
"Haikal belum juga pulang. Kemana dia pergi? Ponsel juga tidak aktif," ucap Herlina menatap jalanan di depan rumahnya.
"Herlina kenapa melamun? Jangan banyak pikiran. Walaupun kamu ditinggalkan oleh Debi, tetap jalani hidupmu!" Ujar Mones membawa sebakul sawi.
"Kamu mau ke tempat Usman ya? Aku ikut!"
"Aku mau menjual sawi ke pasar. Setelah itu baru ke kebun Usman. Kenapa kamu mau menemui Usman?"
"Apakah aku harus minta izin mu untuk menemui abangku?"
"Kamu ini! Cepat banget marah. Sebentar-sebentar memanggil namanya, sebentar-sebentar memanggil dengan sebutan Abang."
"Diam saja. Bukan urusanmu!" Ujar Herlina berjalan mendahului Mones.
"Hei Herlina kamu gak jadi pergi bareng dengan ku?"
"Ogah! Aku pergi sendiri saja."
"Ya ngambek. Gitu aja marah."
"Kenapa mereka lama sekali membawa Shizuka kemari? Jangan-jangan mereka juga gagal menangkap Shizuka!" Tebak Nona Kelly.
"Gak mungkin si Eman gagal Nona Kelly. Dia itu sungguh cerdas, kuat, dan licik. Tidak ada yang bisa memahami gerak-geriknya," ucap Namira seraya mematikan rokoknya.
"Gawat Pak Kamil. Semua polisi telah habis dihajar oleh mereka. Sekarang yang tersisa hanya kita berlima," ucap polisi itu menatap May, Kamil di depan pintu kamar Shizuka dan mengintip ke cela pintu.
"Kalau begitu kita mundur dulu hingga kita mendapatkan bantuan dari polisi yang akan turun ke sini. Kalian berdua ikuti saya. Kita akan berdiri di depan lift agar penjahat itu langsung kita tangkap. May dan Awil kalian duluanlah. Saya mau menghubungi kantor agar mengirim polisi lagi."
__ADS_1
"Hei Ian aku gak mau ambil resiko. Kamu dan aku akan membawa Shizuka pergi dari sini."
"Tapi dia kan masih membutuhkan perawatan."
"Iya aku tahu. Tapi kamu gak dengar apa tadi seorang polisi mengatakan bahwa preman-preman itu telah menghabisi tim mereka. Aku gak mau kita diam dan sembunyi di sini. Kita harus lari. Ayo cepat cabut bawa Shizuka."
"Maaf pak kami permisi ya. Kami mau membawa teman kami pergi dari sini. Kalian berdua juga boleh pergi. Nanti kita akan kena bahaya jika di sini terus," rayu Ian seraya menggendong Shizuka.
Kedua polisi itu berpikir sejenak. Lalu mereka juga ikut membantu Ian menaruh Shizuka di kursi roda. Ian tersenyum atas keramahtamahan Polisi itu. Haikal menutupi wajah Shizuka dengan selimut. Lalu mendorongnya keluar. Ian dan kedua polisi itu mengikuti dari belakang. Di saat itu dari lift keluar para pasukan Eman. Mereka menghajar Awil dan Mau yang berjaga di depan lift. Melihat hal itu, jantung Ian berdebar kencang. Ia diam sambil berlari kencang menuruni tangga. Sedangkan Haikal dan kedua polisi itu kembali masuk ke ruangan. Mereka menutup pintu dengan ranjang Shizuka juga dengan meja dan kursi.
Kedua polisi itu berdiri bersama dengan Haikal di depan jendela. Haikal berpikir mencari jalan keluar. Ia mencari jalan untuk kabur. Kemudian ia melihat jendela yang terbuka. Para polisi itu membantunya keluar. Disusul oleh Shizuka dan kedua polisi itu.
"Apakah kalian akan terus bersamaku?" Tanya Haikal melihat kedua polisi itu seperti ketakutan sama dengan dirinya.
"Kami tak bisa melawan penjahat pak. Sebenarnya kami ini baru diangkat jadi polisi."
"Seng ini sangat licin pak. Kita harus hati-hati," ucap polisi yang di bajunya tertulis nama bernama George.
"Eh lihat di bawah. Semua orang sudah mengetahui ada penjahat di sini. Terus di jalan sana itu ada delapan mobil polisi," ucap polisi yang bernama Rudi seraya memegangi Shizuka.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau ditangkap preman gila itu," ucap Ian yang berlari terus menuruni tangga hingga terjatuh di hadapan Eman.
Eman menatapnya sangat lama. Kedua pasukannya membangkitkan Ian yang tergeletak di lantai. Mereka bergantian menonjok Ian. Lalu mereka bertanya tentang keberadaan Shizuka. Ian masih setengah sadar. Jadi ia hanya mengerang kesakitan sambil mengelus kepalanya. Eman meminta pasukannya membawa Ian dan menguncinya di kamar mayat. Ian terlempar seperti bola. Ia berguling di lantai dan tak sadar kan diri.
"May! Awil!" Sapa Kamil.
Kamil terpelongok melihat dari jauh para penjahat itu sedang masuk ke ruangan satu persatu hingga akan sampai ke kamar Shizuka. Kamil syok dan bergegas lari ke kamar Shizuka. Di sana ia melihat kamar itu telah kosong. Ia mencari ke segala sisi ruangan, tetapi Shizuka dan yang lainnya tak ia temukan. Kemudian ia tiba-tiba saja berlari ke arah jendela. Ia melihat Shizuka sedang dibantu oleh Haikal dan Rudi berjalan di atap. Kamil ikut keluar dari jendela. Ia menutup jendela itu agar penjahat itu tak mengetahui mereka di atap.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah menemukan Shizuka?" Tanya Eman.
"Belum bos. Kami masih mencari di setiap kamar." Jawab salah seorang pasukannya.
"Cepat carilah lagi!" Perintahnya seraya berjalan ke ruang kamar tempat Shizuka dirawat tadi.
"Ada apa ini? Semua berantakan sekali. Apakah kalian sudah masuk ke ruangan ini tadi?"
"Belum bos!" Jawab pasukannya serentak.
"Berarti mereka di sini tadi!" Ucapnya emosi sambil melempar vas bunga dan memukul tembok.
"Jika aku berteriak, maka aku akan ketahuan oleh penjahat itu. Eh tapi kenapa aku malah ikut menghindar seperti mereka juga!" Gumamnya menatap Kedua polisi dan Haikal.
"Ayo periksa tempat ini. Mereka pasti belum jauh. Sebagian lagi cari di luar!" Ucap Eman menunjuk keluar ruangan.
"Aku harus kembali ke sana. Tapi masalahnya aku sendirian. Semua orang juga pasti sudah jadi tawanannya atau sudah mereka bun*h. Tidak aku harus berpikir cara untuk menyelamatkan semua orang. Bukan malah kabur," ungkap Kamil membalikkan badan menatap jendela kamar tempat Shizuka dirawat tadi sedang dibuka oleh seseorang.
Ia jongkok seperti berlindung di gedung besar atau di sebuah tembok tinggi agar tidak terlihat. Namun orang yang membuka jendela itu melihatnya. Ia lari menemui Eman dan mengatakan bahwa ia melihat seorang polisi di atap. Eman bukannya senang, tapi marah.
"Aku menyuruh mu mencari Shizuka. Bukan polisi itu."
"Tapi bos dia tidak sendirian. Aku melihat beberapa orang juga ada di atap," ucapnya gemetaran.
Eman menggertaknya lagi dengan mengepalkan pukulannya ke pipi kirinya. Lalu ia menghentikan candaannya dengan meminta semua pasukannya untuk memeriksa ke atap. Mereka pun berlari dan keluar dari jendela. Eman memantau dari jendela langkah pasukannya yang akan menangkap Shizuka. Kamil masih memejamkan matanya sambil berdoa agar ia selamat. Kemudian ia memberanikan diri membuka matanya. Di saat itu dirinya langsung terbelalak menatap pasukan preman itu sedang berlari dengan lincah mengejar Haikal dan yang lainnya. Ia khawatir Haikal dan yang lainnya akan tertangkap. Sehingga ia pun berteriak menyebut nama Rudi dan George untuk mempercepat langkah mereka. Haikal dan Rudi menoleh ke belakang. Mereka tak abis pikir tentang penjahat itu yang terus mengejar mereka hingga ke atap. Mereka sampai di ruang kamar pasien anak-anak. Haikal duluan masuk. Lalu dilanjutkan oleh Shizuka yang dibantu oleh Rudi dan George. Terakhir George yang masuk. Rudi menolak untuk masuk. Ia mengunci jendela ruangan itu dan sebelumnya mengatakan pada George untuk menjaga Haikal dan juga Shizuka. Tapi George tetap berusaha membuka jendela agar bisa menarik tangan Rudi untuk masuk ke ruang itu. Rudi tetap kekeh dengan keputusannya. Ia berharap dengan tindakannya itu, ia bisa menjadi polisi sejati yang dikenang masyarakat sebagai polisi pembela rakyat dan membela serta menjaga negerinya. Ia tersenyum menatap George yang menangis. George sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri karena mereka berdua adalah polisi termuda di kantor polisi desa Momoki area Unibi.
Kamil yang terheran menatap juniornya Rudi berdiri di depan jendela, spontan berlari. Padahal tadi ia tidak ingin berlari di atap. Sekarang karena ingin menyelamatkan Rudi dari penjahat itu, langkahnya pun sangat cepat seperti lari tupai. Keahliannya dilihat oleh Eman, pasukannya yang terhenti mendadak, serta orang-orang di ruang anak-anak termasuk Haikal dan George.
__ADS_1
"Jangan sakiti junior saya!" Teriak Kamil yang terpeleset saat sudah mendekati Rudi.