
"Kalian tahu gak si Herlina bebas karena apa? Itu karena kebaikan Cika."
"Tidak itu karena Shizuka. Kalian jangan lagi mencap Shizuka sebagai perempuan yang tidak benar."
"Wah Usman kamu sudah belain dia. Ada apa denganmu? Bukankah Herlina dan kamu sangat membenci Shizuka dan Zeexsa?"
"Sudahlah jangan pada menggibah terus ibu-ibu. Kita bekerja aja sekarang. Sebentar lagi kan hujan mau turun. Langit sudah sangat gelap."
"Hai... Hai...! Kalian harus tahu!"
"Ada apa Leni? Atur napas mu dulu!" Ucap Manila terus mengunyah sirihnya.
"Aduhai toko Shizuka yang dikelola Alfi. Di sana banyak banget wow!"
"Wow apaan?" Ucap Hesti menggaruk kepala.
"Bukankah sudah ditutup ya toko itu?" Tanya Ardo.
"Halo semuanya. Pa aku dari tadi menunggu di depan rumah. Pantas aja gak ada yang bukain pintu. Ternyata papa masih kerja," sindir Radit menatap orang-orang yang berkumpul di sekitar Usman.
"Mata mu itu. Natapnya jangan satu abad. Entar ku congkel matamu," bentak Morfi dengan giginya hampir lepas.
"Gigi mu tu jaga baik-baik. Gue cabut pakai linggis biar tahu rasa lo."
"Radit kamu yang sopan dong bicara sama Morfi."
"Itulah namanya jodoh Pak Ardo. Tapi pesona anak saya Morfi gak akan bisa menahan anak mu Radit yang tampan bagai pangeran dari samudera Hindia."
"Amit-amit deh. Buruk rupa seperti dia. Ogah deh. Kasih sama Itik aja sana!"
"Ibu dia menghina ku lagi."
"Ayo kita pulang Radit. Maafkan Radit ya Monis. Kamu jangan benci sama Radit ya Morfi. Kami pulang dulu ya semuanya," ucap Ardo melambaikan tangannya.
"Sabar ya Morfi. Kamu adalah perempuan tercantik di kampung kita. Mata si Radit emang buta. Dia gak bisa lihat kecantikan mu yang murni."
__ADS_1
Radit kembali sambil berkata, "Maaf Bu. Boleh gak jangan mengatakan mata saya buta. Heran deh semua orang suka banget nyumpahin gue buta. Ini berawal dari cewek killer itu," geram Radit.
"Dia bicara apa Bu?" Tanya Morfi bersandar di bahu ibunya.
"Entahlah nak. Sepertinya dia terkena kutukan karena melewatkan cewek cantik seperti kamu," ujar Monis menenangkan anaknya.
"Eh Monis. Si Radit itu sebelas, dua belas sama Alfi. Mereka itu emang tampan dan keluarga kaya tapi playboy dan anaknya tu gak bisa dikendalikan."
"Hus jangan berkata buruk tentang Alfi. Entar Kades atau kerabatnya dengar bahaya kamu Serli. Sana ambil semua jagung yang di karung masukin ke truk."
"Kok saya, sih Usman? Itu tugas si Monis. Bukan Saya. Saya hanya bagian pemupukan dan pembasmi yang busuk," liriknya ke Monis.
"Udah kerjain aja napa. Kamu gak lihat apa si Morfi lagi terluka," sahut Monis mencibir.
"Nak usaha kamu sudah berkembang pesat ya. Mama bangga deh sama anak mama yang tampan ini. Oh ya nak tolong kalung kamu itu dilepas aja deh. Mama gak mau kamu itu jadi preman."
"Ini kalung sakti ma. Kalung ini adalah kalung termahal, terbagus, terlangka, terpusaka dan teramat dicari di seluruh kota Unicorn hingga ke beberapa kota sekitarnya."
"Mama gak percaya. Pokoknya mama mau kamu lepasin kalung jelek itu," tatap Mina ilfil.
"Kalung sejelek itu kamu banggain banget si Alfi. Itu kalung norak. Seperti kalung hantu. Apanya yang menarik dari kalung itu? Cepat lepaskan!" Paksa Mina menarik kalung itu dari leher Alfi.
"Jangan ma. Ini kalung kesayangan aku. Jangan ditarik ma. Entar putus," pinta Alfi berusaha melepaskan tangan ibunya.
"Bandel amat kamu ya Alfi. Lepasin gak? Mama gak mau anak mama jadi preman. Ayo lepaskan."
"Jangan ma," ucap Alfi beranjak pergi dan berusaha melepaskan tangan ibunya.
"Alfi!" Teriak Mina yang gagal melepaskan kalung itu.
"Enak aja mama mau lepasin kalung ini. Gak tahu apa susah payah aku mendapatkannya sampai rela berkelahi sama geng motor itu," ucapnya duduk di ruangannya.
Beberapa orang ibu-ibu berdiri di depan toko Alfi. Mereka menatap patung-patung yang memakai pakaian seperti kemeja batik, celana jeans, jaket, baju kokoh, dan masih banyak lagi. Kemudian mereka masuk ke toko itu. Memegang baju-baju olahraga dan blazer.
"Selamat datang semuanya ibu-ibu. Apakah ada yang perlu saya bantu?"
__ADS_1
"Bu Kades toko ini bukannya punya Shizuka?"
"Monis kamu gak percaya kan dengan saya katakan ketika di kebun si Usman tadi?" Bisik Leni.
Monis tersenyum-senyum sambil menepuk-nepuk pundak Leni.
"Ehm... Ehmm...!" lirik Mina curiga.
"Oh Bu Kades ini tokonya bagus banget ya. Baru buka ya?" Tanya Monis.
"Iya Alhamdulillah toko ini sudah kami sulap menjadi indah. Toko ini emang baru buka hari ini."
"Monis, Leni, kalian ke sini mau belanja atau sebagai pengawas sih?" Ujar Vira yang tampak bosan.
"Kamu ini gak bisa santai dulu apa. Kita kan baru aja sampai. Gak mungkin langsung kembali ke kebun Usman? Nikmati dulu. Sambil cuci mata."
"Aneh emang kamu Monis. Ini tu toko pakaian khusus laki-laki. Apakah kamu mau belanja untuk Pak Munaf atau untuk calon mantu mu si Radit?"
Mata Monis berkedip sebelah. Ia memberi kode kepada Vira untuk diam. Vira tetap berceloteh terus hingga Mina keheranan. Sampai pada akhirnya Monis pun dan ibu-ibu lainnya berpamitan untuk pulang.
"Kok cepat banget baliknya ibu-ibu. Kita minum teh dulu yuk atau ngemil makanan khas kota Momoko. Kalian pasti belum pernah kan rasain makanan khas desa Momoko?"
"Gak dulu deh Bu Kades. Kita mau ke kebun si Usman dulu. kami ke sini hanya mau melihat-melihat saja kok."
"Jangan begitu dong Monis. Duduk sebentar di sini. Barangkali nanti nemu baju untuk mantu," bujuk Mina menawarkan baju kemeja putih lengan panjang padanya.
"Buat mantu ya. Sepertinya baju ini cocok buat Radit," ucap Monis terkesima menatap baju itu.
"Kapan-kapan aja ya Bu Kades. Kami udah mau telat ni. Entar si Usman kelamaan nungguin kami," tolak Ory mengembalikan baju yang hendak disentuh oleh Monis.
"Kami permisi dulu Bu Kades!" Pamit Leni diikuti senyum sungkan ibu-ibu lainnya.
"Baru saja aku mendapat pembeli. Mereka sudah kabur. Alfi mana lagi? Bukannya menjaga toko malah menghilang," ujar Mina merapikan baju yang ditawarkannya tadi.
"Shizuka. Kenapa kamu tidak memilihku? Kenapa kamu menolakku? Baru pertama kali aku merasakan cinta. Cinta yang membuatku bangkit dan berjuang mengejarmu. Semoga saja dengan aku membuka toko ini, suatu saat kamu bisa kemari lagi. Disaat itu tiba toko ini akan ku jadikan sebuah tempat bagimu untuk merasakan kedamaian bahkan seperti surgawi bagimu. Toko ini akan kembali jadi milikmu. Sekarang aku akan membuat semua orang akan mengingat terus Shizuka. Perempuan cantik, cerdas, ulet, dan satu hal yang tak terlupakan adalah jemari mu yang terampil menyulam cinta untuk semua orang, termasuk aku," ujar Alfi bertopang dagu sambil tersenyum manis.
__ADS_1