
"Herlina kamu mau kemana?" Tanya Usman yang berpapasan dengannya.
"Bang apakah tak masalah jika rumah kosong ini aku masukin? Aku ingin masuk melihat apakah ada orang di dalam?"
"Kenapa kamu mau masuk ke dalam? Rumah ini sudah tua. Kamu lihat saja warnanya sudah gak bagus lagi. Dinding rumahnya juga sudah rusak. Ayo mampir ke rumah saja."
"Tapi menurut aku ada seseorang di rumah itu."
"Kamu jangan ngawur deh. Rumah ini hanya di huni oleh dukun itu. Dia juga sudah meninggal lama. Jangan ke sana. Kamu mampir ke rumah saja."
"Siapa di rumah Abang? Sepertinya aku mau ke pasar aja deh!"
"Di rumah Abang lagi ramai. Kamu tahu sendirilah banyak yang pesan sayur-sayuran di rumah. Kalau kamu mau ke pasar, yaudah kita sama berangkat aja," tawar Usman.
"Iyaudah! Abang mau belanja apa mang?"
"Biasalah. Pupuk, bibit jagung, tomat, dan lauk-pauk juga."
"Istri ada. Kok Abang yang belanja?"
"Dia sibuk juga di rumah."
"Bang bagaimana jika si Mark tidak mau kembali denganku? Aku sangat mencintainya. Ini salah ibunya Shizuka."
"Husst jangan menyalahkan mereka lagi. Ayo kita menyeberang!"
"Kalau sampai omongan ku terbukti. Aku akan membuat Shizuka dan Zeexsa sengsara dari pada sekarang. Mereka tak akan selamat!"
...****************...
"Cika kamu juga mampir ke toko ku? Apakah kamu mau membeli juga? Tapi di sini khusus pakaian cowok."
"Kau tak ingin berjumpa dengan Shizuka?"
"Apa kamu ingin menemuinya?"
Cika mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan kamu akan menemuinya?"
"Sekarang. Cepat kamu bersiap-siap!" Ajak Cika.
"Sebentar-sebentar. Alfi kamu mau kemana?" Tanya Mina yang melihat Alfi mengambil jaketnya dan helm.
"Ada apa sih ma? Ini urusan orang muda. Tolong mama jaga toko dulu ya. Aku mau pergi dulu."
"Kamu mau kemana? Toko kamu kan sudah banyak dikunjungi. Mama gak bisa layani pembeli yang jumlahnya banyak."
"Ya sudah mama tutup dulu tokonya!" jawab Alfi pergi bersama Cika.
"Tumben Alfi akrab dengan Cika. Apakah mereka punya hubungan serius?" Ucapnya menatap Cika yang berboncengan dengan Alfi.
"Kenapa tiba-tiba banget kamu mau nemui Shizuka Cika?"
"Kenapa? Kamu gak tahu apa Shizuka itu anaknya pendiam. Dia pasti kesepian."
"Ya kan ada Zeexsa. Emang Shizuka tetap merasa kesepian?"
"Kamu belum mengenal Shizuka. Bagaimana kamu akan mendapatkan kepercayaan darinya untuk menjadi pendamping hidupnya?" Tantang Cika.
"Wah kamu nantang aku. Dia pasti akan nerima aku suatu saat nanti. Kamu doain aja."
__ADS_1
"Senangnya perusahaan kita bisa bekerja sama lagi," ujar Faiz.
"Saya juga senang pak," balas Astri menatap Zoya yang sedang melihat Haikal.
"Ya meskipun bukan di hotel Sasaki, tak masalah lah asal perusahaan Zetwoje Zoverga mau bekerja sama lagi."
"Tentu pak. Mana mungkin kami menolak bekerja sama dengan perusahaan yang sehebat perusahaan Elvis Presley," ucap Astri lagi dengan tersenyum.
"Apakah kita bisa memulai meeting nya?" Tanya Zoya yang membuka map.
"Iya Bu Zoya. Kita bisa memulai persentasi sekarang. Silahkan Bu Zoya!" Ujar Faiz mempersilahkan dengan hormat.
"Saya harap meeting kali ini tidak tertunda seperti waktu sebelumnya," sindir Zoya menatap Haikal.
"Tentu tidak Bu!" ucap Faiz yakin.
"Apa sih maksud dari Bu Zoya? Dia nyindir Haikal. Kalau dia bukan klien penting, sudah aku kasih pelajaran dia detik ini juga," gumam Kartika mencengkeram pulpennya.
"Terima kasih Pak Faiz atas kepercayaan dirinya dan telah memberikan saya kesempatan untuk berbicara," ujar Zoya bangkit dari kursinya.
Zoya memulai persentasinya dengan cerdas. Ia memberikan poin-poin penting yang membuat semua orang bertepuk tangan. Zoya sendiri tidak merasa bangga dengan pujian semua orang. Dia terus melanjutkan persentasinya hingga selesai. Saat ia hendak mengakhiri persentasi, ia meminta diantara seluruh karyawan maupun pimpinan perusahaan agar bertanya jika ada yang belum dipahami. Ia menatap kepada Haikal yang sepertinya hendak mengajukan pertanyaan padanya. Kartika yang tampak cemburu, langsung mengangkat tangan kanannya. Ia mengatakan bahwa ada suatu saran darinya yang mungkin akan menambah daya tarik yang luar biasa. Zoya mengalihkan pandangannya kepada Kartika.
"Saran apa yang mau kamu berikan Kartika?" Bisik Ian.
"Saran yang akan membuatnya tak berkutik," bisik Kartika dengan senyuman mautnya.
"Silahkan Kartika! Namamu Kartika kan? Saya hapal nama kamu dan juga karaktermu," tebak Zoya.
"Wow itu bagus Bu. Anda gampang mengenal seseorang."
"Kartika langsung saja," perintah Faiz menenangkan suasana.
"Oke baiklah pak. Maaf Bu Zoya di sini saya hanya memberi saran saja. Persentasi anda sudah bagus. Materinya juga sangat detil dan lengkap. Saya sendiri sudah memahaminya. Namun saya sarankan ya Bu. Pada slide enam," tatap Kartika pada slide enam yang baru saja diganti oleh Astri.
"Terima kasih atas sarannya Kartika. Saya mau tanya pada kamu. Apakah kamu akan mengeluarkan modal banyak untuk bisnis mu meskipun kamu tahu di dunia usaha sekarang sedang mengalami penurunan drastis akibat perdagangan bebas?"
"Ya tentu. Kita adalah pengusaha. Resiko sudah menjadi makanan sehari-hari kita. Gagal adalah sebuah hal yang membuat kita kuat," jawab Kartika menatap semua orang yang tersenyum padanya.
"Bagus. Jika kamu paham tentang itu. Saya akan garis bawahi saran kamu. Namun satu hal lagi Apakah kamu tidak memandang rakyat dengan pekerjaan mereka yang tidak akan bisa meraih barang yang harganya selangit? Mereka juga butuh barang berkualitas, tapi terjangkau."
"Bu Zoya kita ini adalah pengusaha. Bisnis kita sudah mendunia. Kami perusahaan Elvis Presley gak pernah khawatir tentang itu. Asalkan pelanggan puas. Kamu tetap pada prinsip kami kualitas atau mutu produk nomor satu, setelah itu harga, pelayanan, kemasan, dan disusul oleh strategi pemasaran. Bagi kalangan rendah atau tidak mampu mereka bisa belanja di pasar tradisional. Perusahaan kami sudah masuk ke dalam kelas atas. Produk kami sekarang sudah banyak yang dikirim ke luar kota, beberapa ke luar negeri, dan tak ada yang komplain atas produk kami," ucap Kartika.
"Saya rasa yang dikatakan Kartika itu benar Bu," ucap Astri.
"Baiklah. Saya terima saran kamu."
"Saya ingin menambahkan. Saya di sini mau menambahkan atau mewakilkan Bu Zoya. Hanya sedikit saja. Bagaimana Bu? Apakah boleh?"
"Apa-apaan Haikal? Sudah bagus aku membuatnya tak berkutik. Sekarang dia malah mempermalukan aku dan perusahaannya," gumam Kartika kesal.
"Silahkan!" ucap Zoya kembali duduk.
"Maaf Kartika. Saya bukan memihak siapapun. Jadi begini dalam sebuah bisnis kita tak mempermasalahkan mengenai target penjualan kita itu hendak kepada siapa. Yang saya kritik di sini adalah mengenai nilai yang memiliki daya tarik. Semua yang kamu katakan itu adalah benar. Tapi menurut pandangan Bu Zoya juga tak bisa disalahkan. Kita semua memiliki pandangan yang berbeda untuk meningkatkan omzet penjualan atau menambah keuntungan bagi perusahaan kita. Ibu Zoya sendirian lebih senang jika targetnya kepada kalangan yang kurang mampu. Makanya harga dibuat terjangkau. Untuk kualitas juga sudah diuji oleh perusahaan Zetwoje Zoverga dimana kualitasnya pun sesuai dengan harganya. Terkadang pun harga tak menjadi tolak ukur bagi konsumen. Jika kualitasnya paten, maka mereka tetap membelinya. Selain kualitasnya mantap, mereka juga memilih produk itu karena mereka membutuhkannya. Ada juga produk yang harga terjangkau, tapi daya tahannya bertahan dengan waktu cukup lama. Jadi kesimpulannya tergantung pandangan kita masing-masing sebagai produsen dalam menciptakan sebuah produk yang bernilai jual atau ekonomis. Tak masalah mau targetnya siapa. Hal pentingnya adalah resikonya sudah kita tinjau dari awal sebelum menciptakan produk itu."
"Saya setuju dengan jawaban kamu Haikal," mengacungkan jempolnya pada Haikal.
"Bukan hanya pak Faiz. Saya juga memberikan jempol dua buat kamu," ucap Ian dengan riang.
"Pintar juga anak muda ini," gumam Zoya membuang wajahnya kearah Astri yang tampaknya juga takjub atas pendapat Haikal.
"Ya saya akui Haikal emang the best!" Ujar Kartika bertepuk tangan.
__ADS_1
"Apaan sih kamu Kartika. Itu hanya hal biasa," ujar Haikal jengkel dengan pujian Kartika.
"Kapan aku temui Shizuka ya?" Gumam Haikal yang teringat dengan Shizuka.
"Bagaimana Pak Faiz apakah produk kami bisa diterima? Atau anda ingin persentasi juga tentang produk anda?"
"Hm sepertinya tidak usah deh. Kami ikut dengan ide Bu Zoya saja."
"Baiklah pak. Terima kasih. Hm Kamu Haikal bagaimana? Apakah ada yang mau ditambahkan lagi?" Tanya Zoya yang mulai mengakui kepintaran Haikal.
"Haikal? Haikal?" Panggil Ian dengan menyenggol bahunya Haikal.
"Apa? Ganggu aja kamu!" ujar Haikal masih melamun.
"Haikal sadar. Kamu bukan di rumah. Ini di ruang meeting," tegur Ian lagi mencubit tangan Haikal.
Sontak Haikal kesakitan dan memarahi Ian. Ia terkaget saat Ian mengatakan mereka sedang meeting. Ia pun meminta maaf kepada semuanya. Zoya hanya tersenyum dan kembali bertanya lagi. Haikal yang mendengar Zoya bertanya dengan lembut kepadanya membuatnya merasa aneh. Sehingga ia pun menjawab cuek tanpa ada ekspresi keramahtamahan.
"Dia pikir gampang apa akrab dengan Haikal," gumam Kartika mengejek.
"Baiklah jika tidak ada. Terima kasih atas kerja sama anda Pak Faiz selaku manager di perusahaan Elvis Presley."
"Kami juga mengucapkan terima kasih Bu Zoya atas kepercayaan anda terhadap perusahaan kami. Kami senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Zetwoje Zoverga."
Setelah meeting selesai, Haikal bergegas keluar dari pertemuan meeting itu. Zoya menatapnya keheranan karena pergi lebih dulu dari semua orang. Ia melihat kesamaan antara Haikal dengan Mark. Mereka sama-sama cuek, cerdas, dan berprinsip. Ia mulai mengakui bahwa Haikal adalah anak Mark. Kemiripan dari segi karakter sudah membuat Zoya hendak menanyakan kepada Mark tentang Haikal. Ia ingin sekali Mark menerima Haikal sebagai puteranya.
"Bu Zoya jangan tersinggung dengan sikap Haikal. Ia memang begitu. Tapi dia orangnya baik kok," ucap Faiz seolah tak ingin Zoya menilai Haikal buruk.
"Kemana aku harus mencari Shizuka? Dia kan tidak tinggal di desa Unicorn lagi."
"Kamu mau bertemu ayahmu ya?" Tanya Kartika yang terus mengikuti Haikal.
"Jangan menguntit saya terus. Urus saja urusanmu!"
"Saya akan membantu kamu menemukan ayahmu. Mungkin ayah kamu sekarang masih di Hotel Sasaki."
Haikal tak mempedulikan Kartika. Ia berjalan ke parkiran. Ia masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya tanpa menatap Kartika. Zoya yang memandang dari kejauhan, makin terpukau akan sikap Haikal yang sulit didekati. Tak sembarang orang yang bisa akrab dengannya. Termasuk dirinya yang juga dicuekin oleh Haikal.
"Lihat aja Haikal, kamu akan kembali memohon padaku untuk berdampingan denganku," ujar Kartika kesal.
"Aku bingung mau cari Shizuka kemana. Dia gak punya ponsel pula. Kemana aku harus mencarinya?" Ujar Haikal melihat Cika dan Alfi.
"Cika apa gak masalah kita nemui Shizuka tanpa janjian dulu. Entar dia gak mau jumpai kita gimana?"
"Udah deh jangan khawatir. Shizuka gak pernah nolak bertemu denganku. Kecuali sama kamu," ledek Cika.
"Mulai deh jahilnya. Kita titip motor ku di stasiun itu aja ya. Sebelum kereta apinya berangkat, aku harus ngebut. Pegangan yang erat!" Ujar Alfi membawa motornya dengan terburu-buru.
Cika terkejut dan tak sengaja memegang pinggang Alfi dengan sangat erat. Jantungnya berdegup kencang. Pipinya memerah. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa karena tubuhnya sangat dekat dengan Alfi. Alfi yang terus membawa motor dengan ngebut, membuat Cika makin memeluknya dengan erat. Sementara Alfi sendiri tak ada merasakan getaran seperti yang dialami oleh Cika. Ia hanya fokus mengendarai motornya hingga tiba di stasiun pun ia tetap mengoceh tentang Shizuka yang nantinya akan menolak bertemu dengannya. Cika masih dalam kondisi berbunga-bunga. Ia menatap Alfi seperti pangeran yang hendak membawanya ke singgasana. Motor Alfi saja ia pandang sebagai delman yang akan mengantarkan mereka melewati beribu orang untuk menyambut pernikahan mereka yang megah.
"Ayo Cika kita beli tiketnya!" Ujar Alfi selesai mengunci motornya di bagian penitipan barang atau kendaraan.
"Itu mereka! Aku akan mengikuti mereka. Cika kan akrab dengan Shizuka. Pasti dia tahu keberadaan Shizuka," ucap Haikal menghentikan mobilnya.
"Cika aku sangat senang jika bisa bertemu dengan Shizuka. Dia adalah satu-satunya perempuan yang aku cintai. Aku akan sangat beruntung jika Shizuka membalas cintaku," kata Alfi dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar Alfi. Bikin rusak suasana aja," ucap Cika pergi duluan menuju pembelian tiket kereta api.
"Ada apa dengannya? Cika tunggu!" Kejar Alfi.
Haikal telah lebih dulu duduk di dalam kereta api. Kursinya berada jauh dari Alfi dan Cika. Ia tak ingin berdekatan dengan mereka berdua karena jika mereka mengetahui keberadaan Haikal, maka mereka pasti bertanya tujuan Haikal. Jadi ia menghindari mereka dengan tetap memantau dari kejauhan saja.
__ADS_1
Selama di dalam kereta api, Alfi masih membayangkan Shizuka. Ia telah lama tak melihat senyum indah Shizuka. Ia tak sabar menantikan pertemuannya dengan Shizuka. Tanpa disadari oleh Alfi, Cika terus menatapinya dengan perasaan cemburu karena Alfi lebih memilih bersama Shizuka ketimbang dirinya.