Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Menghindar


__ADS_3

Beberapa hari ini Shizuka hanya di kamarnya saja. Semenjak itu Naoto dan Pertiwi pergi ke luar kota pula. Mereka sudah seminggu tak pulang. Jadi Shizuka menghabiskan waktunya dengan banyak merenung beserta dilanda kesepian. Ia memutar badannya ke kiri, ke kanan untuk melupakan segalanya di desa Unicorn. Tetapi tak juga mampu membuang seluruh masa lalunya itu.


"Kakak! Kakak masih memikirkan kejadian di desa Unicorn ya?"


"Eh Zeexsa. Iya Zee. Kenapa masalah itu menjadi memori pahit untuk kita ya?"


"Kak jika kakak ingin membuktikan kita tidak bersalah, kita kembali saja ke sana setelah Tante dan Om pulang. Kakak gak boleh stres. Entar kakak jadi gak waras gimana?"


"Ya tidaklah Zeexsa!" tawa Shizuka


"Permisi! Suara seseorang dari luar.


Zeexsa keluar dari kamar Shizuka. Ia membukakan pintu utama. Di luar ada seorang ibu yang memberikan undangan. Ia tersenyum sambil bertanya keberadaan Naoto dan Pertiwi. Zeexsa menjawab pertanyaannya dengan mengatakan bahwa Naoto dan Pertiwi tidak di rumah. Ibu itu pun menitipkan undangan itu kepada Zeexsa. Setelah kepergiannya, Zeexsa menutup pintu rumah. Ia menatap undangan pernikahan itu.


"Siapa Zeexsa?" Teriak Shizuka.


"Teman Tante dan Om kak."


"Pernikahannya diadakan di hotel Sasaki. Hotel mewah itu. Pasti yang menikah ini dari keluarga kaya raya," cetusnya menaruh undangan itu di dalam lemari kerja Naoto.


...****************...


"Haikal tolong berikan penjelasan atas meeting kita yang tertunda di hotel Sasaki itu. Kamu tahu kan Ibu Zoya itu klien penting. Kamu menghentikan meeting hanya karena kamu melihat laki-laki yang mirip dengan ayahmu."


"Pak Faiz maafkan saya. Tapi laki-laki itu memang benar ayah saya."


"Jika dia ayahmu, maka dia akan memelukmu dan tidak membiarkan mu berlari hingga terjatuh mengejarnya. Tolong kamu atur ulang meeting dengan ibu Zoya," ucap Faiz menahan amarahnya.


"Kamu siapa? Maaf saya tak mengenalmu," ujar Mark menepis tangan Haikal dari kedua bahunya.


"Saya Haikal. Anak kamu. Kamu ingat kan? Saya adalah buah hati mu ayah!"


"Ayah? Saya bukan ayahmu. Saya gak kenal kamu. Maaf saya pergi dulu!" Berbalik arah menuju lift.


"Ayah tunggu dulu!" Kejar Haikal hampir mendekati Mark.


"Kamu mendapatkan ayahmu Haikal?" Tanya Kartika yang berdiri di belakangnya.


"Haikal kamu dipanggil Pak Faiz," ujar Ian yang baru saja tiba mengejar Haikal.


Mereka bertiga sampai di meja meeting. Namun Zoya dan karyawannya yang lain tidak ada di sana lagi. Wajah Faiz tampak merah menyala. Ia memukul meja sambil melotot kepada Haikal. Haikal tak juga merasa bersalah. Ia masih melirik ke sekitarnya mencari Mark.


"Kita bicarakan ini di kantor!" Satu kalimat yang singkat menyelesaikan rapat yang tertunda.


"Gila! Saya kira kamu akan ditampar Haikal," ucap Ian panik.


"Hah sial! Kenapa harus begini lagi?" Ujar Haikal memukul tembok ruangannya.


"Hampir saja ayah berhasil saya ajak pulang. Tapi sayangnya ayah bisa lolos lagi," ucapnya lagi melempar barang-barangnya di atas meja.

__ADS_1


Foto itu ia ambil dari kantong celananya. Ia menatap foto itu dengan berkata, "Shizuka pasti pemilik foto ini. Bagaimana jika foto ini saya kembalikan padanya? Ini pasti penting untuknya karena foto ini kan foto bersejarah. Ditambah lagi Shizuka juga pasti hanya punya kenangan ini saja bersama ibunya."


"Ian cepat kamu hubungi ibu Zoya. Kamu katakan padanya bahwa perusahaan kita ingin menjalin kerja sama lagi dengannya. Tolong kamu sampaikan permintaan maaf mewakili Haikal," perintah Faiz dengan kedua tangannya di atas pinggang.


"Pak apa tidak sebaiknya kita gak usah meeting di hotel Sasaki lagi aja pak? Di sana Haikal pasti bertemu lagi dengan laki-laki yang dia anggap ayahnya. Jika kita ke sana lagi, maka meeting kita bisa berantakan lagi."


"Kartika kamu mikir gak kalau ngomong? Hotel itu adalah hotel populer. Jika kita meeting di sana, maka pandangan orang-orang terhadap kita juga baik. Itu adalah suatu hal yang membuat kita makin termotivasi juga. Terus kita juga nyaman dan di sana pelayanannya juga memuaskan."


"Tapi Haikal sepertinya tidak akan nyaman pak. Dia terus saja teringat dengan ayahnya. Apakah bapak tidak iba padanya yang terus mengejar laki-laki itu?"


"Kamu harus profesional Kartika. Jika kamu simpati atas masalah pribadi Haikal, tolong kamu saja yang mengalah untuk tidak hadir di meeting nanti. Kamu akan saya skorsing."


"Seperti anak sekolahan aja pak," ledek Ian tertawa ringan.


"Ssssst diam kamu Ian. Cepat hubungi Bu Zoya. Jangan kabari saya jika kamu tidak mendapatkan jadwal meeting ulangnya," ucap Faiz mengingatkan.


"Hei Kartika! Kamu tidak apa kan?" Tanya Salwa dengan khawatir.


"Saya rasa Mark itu benar deh ayahnya Haikal. Jika itu benar, Haikal pasti bangga amat karena Mark itu adalah direktur dari perusahaan Delta Group," kata Ian dengan wajah terpukau.


"Jika Haikal itu anak direktur hebat, berarti sudah benar dong kamu Kartika menaruh hati pada Haikal," ujar Salwa melompat kegirangan.


"Kamu menyukainya?" Tanya Ian yang wajahnya berubah seketika menjadi mendung.


"Sudahlah. Dia tidak punya ayah seorang direktur pun, saya tetap menyukainya. Saya menyukainya karena ia laki-laki cerdas, pekerja keras, baik, dan tampan," ungkap Kartika tersipu malu.


Telpon berdering.....


"Halo dengan perusahaan Elvis Presley. Saya Ian sebagai asis,..."


"Mana kabar dari Bu Zoya?" Bentak Faiz menutup telpon.


"Ya Allah darah saya hampir berhenti mengalir mendengar teriakan Pak Faiz. Kalian berdua sana kerja. Saya harus hubungi Bu Zoya.


"Semangat Ian!" Support Salwa.


"Iya doain aja Bu Zoya mau kerja sama dengan kita lagi. Setelah kejadian itu, saya makin grogi berbicara dengan klien. Malu banget dengan rapat yang terhenti tiba-tiba gitu," gerutu Ian.


"Jangan mikir macam-macam. Tetap berusaha oke. Bujuk Bu Zoya agar kembali percaya dengan perusahaan kita," ujar Kartika sambil melangkah ke ruangannya.


"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Ian sambil menekan nomor telepon perusahaan Zetwoje Zoverga.


"Aduh panggilan saya gak diangkat. Kemana ya sekretaris Bu Zoya? Saya coba lagi aja deh."


"Ian nanti kalau jam istirahat kita makan bareng ya! Saya butuh seseorang untuk mendengarkan cerita saya," ucap Haikal memberikan flashdisk.


"Oke Haikal. Kamu memilih orang yang tepat untuk berbagi cerita. Flashdisk ini untuk apa?" Tanya Ian memegang flashdisk itu.


"Kamu ambil aja bahan materi untuk pertemuan dengan perusahaan pak Sultan. Saya permisi dulu!"

__ADS_1


"Eh bagaimana dengan meeting dengan Bu Zoya?" Tanya Ian berdiri menatap Haikal yang telah masuk ke ruangannya.


"Yasudah deh saya telpon sekali lagi aja perusahaan Zetwoje Zoverga. Kalau tidak Pak Faiz bisa menerkam saya. Ihhh seram!"


"Telponnya diangkat!" Gumam Ian bangga.


"Halo. Saya Astri dari perusahaan Zetwoje Zoverga. Ini dengan siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?"


"Halo saya Ian Bu. Saya dari perusahaan Elvis Presley. Apakah saya bisa bicara dengan ibu Zoya?"


"Maaf ibu Zoya sedang keluar. Apakah ada pesan yang hendak disampaikan agar saya sampaikan kepada ibu Zoya?"


"Tolong katakan kepada ibu Zoya agar mengatur ulang jadwal meeting yang tertunda sewaktu di hotel Sasaki. Saya mohon kepada ibu agar membujuk ibu Zoya ya! Tolong ya Bu!"


"Baiklah. Saya akan menyampaikannya kepada Ibu Zoya."


"Terima kasih banyak ya Bu. Semoga ibu Zoya menerima kerja sama dengan kami lagi. Oh ya sampaikan juga permohonan maaf dari saya. Saya minta maaf atas sikap Haikal yang meninggalkan meeting."


"Iya pak. Saya akan menyampaikannya. Apakah ada yang lain lagi pak?"


"Oh tidak ada Bu. Saya akhiri telponnya ya. Maaf mengganggu waktunya Bu.


"Iya tidak apa-apa pak."


"Sampai jumpa Bu di meeting berikutnya," ucap Ian mengakhiri telpon.


"Elvis Presley merasa bersalah karena tingkah laku karyawannya itu," gumam Astri senyum miring.


"Astri saya pulang lebih awal dulu. Tolong kamu tangani urusan kantor ya!" ucap Zoya yang baru saja sampai bersama kedua anaknya.


"Baik Bu. Oh ya ada pesan dari Elvis Presley untuk kamu Zoya. Maksud saya Bu Zoya."


"Pesan apa?"


"Mereka ingin kita bekerja sama dengan mereka lagi. Mereka minta diatur jadwal ulang. Bagaimana Bu?"


"Bagaimana ya? Yasudah kamu atur aja jadwalnya tapi jangan di hotel Sasaki lagi. Ganti aja hotelnya."


"Bagaimana kalau di hotel Sunshine? Hotel itu juga tak kalah menarik dari hotel Sasaki Bu."


"Oke. Kamu atur aja jadwalnya."


"Oke Bu. Bu satu lagi, tadi Ian dari perusahaan Elvis Presley juga menyatakan permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh Haikal Bu.


"Laki-laki yang mengaku anak Mark itu?"


"Iya Zoya. Eh Zoya kamu gak cemburu apa jika laki-laki muda itu membawa Mark pada perempuan yang tentunya ibunya. Perempuan yang pastinya akan mengambil Mark dari kamu. Menurut aku ya Zoya lebih baik pernikahan kalian itu di sah kan aja secara hukum dan agama."


"Jaga ucapanmu!" Lirik Zoya kepada kedua anaknya yang duduk di sofa.

__ADS_1


"Kamu gak kasihan sama Jelita dan juga Jessi yang nantinya bertanya tentang ayah mereka?" Ungkap Astri kembali duduk ke kursinya.


__ADS_2