Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Relakan Aku


__ADS_3

Malam ini Alfi terlelap sambil memeluk gitarnya. Ia hanya mengenakan celana selutut tanpa memakai baju. Ibunya dan ayahnya terus mengawasinya. Mereka sangat mencemaskan Alfi karena semenjak rapat desa itu, Alfi hanya mengurung diri di kamarnya. Ayahnya membawa ibunya ke ruang tamu. Ia mengatakan hal yang membuat istrinya tersenyum.


"Besok pagi kita akan membawa Alfi berobat ke psikiater. Tapi mama jangan mengatakan hal itu kepadanya. Mama bujuk aja besok dia agar mau keluar bersama kita."


"Tentu pak! Aku akan melakukan apapun agar Alfi kembali ceria."


"Besok jam 7 Pagi kita akan pergi ke desa Momoki. Di sana ada dokter hebat. Namanya Louhan."


"Apa papa sudah membuat janji?"


"Sudah ma. Katanya kita harus datang lebih cepat karena pasiennya banyak."


"Wah berarti dia bisa dong pa menyembuhkan Alfi."


"Insyaallah ma. Kereta Api berang pukul 7 pagi. Jadi kita harus cepat besok ma."


"Oke pa. Desa Momoki itu tempatnya Pak Naoto kan pa?"


"Iya ma. Yaudah ayo sekarang kita tidur."


"Bagaimana kabar kak Shizuka tan? Aku merasa apa yang aku lihat itu seperti bukan kak Shizuka. Dia terlihat berbeda. Tolong katakan padaku bahwa kakak ku baik-baik saja tan."


"Kau harus tetap yakin bahwa dia akan baik-baik saja. Besok Tante akan membawanya ke psikiater. Tante yakin dia akan pulih."


"Kau tahu dokter Louhan? Dia sudah banyak menyembuhkan pasien yang mengalami depresi atau kejiwaannya yang terganggu. Bahkan dari desa maupun kota datang berobat padanya," sahutnya lagi seraya menutup majalah yang ia baca.


"Aku harap dokter itu bisa menyembuhkan kakakku."


"Mama, papa pulang!"


"Naoto!" kejar Pertiwi.


"Siapa itu ma?" Tanya Naoto seraya menaruh beberapa kotak makan di atas meja.


"Namanya adalah Zeexsa pa."


"Nama yang bagus. Hi Zeexsa. Kamu sudah makan?"


"Sudah om," ucap Zeexsa menunduk.


"Ayo aku temani papa makan. Pasti papa rindu kan dengan masakan mama."


"Sangat rindu. Dimana-mana papa tidak menemukan masakan terlezat seperti yang mama buat."


Pertiwi dan Naoto berjalan ke ruang makan.


"Bahagianya Naoki punya kedua orang tua yang baik," ucap Zeexsa tersenyum.


"Oh ya ma dia keponakan kamu ya?"


"Bukan pa. Dia dan aku bertemu di stasiun kereta api. Terus aku membawanya kemari. Dia bukan sendirian pa. Ada kakaknya juga. Namanya Shizuka."


"Kenapa kamu membawa mereka berdua kemari?"


"Aduh pa! Kalau papa dengar cerita mama pasti papa sedih. Papa tahu gak mereka itu dikeroyok oleh warga desa. Mereka diusir karena kesalahan yang gak mereka lakukan. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya telah berpisah dengan ibunya sejak mengandung Zeexsa."


"Kasihan sekali ya ma. Terus kakaknya dimana sekarang?"


"Di kamar tamu pa."


"Masalahnya apa sih ma?"


"Mereka di jadiin sumber masalah pa. Shizuka dituduh sebagai kupu-kupu malam dan ibunya dituduh sebagai perusak rumah tangga. Akibatnya warga malu dan mengusir mereka. Mereka menerima pukulan, ejekan, dan wajah mereka dikotori dengan tanah. Terus tempat tinggal dan toko mereka diambil atau disita sama kades nya pa."


"Sungguh berat ujian mereka. Papa berharap kita bisa membantu mereka ma. Terlebih mereka tidak punya keluarga lagi. Apakah Shizuka sudah makan ma?"


"Belum pa. Dia gak pernah makan sejak di sini pa. Katanya belum lapar."


"Mama paksa dong dia makan. Nanti dia sakit bagaimana?"


"Tetap gak mau juga pa. Kalau papa gak percaya coba aja sama papa."


...****************...


Tatapannya mengeluarkan sebuah kesakitan yang tak terhitung kiranya telah melewati bahkan menerjang ombak besar. Bantal guling itu peluk dengan erat dan mengenai mulutnya. Ia juga membalut tubuhnya dengan selimut tebal. Hanya kekosongan yang ia rasa. Tiada lagi terdengar olehnya segala ujaran kebencian. Kini hanya bekasnya yang hinggap di raganya. Tiada kebosanan ataupun kejenuhan baginya berada di kamar itu. Semangatnya telah melebur bersama hancurnya martabat keluarganya. Terkadang ia juga berbicara sendiri mempertanyakan keberadaan ayahnya. Ayah adalah sebuah perisai baginya. Ia terus memuji arti sebuah ayah dalam hidupnya. Tawanya yang manja mulai menghentikan air matanya. Perlahan-lahan ia pun membayangkan sosok malaikat yang juga pergi meninggalkannya. Ia kembali menangis suaranya yang sudah tidak jelas lagi akibat bercampur tangisan.


"Mereka mengatakan ku perempuan hina bu., termasuk ibu," terisak-isak.


"Pa coba dengar deh itu suara Shizuka. Apa yang terjadi? Ayo kita bangun pa. Cepat pa!"

__ADS_1


"Ini masih jam satu dini hari ma."


"Yaudah mama yang ke kamarnya!" Ujar Pertiwi pergi ke kamar sebelah.


Shizuka masih terus berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berimajinasi mengenai ibunya yang duduk di sebelahnya. Ia berbicara tanpa jeda. Betapa rindunya ia selama bertahun-tahun tak melihat ibunya itu.


"Tolong aku Bu. Mereka terus saja mengganggu ku. Ada yang berkata aku miskin, pembohong, kupu-kupu malam, ada juga yang mencela ibu dan ayah."


"Aku lelah Bu," ucapnya lagi sambil memejamkan mata dan melihat ibunya membelai rambutnya dengan lembut.


"Ya Allah tolong buat Shizuka kembali ceria dan semangat lagi!" Ucap Pertiwi mengintip dari pintu kamar Shizuka yang terbuka sedikit.


Keesokan paginya Mina telah bersiap-siap untuk pergi bersama Yoman dan Alfi. Ia juga telah membangunkan Alfi lebih cepat dari biasanya. Alfi sama seperti hari sebelum-sebelumnya tetap lesu. Ia memaksa Alfi segera sarapan. Alfi tak juga menurutinya. Yoman pun membuatkan bekal Alfi. Kemudian menarik tangannya masuk ke mobil yang telah parkir di depan rumah mereka. Alfi tak berdaya memberontak. Ia hanya diam saja menatap jalanan yang dilalui beberapa orang yang sedang membawa kain dan juga seember ikan.


"Kemana pagi-pagi sekali sudah pergi Pak Kades?"


"Mau ke desa Momoki pak Freddy."


"Lihat pa orang sudah kerja jam segini jualan ikan? Apa kita gak telat ni pa? Udah hampir jam tujuh pagi."


"Kalau mencari rezeki itu ya harus pagi-pagi ma. Beda sama jadwal berobat. Dokternya pasti belum ada di kliniknya lagi," ucap Yoman melajukan mobilnya.


"Abang? Abang sejak kembali dari penjara kenapa mukanya ditekuk? Mikirin apa sih?"


"Kok kamu kelihatan santai banget sih Debi. Ibu dipenjara. Tolong kamu bantu mikir. Abang lagi pusing ni," ucap Haikal masuk ke kamarnya dengan menghempaskan pintu.


"Kita hampir sampai!" Ujar Yoman parkir di seberang jalan Lingga.


"Ayo nak kita turun! Papa tolong bawain map kuning dan bekal Alfi," Ujar Mina menggandeng Alfi.


Di stasiun ada beberapa pedagang asongan yang menjualkan rokok, cemilan, air mineral, dan jus. Alfi berhenti di depan penjual rokok. Mina mengerti maksud anaknya itu. Ia pun membelikan rokok itu pada Alfi.


"Papa pesan tiket dulu," ucap Yoman menatap Alfi sedang merokok.


"Alfi ayo kita ke kursi di dekat kereta api itu."


"Tiga tiket ke desa Momoki."


Tujuh menit kemudian.


"Papa datang! Ini tiket pesawat kita."


" Semoga lancar ya pa!"


*Klinik Louhan*


"Silahkan berikutnya antrean ke-25," ujar asisten Louhan.


"Shizuka kita masuk dulu yuk nak. Ayo nak!" ucap Pertiwi yang terus menggandengnya.


"Selamat pagi Bu Pertiwi. Siapa yang sakit Bu?


"Ini anak perempuan saya dok. Dia susah tidur dan terkadang sedih. Akibatnya dia kehilangan semangat."


Louhan mulai mengobati Shizuka


"Namamu siapa?"


"Shizuka."


"Apa kau bisa membaca ini?"


"Saya hebat. Saya akan mewujudkan impian saya. Ketakutan saya tidak akan bisa memisahkan saya dari mimpi besar saya. Saya tidak hanya bermimpi. Tapi saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk membuat mimpi saya menjadi nyata," ucap Shizuka tersenyum melihat buku motivasi itu


"Apa kau merasakan sesuatu?"


"Ya saya merasa itu adalah isi hati saya. Apakah anda juga mengalami hal serupa dengan saya?"


"Kau dan aku kita sama-sama punya impian. Tapi mimpi kita berbeda. Saya suka membatu orang seperti kamu."


Shizuka tersenyum.


"Apa mimpimu?"


Shizuka terdiam. Ia menatap dokter itu sambil memikirkan impian besarnya. Pertiwi pun mengatakan pada Shizuka untuk tidak malu atau pun takut. Shizuka menatap dokter dan Pertiwi bergantian. Setelah ia melihat Pertiwi yang terus mendorongnya untuk berbicara, ia pun memulai dengan tersenyum lagi pada dokter itu.


"Saya punya mimpi. Mimpi itu saya dambakan sejak saya usia sebelas tahun. Saya memperhatikan ibu saya yang selalu menyulam. Ia menyulam sarung tangan untuk Zeexsa, menyulam sarung bantal, baju sweater juga ia rajut dan membuat motif yang indah di bagian depan baju itu. Saya sangat menyukai sulaman ibu saya. Ibu mengajari saya waktu itu. Dia tampak bahagia mengajari saya karena saya pun cepat menguasainya. Jadi setelah saya beranjak dewasa, saya memutuskan untuk menjadi seorang desainer. Saya belajar pola, memotong, mengukur, dan yang lainnya dari internet. Saya emang gak punya ponsel. Tapi saya berusaha pergi ke warnet yang ada di dekat warung Kinara. Saya catat dan saya praktekkan di rumah yang saya pelajari itu. Alhamdulillah saya bisa dan akhirnya membuka usaha kecil di rumah."


"Wah itu mimpi yang sangat indah nak! Pasti ibumu bersyukur sekali punya anak secerdas kamu."

__ADS_1


"Terima kasih Bu!"


"Jadi mimpi itu sudah nyata? Ini mimpi yang tak hanya bermanfaat untuk kamu.Tapi juga membawa dampak positif untuk banyak orang."


"Tentu dok. Adik saya, temannya, tetangga, dan warga desa juga jadi terdorong untuk menjahit pakaian dengan saya."


"Kamu membuka lapangan pekerjaan?"


"Tidak dok. Saya hanya membuka kursus dengan sukarela."


"Anak yang baik! Hati kamu lembut!" Rangkul Pertiwi.


"Saya bisa dong belajar sama kamu?"


"Dokter bisa aja menghibur saya. Saya masih amatir dok. Kalau sekedar memperkenalkan dengan dunia desain boleh dok."


Dokter itu tersenyum.


Lalu berkata, "Coba tulis hal yang membuat kamu kecewa, senang, takut, dan harapan kamu di sini ya!"


"Saya...!"


"Tenang saja Shizuka ini hanya sebuah tahap perkenalan kita. Kamu jangan khawatir tidak ada yang akan mengetahui isi hati kamu kecuali Allah, saya, dan ibu Pertiwi. Kamu akan membantumu melewati fase ini," ucap Louhan.


"Baiklah!" Jawab Shizuka sambil menulis.


Beberapa menit kemudian Shizuka memberikan kertas yang ia tulis tadi kepada Dr. Louhan. Ia juga mengatakan pada Dr. Louhan untuk membacanya setelah ia pergi. Dr. Louhan setuju dan setelah itu mereka pamit pulang.


"Kabari hasilnya sama saya di telpon nanti ya dok," ucap Pertiwi berbisik.


"Ibu datang saja ke sini nanti sore."


"Oh iya-iya. Terima kasih ya dok!"


"Iya Bu!"


"Tetap semangat Shizuka!" Ujar Dr. Louhan memotivasi.


Selanjutnya antrean no. 26 dipersilahkan masuk.


"Pa kita dapat antrean ke berapa?" Tanya Mina.


"No. 30 Ma!" Jawab Yoman.


"Shizuka! Dia di sini juga," ucap Alfi yang baru saja dari toilet.


"Shizuka!" Teriaknya sambil berlari mengejar Shizuka.


Orang-orang menatap Alfi karena berteriak dengan kuat.


"Alfi?" Shizuka heran.


"Akhirnya aku menemukanmu Shizuka. Kamu kemana saja. Kamu baik-baik saja kan?"


"Kamu mengenalnya Shizuka?" Tanya Pertiwi.


"Saya Alfi Bu. Saya tinggal satu desa sama Shizuka. Di desa Unicorn. Rumah kami gak terlalu jauh. Hanya beda lorong saja," ucap Alfi nada bicara cepat-cepat.


" Oh. Terus ngapain kamu di sini nak?"


"Saya diajak orang tua saya berobat."


"Kamu sama orang tua mu?" Tanya Shizuka khawatir.


"Iya Shizuka. Ayo kita pulang!"


"Saya gak mau pulang. Saya permisi dulu!" Ujar Shizuka berjalan pergi meninggalkan Alfi.


Alfi mengejarnya lagi.


"Aku gak bisa melupakanmu Shizuka. Meskipun kamu bisa tanpa aku. Tapi aku bisa gila tanpamu. Aku akan melindungi mu dari semua orang yang mencoba menyakiti mu. Termasuk kedua orang tua ku," ucap Alfi dengan tulus.


"Maaf saya gak bisa kembali ke desa itu lagi!"


"Tapi Shizuka aku ada bersamamu."


"Lupain saya. Kamu bisa kok hidup tanpa saya. Kamu kaya, pintar, dan masih banyak perempuan cantik di sana yang bisa menjaga serta mencintai mu dengan tulus."


"Aku hanya mencintai kamu Shizuka," bantah Alfi.

__ADS_1


Shizuka tetap pergi dan tak menoleh lagi. Pertiwi mengikutinya dan hanya diam. Ia tak mau ikut campur dengan perasaannya karena ia ingin yang terbaik untuk Shizuka. Alfi mematung di sana. Tak lama kemudian ibunya datang. Ia makin curiga pada anaknya bahwa anaknya mengalami ilusi-ilusi seperti orang tidak waras.


"Alfi makin parah. Ia sering kali berbicara sendiri. Khayalannya pun selalu mengenai Shizuka. Perempuan malang itu membuat masa depan anakku juga ikut tragis," gumam Mina cemas melihat kondisi Alfi.


__ADS_2