
Hari itu Haikal dan Herlina termenung di kamar mereka masing-masing. Keduanya tak melakukan aktivitas apapun selain hanya bermenung. Mereka mengingat saat-saat bersama Debi. Debi yang cuek dan agak pemarah itu adalah seorang sosok yang mereka rindukan. Bayangannya terus menyapa mereka yang sedang dirundung duka.
Haikal memanggil nama Debi seraya menatap fotonya dari ponselnya. Ia tak dapat membayangkan bahwa adiknya itu akan pergi untuk selamanya. Hari-hari yang ia lewati tanpa sang adik membuatnya merasa kehilangan setengah kehidupannya. Ia juga tak mampu melanjutkan pekerjaannya karena hati dan pikirannya telah tersegel oleh ketiadaan sang adiknya yang malang. Ponselnya yang terus berdering tak juga ia pedulikan. Ia lebih memilih duduk termangu sambil menatap wajah berseri adiknya itu.
Haikal juga melupakan tentang Shizuka yang akan masuk bekerja di perusahaannya. Sehingga Kartika terus menelponnya karena ingin tahu penyebab Haikal yang masih belum mengatakan pendapatnya itu pada Faiz. Kini Haikal menonaktifkan ponselnya agar tak seorang pun mengganggu waktunya bersama adiknya.
Sementara Herlina berbicara sendirian menatap ke pintu kamarnya. Ia melihat Debi yang terus membujuknya agar mengizinkannya menemui Vikram. Herlina menangis. Ia menyesal karena membuat Debi menahan rasa sukanya pada Vikram.
"Kalau saja aku merestui hubungan mereka, pasti Debi bahagia. Dia gak akan sembunyi-sembunyi untuk menemui Vikram. Kemudian Vikram pun gak akan meninggalkan Debi karena aku akan membuat mereka terikat dengan status pertunangan."
Herlina menangis tiada henti. Ia teramat menyesal atas kebodohannya. Lalu ia menghampiri Debi yang sedang telponan dengan Vikram. Ia menatap Debi dengan rasa malu karena gagal menjadi partner untuk anak perempuannya. Di panggilnya Debi yang sedang asyik menelpon. Namun Debi menghindarinya dengan keluar kamar Herlina. Herlina mengikutinya dan memanggil Debi. Debi tetap berlari dari tangga hingga bayangannya menghilang.
"Debi!" Teriak Herlina disertai tangisan.
"Ibu?" Gumam Haikal berlari mengejar ibunya yang histeris.
...****************...
Tok....Tok...
"Siapa?" Tanya Shizuka.
"Siapa kak?" Tanya Zeexsa yang juga berjalan ke pintu.
Shizuka membuka pintu rumah. Ia melihat kedua pria agak tua sebaya Naoto. Salah satunya adalah pria yang mereka lihat di warung kopi tempat mereka melamar kerja. Kedua pria itu tersenyum menatap Shizuka. Lalu mereka melihat ke dalam rumah yang tampaknya sepi.
"Maaf ada apa ya pak?" Tanya Shizuka canggung.
"Bagaimana? Kamu jadikan bekerja di warung kami? Kami sangat membutuhkan pelayan perempuan seperti kamu."
"Maaf pak. Sepertinya saya ataupun adik saya tidak jadi melamar pekerjaan di tempat bapak."
"Kenapa nak? Kami akan membayar tinggi. Kamu gak usah khawatir soal gaji atau pun makan. Kami akan menanggung semuanya agar kamu mau bekerja pada kami. Tolong nak!"
__ADS_1
"Maaf pak saya gak bisa. Saya sudah mendapatkan pekerjaan pak."
"Kami sangat senang jika kamu mau bekerja di warung kami. Warung kami sedang ramai nak. Tolonglah nak! Kamu bisa kok bekerja di waktu tertentu saja.Tak masalah. Sementara waktu saja gak masalah juga nak."
"Sepertinya mereka sangat membutuhkan tenaga kerja. Apalagi mereka sudah tua," gumam Shizuka.
"Tolonglah nak! Kami akan menaikkan gajimu. Bagaimana?"
"Terima kasih pak. Baiklah saya akan menerima tawaran kerja dari bapak. Tapi saya bisa bekerja siang pak. Bagaimana?"
"Terima kasih nak. Kamu masuk kerja jam berapa pun tak masalah. Asal kamu mau bekerja saja, kami sudah senang."
"Oh iya pak. Terima kasih juga!"
"Wah dengan adanya anak gadis ini, maka warung ku akan makin ramai," gumam Kamil.
"Besok kamu sudah bisa bekerja ya nak. Tolong datang agak pagi ya karena warung kami sudah dibuka jam lima subuh. Jadi kamu datang 10 menit sebelum jam lima subuh ya."
"Aduh gak bisa pak!" Bantah Shizuka.
"Maaf nak saya bukan beragama Islam. Saya katolik."
"Meskipun begitu bapak harus punya toleransi terhadap agama kami," ucap Zeexsa.
"Bagaimana ya pak? Sepertinya saya gak bisa datang jam segitu," ucap Shizuka berterus terang.
"Yasudah nak. Kamu datang jam enam aja bisa?"
"Jam tujuh aja lah pak. Bapak ini," gerutu Zeexsa.
"Oke pak. Saya akan datang ke warung bapak jam enam tepat," ujar Shizuka.
"Baiklah nak. Kami pulang dulu. Sampai jumpa besok pagi!"
__ADS_1
"Kakak! Apa-apaan sih? Kenapa mau aja setuju dengan mereka!" Ujar Zeexsa setelah mereka pergi.
"Abis gimana lagi? Mereka juga sangat butuh tenaga kerja. Apalagi usia mereka sudah tua begitu."
"Tapi aku gak setuju dengan pendapat kakak. Kakak gak boleh kerja dengan mereka. Titik pokoknya!"
Shizuka menutup pintu dan pergi tanpa berkomentar apapun mengenai pendapat Zeexsa. Ia masuk ke kamarnya dan menatapi kelender. Zeexsa menarik napas panjang dan menghentakkan kakinya melewati kamar Shizuka. Ia kesal pada kakaknya karena tak mendengarkan pendapatnya. Lalu ia membuka pintu kamarnya dan merebahkan badannya di kasur empuk.
"Aku gak percaya kepada bapak-bapak lansia itu. Mereka sepertinya ada niat buruk kepada kak Shizuka. Jika mereka baik, mereka gak akan memaksa kak Shizuka bekerja jam lima subuh."
"Kak Shizuka juga setuju-setuju aja! Aku harus bagaimana?" Pikirnya kehabisan ide.
"Maafkan kakak Zeexsa. Kakak tahu kamu kecewa. Tapi kakak gak mau hanya makan, tidur di rumah orang tanpa bekerja. Jadi kakak putuskan untuk bekerja pada bapak itu. Sekarang juga sudah Oktober. Kita telah lama tinggal di rumah Tante Pertiwi dan Om Naoto," ucap Shizuka.
"Bagaimana dengan tawaran pekerjaan Haikal itu ya?" Gumam Shizuka tersadar.
"Tapi dia tak ada kabar. Kenapa dia gak kemari atau kabari aku melalui apa ya?" Pikirnya termenung karena tak mempunyai ponsel.
"Bu! Aku akan mencari Debi. Kemana pun akan ku cari. Tim SAR dari tadi belum juga menghubungi ku. Aku rasa mereka sedang menyusuri Pantai Soucan dengan teliti," ucap Haikal.
"Ya nak. Ibu harap kamu atau pun tim SAR bisa mendapatkan keberadaan Debi."
"Aku gak abis pikir kenapa si Vikram itu santai sekali. Debi hilang, dia malah memohon maaf saja pada kita tanpa mencari Debi."
"Ini salahnya. Dia akan mendapatkan hukuman jika Debi tak juga kita temukan. Pokoknya ibu mau Debi pulang dalam keadaan selamat tanpa kekurangan apapun. Kalau tidak ibu gak akan biarin laki-laki itu tersenyum lagi."
"Ibu yang sabar ya. Aku yakin Debi akan ditemukan!" Ujar Haikal penuh harap.
"Oh ya nak kamu gak bekerja?"
"Gak Bu. Aku gak bisa bekerja jika Debi belum pulang. Nanti aku akan ambil cuti!"
"Ibu harap kamu tetap bersama ibu. Ibu gak mau kehilangan kamu nak!" Rangkul Herlina.
__ADS_1
"Iya Bu. Aku janji gak akan ninggalin ibu," ujar Haikal merangkul Herlina dengan erat.
"Kasihan banget ibu. Ayah, Debi, meninggalkannya. Aku janji Bu akan membawa mereka kembali lagi ke rumah," gumam Haikal bertekad bulat.