Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Cinta ku Surut


__ADS_3

Kemarin Debi tak menemukan Vikram. Ia tak tahu alasan Vikram mengabaikannya. Pikirannya terus saja mencari penyebab dari Vikram yang bertingkah laku tak biasanya. Kemudian mulai hari itu juga, Debi tak lagi menerima kabarnya. Hatinya bagaikan ombak yang terus berlari mengejar pantai. Pantai itu jauh sekali bahkan tak sanggup ia genggam. Hati Debi teriris oleh kebohongan Vikram. Kala itu Debi terus mencoba menelpon Vikram. Ia berkali-kali menghubunginya. Tapi nomornya tak aktif lagi. Debi mulai emosional. Ia mengambil tasnya dan keluar kamar. Di luar kamar ia melihat ibunya sedang berdebat dengan abangnya. Mereka saling membesarkan suara hingga Debi pun berteriak.


"Diam!"


Haikal terus saja mengatakan hal-hal yang membuat Debi makin emosi. Herlina sendiri menatap Debi dengan matanya yang sayu. Ia menghampiri Debi dan memeluknya. Haikal tak juga menghentikan ucapannya. Ia berjalan menemui ibunya yang masih berpelukan dengan Debi.


"Ibu jika aku berhasil mengungkapkan kebenarannya, aku akan menganggap ibu selama ini membohongi ku. Aku juga tak akan berbicara dengan ibu lagi. Bayangkan saja Bu, di depan orang banyak. Ayah masih menghindari ku. Semua orang mengenal ayah. Mereka memuji ayah. Dia pebisnis yang hebat. Dia cerdas dan terpandang. Bagaimana bisa selama ini aku tak mengetahui itu. Padahal perusahaan ayah masih berkembang saat ini. Debi kamu lihat ibu. Ibu sekarang bungkam. Ibu gak akan bicara karena ia gak tahu mau jawab apa. Ibu katakan padaku. Apakah ayah tidak mencintai ibu lagi hingga ia sendiri pergi dan tak kembali hingga sekarang?"


"Jangan berkata seperti itu lagi. Dia adalah ibu kita. Ayah lah yang tak mencintai ibu. Ayah menyukai perempuan lain. Sadarlah bang! Abang telah buta hingga tak bisa melihat kebenarannya."


"Apa kamu bilang Debi? Bukankah kamu sendiri yang melihat bahwa ayah menghindari kita? Apakah mungkin ayah begitu, jika tak ada sebabnya? Ini salah ibu," ucap Haikal dengan wajah merah berapi."


"Hentikan! Sekali lagi aku dengar Abang menyalakan ibu, maka lupakan kami sebagai keluargamu," ucap Debi pergi dengan kedua bola matanya yang basah.


"Debi! Kamu kenapa?"Tanya Haikal mengejarnya.


"Debi sudah berani melawan Haikal. Anak perempuan ku sekarang sudah menunjukkan sikapnya yang sebenarnya. Dia persis seperti aku. Tapi kenapa baru sekarang dia menunjukkan perlawanannya pada abangnya? Apa yang terjadi pada anak bungsu ku?" Gumam Herlina melihat Haikal mengejar Debi.


"Debi! Kamu mau kemana?" Tanya Haikal menarik tangan Debi.


"Aku mau keluar. Tolong jangan halangi aku!"


"Kamu sadarkah dengan ucapanmu tadi? Ibu lah yang membuat ayah pergi dari rumah. Terus sekarang kamu pun mau menghapus kekerabatan kita Debi. Aku Abang mu. Gak sepantasnya kamu berbicara seperti itu tadi."


"Jadi apakah Abang pantas meninggikan suara pada ibu?" Tanya Debi berusaha melepaskan tangannya.


"Maafkan Abang Debi. Tapi ibu Abang tanya baik-baik, tapi ibu gak mau jawab tentang kejadian yang sebenarnya."


"Sudahlah jangan terlalu jauh melangkah. Apapun yang Abang pikirkan tentang ibu, itu salah. Tolong jangan menyakiti ibu karena laki-laki yang baru saja Abang lihat itu," ucap Debi pergi.


"Debi! Kamu mau kemana?" Teriak Haikal.


"Aku benci laki-laki. Mereka mempermainkan perasaan sesuka mereka. Apa salahnya jika mencintai laki-laki? Tapi laki-laki itu malah menginjak-injak perasaan ku dengan menghilang semaunya saja. Dia tak memikirkan aku lagi. Sama dengan laki-laki yang aku anggap sebagai ayah. Dia juga pergi menjauh tanpa sebab. Mereka berdua sama saja. Begitu pun Abang. Dia lebih memilih memihak orang-orang yang penghianat," gumam Debi menghentikan taksi.


"Kita kemana mbak?" Tanya supir taksi.


"Ke pantai Soucan."

__ADS_1


"Jauh banget itu mbak. Itu di desa Melissa."


"Kamu antarkan saja saya ke sana. Kamu kan saya bayar."


"Tiga kali lipat mbak bayarannya karena ke sana tu butuh waktu hingga sepuluh jam."


"Iya kamu tenang saja. Cepat jalan!"


"Haikal adik kamu kemana?" Tanya Herlina.


"Dia gak bilang mau kemana. Tapi aku akan mencarinya," ucap Haikal berjalan cepat-cepat ke ruang tamu mengambil kunci mobilnya.


"Iya nak. Kamu harus bawa Debi pulang. Dia pergi dalam keadaan marah. Ibu takut terjadi sesuatu padanya."


"Iya Bu!" Jawab Haikal ketus.


"Lebih baik aku gak usah aja pulang. Buat apa pulang ke rumah? Semuanya sudah kacau. Aku gak mau lagi kembali ke rumah," gumam Debi menatap dari kaca jendela mobil taksi.


"Kemana aku harus mencari Debi? Dia cepat banget hilangnya. Aku telpon dia dulu," ujar Haikal seraya menekan layar ponselnya.


"Maaf mbak, kenapa mbak mau ke pantai Soucan? Pantai itu kan sudah ditutup mbak karena isu-isu mistis. Apakah tidak sebaiknya mbak ke pantai yang lainnya saja?"


"Satu lagi pak, pantai itu adalah pantai yang sangat indah. Banyak turis yang ke sana. Gak mungkin pantai itu ditutup lagi kan?"


"Iya mbak. Nasehat saya untuk mbak nya, kalau Mbak nanti duduk di sana, tolong mbak jangan berada di dekat lautnya. Bahaya mbak."


"Iya makasih pak!"


"Debi tak juga mengangkat telpon ku. Kenapa dia pergi tidak memberi tahu tujuan dia kemana sih? Bikin khawatir aja! Kalau dia gak pulang ke rumah hari ini, berarti dia sangat marah padaku. Tapi aku harus bagaimana? Ayah gak kembali ke rumah kan karena ibu!" ucap Haikal seraya melajukan mobilnya.


"Halo Zoya! Kita Bisa bertemu sekarang?"


"Kamu mau bilang apa lagi? Aku sibuk Mark. Tolong jangan hubungi aku lagi!" Ujar Zoya mematikan telpon.


Zoya memotong-motong buncis dengan runcing. Ia merapikan rambutnya yang mengenai matanya. Jelita dan Jessi menghampiri Zoya. Mereka berdua menarik tangan Zoya hingga ke taman depan. Zoya tersenyum dengan tingkah anaknya. Lalu ia membungkukkan badannya mencubit kedua pipi anaknya dengan lembut.


"Ada apa Jelita, Jessi, ibu sedang membuat masakan yang terlezat untuk kalian berdua. Makan siang kita kali ini di rumah ya. Gak boleh makan siang di restoran lagi. Paham kan anak mama yang cantik-cantik dan imut ini!"

__ADS_1


"Mama tangkap aku!" Ujar Jessi berlari hingga ke luar gerbang.


"Jessi jangan ke luar pagar nak. Tolong kamu masuk lagi!" Teriak Zoya berlari mengejar Jessi.


"Jelita kamu di sini saja ya nak!" Ujarnya lagi menoleh sebentar kepada Jelita yang sedang bermain boneka.


"Mama! Tangkap aku!"


"Jessi jangan lari-lari di jalan nak!"


Jessi terus berlari dengan kencang tanpa memperhatikan jalanan. Ia berlari-lari hingga ada satu mobil yang datang dari jalan tetap Jessi berlari. Mobil itu mengklakson dengan keras. Zoya yang melihat anaknya dalam bahaya, bergegas mengejarnya. Jessi tetap berlari di tengah jalan sambil tersenyum menatap Zoya.


"Jessi jangan di tengah jalan nak. Menepilah!" Pinta Zoya yang masih jauh dari Jessi.


"Ya Allah anak siapa sih itu? Kemana kedua orang tuanya?" Tanya Haikal yang masih terus mengklakson.


"Jessi sayang! Tolong ke pinggir."


Jessi tak mendengar yang diucapkan Zoya. Ia terus berlari kencang hingga tak sengaja terpeleset karena ada dedaunan yang banyak di tengah jalan. Jessi terjatuh sambil menangis. Zoya makin mempercepat larinya. Namun mobil itu melaju dengan kencang hingga Zoya tak melihat anaknya lagi karena tertutup mobil itu.


"Syukurlah mobil itu tak menabrak Jessi. Dia berhasil melewati Jessi," pikir Zoya yang hampir sampai bertemu Jessi.


"Aduh sakit!" Ujar Jessi memegang kedua lututnya yang terluka.


"Itu kan Haikal!" Gumam Zoya menatap Haikal yang keluar dari mobilnya.


"Abang ganteng!" Sapa Jessi.


"Kamu kan yang di pasar itu! Mana ibumu?" Tanya Haikal yang sedang jongkok melihat luka Jessi.


"Itu bang," tunjuk Jessi.


Haikal menoleh ke belakangnya, "Bu Zoya?"


"Mama!" Panggil Jessi masih merintih kesakitan.


Zoya langsung menggendong anaknya. Ia hanya tersenyum datar menatap Haikal. Lalu ia berlari membawa Jessi. Jessi terus menangis karena lututnya berdarah. Haikal terheran karena Zoya tak menatapnya dengan ramah.

__ADS_1


"Kenapa dengan Bu Zoya? Dia terlihat panik jika berhadapan dengan ku," ujar Haikal menatap Zoya yang telah berbelok ke kiri.


"Apa yang ia sembunyikan? Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya cuek kepadaku. Padahal kan aku partner bisnisnya. Seharusnya dia ramah dan akrab padaku," tambah Haikal lagi.


__ADS_2