
"Aduh senang juga ya Cika telah mencabut laporannya," ucap Shizuka lega.
"Terus apakah Herlina sudah bebas sekarang?"
"Barangkali sudah tan. Dia pasti senang bisa kembali ke rumahnya dan berkumpul dengan kedua anaknya," jawab Zeexsa.
"Om belok kiri om," kata Alfi.
"Terus selanjutnya kemana Alfi?"
"Jalan terus om sampai ketemu Jalan Pinus."
"Kamu kenapa melamun Shizuka?" Tanya Pertiwi.
"Aku teringat dengan ucapan Herlina Tante. Katanya suaminya gak pulang ke rumah karena pergi bersama ibuku."
"Kakak. Maaf ya aku tadi bicara hal yang membuat kakak mengingat ucapan Bu Herlina."
"Kamu gak salah Zeexsa."
"Udah kalian berdua jangan bersedih. Ini semua akan berlalu. Kalian lupain aja hal yang buat kalian sakit hati."
"Benar kata ibu Pertiwi Shizuka. Oh ya nanti aku juga akan meminta papa untuk mengadakan musyawarah tentang masalah ini. Namun sebelum itu aku akan cari bukti bahwa kalian tidak bersalah," ucap Alfi menenangkannya.
"Apakah ayahmu mau Alfi?"
"Iya karena papa ku gak pernah nolak permintaan ku."
"Mudah-mudahan saja!" Harap Zeexsa.
"Sepertinya itu hotelnya," kata Naoto seraya memarkirkan mobilnya di dekat mobil-mobil yang parkir secara rapi.
"Iya pak itu dia."
Mereka semua turun dan masuk ke Hotel Sasaki.
"Di sana itu kan laki-laki yang musiknya begitu keras diputar. Dia laki-laki yang juga patah hati sama seperti ku yang lalu itukan?" Gumam Alfi menatap laki-laki yang sedang mendengar musik di lobi.
"Ini kunci kamarnya Bu!" Ucap pelayan hotel ramah.
"Ayo nak Alfi!" Ucap Naoto.
"Tunggu sebentar," ujar Alfi mendekati laki-laki itu.
"Shizuka, Zeexsa, Pertiwi dan Naoto menatap Alfi heran.
"Halo! Saya Alfi yang pernah mengetuk pintu kamar mu yang lalu."
"Siapa? Banyak kok pelayan yang mengetuk pintu kamar saya," ucapnya membuka handset di telinganya.
"Siapa yang diajak Alfi berbicara ya?" Tanya Shizuka yang hanya dapat melihat punggung Alfi.
"Bukan. Saya bukan pelayan," ucap Alfi geram.
"Oh saya ingat. Ada apa?"
"Kamu masih di sini juga?"
"Jadi maksud kamu saya tidak boleh di sini?" Tanya laki-laki itu hendak pergi.
"Eh tunggu dulu. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" Tanya Alfi seraya memegang tangannya.
"Saya adalah Zico," ucapnya tersenyum.
"Tunggu dulu!" Ucap Alfi kembali menghentikannya.
"Perempuan yang di sebelah kamarmu itu?"
"Dia adalah Yura Aikawa. Perempuan pengisi ruang hati saya nak," ucapnya lagi dengan senyum yang makin melebar.
Ia pergi ke luar hotel. Shizuka dan yang lainnya melihat laki-laki itu dan juga Alfi dengan tatapan aneh karena usia keduanya terpaut jauh. Seperti ayah dan seorang anak. Naoto menghampiri Alfi yang masih menatap laki-laki itu.
"Kamu kenal dia Alfi?"
"Ya pak. Baru saja pengenalannya dimulai," ucapnya tersenyum.
"Ayo pa!" Teriak Pertiwi.
__ADS_1
...****************...
"Selamat pagi Bu."
"Haikal. Kamu gak kerja?"
"Tidak Bu. Ibu baru saja pulang. Aku ingin di sini menemani ibu."
"Abang berkerja keras untuk membebaskan ibu loh Bu. Dia ambil cuti kerja juga," ucap Debi mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kamu cuti Haikal? Kenapa kamu bisa-bisanya cuti nak? Pekerjaan kamu kan penting. Apalagi kamu jabatannya tinggi di sana."
"Debi emang gak bisa jaga rahasia," gumam Haikal.
"Aku sudah izin kok Bu. Aku cuti kan bukan karena mau santai-santai Bu. Aku hanya ingin fokus menyelesaikan kasus ibu," jawabnya memberikan segelas susu pada ibunya.
"Bu siapa yang melaporkan ibu ke polisi? Lalu kenapa sudah mencabut gugatannya secara tiba-tiba?"
"Abang ini memang selalu ketinggalan informasi ya. Ibu masuk penjara itu karena Shizuka. Dia penyebabnya. Terus ya temannya yang bernama Cika itu, dia juga terlibat atas penderitaan ibu. Dia melaporkan ibu karena memihak Shizuka. Apa Abang tahukah yang mencabut gugatan bahwa ibu tidak bersalah itu adalah Cika sendiri. Itu atas bujuk rayu Shizuka."
"Kamu tahu dari mana semua ini?"
"Wah Abang ini, seluruh warga bercerita. Orang tua Alfi juga mengetahuinya. Si Alfi sendiri juga ikut campur dengan masalah ini."
"Sepertinya mereka sudah sangat dekat karena Alfi membantunya sampai sejauh ini," sindir Herlina menatap Haikal yang tampak resah.
"Bang kalau aku jadi Abang, aku akan melabrak Shizuka dengan membuatnya menyesal karena bermain-main dengan kita melalui hukum."
"Sudahlah Debi. Ibu kan sudah bebas. Ibu harap perempuan itu tidak mengulangi kesalahannya lagi," ucap Herlina membawa gelas susunya tadi ke dapur.
"Benar kata Debi. Aku harus membuat Shizuka mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas kekeliruan yang dia lakukan.
"Kring....kring....!" (Dering ponsel Haikal)
"Ada apa Rona?"
"Kamu diminta sama Pak Faiz datang ke Hotel Sasaki sekarang."
"Tapi kan saya sudah ambil cuti sampai besok."
"Iya saya tahu. Ini perintah dari Pak Faiz. Kamu harus datang ya."
"Kok malah diputus sih," ucap Haikal kesal.
"Ada apa nak?"
"Bu aku ke Hotel Sasaki dulu."
"Mengapa ke sana? Ada urusan apa?"
"Tadi temanku memintaku untuk ke sana. Ini perintah dari atasanku bu. Aku pamit dulu Bu."
"Kak Shizuka kenapa termenung terus?"
"Hei Zeexsa. Kakak hanya memikirkan bisnis kita yang sudah tutup."
"Bisnis apa sih Shizuka? Kamu buka bisnis dimana?" Tanya Naoto yang baru saja masuk ke kamar mereka.
"Ini om hanya bisnis kecil," jawab Shizuka.
"Bisnisnya kenapa bisa tutup?"
"Ini akibat masalah itu om," jawab Zeexsa dengan nada pelan.
"Oh itu alasannya. Kalian tahu kah di hotel ini om ada rapat dengan wirausaha dari berbagai desa. Rapat ini bertujuan untuk menilai, menanggapi, memberikan pendapat selaku pemimpin desa, dan sekaligus memfasilitasi pedagang atau pun pebisnis-pebisnis seperti kalian."
"Kak Shizuka tunggu apa lagi? Kakak harus ikut."
"Sepertinya seru ni cerita kalian! Ada berita apa sih pa?" Tanya Pertiwi seraya duduk di dekat Shizuka.
"Papa menawarkan kepada mereka untuk hadir di acara rapat papa nanti ma."
"Rapat dengan Wirausaha itu pa?"
"Iya ma. Jadi Shizuka dan Zeexsa ini ternyata sedang merintis sebuah usaha. Akibat dari masalah itu, usaha mereka terhenti.
"Kebetulan banget ya pa. Shizuka dan Zeexsa pasti bisa membangunkan usaha mereka kembali."
__ADS_1
"Iya dong ma. Kalian harus bangkit nak!" Ujar Naoto.
"Kapan om rapatnya?" Tanya Zeexsa hendak bersiap-siap.
"Sekitar seperempat jam lagi."
"Mepet banget waktunya om. Ayo kak Shizuka! Kita harus bersiap-siap."
"Apakah ada syaratnya om?" Tanya Shizuka.
"Syaratnya kalian harus semangat," ucap Naoto tertawa.
Shizuka, Zeexsa dan Pertiwi ikut tertawa.
"Hotel Sasaki!" Ucap Haikal menatap Pamflet bertuliskan Hotel Sasaki.
"Itu Haikal!" ujar Salwa menghampirinya.
"Kau di sini juga?" Tanya Haikal sambil berjalan menuju pintu masuk hotel.
Seorang laki-laki agak tua tak memperhatikan jalannya. Ia menabrak Haikal dan tak sengaja menjatuhkan kopinya ke tubuh Haikal. Haikal terkejut dan spontan memaki laki-laki itu. Salwa juga ikut memarahi laki-laki itu. Sehingga laki-laki yang lebih tua dari mereka itu pun menjadi kesal. Ia tak membersihkan pakaian Haikal yang telah kotor.
"Hei kau! Bukannya meminta maaf, malah kabur begitu saja," teriak Salwa sambil mengejarnya.
Laki-laki yang agak tua itu membuka kaca mata hitamnya. Haikal yang sedang sibuk membersihkan blazer nya, tak melihat wajah laki-laki yang agak tua itu. Laki-laki yang agak tua itu menatap Haikal dengan kaget. Ia langsung bergegas memakai kaca matanya dan meninggalkan Salwa.
"Dasar tua bangka aneh," umpat Salwa.
"Apa kau bilang?" Tanya laki-laki yang agak tua itu kembali menemui Salwa.
"Kau tua bangka aneh. Kamu gak sopan dan gak tahu cara minta maaf."
Haikal mendengar Salwa berdebat dengan laki-laki tua itu.
Ia berjalan mendekati mereka. Laki-laki yang agak tua itu terus membalas hinaan Salwa sampai ia tak menyadari Haikal menatapnya dengan terheran. Lalu saat ia hendak memegang tangan laki-laki tua itu, tiba-tiba saja laki-laki tua itu mendapatkan tamparan dari Salwa.
"Apa yang kau lakukan Salwa?" Teriak Haikal dengan wajah merah berapi.
Semua orang melihat ke arah mereka. Termasuk Shizuka yang baru saja keluar dari lift. Zeexsa memegang tangan Shizuka mengisyaratkan agar tidak menemui Haikal. Keributan itu membuat laki-laki tua itu pergi tanpa mempedulikan Haikal yang terus menyebutnya dengan sebutan 'ayah'.
"Apa dia ayahnya Haikal?" Gumam Salwa tertunduk malu.
"Kak laki-laki agak tua itu kan yang tadi kita lihat berbicara dengan Alfi."
"Iya Zeexsa."
"Kenapa Haikal memanggilnya dengan sebutan ayah?"
"Barangkali itu ayah Haikal."
"Benar kak. Apakah dia juga ayah kita?" Tanya Zeexsa ragu.
"Hus gak mungkin Zeexsa. Kita yatim piatu. Jika dia ayah kita gak mungkin dia gak mengenali kita."
"Mungkin saja dia takut ketahuan dengan Haikal kak."
"Zeexsa jangan menduga-duga. Itu tidak baik. Ayo kita pergi ke taman hotel ini," ucap Shizuka.
"Eh tunggu-tunggu. Itukan Shizuka. Si kampungan. Pakaiannya tampak kumal dan norak," ucap Salwa memperhatikan Shizuka yang melintas di hadapannya.
"Kak apakah tidak sebaiknya kita mengejar laki-laki tua tadi?"
"Untuk apa Zeexsa?"
"Agar masalah kita kelar kak. Semuanya juga akan kembali normal," ujar Zeexsa dengan ide kreatifnya.
"Zeexsa itu lihat di taman. Acaranya sudah dimulai. Pak Naoto sedang berbicara di depan tu," ujar Shizuka berdiri menyaksikan puluhan orang.
"Semua orang yang hadir pasti punya usahanya masing-masing."
"Tolong jangan di tengah jalan! Silahkan duduk di kursi yang telah disediakan," ucap seorang perempuan setelan baju kantor.
"Kita duduk di sana saja kak," ucap Zeexsa menunjuk baris ke lima dari belakang yang total baris sebelah kiri ada dua puluh baris.
Mereka duduk di kursi itu. Di sana mereka mendengarkan ucapan Naoto dan dari beberapa pengusaha terkenal dari desa Momoki. Mereka diarahkan untuk memulai bisnis dengan langkah seperti apa, modalnya, fasilitas, cara penjualan, dan cara melayani pembeli. Setelah itu Naoto meminta beberapa orang yang hadir untuk menyampaikan pengalaman mereka selama merintis usaha beserta kendalanya. Kemudian hampir satu setengah jam lamanya, Naoto memberikan sebuah reward bagi seluruh wirausaha berupa ucapan selamat, doa, dan sebuah dana yang jumlah tak begitu banyak dan juga file yang akan dikirimkannya ke grup wirausaha Momoki untuk dipelajari cara menjualkan produk dan sukses menjalani usaha.
"Wah acara ini sangat membantu kita ya kak. Tapi kita kan tidak punya ponsel. Bagaimana kita akan mempelajari materinya kak?"
__ADS_1
"Nanti kita baca-baca saja sebentar dari ponsel Pak Naoto."
"Oh iya ya kak," jawab Zeexsa melihat acaranya sudah ditutup dengan salam dari Naoto.