain adalah anaknya wali kelasku. Mereka kembar. Jadi mereka ke kelas untuk mencari ibu mereka."
"Makanya jangan terlalu percaya diri," ucap Mones tertawa.
"Tapi setelah mereka masuk, salah satu perempuan itu menatapku dengan sangat lama dan menghampiri ku untuk meminjam pulpen."
"Apa yang mau dia lakukan?"
"Dia menulis di telapak tangan ku ungkapan perasaan. Aku tercengang. Lalu menyuruhnya untuk pergi. Tapi dia malah makin mengungkapkan perasaannya dengan mencoba meminjam penggaris ku."
"Hah apakah dia tidak mempunyai perlengkapan alat tulisnya? Untuk apa dia pinjam penggaris?"
__ADS_1
"Dia begitu agar bisa dekat denganku. Penggaris itu ia gunakan untuk memukul telapak tangannya. Aku pun menghentikannya. Eh tiba-tiba saja guru ku datang. Dia memarahi ku karena telapak tangan anaknya memerah."
"Kasihan banget kamu! Makanya jangan dekati anak guru!" Ujar Mones tertawa menatap wajah George yang tak karuan.
"Eh kok Shizuka belum juga kembali dari toilet ya?" Sahut Mones terkejut.
"Kalian mencari kakak-kakak yang duduk di depan kalian tadi ya?" Tanya perempuan yang sebaya Shizuka yang tadinya duduk bersebelahan dengannya.
"Iya kak," jawab Mones mengangguk.
"Tadi saat kereta api berhenti, dia telah turun kak."
"Apa? Turun di mana?" Tanya George terkejut.
"Iya kak. Katakan kepada kami dia turun di mana?"
"Desa Yatabe."
"Kita turun di sini saja. Kita akan pergi mencari Shizuka. Sebentar. Aku akan berkata ke petugas itu untuk menurunkan kita di sini."
"Ini semua salahku. Aku banyak berbicara hingga tak melihat Shizuka sudah pergi," ucap Mones bersedih.
"Pak tolong turunkan kami di sini," kata George kepada petugas yang bernama Sofyan.
"Maaf pak kalau boleh saya tahu tujuan bapak mau ke desa mana. Mana tiket bapak?"
"Saya sih emang gak turun di sini rencananya. Tapi karena ini darurat jadi kami harus turun di sini."
"Tujuan awal kemana pak?"
"Desa Unicorn. Jangan berdebat lagi. Saya minta tolong kepada bapak untuk membantu saya," ucap George memberikan tiketnya.
__ADS_1
"Baiklah pak. Sebentar!"
Para polisi sudah ramai di depan RS Sehati. Mereka masuk dengan jumlah banyak. Sekitar lima puluh orang dan selebihnya menunggu di luar. Para polisi menyusun strategi untuk menangkap Eman dan anggotanya. Mereka telah memikirkan hal yang tak akan bisa ditebak oleh Eman atau teman-temannya. Polisi yang di luar RS menutup jalan agar tak ada orang yang masuk ke dalam RS. orang-orang terus berlarian dari RS itu. Dua diantara mereka menghampiri polisi yang sedang bicara dengan wartawan.
"Di belakang gedung. Di sa-na!" Ucap gadis ABG sesak napas.
"Kamu kenapa? Bicaralah dengan benar. Tarik napas dan lepaskan perlahan. Lalu berbicaralah dengan tenang!"
"Ada dua orang yang tak sadar diri lagi. Mereka sepertinya terluka parah. Si perempuan darahnya makin banyak. Si Abang ganteng itu wajahnya sangat pucat."
"Iya benar pak kata pacar saya. Keduanya butuh pertolongan dengan cepat. Ayo kita pergi dari sini Angel."
"Mereka di belakang gedung RS. Tepatnya di belakang ruang Mawar. Cepat tolong mereka pak!" Lalu ia berlari bersama kekasihnya.
Polisi itu langsung meminta anggotanya lima orang untuk memeriksa ke belakang gedung. Sedang ia menghubungi ambulance untuk segera menolong kedua orang yang dikatakan sepasang kekasih tadi. Setelah itu ia mengatakan kepada wartawan agar berhenti mengganggunya.
Shizuka yang masih berada di kereta api masih terus berdoa untuk keselamatan Haikal dan Herlina. Ia sangat menyesal meninggalkan mereka begitu saja. Padahal Haikal telah membantunya selamat dari para penjahat itu. Ia terus-menerus berdoa meminta agar ia datang tepat waktu. Tak berapa lama setelah itu, kereta apinya melewati desa Momoki. Shizuka sudah bersiap-siap hendak turun. Tetapi kereta apinya tak berhenti. Ia mendatangi petugas kereta api yang sedang berdiri di hadapannya.
Petugas itu tersenyum kepada Shizuka. Ia tersenyum sambil berkata, "Kereta ini tujuannya ke desa Momola, Wukuri, Sakula, Tadao, Akari, Amora, Anoela, Kinon, dan Unicorn."
"Tidak. Saya tadi memesan tiketnya ke desa Momoki."
"Mungkin kamu salah ucap. Barangkali kamu berucap kepada penjual tiketnya kalau kamu mau ke desa Momola."
"Tidak. Saya mengatakan desa Momoki. Coba bapak lihat!" Bantah Shizuka sambil membaca tiketnya yang ada digenggaman tangannya.
"Bagaimana? Di sana tertulis desa apa?"
"Ini kenapa jadi desa Momola? Coba bapak periksa. Mungkin saya salah baca," ujar Shizuka memberikan tiketnya.
"M-o-m-o-l-a! Hurufnya jelas dan ejaannya sudah tepat. Saya mengeja dengan sangat teliti. Ini tiket mu nak. Duduklah. Kamu jangan khawatir karena kami akan menurunkan penumpang sesuai dengan tujuan mereka."
__ADS_1
"Tapi saya mau ke desa Momoki pak. Tolong bantu saya untuk bisa ke sana. Saya mohon. Tolong saya pak. Ini keadaannya darurat. Tolong turunkan saya di desa Momoki pak!" Ujar Shizuka memohon dengan wajah yang sudah basah karena air matanya yang tak berhenti mengalir.