
Debi terdiam menatap lautan yang bergulung. Ia berdiri di bibir pantai dan sesekali memejamkan mata seraya menarik napas panjang. Di pantai itu tak ada seorang pun yang datang. Hanya Debi sendiri yang berani datang ke tempat itu. Ia lalu merentangkan kedua tangannya dengan mata yang masih terpejam. Gaunnya menari-nari bersama angin yang bertiup dengan lembut. Rambutnya juga ikut andil menikmati udara yang begitu sejuk.
Debi lalu mundur melangkah sekitar lima langkah. Ia membuka matanya sambil berkata, "Kenapa keindahan alam ini tak dapat ku saksikan dengan orang yang ku cintai? Kenapa? Kenapa?" Lirihnya.
"Hahhhh!" Erang Debi seraya menendang air pantai.
Ia terduduk di bibir pantai dengan kedua tangannya memegang keningnya. Tangisannya mulai terdengar. Ia menangis sekencang-kencangnya hingga dirinya terbawa ombak deras. Ia terus-menerus menangis menatapi dirinya yang malang. Kemudian ia berenang hingga ke tengah laut. Ia merasakan dirinya yang begitu menyedihkan tanpa ayah dan juga kekasih hatinya. Tangisannya itu tak henti-hentinya membuatnya makin kehilangan semangat hidup. Cuaca yang makin buruk pun ikut merasakan kegundahan yang dialami oleh Debi.
"Vikram!" Gumamnya terus berenang.
Angin yang tadinya bertiup lembut, kini sudah bertiup kencang. Begitu kencangnya, hingga ombaknya pun bergulung dengan cepat. Airnya makin besar tak terkendali. Debi tetap juga berenang. Ia tak menghiraukan kondisi cuaca yang ekstrim. Dirinya yang sudah kehilangan akal membuatnya terus menyusuri lautan pantai dengan perasaan berkecamuk.
"Debi kemana ya? Aku lanjut mencarinya saja. Cuaca juga makin gelap ni!" Ujar Haikal masuk ke mobilnya.
"Jessi kamu tak apa-apa kan nak? Sini nak ibu obati kakimu. Makanya lain kali jangan lari-lari di jalan besar lagi ya nak!" Ucap Zoya mengoleskan Betadine di kedua lutut anaknya.
"Maafkan Jessi ya ma!" Ucap Jessi menangis.
"Iya sayang. Kamu janji ya jangan main di jalan lagi seperti tadi."
"Iya ma."
"Ya sudah kamu istirahat di kamar aja ya nak. Mama mau lanjutin memasak dulu. Ingat jangan kemana-mana. Kalau kamu perlu sesuatu telpon aja mama oke!"
"Sippp ma!" Jawab Jessi.
"Aduh kemana lagi aku cari si Debi?" Tanya Haikal bingung.
"Hei tolong! Mbak! Pak! Tolong!!!" Teriak perempuan ABG yang bajunya basah kuyup.
"Kenapa tu?" Tanya Haikal memperhatikan kilat yang datang sesekali.
Perempuan ABG itu lari ke pondok kecil di depan pantai Soucan. Ia menatap kendaraan yang berlalu lalang. Tidak ada satu pun yang berhenti untuk membantunya. Haikal yang berada di seberangnya, turun dan menyebrangi jalanan yang banyak dilalui kendaraan. Ia menghampiri perempuan ABG itu.
"Kamu kenapa dik? Apakah kamu butuh bantuan?" Tanya Haikal.
"Bang tadi ada seorang perempuan yang masuk ke pantai Soucan. Dia sudah lama di sana. Saya memperhatikannya dari tadi di sini. Dia tampak frustasi dan seperti sudah gak ada semangat hidup. Padahal pantai Soucan sudah ditutup. Tapi dia tetap menerobos masuk ke Pantai Soucan. Cuaca yang sudah buruk pun tak membuatnya kembali keluar dari pantai. Apakah dia baik-baik saja di sana?"
"Apakah itu Debi?" Gumam Haikal.
"Tolong dia bang! Mungkin sesuatu terjadi padanya," pinta perempuan ABG itu.
"Apakah perempuan yang kami lihat itu seperti di foto ini?" Haikal menunjukkan foto Debi.
"Iya benar bang. Abang kenal dia? Sepertinya dia sudah merasa sangat kesepian bang. Makanya dia masuk ke pantai Soucan. Pantai angker!"
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya dik. Kamu tunggu di sini saja. Abang akan masuk ke dalam," ucap Haikal berlari menerobos hujan deras.
"Aku sudah dimana ni? Kenapa aku berenang sendirian?" Gumam Debi menatap lautan luas.
Gulungan ombak terus mendorongnya hingga ia tak mampu lagi berenang. Semakin ia melawan gelombang laut, badannya makin terbawa jauh dari daratan. Ia tampak panik hingga terus-menerus mencari pegangan untuk bertahan. Batang kayu yang ada di hadapannya pun tak bisa menjadi tumpuannya untuk bertahan. Ia tak bisa menghirup udara lagi. Dirinya tenggelam ke lautan yang tiada seorang pun di sana. Ia berteriak minta tolong dengan sesekali berusaha untuk menaikkan kepalanya ke dasar lautan. Tapi tak lama dari situ, ia tak sanggup lagi bertahan. Secepat kilat dirinya tenggelam lagi.
Haikal yang baru saja tiba di Pantai Soucan tak melihat siapapun di sana. Ia berteriak-teriak memanggil Debi. Menyisir pantai dengan berlari-lari menyebut nama adiknya. Ia tak lelah mencari hingga dirinya menatap ke gelombang yang begitu tinggi. Tak ada petunjuk mengenai Debi. Ia termenung di tengah pantai. Pikirannya mulai kalut. Segala hal mulai terlintas di pikirannya. Terakhir ia berteriak lagi memanggil nama adiknya. Badannya yang sudah basah kuyup tak lagi dihiraukannya.
"Debi! Kamu dimana?" Teriaknya menatap ke sekitar pantai.
"Apa yang harus ku lakukan? Debi tak ada di sini. Tapi kata adik itu Debi di sini atau jangan-jangan....? Debi!" Teriaknya lagi berjalan ke lautan dengan langkah cepat-cepat.
Haikal menyusuri lautan dengan tangisannya yang memecah keharuan. Ia terjatuh di lautan yang sudah setinggi pinggangnya. Ia menghentikan pencariannya karena cuaca tak bersahabat. Ia kembali ke pantai dengan perasaan berkecamuk. Lalu ia menelpon polisi mengatakan peristiwa yang dialami adiknya. Namun saat itu polisi tak juga kunjung datang. Mungkin karena cuaca yang sangat ekstrim.
Hari itu hujan lebat disertai petir. Pemadaman listrik juga terjadi. Jalanan juga sepi. Haikal duduk di pantai itu dengan tatapan kosong. Perempuan ABG itu menghampirinya.Ia memberanikan diri menyusul Haikal karena sudah hampir dua jam ia tak keluar pantai. Ia mendekati Haikal. Menatapnya dengan wajah iba.
"Bagaimana bang? Apakah kamu menemukannya?" Tanya perempuan ABG itu hati-hati karena takut salah berbicara.
Haikal menoleh ke perempuan ABG itu. Ia sebenarnya sangat sedih. Namun karena hujan, jeritan tangisnya tak bersuara. Hanya ekspresi wajah khawatir yang tergambar di rona wajahnya.
Perempuan ABG itu kemudian ikut terdiam. Ia berpamitan kepada Haikal untuk pulang. Haikal pun menjawab dengan mengatakan, "Saya akan mengantarkan kamu pulang. Ayo kita pergi!"
"Tapi bagaimana dengan orang yang Abang cari itu? Saya pulang sendiri saja."
"Saya sudah menghubungi polisi."
Haikal menatap lautan yang bergulung dengan cepat. Ia berharap adiknya tak tenggelam di lautan itu. Kemudian ia pun pergi mengantarkan perempuan ABG itu ke rumahnya. Selama di perjalanan, ia terus menghubungi polisi. Mereka hanya menjawab dengan santai bahwa mereka akan mencari Debi jika Debi menghilang dalam 24 jam. Mendengar hal itu Haikal emosi. Ia menghentikan mobilnya dan memukulkan kepalanya ke setir mobilnya.
"Tolong tetap tenang bang. Saya yakin masalahmu akan segera terselesaikan."
"Tapi mereka sedikit pun tak ada memahami kondisi saya," ujarnya melajukan mobil.
"Semoga tidak terjadi apapun kepada kakak itu ya bang," harap perempuan ABG itu menunjuk ke rumah kecil yang berada di pinggir jalan.
"Ini rumahmu?" Tanya Haikal menghentikan mobilnya.
"Iya bang. Terima kasih telah memberi saya tumpangan. Semoga semuanya baik-baik saja. Polisi akan mencari kakak itu. Maka semua akan baik-baik saja," ucapnya menenangkan Haikal.
Haikal tersenyum dan mengucap terima kasihnya juga.
...****************...
Keesokan harinya Herlina berbicara kepada Haikal. Seharian ia tak mendengar kabar tentang Debi. Haikal juga tak ada pulang hingga malam kemarin. Haikal pulang ke rumah subuh. Herlina yang menatapnya semrawut membuatnya makin cemas. Setelah Haikal masuk ke rumah, Herlina memintanya untuk mandi dan makan. Tetapi Haikal hanya mematung di depan pintu. Ia menatap ibunya yang terlihat gelisah tentang Debi.
"Mana Debi? Apakah kalian tidak pulang bersama?"
__ADS_1
"Haikal kamu tak berhasil membawanya pulang?" Tanya ibunya lagi.
"Saya tidak menemukan Debi Bu. Saya sudah mencarinya kemana-mana. Tapi saya tak menemukannya," ucap Haikal dengan suara gemetar.
"Apa? Jadi Debi seharian ini tidak ada bersama mu? Kemana dia? Ayo sekarang kita cari Debi nak. Kamu siap-siap terus. Ibu akan menunggumu di teras," ucap Herlina pergi ke teras rumah.
Haikal melangkah mengejar ibunya.
"Bu Debi tak akan kembali lagi!" Ucap Haikal terbata-bata.
"Kenapa kamu mengatakan itu? Dia pasti kembali. Ibu yakin. Sudah sekarang kamu ganti baju aja sana. Ibu tunggu di sini."
"Debi tenggelam di laut Bu."
"Kamu bercanda kan Haikal? Debi itu pandai berenang. Gak mungkin dia tenggelam," ucap Herlina tak sanggup menatap bola mata Haikal yang sudah berkaca-kaca.
"Saya emang belum punya buktinya Bu. Tapi ada orang yang melihat Debi pergi ke pantai itu. Apalagi kemarin hujan lebat dan cuacanya sangat buruk," jelas Haikal dengan panik.
"Siapa yang mengatakan padamu? Mungkin dia salah orang."
"Tidak Bu. Dia itu memang melihat Debi. Aku sudah kasih lihat foto Debi padanya. Ia langsung menjawab bahwa Debi lah yang masuk ke Pantai Soucan sendirian."
"Apa? Pantai Soucan? Itu pantai angker nak. Pantai itu sudah lama ditutup. Kenapa dia ke sana?" Ujar Herlina mondar-mandir.
"Aku gak tahu Bu. Aku udah hubungi polisi. Mereka bilang akan mencari Debi, jika Debi hilang selama 24 jam," ungkap Haikal.
"Tidak. Itu terlalu lama. Debi dalam bahaya. Ibu akan mencarinya ke Pantai Soucan," ujar Herlina berlari mencari taksi.
"Tunggu Bu! Aku akan menemani ibu," kejar Haikal.
Mereka pun pergi bersama-sama ke Pantai Soucan. Herlina terus berdoa untuk keselamatan Debi. Ia meminta Haikal membawa mobil dengan cepat agar segera sampai ke Pantai Soucan. Haikal mendengarkan ibunya. Mereka sampai ke Pantai Soucan dengan cepat. Herlina turun dari mobil. Ia bergegas mencari Debi di pantai Soucan. Di sana ia melihat pantai yang luas itu sangat sepi dan bikin merinding. Ia mulai menangis sambil memanggil Debi. Haikal datang menemui ibunya. Ia memeluk ibunya dan berkata, "Ibu yang sabar ya. Kita akan menemukan Debi."
"Pantai ini bahaya nak. Kok Debi mau pergi ke sini. Entah apa yang merasuki pikirannya hingga ia memilih tempat ini untuk menenangkan pikirannya."
"Maafkan aku ya Bu. Ini salahku. Coba saja aku bisa berbicara baik-baik padanya dan dapat menahannya agar tidak pergi. Pasti dia sudah bersama kita sekarang."
Herlina menangis di pelukan Haikal. Ia tak kuasa menatap wajah Haikal karena juga merasa bersalah. Di dalam hatinya ia teramat kesal. Ia kesal akan masalah hidupnya. Akibat ulahnya suaminya pergi. Kemudian Haikal pun membencinya dan sekarang Debi pun menghilang. Herlina benar-benar tak tahu lagi berbuat apa untuk mencari Debi. Ia melepaskan pelukan Haikal dan berlari ke lautan yang sudah tenang.
"Ibu!" Teriak Haikal menggenggam tangan Herlina.
Tak beberapa lama, Herlina menatap sebuah kalung milik Debi. Ia melihat kalung itu tersangkut di patahan batang pohon yang batangnya sudah keropos. Ia mendekati patahan batang pohon itu dengan berjalan cepat-cepat. Haikal mengikutinya.
"Ada apa Bu?" Tanya Haikal bingung.
Herlina tak menjawab pertanyaan Haikal. Ia mengambil kalung milik Debi. Kalung yang berinisial huruf 'D' itu ia tatap dengan serius. Kemudian ia menangis lagi seraya berkata, "Debi! Kamu dimana anak ku sayang!"
__ADS_1
"Itu kan kalung Debi Bu!" Ucap Haikal mengambil kalung itu dari genggaman Herlina.
"Debi di pantai ini Haikal. Ini kalungnya. Ayo kita cari dia nak!" Pinta Herlina tersedu-sedu.