Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Lanjutan Penyelidikan


__ADS_3

Di balkon kamar seseorang sedang termenung. Ia membayangkan semua peristiwa yang menimpanya. Tak ada secuil keadilan yang menyertainya. Entah sudah berapa lama ia termenung di sana. Dilihat dari bajunya, itu adalah baju saat ia pakai ketika diusir dari desa Unicorn. Dirinya juga tampak kumal akibat duduk dan terkadang terseret di tanah. Ada juga bekas cakaran di pergelangan tangannya. Ia tak pernah berhenti menangis mengingat dirinya dan keluarganya dipermalukan. Rasa ketakutan itu membuatnya tak berani untuk berbaur pada orang-orang, jarang tersenyum, tidak ada semangat menjalani hidup, dan lebih mirisnya lagi terkadang ia mau menjerit tiba-tiba.


Seseorang yang memperhatikannya dari pertama bertemu hingga sekarang membuatnya ikut cemas. Ia hendak memotivasinya. Tapi ia gengsi karena ia tak biasa berbicara pada perempuan yang baru ia kenal. Jadi ia memutuskan untuk mengawasinya saja dari kejauhan.


"Naoki! Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah mau berbicara?"


"Aku gak tahu Bu! Aku tidak memperhatikannya."


"Tapi tadi kamu ada di kamarnya. Apa kamu tidak melihatnya?"


Naoki tidak menjawab.


"Naoki tak pernah berubah. Selalu saja cuek dengan keadaan."


"Tante apakah kak Shizuka sudah mau bicara?"


"Eh Zeexsa. Entahlah. Ayo kita hampiri dia."


Mereka masuk ke kamar Shizuka. Di saat Zeexsa mendekati kakaknya, kakaknya menjerit dan mencoba menjauhi Zeexsa. Hal itu membuat Zeexsa makin bersedih. Ia mencoba menenangkan kakaknya. Tetapi Shizuka terus berteriak-teriak agar tidak diganggu.


"Pergi!" Jangan ganggu saya! Saya tidak ada mengambil atau merebut laki-laki mu. Saya serius. Saya juga terus menyulam. Semua itu atas usaha dan kerja keras saya sendiri. Tolong jangan sakiti saya," ucap Shizuka menangis histeris.


Zeexsa terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Kejadian itu membuat kakaknya berubah 360 derajat. Bahkan kakaknya juga tak mengenali dirinya sebagai adiknya. Ia terus melihat kakaknya yang lepas kendali. Ia mengajak kakaknya untuk bicara. Tapi Shizuka terus berkata hal-hal yang membuat Zeexsa makin khawatir. Pembicaraan kakaknya terus mengenai masalah di desa Unicorn. Masalah itu telah memenuhi pikiran kakaknya. Tak sanggup dengan yang dilihatnya, Zeexsa pergi meninggalkan kakaknya sambil menahan tangisnya.


Ibunya Naoki mengikuti Zeexsa.


"Nak kamu yang sabar ya. Siapa sih yang tega memperlakukan kalian begini? Sampai Shizuka menjadi trauma. Barangkali Tante bisa membantu."


"Saya takut mengatakannya tante. Nanti masalahnya makin besar."


"Jangan takut. Katakan saja nak. Jika kamu tidak menceritakannya malah bakal menjadi beban untukmu dan juga kakakmu."


"Tapi saya takut!"


"Tante akan melindungi kalian. Ayah Naoki adalah kepala desa. Beliau dikenal jujur, amanah, tegas, dan adil nak. Ayahnya baik sekali tak ada membedakan orang yang memerlukan pertolongan. Kami akan menjamin keselamatan kalian."


Zeexsa pun memberanikan diri untuk menceritakan masalahnya.


"Ini semua karena ibu Herlina. Dia mencaci kakak dan mengadukan ke semua warga bahwa aku dan kakak anak haram," ucap Zeexsa tak sanggup berbicara lagi.


"Astaghfirullah kenapa dia seperti itu nak? Jika kamu tak sanggup berbicara, kamu boleh kok membicarakannya saat kamu sudah siap nak."


"Dia juga menuduh ibuku merebut suaminya dan mengatakan kakakku sebagai perempuan panggilan."


Ibunya Naoki merangkul Zeexsa erat-erat karena tangisnya begitu menyayat hati.


"Mereka menghakimi kami Tante. Kami dimaki, diusir, dipukul, dipermalukan tanpa belas kasih," ucap Zeexsa terisak-isak.


"Ya Allah betapa dalam luka yang kalian terima nak!" Ujar ibu Naoki yang juga ikut menangis.


Di Desa lain ada juga yang memikirkan Shizuka dan Zeexsa. Ia sama dengan Shizuka saat ini. Bukan hanya pikirannya yang berantakan. Tetapi penampilannya juga sangat kacau. Sarapannya tak pernah disentuh. Ia hanya merokok sepanjang hari. Menghabiskan puluhan bungkus rokok untuk menyegarkan otaknya yang telah berasap akibat kehilangan Shizuka.


"Pa bagaimana nasib anak kita? Dia kembali bersikap seperti dulu lagi pa. Apa kita bawa dia ke psikiater saja ya pa?"


"Alfi tidak gila ma. Dia hanya stres."


"Tapi itukan sama saja pa. Mama akan mengajaknya ke psikiater."


"Assalamu'alaikum pak Kades!"


"Waalaikumsalam," jawab Yoman berlari ke pintu utama.


"Eh kamu Naoto," ucap Yoman memeluknya.


"Kamu makin tampan saja!"


"Kamu pintar sekali memuji."


"Itu jujur loh!"


"Alhamdulillah! Mari masuk Naoto. Mama Pak Naoto datang. Tolong buatkan minum ma!"


"Wah Pak Naoto! Sudah lama tak berkunjung. Bagaimana kabarnya pak?" Tanya Mina tersenyum.


"Alhamdulillah baik. Ibu apa kabar?"


"Alhamdulillah seperti yang bapak lihat saya masih diberikan kesehatan sama Allah."


Yoman dan Naoto tersenyum.


"Saya ke dapur dulu ya pak Naoto. Saya bikin minuman. Pasti mau minum teh kan? Gulanya satu sendok saja."


"Hebat istri kamu Yoman dia masih ingat selera saya," ucapnya tertawa.


"Bagaimana tidak ingat. Kamu kan sahabatnya."


"Padahal sudah hampir setahun saya tidak kemari. Kalian masih tetap ramah kepada saya."


"Tentulah kami gak akan lupain kamu. Kamu adalah Kepala Desa yang terpopuler di sepanjang kota ini dan selama Kades sebelumnya memimpin kamulah yang peduli dengan rakyat. Makanya kamu sibuk sekali. Jarang main kemari atau pun ngumpul sama kami."


"Alhamdulillah Yoman. Itu berkat Allah yang telah memberikan nikmat kepada saya. Oh iya Yoman mana anak kamu? Alfi mana?"


"Di kamar."


"Dia gak bosan di kamar? Apakah Alfi baik-baik saja?"


"Dia betah malahan di kamar. Dia galau Naoto."


"Putus cinta?"


"Bukan," jawab Mina membawa dua gelas teh di nampan.


"Lantas kenapa dia galau?"


"Dia begitu karena frustasi saja."


"Kenapa frustasi?"


"Dia tak bisa menolong temannya yang kena bullying warga setempat."


"Bullying? Masih ada bullying di sini Yoman? Kamu membiarkan bullying terjadi tanpa bertindak?"


"Begitulah Naoto! Warga di sini sangat egois. Mereka mendiskriminasi seorang perempuan yang tidak punya kedua orang tua lagi."


"Bagaimana bisa itu terjadi?"


"Panjang Naoto ceritanya," ucap Yoman tak mau membahas masalah itu lagi.


"Terus dimana perempuan itu sekarang?"

__ADS_1


"Entahlah. Terakhir kami berpisah dengannya di stasiun kereta api," jawab Mina.


"Kasihan sekali perempuan itu. Siapa namanya?"


"Shizuka. Dia pergi bersama adiknya Zeexsa."


"Semoga mereka baik-baik saja ya! Meski menurut saya ini akan menjadi luka yang akan terus membekas di memorinya," ucap Naoto seraya meminum tehnya.


"Haikal. Kamu mau kemana?" Tanya Ian yang melihatnya baru keluar ruangan Faiz.


"Saya izin gak masuk kerja Ian. Wait! What happened?"


"Nothing."


"Are you okay?"


"Hei Ian tolong kamu rancang sebaik mungkin persentasi untuk hari ini. Si Alda sudah selesaikan materinya," Ujar Rona memberi flashdisk.


"Kamu gak masuk kerja Haikal?" Tanya Kartika yang membawa beberapa busana terbaru.


"Tidak!" jawab Haikal ketus.


"Why?" Tanya Kartika lagi.


"Ada apa dengannya?" Tanya Ian kepada Kartika dan Rona.


"Aku harus menyewa pengacara untuk mengeluarkan ibu dari penjara. Tapi apa masalahnya hingga ibu bisa dipenjara ya?" Gumam Haikal merasa aneh.


"Heran deh sejak si Alfi pergi dari sini, dia gak ada kabar lagi. Sebenarnya dia udah pulang apa belum sih?"


"Dante kamu masih mikirin anak gak jelas itu. Kenapa kamu peduli banget dengannya?"


"Hello Virgo! Sadar gak kamu itu sedang iri. Secara Alfi adalah ketua geng kita."


"Iri sih iri ya. Tapi iri aku beralasan."


"Ya kamu mau dia gak kembali lagi ke geng kita. Iyakan?"


"Dante jangan ladeni dia. Kamu selesaikan saja tugas kantor mu sana!


"Oh iya makasih Albar. Hampir saja aku lupa ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini."


"Aku sangat kagum tu sama si Dante. Di sini jadi preman, di luar jadi pekerja kantor yang berwibawa."


"Kagum boleh aja. Asal jangan naksir."


"Gila kamu Virgo. Kamu pikir aku gay apa? Masih normal!" Bentak Albar.


Di depan rumah Usman ada sekitar lima orang ibu-ibu berkumpul. Seperti biasa mereka mengeluh tentang kehidupan yang makin pahit. Ada juga yang berkeluh tentang Shizuka dan Zeexsa, dan ada juga yang simpati dengan Herlina. Mereka bergosip dengan serius. Tak satu pun yang melihat ada dua orang polisi sedang menuju rumah Usman. Kedua polisi itu melewati ibu-ibu itu. Mereka mengucapkan salam dan mengetuk pintu Usman. Usman menjawab salam mereka.


"Polisi? Kenapa polisi kemari?" Gumam Usman.


"Kami ingin bertemu dengan Usman. Apakah dia ada?"


"Saya adalah Usman."


"Tolong besok anda ke kantor polisi. Kami hendak memintai informasi mengenai insiden yang terjadi kepada Shizuka, Zeexsa dan juga Herlina."


"Oh iya baiklah pak!" Jawabnya setuju.


"Tunggu dulu! Besok suami saya gak bisa ke kantor polisi pak."


"Bundo? Manga ndak buli? siko ambo kecekkan!" Ucap Usman berbisik pada istrinya.


"Apo munak lupo? Bisuk kito panen. Si Atik pun mau buka usaha dakek kabun tu juo."


"Astaghfirullah ambo lupo."


Usman menghampiri kedua polisi.


"Bagaimana Pak Usman? Apakah anda bisa hadir besok ke kantor polisi?"


"Maaf pak. Saya tidak bisa kalau besok. Bagaimana kalau hari ini saja pak?"


"Bagaimana Rasyid?"


"Kami setuju pak!" Ujar Rasyid.


Kedua polisi itu pun pergi bersama dengan Usman. Semua ibu-ibu yang bergosip tadi baru menyadari kedatangan kedua polisi itu. Mereka menatap dengan penasaran. Salah satu dari mereka membuat topik baru. Ia mengatakan Usman akan dipenjara karena membantu Herlina. Ucapannya itu kemudian disambung lagi oleh ibu-ibu yang berpakaian batik warna kuning. Ia berpendapat bahwa Usman akan berbohong demi menyelamatkan saudaranya bahkan ia juga akan membuat kedua kakak beradik itu makin hilang harga diri.


"Eh Aliya?" Ujar ibu-ibu yang memakai daster motif sakura memberikan kode pada ibu-ibu berpakaian batik kuning dengan menggerak-gerakkan bahunya di bahu ibu-ibu itu.


"Iya benarkan yang aku katakan?"


"Sebaiknya kalian jangan rumpi terus. Nambah dosa saja!"


"Sejak kapan kamu di sana Aliya?"


"Asyik bergosip saja. Sehingga gak tahu bahwa saya telah lama di sini."


"Maafin kami ya Aliya," ucap Fadilah.


"Aku juga ya," ucap Wiwit.


"Kenapa kamu diam saja Serli? Kamu juga Nauli. Bukannya doain yang baik kalian malah menambah-nambah cerita."


"Sorry Aliya. Aku hanya nebak aja tadi."


"Iya sama. Aku juga nebak seperti Serli."


"Terserah deh. Usah sana bubar. Aku mau nyapu halaman rumah ni," Ujar Aliya naik ke pondok dan mulai menyapu.


Semuanya pun bergegas pergi dengan wajah malu.


"Pak apakah saya bisa bertemu dengan ibu saya?"


"Kamu ingin bertemu siapa?"


"Bu Herlina pak!" Jawab Haikal melihat Usman yang baru saja tiba di kantor polisi.


"Iya kamu boleh bertemu dengannya. Silahkan kamu ikuti ibu yang berada di belakangmu."


Haikal mengangguk dan berterima kasih pada polisi itu. Lalu ia mengikuti polisi perempuan yang memiliki tinggi sebanding dengannya. Haikal berjalan sambil memikirkan pamannya yang berada di kantor polisi.


"Itu ibu kamu. Kalian punya waktu 15 menit."


"Baik Bu. Terima kasih."


"Haikal? Kamu ke sini sendiri? Ibu tak melihat pengacara," ucap Herlina melirik ke sekeliling Haikal.

__ADS_1


"Aku sendiri Bu. Pengacara itu akan aku temui nanti Bu. Insyaallah besok aku ke sini lagi bersama pengacara Bu."


"Tolong bebaskan ibu ya nak. Ibu gak mau di penjara."


"Pasti Bu. Aku akan mengeluarkan ibu dari sini. Bagaimana kabar ibu? Ibu jangan takut ya Bu. Makanan untuk ibu nanti akan diantarkan oleh Debi. Tadi aku terburu-buru kemari Bu. Aku jadi lupa membawakan ibu makanan."


"Ibu gak butuh makanan. Ibu mau keluar dari sini."


"Ibu sabar ya!"


"Apakah lebih baik aku tanya kepada ibu sekarang kenapa ibu bisa di penjara? Ibu akan menjawabnya karena ini juga bisa membantu ibu," gumam Haikal menatap ibunya di jeruji besi.


"Bu! Aku mau tanya pada ibu. Kenapa polisi itu bisa menangkap ibu? Mereka menangkap ibu atas tuduhan apa Bu?"


"Ya Allah aku baru ingat bahwa Haikal tidak mengetahui apapun. Bagaimana pun dia harus tahu karena dia akan menyewa pengacara untukku."


"Tolong jawab Bu!"


"Polisi menangkap ibu karena mereka pikir ibulah penyebab Shizuka diusir dari desa."


"Apa Bu? Shizuka diusir? Apa yang terjadi Bu? Kenapa Shizuka diusir?"


"Itu karena dia telah menodai desa kita dengan bekerja sebagai perempuan malam."


"Astaghfirullah tidak mungkin Bu. Shizuka dia orangnya polos dan suci."


"Begitulah faktanya. Semua warga desa juga melihat dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat laki-laki kaya menghampirinya dengan menawar harga padanya."


"Semua warga telah mengetahui itu semua Bu? Kenapa ibu gak cerita kepadaku sih Bu? Terus yang dimaksud oleh Debi yang di rumah tentang ayah itu apa Bu?"


"Usman coba jawab dengan jujur pertanyaan saya!" ucap polisi berjaket hitam.


"Baik pak!"


"Apakah Herlina saudaramu?"


"Iya pak."


"Apakah benar ketika di kebun mu Herlina dan Zeexsa berdebat?"


"Benar pak!"


"Kenapa Zeexsa bisa berada di sana?"


"Dia menegur Herlina karena kakaknya sedih akibat Herlina yang mengejek kakaknya pak. Zeexsa kesal dan terus memberi peringatan kepada Herlina agar tidak menyakiti kakaknya lagi. Herlina gak bisa menerima itu. Ia pun emosi dan mengatakan rahasia besarnya pada semua orang."


"Jadi ia mengatakannya karena emosi? Terus bagaimana tanggapan semua orang?"


"Mereka pertama sih terdiam. Kemudian percaya dengan ucapan Herlina. Setelah itu mereka mengejek Zeexsa."


"Oke jawaban kamu telah kami catat."


"Apakah jawaban saya membantu pak?"


"Iya. Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama pak! Apakah Herlina juga kemari pak?"


"Iya. Sekarang dia sudah ditahan."


"Ya Allah kenapa pak? Dia tidak salah pak. Dia hanya emosi karena masalah pribadinya. Itu saja pak."


"Silahkan anda keluar. Kami akan menghubungi anda lagi ketika sidang Herlina dijadwalkan."


"Tolong bebaskan adik saya pak. Kasihan dia. Dia juga korban pak. Dia emosi karena suaminya selingkuh dengan ibunya Shizuka pak," ucap Usman memohon.


"Lagi-lagi ibu tak menjawab pertanyaan ku," ujar Haikal memegang keningnya.


"Iya pak. Tapi anda harus mencari bukti bahwa Bu Herlina tidak bersalah."


"Bukti apa lagi pak. Dia itu hanya melampiaskan kekesalannya saja pak karena dia merasa dikhianati suaminya."


"Paman masih di sana. Apa yang mereka bicarakan ya?"


"Suaminya sudah meninggalkannya bertahun-tahun. Terus dia teringat masa lalunya itu ketika melihat Shizuka pak. Ibu Shizuka membawa suaminya bersamanya waktu itu?"


"Benarkah itu paman?" Tanya Haikal ragu.


"Haikal?"


"Tolong bawa pamanmu segera pergi dari sini. Dia bisa saja kami usir secara paksa jika tetap melawan."


Usman menghindari Haikal dengan berjalan terburu-buru menjauhinya.


"Paman katakan padaku bahwa apa yang paman katakan tadi bohong."


"Paman tidak berbicara apapun. Kamu salah mendengar," ucap Usman yang terus berjalan dengan cepat-cepat.


"Paman berhenti!" Ujar Haikal berdiri di hadapannya.


"Nak paman gak bisa menceritakan ini padamu. Tolong jangan paksa paman."


"Aku juga harus tahu paman. Ini menyangkut hidupku juga," ucap Haikal dengan kedua tangannya menggenggam kedua tangan pamannya.


"Tapi nak kamu janji ya jangan katakan pada ibumu bahwa pan yang memberitahukan mu tentang ini."


"Baik paman. Aku berjanji. Tolong jelaskan tentang ucapan paman tadi."


"Ayahmu tidak mencintai ibumu lagi nak. Dia mencintai perempuan lain. Makanya sampai sekarang ayahmu tak pernah kembali pulang dan tak ada kabar lagi."


"Aku tak percaya ini. Kenapa ayah berubah paman? Bukankah ibu sangat mencintai ayah dan sangat memperhatikannya?"


"Itu karena perempuan lain nak. Dia hadir diantara ayah dan ibumu. Dia juga telah memiliki anak bersama ayahmu."


"Siapa perempuan itu paman? Mereka di mana sekarang? Apakah ayah bersama mereka?" Tanya Haikal dengan suara gemetar.


"Perempuan itu adalah ibunya Shizuka dan Zeexsa. Merekalah anak ayahmu," ucap Usman iba.


"Ya Allah jadi selama ini aku sudah berada di dekat orang yang salah. Pantas saja ibu membenci mereka. Ibu menyimpan rahasia ini untuk tetap membuatku bahagia. Dia tak ingin melukai perasaan ku."


"Iya nak. Kamu tetap sabar ya. Kamu juga jangan memberitahukan ibu mu kalau paman telah mengatakan ini semua kepada mu."


"Paman dimana ibu Shizuka sekarang? Apakah dia sedang bersenang-senang dengan ayah dan anak mereka itu sekarang?"


"Mereka pasti hidup tenang sekarang nak karena telah bersama untuk selamanya."


Mata Haikal sudah berkaca-kaca. Air matanya jatuh perlahan membasahi wajahnya. Kedua tangannya ia kepal seperti hendak meninju. Dia tak sanggup menahan emosinya yang membara. Ia pun lari ke mobilnya dengan wajah berapi-api. Pamannya menatap dengan rasa bingung karena telah mengatakan semuanya pada Haikal. Tetapi satu kebohongan ia tambahi dalam ceritanya itu.


"Maafkan paman ya Haikal. Paman membohongi mu dengan mengatakan Shizuka telah bahagia karena berkumpul dengan kedua orang tuanya. Paman mengatakan itu agar kamu tidak memihak Shizuka lagi," gumam Usman melihat mobil Haikal melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2