Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Serangan dari Nona Kelly


__ADS_3

"Mones kenapa kamu duduk saja? Kamu harus menyelesaikan pekerjaanmu. Waktu sudah mau petang. Nanti kita didahului oleh tukang kebun lain. Cepatan kamu berdiri," Ujar Silvi yang sedang memikul sebakul sawi di kepalanya dan sekarung kol di pundaknya.


"Ada apa ini?" Tanya Usman menghampiri mereka berdua dan Herlina juga ikut bersamanya.


"Si Mones bermalas-malasan pak. Padahal pekerjaan masih banyak."


"Ada apa Mones? Kamu tidak mau bekerja lagi?" Tanya Herlina menunduk melihat wajah Mones yang pucat.


"Sepertinya dia sakit!" Ungkap Herlina seraya memeriksa suhu badan Mones.


"Hah sakit? Maaf ya Mones aku gak tahu kamu sakit," ucap Silvi membantunya berdiri.


"Sa-ya tidak apa-apa kok Bu, pak!" Sanggah Mones lesu.


"Sudah kamu berobat saja. Ketimbang nanti makin parah!" Usul Usman.


"Biar saya dan Silvi yang mengurusnya!" Ucap Herlina menawarkan diri.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan aku Bu?" Ujar Silvi bingung.


"Udah kamu temani Herlina mengurus Mones. Mengenai pekerjaan bisa digantikan dengan pekerja lain."


"Ya sudah ayo kita pergi!" Ajak Herlina memapah Mones.


"Kami permisi dulu pak!" Pamit Silvi menundukkan kepalanya.


"Kita membawa Mones berobat kemana Bu?"


"Panggil nama saya saja. Kita kan cuma selisih tiga tahun."


"Baiklah Herlina. Kita membawa Mones ke rumah sakit mana?"


"Rumah sakit di sini cuma satu. Puskesmas Unicorn."

__ADS_1


"Berarti kita ke sana?"


"Iya. Gak mungkin ke desa lain kan?"


"Ada apa di sana orang-orang berkerumunan?"


"Itu tempat nonton bareng. Mungkin pertandingan sepak bola atau olahraga lainnya!"


"Tapi sepertinya bukan menonton olahraga."


"Ada apa dengan si Mones Silvi?" Tanya Ulvi.


"Dia demam. Kami mau membawanya berobat."


"Tapi jangan ke desa Momoki ya. Meskipun tim medis di desa kita kurang, tapi jangan bawa Mones ke sana."


"Emangnya ada apa Ulvi?" Tanya Herlina mengerutkan kening.


"Di rumah sakit Sehati sedang ada keributan karena para penjahat ingin menangkap si Shizuka dan Haikal."


"Kok kamu malah senang sih!"


"Ya kan masuk Tv itu berarti terkenal. Iya kan Herlina?"


"Jadi Haikal bersama dengan Shizuka di rumah sakit?"


"Rumah sakit Sehati. Aduh aku keceplosan. Maaf bikin kamu jadi khawatir Herlina."


"Aku mau ke sana! Kamu temani Mones sendiri aja ya!" Ucap Herlina melepaskan tangannya dari bahu Mones.


Mones terjatuh di pelukan Silvi.


"Hah kok gitu? Aku ikut Herlina!" Teriak Silvi meninggalkan Mones.

__ADS_1


"Tunggu!" Ucap Mones berlari mengejar mereka.


"Hah si Mones sudah bisa berlari kencang seperti orang sehat. Berarti dia sembuh karena berita yang ku sampaikan tadi," gumam Ulvi.


Kamil terpeleset di atap rumah sakit Sehati yang berada dekat ruang anak-anak. Semua orang menjerit cemas. Rudi yang melihat hal itu langsung berlari lincah untuk menyelamatkan Kamil. Ia bergerak cepat untuk meraih tangan Kamil. Tapi Kamil meluncur seperti roket hingga terjatuh ke bawah. Rudi terdiam di tempatnya melihat Kamil yang sudah mendarat di tanah dan dibanjiri darah. Darah yang mengalir keluar dari kepalanya. Menggenangi badannya yang terlentang lurus menatap ke arahnya. Rudi histeris sambil memukul-mukul badannya. Haikal berusaha membawanya masuk ke ruang anak-anak. Tetapi Rudi menolak untuk pergi. Hingga para pengawal Eman sudah sangat dekat dengan jendela ruang anak-anak. Haikal kebingungan. Ia bingung menyelamatkan Shizuka atau Rudi. Di jendela tampak George sedang berusaha memblokade jalan masuk pengawal Eman. George membawa Shizuka dari ruang anak-anak itu. Haikal melihatnya dari kejauhan dimana dinding-dinding kaca ruang anak-anak itu dipecahkan oleh pengawal Eman menggunakan pisau mereka masing-masing. Haikal menarik tangan Rudi yang sudah pasrah dibawa oleh Haikal. Matanya tak putus menatap seniornya yang sedang dikerumuni banyak orang. Rombongan polisi juga baru sampai. Mereka melihat Rudi bersama Haikal. Lalu terdengar suara seseorang yang berbicara menggunakan toak.


"Kami dari kepolisian mengatakan kepada pelaku atau tersangka agar segera menyerahkan diri karena rumah sakit ini telah dikepung. Kalian tidak akan bisa melarikan diri."


Para pengawal Eman tak menghiraukan pemberitahuan polisi itu. Mereka tetap menghancurkan dinding kaca itu. Dinding kaca sebelah kanan tepat di dekat jendela, sudah retak. Rombongan pengawal Eman pun mendobrak dinding itu dengan keras. Sehingga mereka berjatuhan ke dalam ruang anak-anak. Semua pasien anak-anak di sana yang berada di ranjang menjerit ketakutan. Para suster dan wali anak-anak juga berlarian sambil membawa anak mereka masing-masing. Para pengawal Eman itu berlari keluar ruang itu mencari Shizuka.


Eman sendiri yang telah berada di ruang anak-anak itu menonton dengan santai pertunjukan yang diperankan anggotanya. Ia duduk manis setelah berjalan jauh dari lantai empat ke lantai tujuh. Ia melihat Haikal dan Rudi sedang masuk melalui pecahan dinding ruangan anak-anak. Ia pun berdiri untuk menghajar Haikal dan Rudi. Rudi yang masih belum sadarkan diri akibat traumanya melihat seniornya tadi hanya diam saja. Ia membiarkan dirinya babak belur di pukul oleh Eman. Sedangkan Haikal berusaha melepaskan Rudi dari cengkraman Eman. Eman mencekik Rudi. Haikal membanting kepala Eman dengan kursi besi yang ia duduki tadi. Kemudian Haikal membawa Rudi lagi bersamanya. Ia bersyukur Rudi masih tertolong. Ia melihat Eman yang sedang terduduk di lantai menahan sakit seluruh badannya yang dibanting oleh Haikal dengan kursi besi tadi. Di hadapan Haikal telah menanti lima orang pengawal Eman. Haikal menyembunyikan Rudi di belakangnya sambil memeganginya karena Rudi telah pingsan.


"Dimana perempuan itu?" Tanya salah seorang pengawal Eman.


Eman berjalan mendekati mereka. Saat Haikal masih berdebat dengan para pengawal Eman, Eman telah lebih dulu menarik Rudi dari belakang Haikal. Ia melempar Rudi seperti boneka. Rudi terjatuh ke lantai hingga membuat Haikal panik. Tetapi Eman langsung mencengkram kerah baju Haikal. Lalu ia melemparkan Haikal ke arah pengawalnya yang berbaris seperti menanti makanan lezat.


Eman pergi sambil tertawa. Ia menyaksikan lagi pertunjukan yang begitu seru. Para polisi yang sudah bersiaga dari tiap lantai rumah sakit itu, terus mengatur strategi. Mereka masuk ke ruang anak-anak dan masuk secara perlahan-lahan. Mereka menyebar dengan posisi berjongkok membentuk lingkaran besar.


Haikal yang bertarung dengan para pengawal Eman, makin merasa tak berdaya karena pengawal Eman sudah makin bertambah hingga dua puluh orang. Mereka mengeroyok Haikal dengan sangat sadis, seperti pembagian makanan untuk burung Elang kepada anak-anaknya. Mata Haikal hampir terpejam karena sudah begitu lebam akibat pukulan mereka berulang kali. Perlahan-lahan matanya terpejam saat ia melihat ibunya dari belakang para pengawal Eman bersama para polisi.


Polisi itu menangkap pengawal Eman. Sebagian lagi lari dan bersembunyi, termasuk Eman. Haikal yang sudah tak sadarkan diri lagi membuat Herlina menangis. Ia memanggil nama Haikal berkali-kali. Tetapi Haikal tak membuka matanya. Mones dan Silvi yang baru saja tiba ikut merasakan kepedihan mendalam akibat keadaan Haikal yang sudah seperti mayat. Mereka mendekati Herlina dan menghiburnya.


Eman dan beberapa pengawalnya yang masih berkeliaran di ruang anak-anak itu berusaha kabur. Mereka keluar dari ruang anak-anak itu dan masuk ke ruangan lainnya. Para polisi yang juga sudah mengatur taktik, tak dapat dikelabui oleh Eman dan pengawalnya. Mereka langsung tertangkap saat hendak masuk ke ruang lainnya.


Eman berusaha melawan polisi itu sampai kaki kirinya tertembak. Namun ia tetap melarikan diri seolah peluru yang menancap di daging kakinya hanya seperti permen karet. Ia lari masuk ke lift menuju lantai satu. Para polisi yang sudah berada di lantai satu mencoba mengingatkan Eman untuk menyerahkan diri. Tetapi Eman masih tak menghiraukan mereka. Lift itu pun berhenti tiba-tiba sebelum Eman sampai ke lantai satu. Lift nya macet. Lampu di lift tersebut juga padam. Sementara ia masih berada di lantai lima. Para polisi sudah mengepung Eman. Mereka berhasil menangkap Eman saat pintu lift itu terbuka di lantai lima.


"Kenapa aku bisa berhenti di lantai lima?" Gumam Eman sambil menekan-nekan tombol angka satu.


Sebenarnya lift nya sudah diatur oleh polisi dan pihak rumah sakit agar lift itu berhenti di lantai lima. Ketika Eman tak bisa berkutik lagi, bantuan dari tim nya datang. Bantuan itu secara tiba-tiba saja membuat para polisi tercengang karena mereka hanya mengelabui semua polisi dan membawa Eman pergi.


"Sepertinya mereka sudah antisipasi akan kedatangan kita pak. Makanya mereka telah menyiapkan anggota mereka lagi untuk menolong teman mereka."


"Benar pak Syulhan. Bagaimana dengan penjahat lainnya?"

__ADS_1


"Mereka sudah dibawa ke kantor pak!" Jawab Syulhan.


"Asap putih itu berhasil membuat kita terkecoh. Itu bukan hanya asap pak! Asapnya beracun!" Ucap Denim meminta semua polisi menutup hidung mereka."


__ADS_2