Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Pertemuan yang Tak Disengaja


__ADS_3

Kantor Elvis Presley


"Payah banget kamu Ian. Gini aja gak bisa. Sana kamu kembali bekerja saja. Membuat power point aja gak lulus," gerutu Kartika.


"Aku sudah buat yang bagus tu. Apanya sih yang salah?"


"Ini salah Ian. Kamu ini. Kamu gak memasukkan gambar pakaiannya. Itu kan penting. Video kita dalam membuat pakaian itu juga gak kamu tampilkan," ujar Kartika sambil memeriksa power point di laptop Ian.


"Woi! Haikal manyun aja lo. Jalan juga ditekuk. Samacam putus cinta," ledek Ian terbahak-bahak.


"Haikal? Kamu kenapa?" Tanya Kartika cemas.


"Eh malah ditinggalin kerjanya. Kerjaan loh Kartika. Ni karena si Haikal ni makanya kamu lupa kerjaan. Suka amat dengan Haikal? Coba aja aku setampan Haikal kamu pasti lengket samaku terus," celoteh Ian iri.


"Saya masuk ke ruang kerja dulu. Maaf Kartika saya mau sendiri."


Kartika terdiam menatap Haikal yang masuk ke ruangannya.


"Kasihan banget kamu Kartika. Ditinggal lagi. Sama saya aja. Pasti gak akan ditinggal lagi."


"Ogah deh. Sini laptop kamu aku bawa ke mejaku. Di sini saya gak fokus lihat wajah kamu."


"Gak fokus karena aku tampan kan? Kamu gak tahan dengan pesonaku."


"Mimpi kali!" Cibir Kartika seraya membawa laptop itu ke mejanya.


"Semalam paman begitu mengecewakanku. Tapi foto itu foto siapa ya?" Tanyanya sambil mengeluarkan foto itu dari dalam tas kerjanya.


Ia melihat foto yang diambilnya semalam dari rumah putih itu. Ia mengerutkan keningnya karena tak mengenali foto keluarga itu. Fotonya sangat jadul. Warnanya hitam putih. Di foto itu ada dua perempuan dewasa dan satu anak perempuan kecil yang wajahnya tak asing menurut Haikal. Ia memperhatikan dengan sangat rinci.


"Ini mereka berdiri di rumah putih tadi. Mereka siapa ya? Perempuan kecil ini sepertinya aku kenal. Siapa ya dia? Hmm sepertinya dia adalah,..." pikirnya panjang.


"Haikal kamu bantuin saya dong," ucap Salwa yang membawa beberapa map.


"Sepertinya dia sedang sibuk. Hah terpaksa deh ngerjain semuanya sendirian," sahutnya lagi menutup pintu ruangan Haikal.


"Ya aku tahu anak perempuan ini. Dia adalah Shizuka," ucapnya yakin.


"Terus kedua perempuan dewasa ini siapa ya? Pasti salah satunya ibu Shizuka. Terus perempuan ini?" Ucapnya menatap perempuan yang tak asing juga baginya.


"Ini juga seperti pernah aku lihat. Dimana ya?"

__ADS_1


Haikal mengingat-ingat perempuan itu. Tapi ia tak mengingatnya juga. Tak beberapa lama kemudian Haikal pun menyimpan kembali foto itu. Ia memulai pekerjaannya dengan membuka beberapa map. Ia membaca halaman per halaman dengan fokus. Beberapa detik kemudian ia berkeluh tentang ayahnya itu lagi.


"Aku bisa stres dengan masalah ini," ucapnya menutup berkas.


Telpon berdering.


"Halo! Selamat Pagi, dengan Perusahaan Elvis Presley. Ada yang bisa saya bantu?"


"Selamat pagi Pak. Saya adalah Zoya Zoverga. Saya bagian desain dari perusahan Jetwoje Zoverga. Bagaimana dengan meeting untuk besok pak? Apakah perusahaan bapak bisa untuk meeting besok pagi di Hotel Sasaki?"


"Oh Bu Zoya. Maaf saya konfirmasi sama atasan saya dulu ya Bu. Saya akan mengabari ibu nanti."


"Iya baiklah pak! Terima kasih," ucap Zoya mengakhiri telpon.


"Saya sampai lupa bahwa besok ada meeting. Kenapa karyawan lain gak ada yang memberitahukan saya ya? Aneh banget pekerja sekarang. Banyak lupanya," ucapnya bingung.


"Hotel Sasaki? Kalau meeting nya di sana berarti kemungkinan besar aku dapat kesempatan bertemu ayah," sahutnya lagi dengan wajah berseri-seri.


Ian mengetuk pintu ruangan Haikal.


"Masuk!" Ujar Haikal dengan tegas.


"Haikal ini materi untuk persentasi dengan perusahaan Zetwoje Zoverga besok."


"Bukankah semalam si Kartika atau Salwa menghubungi mu? Dia tidak menyampaikannya padamu ya? Keterlaluan!"


"Tidak! Tidak begitu. Semalam saya sibuk. Jadi gak tahu kalau ada panggilan masuk. Sini saya periksa dulu materinya. Power point bagaimana?"


"Aman Haikal!"


Shizuka setiap saat menangis di balkon kamarnya. Ia menangis tiada henti hingga kedua matanya sembab. Ia menangisi dirinya dan masa depannya yang kelam. Kekelaman itu mulai menyelimuti kehidupannya sejak ia merasa seorang diri, karirnya yang tak pernah terwujud, dan banyaknya orang-orang yang bullying terhadapnya. Terkadang pun mata Shizuka juga kabur menatap sesuatu dari jarak jauh. Namun ia tetap menahan kekurangannya itu dengan merasa normal melihat seperti orang lainnya.


Gejala sakit mata yang ia alami telah lama disembunyikan olehnya. Kedua mata itu terus merasakan perih, mengeluarkan air mata dan akhir-akhir ini juga matanya serasa hendak keluar karena sakitnya. Pagi itu Shizuka menghabiskan waktunya berbaring di kamarnya. Ia memejamkan matanya seakan hendak menenangkan pikirannya dan juga matanya yang teramat menyiksa.


"Aku tak bisa jadi apapun dengan penyakit ku. Aku lemah dan penyakitan. Bagaimana aku bisa meraih impianku? Aku juga tidak terlahir dari keluarga kaya. Aku juga tak punya seseorang yang bisa mengeluarkan ku dari belenggu yang menyiksa ini. Apa dan bagaimana diri ku?" Gumamnya terisak-isak membayangkan masa depannya yang kelam.


"Apa yang harus ku lakukan?" Teriaknya dalam hati dengan air mata yang terus mengalir.


...****************...


"Zoya, Delasa, Anggita, Fauzi, dan Ogi, kalian telah lama di sini?" Tanya Astria duduk di sebelah Zoya.

__ADS_1


"Astria kamu suka banget nanya ya? Mana janjimu yang katamu akan memenangkan perusahaan kita ketika melawan perusahaan Elvis Presley?"


"Kamu tahukan Zoya perusahaan itu sudah berdiri cukup lama. Aku gak bisa membaca gerak-gerik perusahaan itu. Oh ya kenapa kamu gak minta bantuan Mark Delta Winarto sih Zoya? Dulu kan dia yang berada di belakangmu. Membantumu dengan sukarela hingga perusahaan mu pun sudah hampir setara dengan perusahaan Elvis Presley. Kenapa aku beberapa bulan ini tidak pernah melihatmu dengannya lagi? Kau dengan dia baik-baik saja kan?"


Zoya terdiam dengan tatapan malu.


"Ada apa? Apa Mark sudah menikah lagi?" Tanya Astria memain-mainkan sedotan minumannya.


"Selamat pagi semuanya!" Sapa Faiz kepada seluruh orang yang hadir dari perusahaan Zetwoje Zoverga."


"Halo Bu Zoya!" Sapa Kartika berjabat tangan dengan Zoya.


"Apakah kami terlambat?" Tanya Haikal yang baru saja sampai sambil merapikan rambutnya.


Kartika dan Salwa menatap Haikal dengan centil. Mereka tersipu malu karena Haikal selalu tampak rapi kemana pun ia pergi. Zoya yang memperhatikan sikap Salwa dan Kartika tersenyum datar karena baginya perempuan pantang sekali bertingkah seperti itu. Faiz menyadari Zoya melihat ke arah Salwa dan Kartika. Sehingga ia meminta Salwa dan Kartika untuk duduk dan bekerja secara profesional. Semua karyawan lain menatap mereka berdua sambil tersenyum mengejek.


"Apanya yang lucu? Kalian gak senang sekali melihat orang bahagia?" Sosor Salwa menarik kursinya dengan keras untuk didudukinya.


"Salwa tolong berbicara yang sopan!" Perintah Faiz menatap semua orang dengan sungkan.


"Oke langsung kita mulai materinya," usul Zoya.


Haikal duduk diantara Ian dan Faiz sambil berkata," Baiklah. Kita akan mulai dengan pengenalan produk baru yang kami ciptakan dalam memanjakan serta menghangatkan tubuh ketika musim hujan.


"Haikal tolong kamu tunjukkan desain baru kita sambil tampilkan sampelnya," bisik Faiz.


Haikal mengangguk dan meraih kantongan pelastik yang berisi produk baru mereka. Ia memberikan ke semua orang yang hadir di sana. Ketika Zoya menerima produk itu, ia menatap Haikal dengan tercengang. Saat itu Haikal terus mempresentasikan materi meeting. Ia tak menyadari Zoya yang tampak resah dengan membolak-balik produk buatan mereka.


"Ada apa dengannya?" Tanya Kartika berbisik kepada Salwa.


"Eh pak tolong jangan melewati meja yang di sana!" Tegur Resepsionis.


Haikal terhenti menatap seorang laki-laki yang ia nantikan. Laki-laki itu menggaruk kepalanya menatap Haikal yang tampaknya akan mengejarnya lagi. Sedangkan Zoya menggelengkan kepalanya mengisyaratkan untuk tidak mengganggu pekerjaannya.


"Mark Delta Winarto. Lama tak bertemu!" Ucap Astria mendekatinya.


"Astria? Kamu masih mengingatku?"


"Tentu. Kamu adalah suami Zoya kan? Kamu juga Direktur dari perusahaan Delta Group. Kemana aja kamu selama ini Mark?" Tanya Astria tak sabar menanti jawabannya.


"Ayah!" Ujar Haikal berlari menemui Mark.

__ADS_1


"Apa? Aku gak salah dengar? Laki-laki muda itu memanggil Mark ayah?" Gumam Zoya terperanjat.


__ADS_2