Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Gerimis


__ADS_3

"Ibu sangat membencinya. Walaupun aku berkata semua sisi positif atau pun kelebihannya, tetap saja mustahil bagi ibu untuk bersikap baik padanya. Dia perempuan sederhana dan tak banyak bicara. Aku juga melihat bahwa dia perempuan yang memiliki prinsip. Itulah kenapa aku memilihnya untuk menjadi rekan kerja. Selama aku memikirkan tentangnya aku tak melihat sedikit celah keburukan di dalam dirinya. Berbeda dengan ibuku. Seolah kebaikan pada diri Shizuka itu tidak terlihat. Lebih dominan keburukannya. Kenapa ya pola pikir ibu dan aku berbeda? Kenapa ibu bisa menilai Shizuka dengan terburu-buru? Seharusnya ibu mendekati dan bersikap lembut saat hendak menemui Shizuka agar suasana perasaan ibu yang gak menyukainya itu bisa terkontrol. Aku harus bagaimana agar Shizuka bisa menjadi temanku?" Ucap Haikal termangu.


"Apa yang kamu pikirkan nak? Kamu tampak berpikir panjang. Apakah kamu memikirkan Shizuka?" Tanya ibunya yang sedang merapikan buku-buku di kasur Haikal.


"Oh ibu! Tidak Bu. Biar aku saja yang merapikan buku-buku itu Bu. Aku masih memerlukan bukunya. Nanti aku rapikan sendiri bu."


"Jika kamu memikirkannya, berarti kamu masih ingin bertemu dengannya ya?" ucap ibunya duduk di ranjang.


"Maafkan aku Bu! Shizuka itu orangnya baik kok Bu. Tapi kenapa ibu tidak menyukainya?"


"Nak kamu jangan memikirkannya lagi. Apalagi menjalin hubungan dengannya. Ya sudah ibu mau siapin sarapan dulu. Nanti turunlah untuk sarapan."


Haikal terdiam. Ia tak bisa menghilangkan kebingungannya. Entah masalah apa yang pertama yang harus ia pecahkan. Seluruh isi kepalanya tentang masalah yang rumit itu membuatnya mual.


"Permisi bang! Aku gak sengaja dengar obrolan Abang sama ibu tadi. Apakah benar Abang peduli sama Shizuka?"


"Kenapa kamu memanggil namanya dik? Dia itukan setahun lebih tua dari kamu. Panggil dia dengan sebutan kakak."


"Wah benar! Abang sudah peduli padanya. Selama ini aku pikir Abang baik padanya karena sebuah sikap kemanusiaan saja. Eh ternyata ada perasaan lain. Ayo ngaku bang! Abang suka padanya?"


"Jangan sembarangan berbicara. Lebih baik kamu keluar sana bantuin ibu siapin sarapan. Jangan kepo tentang urusan Abang."


"Iya deh. Tapi saran aku ya bang," ucap Debi terhenti karena Haikal mendorongnya keluar kamar.


"Maaf dik! Abang mau ngerjain tugas kantor dulu," ucap Haikal bersalah.


"Ini sudah pasti benar. Abang suka pada Shizuka. Perempuan kampungan itu. Aku gak duduklah dia dekat sama abang ku," ucap Debi jengkel.


...****************...

__ADS_1


Semua orang terus saja menilai sesuka mereka. Tak peduli perasaan ataupun harga diri orang yang mereka cemooh. Asal sudah dikeluarkan ujaran kebencian itu, maka mereka makin senang. Terkadang pun dengan mengucapkan kata-kata kasar dan hina belum tentu membuat mereka puas. Mereka juga mengusahakan agar orang yang mereka cemooh itu menjadi buah bibir di lingkungan mereka. Sehingga tidak akan ada lagi yang akrab dengannya dalam bersosialisasi. Itulah yang dialami oleh Shizuka. Tak abis-abisnya konflik memporak-porandakan raganya. Saking banyaknya ujian hidup, ia makin gesit dalam mencari pundi-pundi rupiah. Bukan ingin lari dari konflik, bukan juga pasrah dengan keadaan, juga bukan karena takut. Hal itu ia lakukan karena menurutnya semakin berdebat dengan orang maka akan membuatnya ikut masuk ke dunia yang penuh dengan ego ataupun sikap dendam. Jadi dia memutuskan untuk mencari kebenaran, berjuang, dan membuktikan dirinya bisa bangkit tanpa harus putus asa. Akibat dari keputusannya itu, Zeexsa makin memotivasi kakaknya. Ia juga menjadikan kakaknya sebagai inspirasi untuk bisa berkembang dalam karirnya yang sama seperti kakaknya.


"Aku bangga dengan kakak. Kakak bisa melewati semuanya dengan sabar dan berusaha. Aku janji kak, aku akan mencari tahu siapa yang menyebar informasi hoax ini."


"Ibunya Haikal kemarin memaki kakak Zee. Dia berkata sama seperti yang diucapkan oleh Kartika."


"Ya Allah keterlaluan banget. Pasti kakak diam ajakan? Aku yakin kakak gak melawan karena kakak itu gak suka berdebat atau pun berkelahi. Apalagi sama orang tua."


"Iya Zee. Tapi aku juga sedih di hatiku. Kenapa tega sekali mereka mempermalukan aku ya?"


"Aku akan datang ke rumah si Debi," gumam Zee sambil menenangkan kakaknya.


Keesokan harinya, Zeexsa melabrak ibunya Haikal dan Debi. Dia bertemu dengannya di kebun Usman. Tetangga dekat rumah Herlina. Di sana Herlina sedang menyiram dan membersihkan tomat dan jagung yang sudah berbuah lebat. Tanpa berpikir panjang, Zeexsa berbicara dengan ceplas-ceplos. Beberapa orang di dekat mereka menatap heran. Zeexsa tidak menghiraukan situasi saat itu karena tujuannya hanya ingin menyampaikan amarahnya.


"Assalamu'alaikum bu! Kenapa ibu mempermalukan kakak saya di tokonya?"


"Kamu kemari mau membalas ucapan saya kepada kakakmu? Kalian memang ya sama saja," ucap Herlina mencabut daun-daun yang membusuk.


"Ada apa ini Herlina? Kamu berkelahi dengan Zeexsa?" Tanya Gudila membawa rantang.


"Saya tidak hanya memperingatkan ibu. Tolong diingat kakak saya adalah orang yang baik. Jangan mengganggunya lagi atau menyakiti perasaannya," tegas Zeexsa.


"Sudahlah! Kamu terlalu banyak bicara. Kakak kamu memang pantas diperlakukan begitu. Dia aja yang terlalu genit pada anak saya dan juga sok cerdas."


"Astaghfirullah malu tahu Herlina. Kamu berantem sama anak-anak. Coba deh mikir! Orang-orang di seberang sana (menunjuk ke pondok) dan itu Usman juga menatap kalian dari tadi. Walaupun Usman itu Abang kamu, tetapi kan dia juga malu sama sikapmu."


Herlina tak menghiraukan ucapan Gudila.


"Kamu yang harus mengingat ucapan saya ini. Dengarkan baik-baik dan sampaikan ucapan saya ini untuk kakakmu ya!"

__ADS_1


"Ibu mau bilang apa? Tidak ada ucapan ibu yang benar. Semuanya hanya karangan ibu saja. Iya kan? Tolong bersikaplah seperti usia ibu dan bersikaplah sebagai manusia yang memiliki sikap kemanusiaan," ucap Zeexsa.


"Kalian semua dengar! Zeexsa dan Shizuka adalah anak haram. Mereka berdua juga tak diakui oleh ayahnya. Kalian gak tahu kan siapa ayah mereka? Terus kenapa ibunya juga dipenjara? Kalian juga gak tahukan apa yang dilakukan anaknya, Shizuka di luar rumah? Semua anak perempuan kita bekerja di rumah dan orang kaya anak perempuannya kerja di kota. Bagaimana dengan mereka?" ucap Herlina mencibir Zeexsa.


Zeexsa berlari mengejar Herlina yang pergi ke pondok dan berkata, "Kamu mengarang cerita lagi? Sampai berapa konflik yang akan kamu sebarkan dalam merusak nama baik kami? Apakah dengan mengatakan kata-kata sampah itu aku akan menangis? tidak! Aku justru terharu karena kamu mati-matian mencemarkan nama baik kami. Semua orang juga tahu bahwa kami dari keluarga baik-baik. Ayah dan ibuku juga sangat terpandang."


"Berhentilah Herlina! Kamu sudah sangat keterlaluan!" Ujar Usman menghampirinya.


"Saya berkata jujur bang."


"Eh Zeexsa! Saya kenal betul asal-usul keluargamu. Aku dulu adalah teman karib ibumu. Namun semenjak kebusukannya menyebar, aku tidak sanggup lagi bergandengan dengan ibumu. Herlina berkata jujur. Coba saja kamu tidak datang dengan angkuh kemari, pasti tidak begini. Tindakan mu juga tak mencerminkan kamu orang baik. Kamu masih anak ingusan. Dasar bocah tengil," ucap Tifa.


"Iya saya juga kenal ibumu. Dia emang sangat baik. Tapi dia ke desa ini hanya bersama kalian berdua tanpa laki-laki atau pendamping hidup," ujar Wulansih.


"Jangankan untuk bertahan hidup, ibunya juga suka akrab dengan laki-laki yang bersuami," ucap Melva.


"Abang aku aja, dulu dia pacaran sama ibunya. Suka banget emang godain laki-laki kaya," ujar Herlina.


"Diam kalian semua! Kalian semua bohong. Ibu aku orangnya tidak seperti itu," teriak Zeexsa menangis.


"Hah masih menyangkal kamu? Kalau ini bohong, kemana ayah kamu? Mana ayahmu? Suruh ayahmu datang melihat kalian. Cepat panggil ayahmu! Teriak Herlina dengan wajah berapi-api.


"Sebaiknya kamu pulang Zeexsa!" Pinta Usman dengan lembut.


"Kamu yang sabar ya nak!" Ucap Gudila membawanya pergi dari Herlina.


"Dasar anak kampungan, gak tahu malu, berani sekali kamu kemari hah!" Tutur Herlina melempar jagung ke arah Zeexsa.


Lemparan Herlina terlalu pendek. Zeexsa sudah jauh pergi bersama Gudila. Sementara Herlina masih mengomel tiada henti. Usman memintanya untuk tenang dan pulang. Namun Herlina masih saja mengomel. Ibu-ibu yang lainnya juga ikut berbicara buruk tentang Zeexsa dan keluarganya.

__ADS_1


Gerimis pun mulai menghampiri. Semua orang yang mengerumuni Herlina berlari mencari tempat berteduh. Sedangkan Herlina masih membara amarahnya. Ia sangat membenci Shizuka dan keluarganya. Bayangan ibunya pun tak bisa ia lupakan. Ia tak menyadari bahwa semua orang yang di kebun sudah pulang. Selama berjam-jam ia berdiri di pinggir kebun itu. Ia tak juga pulang. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tanah juga sudah sangat becek karena hujan lebat yang hampir empat jam.


"Shizuka dan Zeexsa! Aku akan membuat kalian malu. Kalian akan sangat malu hingga kalian gak berani menampakkan wajah kalian pada semua orang," ucapnya dengan mencengkeram masing-masih kedua telapak tangannya.


__ADS_2