
"Huh aku grogi sekali. Apakah penampilan ku sudah rapi? Oh tidak, dasi ku kemana lagi? Tanpa dasi, aku terlihat sangat berantakan," ucapnya memeriksa ke kantong celananya dan ke tas kantornya.
"Maaf kamu siapa?" Tanya seorang bapak berpakaian kaus.
"Saya Haikal pak. Bapak siapa? Apakah bapak ingin bertemu Shizuka?"
Ia menatap kepada ke empat temannya yang berpakaian seperti pengemis. Haikal menanti jawabannya. Bapak-bapak itu menjawab bahwa ia adalah seorang peminta-minta di tiap rumah. Ia memperhatikan Haikal dengan sangat teliti. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mereka berlima memilih duduk di teras rumah. Mereka duduk di lantai menanti pintu rumah itu terbuka. Haikal mendekati mereka. Ia memberikan sejumlah uang kepada mereka berlima. Lalu Haikal mengetuk pintu rumah Shizuka.
Kelima laki-laki itu tersenyum menatap uang yang diberikan kepada mereka lima ratus ribu per orang. Salah satu diantara mereka berbisik sambil memperhatikan Haikal yang sedang mengetuk pintu. Kemudian mereka berlima pergi setelah salah satu teman mereka itu selesai berbisik. Haikal menoleh ke belakangnya. Ia menatap kelima laki-laki itu sedang berjalan meninggalkan rumah Shizuka.
"Kamu?" Tanya Shizuka tak percaya.
"Iya saya datang kemari Shizuka. Apakah saya boleh masuk?"
"Kita duduk di kursi yang berada di teras rumah saja."
"Oh baiklah. Kemana orang di rumah mu? Kelihatannya sepi."
"Semuanya udah pergi. Kenapa kamu kemari?"
"Saya mau mengajak mu ke kantor sekarang."
"Kenapa kamu masih ingin aku bekerja di sana setelah kejadian yang mempermalukan aku dan merugikan perusahaan kalian?"
"Kamu tidak salah Shizuka. Tolong jangan memikirkan hal itu lagi. Pak Faiz juga menantikan kedatangan mu."
"Apakah dia tidak marah kepada ku lagi?"
"Tidak sama sekali. Ayo lekas kamu bersiap-siap. Kita akan berangkat sekarang."
__ADS_1
"Maaf aku gak bisa ke sana lagi. Aku masuk dulu."
"Tapi kenapa Shizuka? Kamu juga ingin bekerja kan? Kenapa kamu gak mau menerima tawaran ini?"
"Tidak apa-apa. Aku lagi pengen di rumah saja."
"Apakah ini karena Kartika? Salwa? atau karena Ibuku?"
"Mungkin!"
"Shizuka tolong maafkan mereka. Kamu tahu sendiri kan terkadang mereka bisa khilaf. Ibu juga gak ada lagi bercerita tentang hal buruk dari kamu."
"Maaf Haikal. Aku harus memasak."
"Saya tunggu kalau gitu."
"Jangan terlalu lama membenci orang. Sebenci-benci kamu terhadap orang lain, itu akan merugikan mu karena kamu dirasuki oleh rasa dendam dan dikelabui oleh pikiran mu yang negatif thinking. Kamu akan bahagia jika kamu sudah membersihkan hati dari noda-noda yang menyebabkan hatimu kotor."
Shizuka mendengarkan perkataan Haikal sampai selesai. Lalu ia masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Haikal menarik napas panjang. Ia mencoba sabar akan sikap Shizuka yang cuek serta tak mendengarkan permintaannya. Ia menanti Shizuka hingga waktu terus berganti hingga senja. Dari tadi Haikal sudah tak dapat menahan kedua matanya yang sangat mengantuk. Ia tertidur begitu saja dengan posisi duduk. Sedangkan Shizuka bersiap untuk menunaikan sholat Maghrib.
"Apakah dia sudah pergi?" Gumam Shizuka menanti azan Maghrib sedang berkumandang.
"Hei kalian bersiaplah. Tengah malam sebentar lagi. Tutup wajah kalian. Ingat kita harus membawa Shizuka dengan selamat dan tidak menyakitinya."
"Oke Hadi."
"Kamu dan kamu!" Tunjuk Hadi kepada David, Purwono untuk berjaga di luar rumah. Yaitu di depan gerbang untuk memperhatikan orang agar tidak mengganggu tugas mereka.
"Ini masih Maghrib. Jadi kalian berempat pergilah mengenyangkan perut kalian dulu. Aku akan memantau dari sana," liriknya ke warung dekat rumah Shizuka.
__ADS_1
"Ayo kita makan di perempatan jalan tadi," ajak Rido.
"Itu warung kopi. Bukan jualan makanan. Paling hanya ada makanan ringan di sana," ucap David menatap teman-temannya yang sedang merokok.
"Dia masih di sana," ucap Shizuka mengintip dari jendela yang baru selesai sholat Maghrib.
"Apa yang harus ku lakukan? Hah biar sajalah dia di sana. Tapi jika aku membiarkannya di sana, nanti om dan tante lihat maka, mereka pasti menegurku karena membiarkannya di sana. Hah lebih baik dia masuk ke rumah sajalah," gumam Shizuka sembari membuka pintu.
"Oh tidak usah aja. Mungkin nanti dia akan pulang," ucapnya lagi berubah pikiran.
"Shizuka masih di rumah juga. Dia gak mau keluar membuka pintu. Menyuruh aku masuk atau apa kek. Dasar perempuan cuek. Apa salahnya jika dia setuju saja. Pasti aku gak bakal duduk di sini berjam-jam. Nyamuk banyak banget lagi," ujar Haikal menatap arlojinya yang hampir menunjukkan setengah delapan.
"Kalau dia gak pergi juga terpaksa deh aku harus mengajaknya masuk. Lalu aku bilang aku gak akan mau bekerja di tempatnya atau aku bilang langsung saja di luar agar dia cepat pergi. Dasar keras kepala. Dia gak paham betapa aku sangat malu ketika itu. Belum lagi ibunya. Jika dia tahu aku dan Haikal bekerja di perusahaan yang sama, dia pasti menghina ku abis-abisan. Itu gak boleh terulang lagi. Aku akan memintanya pulang dan jangan kembali lagi. Ya sekarang aku harus menyuruhnya pergi," ucap Shizuka membuka pintu.
Ia tercengang karena di luar Haikal tak ada lagi. Ia berlari ke kursi tempatnya duduk. Mencari ke semua sisi rumahnya dan melihat ke luar pagar. Tetapi dia tak menemukan Haikal. Ia tersenyum sambil berlari masuk ke rumahnya. Saat ia hendak mengunci pintu, ia melihat Haikal kembali lagi. Haikal datang ke rumah itu lagi dengan membawa beberapa makanan dan minuman. Shizuka bergegas menutup pintu. Ia tak abis pikir tentang Haikal.
"Kenapa dia kembali lagi? Kirain dia sudah pulang. Eh malah balik lagi ke sini. Sepertinya dia akan menganggap teras rumah itu adalah rumahnya. Tidak boleh. Dia harus pergi."
"Kenyang juga! Alhamdulillah. Sekarang aku harus mengetuk pintu rumah itu lagi," ucap Haikal berdiri dari kursinya.
"Kamu mau kemana hah? Tolong jangan kembali kemari lagi. Pergilah pulang. Aku gak bakal mau bekerja dengan mu lagi."
"Sekali ini saja Shizuka. Tolong dengarkan saya."
Shizuka masuk ke rumahnya dan tak mempedulikan perkataan Haikal.
"Bagaimana sih sikap Shizuka ini? Aku sangat bingung dengannya. Terkadang baik dan terkadang menyebalkan. Aku gak paham dengan sikapnya. Dasar perempuan egois," katanya dengan jengkel.
"Aku gak peduli dengannya. Ini sudah jam sembilan. Dia masih di luar. Apakah dia gak mikir tentang perkataan tetangga atau mikir ibu dan adiknya pasti menunggunya di rumah. Emang dia sangat pemaksa. Aku gak mau, dia tetap saja memaksa. Dasar laki-laki keras kepala dan cerewet. Biarin dia di luar sana. Aku tidur aja," ucap Shizuka masuk ke kamarnya.
__ADS_1