
Naoto dan Pertiwi termenung di depan kantor polisi. Mereka tak tahu harus mencari Shizuka kemana lagi. Semua orang di sekitar rumahnya juga tak ada yang tahu Shizuka dimana. Polisi pun sudah bergerak mencari Shizuka. Tetapi kabarnya juga tak ada terdengar. Naoto mengajak Pertiwi pulang. Pertiwi tidak mau pulang sebelum Shizuka ia temukan. Ia berjalan lagi sambil menanyai orang-orang mengenai Shizuka. Namun tak seorang pun yang mengenalinya. Pertiwi hanya memberitahukan ciri-ciri Shizuka pada setiap orang yang ia tanyai. Mereka yang mendengar ciri-ciri Shizuka hanya menggeleng. Sebagian lagi tertawa karena ciri-ciri Shizuka itu persis dengan perempuan di dunia fiksi. Hal itu juga ditambahkan seorang polwan. Ia ditanyai oleh Pertiwi yang saat itu ia baru saja tiba bersama tawanannya yang merupakan tersangka dari kasus penculikan.
"Maaf apakah ibu melihat perempuan berkulit putih, mata sipit rambutnya gak terlalu panjang kira-kira panjangnya di bawah bahu, bibirnya mungil dan merah jambu, tinggi badannya sekitar 160an, berat badannya 50an, hm dan wajahnya tirus. Apakah ibu pernah melihatnya?"
"Maaf Bu. Apakah ibu mengatakan tentang film berbie? Saya sangat mengenal ciri-ciri itu. Di dunia fiksi tokoh tersebut menjadi sebuah peran utama. Bahkan tokoh tersebut banyak dikagumi lawan mainnya. Apakah ibu penggemar film dari Disney?"
"Hah apa maksudnya?" Tanya Pertiwi menatap Naoto yang duduk sendirian.
"Film nya akan tayang di bioskop Bu. Saya lupa tayangnya kapan. Ibu bisa melihat jadwalnya di internet atau langsung ke bioskop saja Bu agar ibu bisa melihat tokoh yang ibu cari."
Polwan itu pergi bersama kedua tahanannya. Tahanannya perempuan. Mereka tersenyum menatap Pertiwi yang sangat mengidolakan berbie. Di usianya yang hampir senja, ia masih menyukai film kartun. kedua perempuan itu juga berkata, Bu jika tokoh yang dicari ibu tadi ada di dunia nyata, pasti dia akan mengalami ujian berat karena ia adalah tokoh utama perempuan yang tabah. Apakah ada ya dia di dunia nyata?"
"Diam kalian. Jangan banyak berkhayal. Kalian pikirkan saja nasib kalian. Bicara tentang fiksi atau nyata kalian berdualah yang akan membuat kisah kalian yang miris di jeruji besi. Fiksi yang kalian reka-reka pun akan menjadi lembaran kosong saja karena masa hidup kalian berakhir di sini," ucap Polwan itu memasukkan mereka ke jeruji besi.
"Aku tanya mengenai Shizuka. Tapi orang-orang mengatakan hal yang tak aku pikirkan."
"Ma kita pulang sajalah. Kita juga butuh istirahat dan papa juga udah lapar ni ma."
"Kita makan nanti aja pa. Papa duduk saja lagi di sana. Mama akan cari Shizuka lagi. Sebentar aja kok pa."
"Ma Shizuka pasti pulang. Barangkali dia pergi ke tempat Zeexsa."
"Oh iya ya pa. Kenapa papa gak bilang dari tadi. Ayo kita ke tempat Zeexsa."
"Kok malah ke sana sih ma? Papa mau istirahat dulu ma."
"Iya nanti papa istirahat selama perjalanan. Mengenai makanan kita akan sarapan di stasiun nanti. Yuk pa kita pergi sekarang.
Naoto terdiam kesal. Ia terpaksa mengikuti kemauan Pertiwi. Kalau tidak, Pertiwi akan marah padanya. Mereka pun pergi naik taksi delman menuju stasiun kereta api. Sementara Haikal dan kedua temannya masih berdiri di depan rumah sakit Sisingamangaraja.
"Sampai berapa lama kita akan berdiri di sini seperti orang gila?" Kata Kartika sembari terpincang-pincang berjalan ke arah kursi panjang.
"Kalau kalian mau pulang atau berobat kalian boleh pergi sekarang. Aku masih memikirkan cara untuk menyelamatkan Shizuka."
"Haikal itu ada delman. Ayo kita pergi mengambil mobilmu."
"Oh iya. Ayo!" Ujar Haikal berlari sambil menghentikan Delman.
__ADS_1
"Mereka mau kemana?" Tanya Kartika yang baru saja duduk.
"Ayo cepat naik Ian."
"Iya sabar. Kaki ku sakit akibat kecelakaan tadi. Tapi Kartika bagaimana?"
"Udah biar saja dia di sana. Nanti juga Salwa akan menjemputnya," ucap Haikal melihat Kartika sedang menelpon.
"Halo Salwa. Tolong jemput aku di rumah sakit Sisingamangaraja ya yang lokasinya di desa Momoki."
"Hah kenapa kamu di sana? Kamu baik-baik saja kan? Kamu sakit apa?" Jawab Salwa.
"Nanti aku jelaskan. Kamu jemput aku sekarang ya!"
"Oke. Tunggu saja di sana. Jangan kemana-mana ya Kartika. Aku segera ke sana!" Ucap Salwa memutus telpon.
"Syukurlah Shizuka diculik. Haikal bakal lupain Shizuka. Aku harap mereka tak menemukan Shizuka," gumam Kartika tersenyum.
"Pa cepatan dong makannya. Entar kita ketinggalan. Kereta apinya mau berangkat lima menit lagi pa. Lebih baik papa bungkus saja deh makanan papa itu."
"Sabar ma. Ini juga mau kelar kok. Ma, tolong pesanin makanan lagi dong."
"Buat makan siang ma."
"Ini kan udah siang pa. Papa juga baru makan."
"Iya papa kan masih lapar ma."
"Iya-iya. Papa langsung saja naik ke kereta api. Mama pesan makanan dulu."
"Nah gitu dong. Kita bergerak dan perut pun gak boleh kosong!" Ucap Naoto bersendawa.
"Haikal kita mencari Shizuka kemana?" Tanya Ian.
"Aku juga gak tahu. Penculiknya juga tak aku kenal. Apakah kita memberitahukan kepada om dan tante nya Shizuka. Siapa tahu mereka mengenal penculik itu?"
"Yaudah ayo. Pak berhenti di sini saja."
__ADS_1
"Ini pak bayarannya!" Ucap Haikal memberi uang.
"Pak ini kembaliannya!"
"Untuk bapak saja."
"Terima kasih nak. Semoga kalian bahagia."
"Amiiin!" jawab Ian.
"Ayo buruan Ian ke rumah Shizuka."
"Permisi!" ucap Haikal dengan napas yang masih tersengal-sengal.
"Assalamu'alaikum!" Salam Ian sembari mengetuk pintu.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam Ian."
"Iya Haikal."
"Bu, Bu! Apakah ibu melihat Tante dan om nya Shizuka?" Tanya Haikal kepada tetangga di sebelah rumah Shizuka yang keluar rumah.
"Oh Pak Naoto dan Bu Pertiwi sedang mencari Shizuka."
"Kemana Bu? Mereka mencari Shizuka kemana?"
"Katanya ke kantor polisi nak!"
"Oh terima kasih ya Bu."
"Sama-sama nak!"
Haikal dan Ian masuk ke mobil. Mereka pergi ke kantor polisi yang berada di dekat rumah Shizuka. Meskipun Haikal tak tahu lokasi kantor polisinya, ia mau berusaha dengan memakai petunjuk dari geogle map. Sesampai di sana, mereka mencari Naoto dan Pertiwi. Para polisi yang berada di sana tak mengetahui bahwa Naoto dan Pertiwi pernah ke sana karena petugasnya sudah berganti shift.
"Bagaimana dong Haikal. Mereka tidak ada di sini. Kita cari kemana lagi? Atau kita buat laporan saja gimana Haikal. Laporan Shizuka hilang."
"Benar juga. Yuk kita ke sana," ucap Haikal menatap polwan yang sedang menulis.
__ADS_1
"Maaf mengganggu waktunya Bu Polwan!" Ucap Ian grogi.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Polwan itu dengan ramah.