Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Meningkat Pesat


__ADS_3

"Alfi, kapan kamu datang ke tempat tongkrongan kita seperti biasa lagi? Sepi kalau kamu gak ada," ungkap Dante lewat via vc.


"Sok banget kamu ngomong. Giliran aku datang, kamu asyik ngerjain tugas kantor mu. Padahal kamu hanya sebagai karyawan biasa aja di perusahaan itu."


"Eits jangan salah dulu. Aku emang karyawan biasa. Tapi suatu saat kan bisa naik jabatan. Eh Alfi bagaimana dengan perempuan itu? Apakah dia sudah membalas perasaan mu?"


"Hah jangan bahas itu. Aku lagi move on ni."


"Kok move on? Apakah dia menolak mu? Kenapa Alfi?" Tanya Dante murung.


"Entahlah. Tapi sulit melupakannya. Sekarang aku sedang membuka usaha jual pakaian laki-laki ni di toko tempat dia bekerja dulu."


"Wait! Kamu sekarang punya bisnis toko pakaian?"


"Iya. Kenapa?" ucap Alfi ketus.


"Good job best friend. Good luck for you."


"Kamu gak kerja?" Tanya Alfi melirik-lirik sekitar tokonya.


"Kerjalah. Sekarang aku sedang mengerjakan tugas dari Pak Faiz. Ada apa? Apakah ada pembeli?" tebak Dante dengan cekatan.


"Iya sepertinya mereka menuju kemari."


"Oke ladeni pembeli mu sob. Perlakukan pembeli atau pelanggan mu seperti raja. Kamu yang terbaik sob. Aku matiin dulu. Selamat bekerja ya!"


"Oke Dante."


"See you next time. Bye...!"


"Banyak banget kata penutup mu Dante," ucap Alfi jengkel seraya mematikan vc nya.


Alfi menyambut kelima perempuan ABG itu.


"Bang ada celana olahraga gak? Modelnya seperti ini," ucap perempuan berambut pirang memberikan contohnya.


"Dia kan anak kepala desa. Kenapa kerja di toko ya?" Bisik perempuan yang rambut dikucir satu.


"Kekurangan uang kali," jawab perempuan yang memakai jaket jeans.


"Maaf mau nanya. Kamu Alfi kan anaknya kepala desa sini?" Tanya perempuan yang rambutnya dikucir satu.


"Iya. Ada apa ya?" Jawab Alfi membenarkan.


"Eh Dinda, Tini, kalian berdua tolong cariin lah celana yang mau ku beli!" Ucap si rambut pirang memilah-milah celana di dekatnya.


Mereka berlima pun masuk ke rak bagian belakang mencari celana itu. Alfi tersenyum kecil menaruh kembali celana yang dipilihkannya tadi. Kemudian ia duduk di kasir. Alfi memperhatikan kelima perempuan itu yang asyik tertawa karena membicarakan sesuatu yang membuat mereka tak henti-hentinya tertawa.


"Aneh banget perempuan sekarang. Tebar pesona banget," ucapnya menatap kelima perempuan itu.


Kemudian datang lagi pembeli baru. Ia masuk menemui Alfi bertanya tentang pakai senam bewarna merah untuk suaminya. Alfi menunjukkan permintaanya itu yang berada di rak belakang kasir. Ibu itu pun memperhatikan label harganya seraya berkata, "Ini harganya gak kurang?"


"Maaf gak bisa Bu. Kalau yang harga murah ada di rak dekat pintu masuk Bu. Tunggu saya ambilkan dulu."


"Warna dan kualitasnya sama kan nak?"


"Gak Bu. Ini harganya terjangkau. Jadi bahannya gak sama dengan pakaian yang pertama tadi."


"Bang celana yang warna hitamnya ada gak?" Tanya perempuan berambut pirang.


"Bang kata si Tini Abang sudah punya cewek apa belum?"

__ADS_1


"Diam kamu Deli. Kenapa kamu ini pengaduh sekali? Mana ada aku bilang begitu," ucap Tini tak berani menatap Alfi.


Alfi tak menghiraukan kejahilan perempuan ABG itu. Ia mengambil celana putih yang dipegang perempuan berambut pirang. Melihat mereknya dan pergi ke rak ke-3 dari rak yang berada di depannya. Alfi memilah-milah celana merek Elvis itu. Ia tak menemukannya dan berkata, "Maaf kak sisa warnanya tinggal dua lagi aja kak. Warna putih dan hitam."


"Hm gimana ya?" Tanya perempuan si rambut pirang.


"Udah kamu ambil yang warna hitam aja Cahayu. Kalau hitam itu netral. Bisa masuk ke baju warna apapun."


"Iya juga sih Tini.


"Udah coba kamu sorong dulu sana!" Usul Gelis.


"Mau dipakai buat acara apa nak?" Tanya ibu yang sedang memegang celana olahraga merek Elvis.


"Untuk lomba senam bu."


"Oh bagus itu celananya. Bahannya juga bagus."


"Iya Bu. Ini kan celana dengan merek terkenal. Banyak orang yang memakai celana ini Bu dengan bermacam model," ucap Gelis menginformasikan.


"Wah benarkah nak?" Tanya ibu itu takjub.


"Ibu mau ambil celana merek ini jugakah?" Saran Alfi.


"Saya emang mau cari celana olahraga juga. Tapi warna merah nak."


"Coba lihat Deli, Tini, Gelis, Dinda, celananya cocok banget untukku," ujar Cahayu memperhatikan celana olahraga yang ia kenakan.


"Udah kamu ambil aja celana itu Cahayu," ucap Tini.


"Iya Cahayu cocok banget buat kamu," ucap Deli berpendapat sama.


"Ini mereknya terkenal dan kainnya tebal kak. Harganya Rp150 ribu kak. Warnanya juga gak akan luntur kak," ujar Alfi menyiapkan kantongan pelastik.


"Nak celana yang merahnya adakah? Tapi untuk ukuran jumbo ya nak," ujar Ibu yang berada di sebelah Dinda.


"Ini tinggal dua warna aja Bu. Model lain ibu mau kah? Mereknya juga sama. Bagaimana Bu?" Tanya Alfi menawarkan.


"Woi Alfi!" Teriak Radit dengan penampilannya yang kece.


"Woi Radit. Apa kabar lo? Lama tak bertemu," ucap Alfi menepuk-nepuk pundak Radit.


"Bagaimana Cahayu? Kamu ambil itu saja. Celananya bagus dan tahan tu utk jangka waktu lama. Kamu nego aja dulu harganya," bisik Deli.


"Bang saya minta kurang dong harganya. Tolong dikurangin bang!" Pinta Cahayu mendekati Alfi.


Radit menatap Cahayu sambil berkata, "Hah Lo kan cewek yang nyumpahin aku waktu di kantin. Cewek killer itu kan?" Tunjuk Radit manyun.


"Kalian kenal?" Tanya Alfi.


"Bang gimana? Harganya bisa kurang?"


"Rp145 ribu aja deh ya kak. Ini celananya bagus banget kak. Banyak yang ambil. Kakak ambil aja dengan harga Rp145 ribu."


"Udah lo ambil aja. Ketimbang lo gak dapat celana sekeren itu lagi. Ditambah lagi lombanya kan sudah agak mepet waktunya," bujuk Radit.


"Bentar dulu ya kak, Radit. Aku cari celana buat ibu itu dulu."


"Aku ikut Alfi. Sekalian mau cari celana dan baju senam juga," lirik Radit kepada Cahayu.


"Bagaimana Cahayu?" Tanya Dinda.

__ADS_1


"Hanya turun Rp5000 ribu aja," jawabnya datar.


"Bu model ini mau kah? Ini juga merek Elvis. Ukurannya jumbo," ucap Alfi memberikan pada ibu itu.


"Wah ini juga bagus nak. Sepertinya cocok untuk suami saya."


"Alfi cariin aku satu setel pakaian olahraga dong. Aku gak mau warna hitam. Aku mau warna lain aja. Biru gelap ada gak?"


"Sebentar ya Radit. Lo gak buru-buru kan? Aku layani pembeli lain dulu ya."


"Gak sih. Tapi setelah itu bantuin ya cari selera gue."


"Bang saya pilih celana ini aja deh," ujar Cahayu memberikan celana pilihannya.


"Iya kak. Bajunya kak?"


"Gak usah bang. Saya ambil celana saja."


"Lo beli bajunya kenapa? Toko sahabat gue ini menjual perlengkapan baju dan celana yang keren."


"Gila Lo. Ini kan tempat khusus cowok. Gue ambil celana aja karena itu kan bisa dipakai cewek atau pun cowok."


"Tapi kak kalau baju olahraga di toko ini emang ada juga khusus ceweknya kami sediakan," bantah Alfi.


"Bukankah ini toko khusus cowok kah?" Tanya Tini heran.


"Iya benar kak. Tapi kalau baju olahraga, kami sediakan untuk cewek juga."


"Bagus kan toko sahabat gue!" Puji Radit.


"Iya toko sahabat kamu. Bukan tokomu," cibir Cahayu memberikan bayarannya dan menerima barangnya.


Alfi tersenyum melihat temannya yang diledekin perempuan. Radit mengomel sendiri menatap perempuan itu yang telah keluar toko. Lalu ia menghampiri Alfi yang sedang tersenyum-senyum di hadapan ibu itu.


"Kenapa lo? Ngejek gue? Lo gak tahu Alfi. Cewek itu tu naksir sama gue, makanya dia berlagak angkuh agar gue tu ngejar dia."


Alfi menahan kegelian akibat ucapan Radit yang begitu percaya diri. Ia tak menjawab perkataan Radit. Ia hanya fokus meladeni ibu itu yang sedang membuka resleting baju olahraga.


"Nak ibu ambil baju ini aja ya!" Ucap ibu itu setelah memeriksa setelan baju olahraganya.


"Assalamu'alaikum! Wah anak mama. Bagaimana nak usaha kamu? Sepertinya lancar ya," ucap Mina tersenyum melihat Alfi.


"Waalaikumsalam!" Jawab Alfi.


"Semoga sehat ibu yang memakainya. Kapan-kapan datang lagi ya Bu!" Sapa Mina kepada ibu yang baru saja membeli setelan olahraga.


"Iya. Terima kasih bu," jawab ibu tu sambil menuju pintu keluar.


"Ma beberapa orang yang datang kemari menyukai merek Elvis. Mama pesan celana itu dimana sih? Kenapa mereka menyukai celana itu?"


"Mama pesan dari pusat perbelanjaan di Matsuki nak. Merek itu emang terkenal. Kamu gak tahu perusahaan itu?"


"Saya aja Tante sudah banyak koleksi merek itu."


"Nah kamu dengar tu kata Radit. Merek ini sudah nomor satu di desa kita dan desa-desa lainnya."


"Lo gak tahu ya perusahaan Elvis Presley? Perusahaan yang sangat terkenal dalam merancang baju."


"Iya nak. Si Haikal anak si Herlina kan bekerja di sana. Dia wakil CEO di perusahaan itu atau sebagai asistennya."


"Iyalah. Aku gak kenal dia. Gak penting juga," kata Alfi seraya mencari setelan untuk Radit.

__ADS_1


__ADS_2