Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Mereka Kembali


__ADS_3

"Bodoh!"


Perempuan itu melampiaskan amarahnya dengan menjatuhkan semua barang-barang di dinding ataupun di meja. Ia begitu marah sampai wajahnya memerah dan matanya melotot. Semua orang yang berada di sana tertunduk dan tak ada satu pun yang bergerak atau pun berbicara. an sendiri juga terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian datang dua orang kepercayaannya Nona Kelly membisikkan sesuatu kepadanya secara bergantian. Laura penasaran dengan yang dikatakan ajudan Nona Kelly sehingga tanpa sengaja mengeluarkan suara dengan berkata, "Apa yang kalian sampaikan kepada Nona Kelly?" Ucapnya yang baru sadar bahwa dirinya membuat kesalahan.


Semua orang melihat Laura dengan tatapan sepele. Lalu kedua pengawal Nona Kelly tadi membawa Laura. Mereka mengurungnya di dalam kamarnya. Laura tak berani bersuara lagi karena sesuatu bisa saja terjadi padanya jika ia melawan atau berkhianat.


"Eman kamu telah kehabisan anggota. Jadi biarkan saya memberi mu anggota baru lagi."


Eman menaikkan alisnya sambil berkata, "Anggota saya bukan orang sembarangan Nona Kelly. Meskipun mereka tertangkap oleh para polisi, mereka juga akan kembali kepada saya dalam keadaan hidup," ucap Eman yakin.


"Apakah kamu bercanda? Mereka ditangkap oleh banyak polisi. Tidak gampang mengelabui polisi."


"Mereka itu bukan anak kecil. Jika mereka dalam bahaya, mereka akan mengeluarkan senjata mereka yang tersembunyi. Nona Kelly tunggu saja tanggal mainnya. Kita akan menonton scene film yang sangat menakutkan!" Ujar Eman berjalan meninggalkan semua orang di ruang Nona Kelly.


"Ternyata taring Nona Kelly belum patah. Dia akan membuat kita makin berjaya," ungkap Namira bertepuk tangan.


Semua orang bersorak sambil bertepuk tangan karena Eman terlihat cerdas dan menakutkan. Nona Kelly tersenyum sambil mengambil rokok yang ditawarkan oleh kedua pengawalnya. Mereka semua bersiap-siap menonton aksi seru dari Eman. Sekarang Eman pergi lagi ke rumah sakit itu. Kakinya yang tertembak peluru tadi tidak membuatnya kesakitan. Justru ia menganggap peluru itu sebagai makanannya. Ia hanya membiarkan peluru itu menancap di dagingnya dengan darah yang terus mengalir membasahi betis hingga sepatunya.


"Tolong selamatkan anak saya dok!" Ucap Herlina melihat Haikal yang dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat."


"Kamu yang kuat ya Herlina. Haikal pasti akan pulih!" Ujar Silvi.


"Ini semua karena Shizuka. Kemana Shizuka pergi? Dia meninggalkan Haikal begitu saja dikeroyok oleh preman itu. Shizuka dimana kamu?" Teriak Herlina melihat ke sekelilingnya.


"Dia pasti makin membenci Shizuka," tutur Mones menatap Herlina mencari Shizuka ke tiap ruangan.

__ADS_1


"Ayo kita cegah dia sebelum dia menemukan Shizuka!" Pinta Silvi menatap Mones.


Mereka mengejar Herlina yang baru keluar dari ruang Melati. Mereka membawanya duduk kembali di depan ruang Unit Gawat Darurat. Herlina tak bisa duduk tenang. Ia terus menyebut nama Haikal. Silvi menyandarkan kepala Herlina di bahunya sambil berkata, "Kita berdoa saja untuk keselamatan Haikal. Kamu lebih baik menunggu Haikal di sini saja. Jangan kemana-mana dulu. Kita akan menantinya di sini karena kita adalah keluarganya. Kalau dia sadar nanti, kan dia akan melihat kamu sebagai orang pertama yang sangat penting di hidupnya Herlina. Kamu adalah ibunya. Semestinya kamu tidak meninggalkannya dalam keadaan apapun."


"Iya Herlina. Soal Shizuka kan bisa kita cari di lain waktu saja. Sekarang kita harus tetap di sini untuk memastikan keadaan Haikal baik-baik saja. Aku juga khawatir preman itu kembali lagi."


"Tidak Mones. Haikal harus kembali sembuh. Aku gak akan membiarkan preman itu menyakiti anak ku lagi!" Ujar Herlina bersemangat.


...****************...


"Tak payah untuk lolos dari sini," ucap salah seorang pengawal Eman melirik ke seorang pemuda yang berjubah.


"Hei Syakir kenapa lampunya mati?"


"Aku juga tidak tahu Mikel. Coba aku periksa dulu," Jawab Syakir.


Laki-laki berjubah itu langsung membius Mikel dan membuatnya terlelap. Lampu padam sangat lama. Laki-laki berjubah itu berkeliaran selayaknya hantu. Ia dengan sigap mengelabui semua orang dan segera mengeluarkan semua pengawalnya dari jeruji besi.


"Bos!"


"Husst jangan berisik," tegasnya mengeluarkan mereka semua.


Di luar banyak sekali polisi. Mereka berjalan sambil mengeluarkan senjata api. Para polisi yang tak sengaja melihat mereka harus terpaku bisu karena senjata api itu membungkamnya. Rasa manusiawi bagi Eman dan anggotanya seperti sudah mati. Tak ada sedikitpun bersisa rasa iba ataupun rasa kemanusiaan, mereka hanya fokus pada misi mereka yaitu menangkap Shizuka.


"Lekas masuk ke mobil. Ingat kita tak boleh gagal hari ini!"

__ADS_1


"Baik bos!" Jawab mereka serentak.


Setelah meninggalkan kekacauan itu mereka sekarang berada di rumah sakit Sehati. Eman yang masih memakai jubah dan wajahnya yang bertopeng membuat orang-orang tak mengenalinya. Sedangkan anggotanya berpencar dari segala arah untuk mencari Shizuka.


"Hei lihat penampakannya seperti dalam acara sirkus saja. Topengnya sangat lucu," bisik perempuan berseragam SMA kepada kekasihnya.


Eman mendengar percakapan mereka. Ia pun membuat gadis muda itu terdiam dengan satu sayatan pada lengan kirinya. Kekasih gadis itu marah. Ia berteriak-teriak memanggil orang dengan berkata, "Tolong! Ada pembunuh!"


Orang-orang yang berada di sana otomatis langsung menghampiri sepasang kekasih berseragam SMA itu dan sebagian lagi mengejar Eman. Tetapi mereka kehilangan jejaknya. Lari Eman sangat kencang. Sehingga orang-orang itu pun tak berhasil menangkapnya.


"Siapa dia ya?" Tanya laki-laki berkaca mata putih menatap beberapa orang yang mencurigakan yang berjalan melewatinya dengan ekspresi datar.


"Kenapa? Kamu melihat apa Tedy?"


"Aku seperti pernah melihat orang-orang itu," ucapnya memerhatikan beberapa orang itu memasuki ruangan secara keseluruhan.


"Itu kan para penjahat yang membuat kerusakan di ruang anak-anak! Ayo cepat kita beri tahu scurity."


"Hah mereka udah bebas dari penjara? Kenapa bisa bebas?" Ucap Tedy berlari memberi tahu semua orang bahwa ia melihat penjahat yang membuat onar di ruang anak-anak barusan.


Scurity bergegas mencari Eman dan anggotanya. Sebelumnya mereka juga menelpon polisi untuk segera datang ke RS Sehati. Orang-orang di sana berlarian. Mereka menyelamatkan diri mereka masing-masing. Berita itu juga telah sampai kepada Herlina. Ia makin panik dan dengan aksi nekatnya, ia pergi mencari Eman dan anggotanya. Mones memeluk orang lain yang di sebelahnya. Orang itu langsung mendorong Mones dari tempat duduknya. Mones ketakutan sambil mencari Silvi yang dari tadi di toilet.


"Silvi! Lama amat kamu di toiletnya."


Belum sempat Silvi menjawab Mones, lampu-lampu di rumah sakit padam total. Mereka berdua berlari mencari tempat aman. Sore itu rumah sakit Sehati layaknya pemakaman orang-orang pribumi karena pembunuhan besar-besaran terjadi. Mones bersembunyi di ruang ahli gizi. Ia begitu gemetar hingga air seninya sudah berserakan di lantai. Anak kecil yang berada di dekatnya sekitar se-meter terus merengek karena kehilangan orang tuanya. Mones ingin mendiamkan anak itu karena rasa takutnya, ia membiarkan anak itu keluar ruang ahli gizi sendirian. Mones berjalan mengendap-endap melihat anak kecil itu dari jendela. Anak kecil itu menangis dengan sangat kencang sambil berjalan masuk ke ruang Unit Gawat Darurat. Di sisi lain ia melihat seorang pemuda berjubah memakai topeng.

__ADS_1


"Celaka! Itu pasti pemimpin penjahat!" Gumamnya gigit jari mengkhawatirkan anak kecil perempuan yang lucu berusia sekitar satu setengah tahun.


__ADS_2