
"Maaf Bu Polwan apakah anda tak melihat dua orang suami istri yang kemari mencari perempuan bernama Shizuka?" Ucap Ian.
"Mereka berdua adalah om dan tante ya Shizuka."
"Kalian ke sini mencari om dan tantenya atau mencari Shizuka?
"Ka-mi mencari mereka bertiga. Om dan tantenya itu mirip orang Jepang. Mereka keturunan Jepang-indonesia. Nah kalau Shizuka itu dia..." ujar Ian berhenti berkata-kata.
"Dia putih, mata sipit, rambutnya di bawah bahu, bibirnya mungil warna merah jambu, pipinya tirus," potong Haikal.
"Saya kenal dengan ciri-ciri itu!" Sahut Polwan yang satunya lagi.
"Kakak mengenalnya?" Tanya Polwan yang dihadapan Haikal dan Ian.
"Ya! Perempuan itu tadi dicari kedua orang tuanya. Baru saja mereka pergi dari sini."
"Bukan. Itu om dan tantenya," bantah Haikal.
"Mereka pergi kemana Bu?" Tanya Ian mendekatinya.
"Saya tidak tahu pak. Mereka sepertinya sangat mencemaskan perempuan yang hilang itu."
"Oh baiklah. Jika kalian mendapatkan kabar tentang Shizuka hubungi saya ya. Ini nmr ponsel saya," ujar Haikal memberikan kartu namanya kepada mereka berdua.
"Kami permisi dulu!" Tambah Haikal lagi.
"Kita harus bagaimana sekarang? Kemana kita harus mencari Shizuka?" Ucap Haikal tertunduk sedih.
"Pak! Kami mendapatkan info keberadaan Shizuka!" Ucap Polwan yang mengenali ciri-ciri Shizuka.
Mereka bergegas pergi bersama dengan polisi. Bunyi mobil polisi itu begitu kuat. Hingga jalanan yang ramai pun jadi tertata rapi dan memberi mereke jalan. Haikal menatap Ian. Ia mengatakan, "Semoga kita berhasil menemukan Shizuka."
"Dari informasi yang kami terima, dia berada di rumah sakit Sehati. Kami mendapatkan kabar ini sekitar sepuluh menit yang lalu pak. Kami harap Shizuka baik-baik saja."
"Amiin," balas Ian.
__ADS_1
"Di sana rumah sakitnya! Ayo kita parkir dulu!"
"Baik pak Kamal."
Mereka berlari memasuki rumah sakit Sehati. Haikal menanyakan kepada bagian Resepsionis keberadaan Shizuka. Para suster mencari biodata Shizuka. Beberapa menit kemudian salah satu suster menemukan biodata Shizuka. Ia mengatakan bahwa ia sedang dirawat di ruang Bugenvil No. 35. Haikal bersama yang lainnya pun bergegas ke ruang itu. Sesampai di sana, mereka melihat ada banyak pengawal yang berbadan kekar. Kemudian mereka pun membuat rencana agar bisa masuk ke ruangan itu, tanpa terhalangi oleh orang-orang yang berjaga di depan pintu kamar Shizuka.
"Apa yang harus kita lakukan pak?" Tanya Haikal.
"Kalian tenang saja. Biar kami yang mengatasi ini," ucap Kamal.
"May pergilah ke resepsionis katakan bahwa pasien bernama Shizuka dalam bahaya. Cepatlah Mau dan jangan lupa minta mereka memindahkan ruangannya karena ada pencuri yang berkeliaran di depan kamarnya.
"Kalian berdua, tinggalkanlah barang beharga kalian di depan mereka. Buat mereka mengambilnya!"
"Apa bapak sadar dengan yang bapak ucapkan? Tanya Ian.
"Iya pak. Apakah ini adalah pelanggaran? Kalian mengajari kami tentang penipuan," ucap Haikal dengan wajah berkerut.
"Jika kita tidak memakai taktik ini, maka mereka akan kabur. Kami tahu, kami bisa saja datang dan menangkap mereka langsung. Tapi jumlah mereka sangat banyak dan jika kita salah langkah, mereka bisa berbuat sesuatu hal yang merugikan Shizuka. Apakah kalian paham?"
"Kamu kenapa masih di sini May. Cepat lakukan tugasmu!"
"Iya baiklah pak!" Ucap May berjalan ke arah resepsionis.
"Apakah kita akan berhasil pak?" Tanya Ian menatap pengawal kamar Shizuka yang bertambah banyak.
"Ayo Ian kita taruh yang beharga dari yang kita punya ke sana."
"Aku takut Haikal! Kamu sajalah!"
Haikal membuka jam tangannya, menaruh dompetnya yang sebelumnya telah ia ambil kartu penting maupun uang yang banyak. Ia menaruh jam dan dompet yang hanya berisi uang sedikit di kursi yang berada di depan kamar Shizuka. Awalnya ia duduk terlebih dahulu. Kemudian menjatuhkan jam-nya ke lantai dan meninggalkan dompetnya di kursi. Ia pergi dengan berpura-pura tak melihat barang miliknya terjatuh. Salah seorang dari pengawal itu menatap dompet Haikal dan tiga orang pengawal itu melihat jam Haikal. Mereka bertiga berlari mengejar jam itu. Sedangkan yang satunya lagi tadi sedang memegang dompet Haikal sambil berpikir jumlah uang di dalam dompet itu. Tak berapa lama kemudian dua orang suster masuk ke ruang Shizuka. Mereka memindahkan Shizuka karena mereka mencurigai orang-orang yang ribut di depan kamar Shizuka. Eman yang baru tiba di ruang Shizuka terkejut karena ruangnya kosong. Ia kemudian memanggil semua pasukannya untuk berkumpul di kamar Shizuka. Mereka tercengang karena Shizuka tidak ada lagi di sana. Eman tersenyum terpaksa. Lalu menampar semua pasukannya satu persatu.
"Apa yang kalian lakukan dari tadi hingga kalian tak tahu kamar ini telah kosong? Dimana Shizuka? Jawab!" Bentak Eman menatap jam tangan yang berada di depan kaki salah satu pasukannya.
Eman mengambil jam tangan itu. Ia melempar jam tangan itu keluar ruangan Shizuka. Lalu memukul orang yang memegang jam tangan itu tadi. Orang itu ketakutan dan berlutut minta ampun pada Eman. Eman menyepaknya.
__ADS_1
"Pergilah cari Shizuka sampai ketemu. Kalau kamu gagal, hidup mu akan berakhir. Sana pergilah!" Ujar Eman melotot.
"Kenapa kamu kembali lagi?" Tanyanya kepada orang yang dipukulinya tadi.
"Pintunya gak bisa dibuka bos!"
"Kalian semuanya juga pergi sana. Bantu dia membuka pintu. Dasar lemah. Dihajar segitu saja, tenagamu sudah habis!" ucap Eman mengikuti semua pasukannya yang berusaha membuka pintu.
Mereka semua berganti-gantian membuka pintu kamar itu. Tetapi tetap tak bisa. Lalu mereka bersama-sama mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga mereka. Namun hasilnya tetap nihil. Mereka semua malahan terjatuh bersamaan menghimpit Eman yang berada di belakang mereka. Eman berteriak minta tolong dan mengeluarkan kata-kata umpatan kepada semua pengawalnya. Ia berdiri dibantu beberapa pengawalnya. Lalu ia menatap mereka semua dengan tatapan emosi.
"Pintu saja, kalian tak mampu membukanya. Lihat saya bisa membuka pintu ini," ucapnya bersiap-siap.
Ketika pintunya dibuka oleh Eman, di depan sudah menanti banyak polisi. Mereka juga sudah bersiap-siap menangkap Eman dan pasukannya. Pistol mereka juga sudah siap untuk ditembakkan jika ada perlawanan dari Eman dan pasukannya.
Eman menarik napas panjang, lalu membuka pintu dengan santainya, bersamaan dengan seorang polisi yang juga membuka pintu yang terkunci itu.
"Satu, dua, tiga," ucapnya sembari membuka pintu.
Pasukan Eman langsung mengambil senjata mereka yang di sembunyikan di pakaian mereka. Ada juga dari pasukan Eman berjalan mundur mencari jalan untuk kabur. Eman yang baru saja membuka pintu, tampak kaget karena melihat polisi dengan jumlah banyak. Ia di suruh tiarap dan mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya. Ia mematuhi perintah polisi itu. Setelah ia tiarap, secepat kilat ia menjatuhkan beberapa polisi di dekatnya. Sedangkan pasukannya langsung menembak ke arah polisi itu. Beberapa polisi meninggal karena tak sempat menyelamatkan diri. Sebagian lagi mengambil ancang-ancang untuk menembak dari persembunyiannya.
Haikal dan Ian terpukau menatap kelicikan Eman. Mereka berdua kemudian ditarik oleh Kamil. Mereka dibawa ke ruang Shizuka yang berada di ruang Teratai. Ian menatap Shizuka yang masih tak sadarkan diri. Di sana juga ada dua orang polisi berjaga-jaga.
"Kalian di sini saja. Jangan keluar. Saya akan kembali ke sana lagi. Ingat perkataan saya, jangan keluar ruangan ini."
"Baik pak."
"Oh ya kalian bisa pergi dari sini jika kalian mau karena sepertinya penjahat itu sudah berpengalaman dalam melakukan siasat buruk dalam melawan polisi."
"Tidak pak kami tidak mau meninggalkan Shizuka sendirian."
"Ya sudah. Berhati-hatilah!" Pesan Kamil menatap kedua polisi itu mengisyaratkan untuk menjaga mereka.
"Jangan bertindak lebih jauh lagi pak Polisi!" Ucap Eman yang telah menghabisi banyak polisi.
"Turunkan senjata mu!" Perintah Eman kepada enam orang polisi yang menutupi lift.
__ADS_1
Polisi itu tak mendengarkan perintahnya. Mereka mengarahkan pistol mereka kepada Eman dan menembaknya. Eman menghindari tembakan mereka dengan mengambil posisi jongkok. Lalu dia mematahkan kaki para polisi itu. Satu orang berhasil lolos dengan masuk ke lift. Eman menatap lift itu yang menuju lantai empat. Ia tersenyum dan meminta seluruh pasukannya mencari Shizuka.