Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Tak Bisa Melupakan Mu


__ADS_3

"Kamu mau kemana Alfi?"


"Mau ke acara sidang teman ma. Aku pergi dulu ya!"


"Terus toko siapa yang buka?"


"Kan Cika ada ma. Dia yang akan mengurus toko."


"Mama akan ke toko juga nanti. Mama gak percaya samanya."


"Iya terserah mama aja. Aku pergi dulu ma."


"Alfi! Tolong kamu antar papa ke rumah Pak Yoman. Motor papa rusak. Oh ya kamu bisa gak temani papa juga ke Stasiun kereta api. Di sana sedang diadakan perbaikan jalan. Jadi papa butuh kamu untuk desain jalan yang bagus seperti kota besar."


"Tepat sekali itu pa. Itu kan keahlian Alfi!"


"Aduh ma, pa, aku gak bisa. Aku ada urusan ni."


"Jam berapa emang urusanmu itu?" Tanya Usman.


"Pagi ni lah pa!"


"Yaudah urusan perbaikan jalan itu nanti sekitar jam sepuluh."


"Aduh papa!"


"Udah papa gak mau tahu. Ayo kita berangkat sekarang. Kamu antar papa ke tempat Pak Yoman."


"Hei Vikram! Doain aku ya. Aku masuk dulu!" Ujar Radit masuk ke ruang sidang.


"Ya Radit!"


Vikram duduk di lantai berdempetan dengan orang-orang yang juga mendukung teman mereka masing-masing. Ia sampai saat itu juga termenung. Pikirannya masih kepada mantan kekasihnya itu. Ia menyalahkan dirinya karena tak mempedulikan Debi ketika itu. Orang-orang disekitarnya berbicara kuat-kuat karena dosen mereka sangat pintar dalam bertanya mengenai skripsi mereka masing-masing.


"Vikram! Si Radit mana?"


Vikram tak menjawab.


"Kenapa nih anak? Berkhayal atau bagaimana?" Gumam Alfi.


"Woi Vikram?" Teriak Alfi ke telinga Vikram.


"Ma-af kan aku Debi!" Jawabnya tersentak.


"Hah? Sadar woi! Aku Alfi," ucap Alfi yang melihatnya kebingungan.


Vikram tak menatap Alfi. Dia berjalan lurus dan tak sengaja menyenggol bahu Alfi. Dia terus berjalan tanpa menoleh. Alfi keheranan. Ia pun bingung harus menanti Radit dimana karena ia tak tahu ruangannya.


"Ada apa sama anak itu? Dia memanggil nama Debi padaku. Itu artinya dia sedang memikirkan mantannya. Wah gila tu anak. Cintanya luar biasa!" Alfi masih memperhatikannya dari kejauhan yang berjalan lurus hingga keluar dari Fakultas Teknik.


"Gila tu dosen pertanyaannya bikin kepala ku meledak!"


"Radit!" Teriak laki-laki yang di depan Alfi.


"Radit?" Gumam Alfi menoleh kepada laki-laki yang memanggil nama Radit.


"Selamat bro. Kelar juga skripsi mu!"


"Kelar si kelar Ali. Tapi bukan main otak ku diperas untuk menjawab pertanyaan mereka."

__ADS_1


"Iya itu Radit," gumam Alfi berjalan menemui Radit yang berada di depan sidang.


"Kan yang penting sudah selesai sidang mu Radit. Jadi bentar lagi wisuda dong," ucap Ali seraya memberikan kado padanya.


"Romantis banget Lo Ali! Pakai Bungkus kado bunga segala!" Ucap Radit memperhatikan bungkus kado bermotif bunga kecil-kecil itu.


"Radit! Ni dari aku."


"Wah datang juga Lo Alfi. Thanks friend. Lo emang teman sejati gue. Btw mana Vikram?"


"Aku gak tahu dia kemana. Tapi tadi aku lihat dia keluar dari sini. Entah kemana tu anak!" Ujar Alfi.


"Mungkin dia cari kado buat aku! Dia kan suka gitu. Kasih kejutan," ucap Radit tertawa.


"Gimana nilai skripsi mu Radit?" Tanya Ali.


"Nilaiku masih didiskusikan sama dosen."


"Biar aku tebak, pasti nilai mu anjlok!" Ledek Alfi tertawa.


"Ya nilai dia pasti anjlok karena dia kan pemalas. Tahunya olahraga mulu dan football terus. Badan sudah bagus, masih juga olahraga," ucap Ali terpukau dengan postur badan Radit yang ideal seperti TNI.


"Kalian berdua kompak banget ledekin aku ya. Walaupun sikap ku yang malas belajar, tapi aku bisa sidang. Kalian tunggu aja nilai ku nanti."


"Radityo Idris Nauli Simamora!" Panggil salah satu dosen dari ruang sidang.


"Nah itu nama ku sudah dipanggil," ucap Radit dan masuk ke ruang sidang.


"Si Radit percaya diri banget mendapatkan nilai tinggi. Tebakan ku pasti benar. Dia akan dapat nilai di bawah standar kelulusan," ucap Ali tertawa menatap Alfi yang juga tersenyum.


"Itu Radit!" Kata Alfi.


"Jangan bikin kami penasaran. Cepatan katakan nilai mu!" Suruh Ali.


"Nilai ku A+"


Ali dan Alfi saling tatap. Mereka berdua tak menyangka teman mereka yang sering bolos kuliah, jarang ngerjain tugas, dan pemalas itu bisa mendapatkan nilai sebanding dengan Mahasiswa lainnya yang pintar. Radit terbahak-bahak menatap ekspresi Ali dan Alfi.


"Pasti kamu bercanda kan Radit. Gak mungkin kamu bisa mendapatkan nilai A+."


"Teman mu senang. Kok kamu justru cemas Ali? Aneh kamu. Semestinya kamu tu kasih ucapan selamat, tepuk tangan atau traktir aku."


"Selamat Radit!" Ucap Ali.


"Ayo kita makan di restoran Angkasa sekarang," sambung Alfi.


"Wah restoran Angkasa! Itu kan restoran mahal Alfi dan restoran orang kaya."


"Iya. Aku tahu. Kan di sana makanannya enak-enak."


"Yaudah kita pergi sekarang!" Ajak Radit menepuk bahu Ali dan Alfi.


"Sorry ya Radit. Aku gak bisa," ucap Ali.


"Udah kamu tenang saja. Alfi yang traktir. Iya kan Alfi?"


"Iya Radit. Kamu dan Ali boleh makan sepuasnya di sana. Oh ya si Vikram kok gak kembali juga sih?"


"Iya juga ya. Kenapa dia lama sekali beli kado untuk ku?"

__ADS_1


"Percaya diri amat kamu Radit. Barangkali dia udah pulang atau ada urusan lain," jawab Ali.


"Gak mungkin dia ninggalin aku. Dia kan janji untuk nunggu aku selesai sidang."


"Yaudahlah kita pergi tanpa Vikram saja," ucap Alfi melangkahkan kakinya duluan.


"Tu anak udah berjasa banget buat aku. Gak mungkin kan aku makan enak, sementara dia gak merasakannya. Hm aku cari dia dulu aja deh," gumam Radit mengejar Ali dan Alfi.


"Eh aku cari Vikram dulu ya, Alfi, Ali!"


"Kita cari sama-sama aja kalau gitu," ucap Ali.


"Kita ke kantin aja dulu. Mana tahu dia di sana," usul Ali.


"Aku sangat menyesal karena mengabaikannya. Emang sih aku tak suka lagi padanya. Tapi karena sikapku semuanya kacau," gumam Vikram yang masih duduk di motornya.


"Di kantin dia tak ada juga. Kemana sih dia?" Tanya Radit melihat ke sekelilingnya.


"Dia tadi manggil aku dengan nama Debi. Apakah dia pergi ke makam Debi?" Pikir Alfi.


"Kita cari di mana ya?" Tanya Ali.


"Kita ke perpustakaan ajalah kalau gitu. Barangkali dia di sana," usul Radit.


"Bagaimana kalau dia ke makam Debi?" Tanya Alfi.


"Gak mungkinlah. Dia kan gak mencintai Debi. Lagian Vikram juga mana tahu si Debi dimakankan dimana," ujar Radit.


"Ayo kita cari ke perpus saja yok!" Ucap Ali.


"Lebih baik aku pulang saja. Ke perpustakaan pun hanya akan membuat ku makin melamun. Eh tunggu dulu! Aku sampai lupa. Si Radit kan sidang tadi. Aku harus kembali ke sana," ucapnya memutar arah motornya ke kampus.


"Kalau dia gak di sana, kemana lagi kita cari si Vikram?" Keluh Ali.


"Entahlah. Mungkin dia di rumahnya," ucap Radit menatap Vikram dari kejauhan.


"Vikram!" Teriaknya lagi sambil membunyikan klaksonnya.


Vikram menoleh sekilas. Lalu memutar motornya mengikuti Radit, Ali, dan Alfi yang melaju keluar kampus. Mereka bertiga bergantian menanyai Vikram yang tak terlihat dari tadi. Vikram mengatakan bahwa ia tadi ada di perpustakaan. Ia kelupaan tentang sidang Radit hingga berada lama di sana. Radit tampak kesal. Ia mengomeli Vikram karena tak ada di acara sidangnya.


"Maafkan aku Radit. Tapi aku punya kado buat mu," ucapnya tersenyum.


"Wah apaan tu!"


"Nanti aja kalian ceritanya. Kita lagi di jalan sekarang. Bahaya kalau kita berempat berbaris gini bawa motor," nasehat Ali.


"Oh iyalah. Sekarang kita kemana?" Tanya Vikram.


"Kita akan pergi ke restoran Angkasa," teriak Alfi di sudut jalan sebelah kiri.


"Iya. Aku duluan ya!" Ucap Radit melajukan motornya dengan kencang.


"Itukan tempat berkelas Alfi!" Ucap Vikram.


"Si Alfi yang akan mentraktir kita," jawab Ali yang melewati Alfi dan Vikram.


"Wah hebat tu. Aku duluan Alfi!" Ujar Vikram yang memacu Radit di barisan depan.


Jalanan yang sepi membuat mereka saling berpacu seperti balapan.

__ADS_1


__ADS_2