Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Lukanya Masih Sangat Dalam


__ADS_3

DUA BULAN KEMUDIAN


September hampir usai. Menyeruak masuk kembali cacian itu ke telinga hingga memadati aliran darahnya. Saking perihnya ia berjongkok di balkon kamarnya lagi seperti hari-hari yang telah lalu. Setiap kata yang dilontarkan padanya membuatnya menggigit bibirnya dan menjambak rambutnya dengan kuat. Air matanya terus terjatuh bagaikan hujan yang turun ke bumi. Aksara wajahnya sudah sangat kelam. Tiada kehangatan yang menyinarinya. Terus dalam keadaan tertekan. Walau telah jauh dari pemukiman Unicorn ia masih merasakan amarah warga yang membakar jiwanya.


Malam itu Shizuka memakai gaun putih yang lengannya terbuka. Panjang gaun itu se-lututnya. Badannya yang ramping terus dicolek angin. Kulitnya mulai terasa dingin disertai gigil yang luar biasa. Ia juga tak mengenakan alas kaki. Selama di balkon ia membayangkan kehidupannya di desa Unicorn. Balkon kamar itu seperti tempatnya membagi cerita karena di sana sepi dan tempatnya langsung berhadapan dengan nelangsa yang hijau.


Ketika diajak oleh Naoto dan Pertiwi ke psikiater itu Shizuka merasa arah hidupnya sudah tak terkendali. Ia merasakan bahwa jiwanya telah ditumbuk berkeping-keping. Apalagi hasil tesnya juga dirahasiakan oleh Pertiwi. Menurutnya dokter Laohan telah mengetahui kerapuhan hatinya sehingga tak seorang pun yang mengatakan hasil tesnya agar ia tidak makin terluka.


Shizuka mencoba menyembunyikan lukanya dengan mengerjakan berbagai tugas rumah, memulai hobinya, tertawa dan berbicara seperti tidak punya beban hidup, dan membuang lembaran lamanya penuh belati itu. Isak tangisnya yang menyedihkan membuat Zeexsa hanya mampu mendengarkannya dari kamar Shizuka.


Zeexsa yang telah lama berada di kamar itu tak sanggup menyapa kakaknya. Ia tak bisa menenangkannya karena ia sendiri pun dapat merasakan betapa berkecamuk sukma kakaknya. Peristiwa itu sudah memecahkan hatinya. Zeexsa menahan suara tangisnya agar tak didengar kakaknya. Ia menggigit seprai merah dengan air mata yang telah membanjiri wajah chubby nya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara Shizuka yang menyanyikan lagu favoritnya.


"You are my sunshine


My only sunshine


You make me happy


When skies are gray


You'll never know, dear


How much I love you


Please don't take


My sunshine away


The other night, dear


As I lay sleeping


I dreamed I held you


In my arms When I awoke, dear


I was mistaken


So I hung my head and I cried


You are my sunshine


My only sunshine


You make me happy


When skies are gray


You'll never know, dear How much I love you

__ADS_1


Please don't take My sunshine away," nyanyiannya disertai tangis yang membuat suaranya tak jelas terucap.


Tangisnya terus menerobos dinding-dinding ruang kamarnya. Ia menjadi makin emosional membayangkan warga yang tak memberi ampun padanya. Kasih sayang Pertiwi lah yang membangkitkan dirinya yang sudah tak mampu berdiri. Kala itu sosok ibu terlihat dalam rupa Pertiwi. Ia mendambakan ibunya yang tak kembali lagi.


"Kakak sampai kapan kakak akan terus menangis dalam kesendirian kakak?" Gumam Zeexsa mengintip kakaknya.


"Bagaimana aku membuktikan pada semua orang bahwa ibuku tidak bersalah. Tak mengapa aku jadi buah bibir mereka. Asalkan ibu tak dianggap buruk oleh mereka," ucap Shizuka tersedu-sedu.


"Aku seharusnya membuat mereka paham bahwa ibuku adalah orang yang baik. Ibuku bukan perusak rumah tangga orang. Ibu maafkan aku karena tak bisa membersihkan kecurigaan mereka. Eh bukan kecurigaan, tapi tuduhan," sahutnya lagi menatap cakrawala tanpa bintang.


"Ku rasa Ayah bersikap cuek karena ada sesuatu yang membuatnya marah. Apa ya penyebabnya? Jika aku tanya ibu pasti ibu gak akan jawab. Siapa ya yang bisa menjawab pertanyaan ku?" Lamun Haikal.


"Lebih baik aku ke rumah paman aja. Siapa tahu aku dapat petunjuk. Ibu gak kasih tahu. Gak apa. Tapi aku akan mencari tahu sendiri kebenarannya. Masih pukul 20.22 Wib. Sepertinya paman masih nonton tv ni jam segini," tandasnya mengambil jaket hitam di atas meja belajarnya.


Ia keluar kamar. Menutup pintu kamarnya secara perlahan. Lalu ia cepat-cepat berjalan menuruni tangga. Ia berhasil keluar rumah tanpa ketahuan oleh ibunya. Di luar rumah, ponsel Haikal berdering. Ia mengambil ponselnya yang berada di kantong celananya.


"Hah Kartika? Ada apa dia nelpon jam segini. Hah mending gak usah diangkat," ucapnya mengabaikan panggilan dari Kartika.


Dia berjalan menyusuri lorong rumah pamannya. jalannya agak tergesa-gesa karena khawatir ibunya akan mengetahuinya jika tahu ke rumah pamannya untuk menanyai soal masa lalu ibunya. Di lorong yang agak gelap dengan cahaya lampu yang tak begitu terang ia menengadah dan sedikit canggung berjalan sendirian.


Haikal menatap rumah-rumah yang tak ada satu pun terbuka. Semuanya tertutup. Lalu ia memandang ke jalan yang lurus. Di jalanan itu ia melihat sebuah sepeda ontel. Terparkir di tengah jalan yang menghambat jalannya. Ia melirik ke sekelilingnya. Memastikan pemilik sepeda itu. Tetapi tak ada siapapun di sana. Angin yang kian berhembus kencang mulai meniup rambut Haikal yang rapi. Ia segera memindahkan sepeda itu ke pagar rumah yang di sebelah kirinya.


Ketika ia selesai memindahkan sepeda itu, pagar rumah itu terbuka. Ia terheran sambil mendekati pagar itu. Ditatapnya ke rumah bewarna putih itu. Ia tak menemukan siapa pun juga. Haikal berfirasat bahwa pagarnya pasti belum dikunci sehingga angin yang kencang membuat pagarnya terbuka sendiri. Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah pamannya.


Ia telah berjalan melewati rumah putih yang pagarnya terbuka sendiri tadi. Setelah Haikal pergi jauh, ada seseorang yang telah berdiri lama di pagar itu. Ia memakai jubah hitam dengan topi kerucut yang terbuat dari bahan wol. Haikal tak melihatnya yang sedari tadi memperhatikannya memindahkan sepeda ontel itu.


Dia tersenyum sangar menatap Haikal yang telah jauh berjalan. Setelah itu orang yang misterius tersebut naik ke sepeda ontel. Ia bersepeda sambil bersiul menyusuri jalanan bagai terbang ke angkasa. Siulannya begitu kuat terdengar hingga Haikal berhenti berjalan. Mencari sumber siulan itu.


"Kenapa dari tadi ada aja keanehan? Hah mungkin saja tadi orang sedang lewat. Mungkin dia sedang bahagia jadi bersiulnya pun makin keras," pikirnya dengan kembali melanjutkan perjalanannya.


"Kemana sih paman? Apakah semua orang sudah tidur? Tapi masih jam sembilan. Awal banget tidurnya," ucap melihat pintu terbuka.


"Sepertinya itu paman. Syukurlah paman belum tidur," tandasnya melambaikan tangan ke pamannya.


"Haikal? Masuk-masuk nak!" Ucap Usman membuka gerbang.


"Kita duduk di pondok ini saja paman ya!" Tunjuk Haikal ke pondok yang di teras rumah Usman.


"Kenapa gak masuk ke dalam aja nak? Banyak nyamuk duduk di luar. Lagian udah malam gak enak duduk di luar."


"Sebentar aja kok paman," bujuk Haikal dengan lembut.


Usman pun setuju dan duduk bersama Haikal di pondok itu.


"Ada apa nak? Kenapa kamu gak kabari mau kemari?"


"Maaf paman mengganggu waktu paman. Ini penting banget paman."


"Gak apa-apa kok nak. Apa yang penting itu nak? Apakah ibumu sakit?"


"Tidak. Ibu baik-baik aja paman. Masalahnya adalah ayah paman."

__ADS_1


"Kenapa dengan ayahmu? Apa kamu mendapatkan kabar baru?" Tanya Usman penasaran.


"Ayah aku lihat ada di hotel Sasaki. Ternyata selama ini ayah bersembunyi dari kita semua. Dia di sana paman ketika aku ada urusan kerja."


"Alhamdulillah kamu telah menemukan ayahmu Haikal. Terus apa kata ayahmu? Sekarang dia sudah kembali?"


"Dia tidak berkata apapun selain berlari menghindari aku paman," ucap Haikal tertunduk.


"Ternyata kekesalannya pada Herlina masih membekas hingga anaknya sendiri pun ia jauhi," gumam Usman menatap wajah Haikal dengan iba.


"Aku gak ngerti dengan situasi yang terjadi paman. Apa yang membuat ayah menghindari kami? Ayah begitu membenciku dan juga Debi," raut wajahnya pasi.


"Apa yang kamu katakan nak? Kenapa kamu menjadi selemah ini? Bukankah Haikal itu kuat dan cerdas? Kenapa kamu gak berusaha saja membuat ayahmu menerimamu dan adikmu? Kamu pasti bisa meluluhkan hati ayahmu.


"Paman tidak segampang itu. Aku tahu ayah begini pasti ada sebabnya. Aku bisa merasakan dari tatapannya, tindakan serta sikapnya yang dingin kepada ku. Sepertinya ayah sangat marah pada ibu."


"Kenapa kamu berkata seperti itu Haikal?" Tanya Usman menerka-nerka firasat Haikal.


"Paman tahu sesuatu kan? Katakan padaku paman. Ayah menjadi seperti ini karena ibu kan? A-apa yang dilakukan ibu hingga ayah meninggalkan kami paman?" Tanya Haikal terbata-bata.


"Paman..." ujarnya masih bingung bicara atau tidak.


"Katakan saja paman. Aku sudah siap mendengarkan karena dulu aku masih kecil. Aku belum paham urusan orang dewasa yang rumit. Sekarang paman jangan khawatir. Aku siap mendengarkan penyebab ayah meninggalkan kami. Apapun itu aku akan mencoba tegar paman," pinta Haikal berjanji.


"Nak ini sudah sangat lama terjadi. Paman pun tahu dari ibu kamu. Paman menyimpan rahasia ini karena ibu kamu yang meminta paman untuk tutup mulut."


"Aku gak akan bilang pada ibu tentang masalah ini paman. Aku janji gak akan kasih tahu ibu kalau paman yang memberi tahu aku."


Usman menatap Haikal dengan perasaan keliru. Baginya rahasia tetaplah rahasia hingga Herlina sendiri yang mengatakan sendiri kebenarannya. Ia juga harus tetap amanah dengan janjinya kepada Herlina untuk tidak memberi tahu Haikal atau pun Debi. Ia mencari alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Haikal. Beberapa menit setelah ia berpikir. Ia menemukan ide untuk menolak bicara pada Haikal. Ia mengatakan pada Haikal ingin menyuruh putri kecilnya tidur dulu karena jam telah menunjukkan hampir pukul sebelas. Haikal pun percaya. Haikal menanti pamannya dengan sangat lama di luar. Ia sesekali juga melihat ke pintu rumah. Pamannya juga belum kembali. Lalu ia hendak masuk ke rumah pamannya, namun ketika ia lihat lagi pintu rumah pamannya, pintunya sudah tertutup.


Haikal menarik napas panjang. Ia menduga bahwa pamannya sengaja menghindarinya agar tak mengatakan fakta tentang kebohongan ibunya. Ia menatap ke arlojinya sambil menggeleng tak percaya bahwa pamannya lebih memilih menyembunyikan rahasia itu ketimbang mencari solusi untuk masalah yang terjadi. Ia pulang ke rumahnya dengan berat hati. Ditatapnya lagi rumah pamannya yang tak bisa diajaknya kerja sama. Lalu ia pergi dengan langkah yang sigap.


Ia masih berpikir tentang cara mencari informasi yang sebenarnya. Di jalan itu ia berjalan dengan makin perlahan. Ia menendang kemasan kotak susu sebagai bentuk kekesalannya. Tak sengaja kemasan kotak susu itu mengenai seseorang yang berjubah hitam tadi. Haikal tak menyadarinya. Ia terus berjalan dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke kantong celananya.


"Nak jalannya tolong hati-hati. Jangan melempar kemasan kotak susu lagi pada orang di jalan ya nak," tegur orang misterius itu menepuk bahu kanan Haikal.


Sontak Haikal terkaget. Ia menoleh sambil berkata, "Maaf Bu!"


"Kemana ibu itu?" Ujar Haikal lagi melihat jalanan yang kosong.


Ia tak menemukan siapapun kecuali sepeda ontel yang berada di tengah jalan tepat di rumah putih yang ia lewati ketika pergi ke rumah pamannya tadi. Haikal tercengang. Perasaannya makin tak beres. Ia mendekati sepeda ontel itu. Menaruhnya ke pagar di depan rumah itu lagi dan berkata, "sepeda ini selalu saja terparkir sembarangan," ucapnya yang tak sengaja menatap sebuah foto yang berada di lapangan rumah itu.


Cahaya lampu yang redup membuat Haikal tak dapat melihat dengan jelas foto itu. Ia memberanikan diri masuk ke rumah itu. Mengambil foto sebesar telapak tangan. Ditatapnya foto itu dengan menaikkan alisnya. Diusap-usapnya lagi foto itu karena kotor terkena pasir.


"Aduh gak jelas banget. Cahaya lampunya gak terang. Lebih baik aku membawanya ke rumah," ucapnya keluar dari rumah itu.


Perempuan misterius itu melihat Haikal dari jendela. Ia tersenyum karena Haikal membawa foto yang pastinya dapat membantunya menjawab pertanyaannya tentang masalah keluarganya. Sesampai di rumah, Herlina telah siap-siap menanyai Haikal yang pulang larut malam. Herlina menghampirinya sambil membawa senter.


"Ibu pasti sudah tidur. Aku pulang tepat waktu," kata Haikal lega.


Cahaya senter mengarah pada wajah Haikal. Haikal memicingkan matanya. Sementara Herlina bertepuk tangan atas sikap Haikal yang pergi dan pulang secara mengendap-endap. Haikal yang tersadar bahwa ibunya telah berada dihadapannya langsung berkata bahwa ia sedang ada urusan kantor tadi. Ia juga menunjukkan ponselnya yang baru saja dihubungi oleh Kartika sebelumnya.

__ADS_1


Herlina percaya. Namun ia memberikan nasehat kepada Haikal untuk selalu jujur padanya dan jangan pergi tanpa seizinnya lagi. Haikal mengangguk setuju dan pamit masuk ke kamarnya. Sedangkan Herlina mondar-mandir karena khawatir Haikal kenapa-kenapa selama di luar sana. Ia takut Haikal bertemu dengan perempuan yang seram itu. Semua warga kampung menganggapnya sebagai dukun licik. Dukun itu sudah lama meninggal karena tertabrak truk yang mengangkut buah-buahan dan sayur-sayuran menuju lorong rumah Usman. Peristiwa itu sudah sangat lama berlalu semenjak kepergian ayahnya.


"Alhamdulillah Haikal baik-baik saja. Kalau begitu aku kembali tidur lagi," ucap Herlina merasa tenang.


__ADS_2