Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Haruskah Aku melupakanmu?


__ADS_3

"Kenapa Alfi tidak mau berobat ma? Padahal tinggal satu antrean lagi gilirannya," kata Yoman yang memijat-mijat jidatnya.


"Mama juga pusing pa. Alfi bertindak sesuka hatinya saja. Lihat sekarang dia pergi entah kemana. Apa dia pulang ke rumah atau ke tempat temannya?"


"Aku harus mencari Shizuka. Barangkali dia tinggal di desa ini. Tapi kemana aku harus mencarinya?" gumam Alfi melihat ke sekelilingnya.


"Nak Shizuka kenapa kamu begitu tak acuh pada pemuda itu?" Tanya Pertiwi yang baru saja membuka pintu kamar Shizuka.


"Saya tak menyukainya Tan."


"Alasannya apa nak? Tadi dia berkata akan melindungi kamu."


"Saya tidak mempercayainya. Kedua orang tuanya juga telah membuat saya kecewa."


"Apakah mereka tidak menyetujui kedekatan kalian nak?"


"Kak Shizuka sudah pulang! Bagaimana kak hasilnya? Apa kata dokter?"


"Biar Tante yang jawab. Bolehkan Shizuka?"


"Boleh tan."


"Ayo kita bicara di luar Zeexsa."


"Apa kata dokter Tante? Apakah kakak baik-baik saja?"


"Iya kakakmu baik-baik saja. Untuk hasil yang lebih jelasnya nanti Tante ke sana lagi."


"Syukurlah Tan. Nanti aku ikut ya Tan."


"Iya Zeex. Zeexsa apakah kau mengenal Alfi."


"Iya Tan. Ada apa memangnya Tan?"


"Dia itu siapa? Kelihatannya dia sangat menyukai Shizuka."


"Iya emang Tan. Dia tergila-gila sama kakak. Tapi walaupun anaknya bandel gitu, tapi dia juga mempunyai sisi baik juga Tan. Dia sopan dan mudah bergaul pada orang-orang. Terus dia anak orang kaya Tan. Ayahnya kepala desa di desa kami."


"Berarti yang kalian kau katakan tak adil itu ayahnya Alfi. Kades Unicorn!"


"Iya Tante."


"Padahal Naoto kenal dekat dengan ayahnya Alfi itu. Dia dermawan, ahli agama, bijak, dan peduli sesama."


"Pak Naoto juga kenal dengan Pak Yoman?"


"Iya nak. Mereka itu temanan saat SMP dan SMA dulu. Sebelumnya sih kami tinggal di desa Unicorn. Berkat cita-cita dan semangat Naoto yang ingin jadi pemimpin, jadi ia terpilih sebagai Kades di desa Momoki ini. Apalagi dia juga cerdas dan mau berbaur dengan berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Intinya mereka berpisah karena pekerjaan. Tapi kemarin itu Naoto baru saja berkunjung ke rumah Yoman."


"Serba kebetulan banget ya Tan. Saya dan kak Shizuka tidak menyalahkan pak Yoman. Kami hanya kecewa saja karena beliau tak bisa melihat kebenaran yang sebenarnya."


"Yang sabar ya nak! Nanti Tante akan ceritain kepada Naoto tentang ini. Kami akan membantu kalian mendapatkan rumah dan toko kalian lagi," ucapnya memberi janji.


"Makasih ya Tante."


"Aku harus pergi ke jalan mana ya?" Tanya Alfi menatap simpang empat.


"Ada apa nak?" Tanya Naoto yang hendak menyeberang.


"HM saya sedang mencari alamat!"


"Kamu sepertinya saya kenal. Siapa ya!"


Alfi menjawab, "Mungkin bapak salah orang."


"Iya juga ya. Barangkali kamu hanya mirip saja dengan seseorang. Oh ya kamu mau kemana? Alamatnya dimana? Biar saya kasih petunjuk."


"Hm saya mau ke," ucap Alfi berpikir panjang.


"Kemana?"


"Saya mau ke rumah...."


"Apakah kamu juga lupa alamatnya?"


"Saya tidak tahu alamatnya."


"Sepertinya kamu bukan dari desa Momoki. Kamu tinggal dimana?"


"Saya tinggal di desa Unicorn."


"Oh yang kepala desanya Pak Yoman ya?"


Alfi mengangguk.


"Terus kamu ke sini sama siapa? Kamu bisa tersesat nanti. Apalagi mau cari alamat. Memangnya kamu mau mencari siapa?"


"Saya ke sini sama kedua orang tua saya. Tapi mereka tidak ikut dengan saya mencari alamat."


"Aduh kamu kelihatannya begitu lelah. Ayo kita duduk di halte bus sana!" Tunjuk Naoto.


Mereka menyebrangi jalanan saat lampu merah.

__ADS_1


"Alamat siapa yang kamu cari nak?" Tanyanya lagi seraya memberikan sebotol air mineral.


Alfi meminum air mineral itu terlebih dahulu lalu berkata, "Alamat Shizuka om."


"Shizuka?" Tanya Naoto mengingat-ingat nama itu.


"Iya om. Dia perempuan sederhana, cerdas, baik, dan cantik," ucap Alfi tersipu malu.


"Sepertinya saya pernah mendengar nama itu. Dimana ya?"


"Apa? Om pernah dengar dimana?" Tanya Alfi penasaran.


"Dimana ya? Sepertinya di rumah. Oh iya di rumah saya ada Shizuka."


"Kalau begitu antar saya ke sana sekarang om."


"Bagaimana ya? Saya sedang ada urusan di kantor desa. Ada berkas yang mau saya tanda tangani dan ada pertemuan dengan ibu-ibu yang menerima bansos."


"Kalau om tidak keberatan, kita ke kantor kepala desa dulu. Setelah itu kita ke rumah Om ya!"


"Iya baiklah. Yasudah ayo kita pergi sekarang," ajak Naoto mengambil tasnya di sebelah kirinya.


"Kenapa Haikal belum juga membebaskan ku?" Tanya Herlina menatap kedua perempuan yang ongkang-ongkang kaki.


"Shizuka sudah sangat keterlaluan. Dia selama ini berpura-pura baik padaku. Dia juga tak pernah mengatakan tentang hal sebesar ini. Di mana aku harus mencarinya?" Ucap Haikal yang tengah menyiapkan berkas kantornya.


"Bang sebaiknya Abang pergi kantor kepala desa saja. Mereka kan sempat menyusul warga yang membawa paksa Shizuka ke stasiun kereta api. Aku rasa Abang bisa mendapatkan informasi dari mereka."


"Benar juga katamu Debi. Abang akan segera ke sana setelah menyelesaikan tugas kantor."


"Jangan ditunda lagi bang. Ibu bisa lebih lama lagi mendekam di penjara."


"Iya-iya!" Ucapnya bergegas mengambil kunci mobilnya.


"Ayo kita pulang aja pa!" Kata Mina dengan menatap ruang Dr. Louhan.


"Kita atur janji lain waktu aja ma untuk konsultasi dengan dokter itu. Sekarang kita cari Alfi aja dulu," ujar Yoman.


"Cari kemana pa? Kita gak tahu juga dia kemana?"


"Kita telpon dia aja ma."


"Alfi gak membawa ponselnya pa. Ponselnya kan ketinggalan di kamarnya. Anak itu mana peduli dengan ponselnya lagi. Dirinya aja gak terawatnya. Apalagi memikirkan ponsel."


"Terus bagaimana sekarang ma? Gak mungkin kita pulang tanpa Alfi."


"Eh nak tolong kamu antarkan dokumen ini ke Pak Beni ya! Ruangnya dekat pintu masuk," ucap Naoto seraya mengetik di laptop.


"Permisi! Ini dokumen dari Pak Naoto," ucapnya menatap label nama Beni.


"Taruh di meja itu. Oh ya kamu siapanya Pak Naoto? Saya baru pertama melihat pemuda seperti kamu. Padahal anak pak Naoto kan Naoki. Kamu siapa?"


"Saya Alfi pak," ucapnya pergi masuk ke ruang Naoto.


Ia menatap Naoto yang sibuk mengetik di laptop. Sejenak ia berpikir bakal tak bisa bertemu dengan Shizuka. Ia terduduk di kursi yang berada di belakang Naoto. Ia duduk menopang dagunya dan sesekali menatap Naoto yang belum juga kelar dengan tugasnya.


"Sepertinya saya harus pergi. Kalau begitu saya pamit dulu," ucap Alfi berjalan secara terpaksa.


"Tapi kamu mau ke rumah saya. Kenapa pergi?"


"Bapak terlihat sibuk."


"Iya sih emang. Tapi kamu tenang saja setelah menyelesaikan berkas ini saya harus bertemu dengan warga sebentar. Lalu kita pulang."


Alfi tersenyum saja.


Naoto kembali mengetik dan fokus dengan tugasnya.


Kedua orang tua Alfi pergi ke stasiun kereta api. Mereka terus menanti Alfi di sana. Memandangi setiap pemuda yang masuk ke kereta api dan memperhatikan ke sekeliling mereka. Namun mereka tak menemukan Alfi. Mereka pun masuk ke kereta api itu. Mina menatap stasiun itu dari jendela kereta api. Ia berharap Alfi telah sampai ke rumah.


"Halo permisi! Kenapa pintu rumah Pak Kades digembok ya? Apakah mereka pergi jauh?" Tanya Haikal pada bapak-bapak yang berada di sebelah rumah Kades.


"Oh iya nak. Mereka pergi membawa anaknya. Sepertinya lama di sana karena mereka pergi pagi sekali tadi."


"Kemana pak?"


"Saya gak tahu nak."


"Terima kasih pak!" Ujar Haikal masuk ke mobilnya.


"Pak ini sudah lewat waktu Zuhur. Bapak juga telah selesai menemui warga. Kapan kita bisa ke rumah bapak?" Tanya Alfi mulai gelisah.


"Iya ini kita akan pulang. Oh ya sampai di rumah nanti, kamu makan siang ya."


"Tidak usah pak. Saya hanya ingin bertemu Shizuka."


"Iya kan bisa sambil makan," ujar Naoto mematikan lampu ruangan dan AC nya.


Alfi mengikutinya keluar ruangan.


"Pak Beni saya pulang dulu ya. Kalau ada sesuatu atau yang perlu saya bantu, kabari saya ya!"

__ADS_1


"Tumben cepat pulang pak. Gak ngopi dulu?"


"Saya ada urusan sebentar dengan keluarga saya. Jangan lupa pesan saya tadi."


"Oke pak!"


Mereka pun pergi dengan menaiki bus yang baru saja berhenti di hadapan mereka. Alfi duduk di belakang supir. Sedangkan Naoto duduk di kursi paling belakang. Beberapa perempuan muda menatap Alfi sambil tersenyum. Naoto yang melihat itu, dia pun ikut tersenyum. Sesampai di Jl. Sakura, Naoto menghentikan bus itu. Mereka turun bersama-sama. Perempuan-perempuan tadi meneriaki Alfi dari jendela bus dengan berkata, "Sampai jumpa tampan!"


Alfi hanya risih sambil menggerutu.


"Kamu punya banyak fans di sini. Pasti kamu senang kan?"


"Senang apaan sih pak. Rumah bapak dimana?"


"Itu di sana. Kita akan berjalan masuk ke lorong Jati. Setelah itu kita tiba deh di rumah nomor 12 C."


"Ini ya pak!" Ujar Alfi berhenti di depan pagar.


"Iya nak."


"Assalamu'alaikum. Papa pulang!" Sahut Naoto lagi membuka pagar.


"Waalaikumsalam!" Jawab Pertiwi serentak dengan Zeexsa.


"Ma mana Shizuka?"


"Di kamarnya pa. Ada apa pa?" Ucap Pertiwi membantu Naoto dengan membawa tasnya.


"Shizuka punya tamu tu. Tolong suruh dia keluar ma. Ada temannya yang mencarinya."


"Teman? Kak Shizuka tidak mempunyai teman dari desa ini om," ucap Zeexsa heran.


"Iya dia emang gak dari desa ini. Dia dari desa Unicorn."


"Kok bisa ada yang tahu kakak di sini?"


"Ma panggil aja Shizuka dulu," ucap Naoto seraya duduk di ruang tamu.


Zeexsa makin penasaran.


"Shizuka!" Panggil Pertiwi seraya mengetuk pintu.


Shizuka membuka pintu.


"Shizuka ada yang mau bertemu denganmu. Ayo nak!"


"Siapa ya yang mau menemui ku di desa ini?" Gumam Shizuka sambil berjalan ke ruang tamu.


"Nak masuklah!" Panggil Naoto.


"Kau!" Ucap Shizuka bangkit dari kursinya.


"Dia Alfi dari desa Unicorn."


"Iya. Mama sudah tahu pa."


"Shizuka maafkan aku ya. Aku ingin bertemu dengan mu."


"Apa semua masih belum jelas? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak suka samamu. Kenapa kamu gak paham juga."


"Nak Shizuka biarkan dia bicara dulu," Ucap Naoto menatap Alfi dengan iba.


"Duduk dulu Shizuka," ucap Mina.


"Kenapa kau kemari?" Tanya Zeexsa.


"Maaf mengganggu kalian. Aku ingin membantu kalian. Kalian telah dipermalukan karena ayahku yang tak tegas dalam masalah ini. Dia membela yang salah. Aku yakin jika kalian kembali pulang bersamaku, semua akan kembali normal lagi."


"Emang apa yang akan kau lakukan? Apa kau punya sejuta sihir untuk mengembalikan semuanya yang telah hancur?" Ucap Zeexsa meledak.


"Sabar dulu Zeexsa. Biarkan dia bicara," ujar Shizuka.


"Aku emang gak bisa dengan cepat membuktikan kebenarannya kalau kalian tidak salah. Tapi aku akan berusaha semampuku agar ayahku memihak kalian."


"Kami hanya butuh kebenarannya terungkap. Bukan untuk mendapatkan pembelaan dari kau atau pun ayahmu," ujar Zeexsa muak dengan ucapan Alfi.


"Coba deh kamu tenang dulu Zeexsa. Aku di sini untuk membela kalian. Aku juga tahu kalian itu tidak salah."


"Apa emangnya nak jabatan ayahmu? Apakah dia orang berpengaruh di desa Unicorn?" Tanya Naoto.


"Ayahku adalah kepala desa pak. Namanya Yoman."


"Pantas aja tadi saya seperti mengenal kamu. Ini loh ma anak Pak Yoman dan Bu Mina."


"Apakah kalian mengenal Alfi?" Tanya Shizuka.


"Iya. Ayah dan ibunya adalah sahabat saya," ucap Naoto memeluk Alfi.


"Terus bagaimana pa dengan masalah ini?"


"Tenang ma. Papa akan kasih solusi. Kita telah mengenal Shizuka dan Zeexsa. Kemudian Alfi juga adalah anak dari sahabat papa. Semuanya akan normal kembali."

__ADS_1


"Meskipun Shizuka tak bisa membalas perasaan ku, tapi aku senang bisa membantunya sebagai seorang teman," gumam Alfi menatap Shizuka dengan kagum.


__ADS_2