
"Hai Alfi! Tunggu sebentar. Kenapa kamu buru-buru amat? Kamu tahu kan hari ini itu adalah hati spesial. Ini adalah hari kelahiran ku," ucap Cika tak sengaja menjatuhkan ponsel Alfi.
"Kamu ini nyebalin banget ya. Cepat ambil ponselku! Dasar!" Gerutu Alfi mengambil ponselnya dan pergi dengan motornya sambil menelpon.
"Parah banget si Alfi. Dia gak peduli terhadapku. Kelihatannya dia juga gak ada sedikit pun menyukai keberadaan ku di sini. Ya lebih baik begitu saja. Ketimbang dia berpura-pura baik kepadaku."
"Permisi mbak! Alfinya ada?"
"Alfi? Memangnya kamu siapanya?" Tanya Cika meninggikan suara.
"Saya Renata mbak. Temannya ketika SMA dulu. Apakah Alfinya ada?"
"Tidak! Dia tidak ada di sini. Sana pergi!"
Renata tercengang menatap Cika yang berlaku kasar padanya. Ia tak menghiraukan ucapan Cika. Renata memilih berjalan-jalan melihat baju atau celana di toko Alfi. Dia dengan santai menatap baju bermerek Elvis Presley dan menaruhnya di keranjang belanjaannya. Cika yang memperhatikan tingkah Renata tak mau tinggal diam. Ia mengambil kembali baju yang di keranjang Renata. Kemudian berkata, "Tolong pergilah dari sini. Sebelum saya mengatakan kepada ibu kepala desa bahwa kamu sedang mencuri barang-barang di sini. Cepat pergilah!"
"Kamu kenapa sih mbak? Saya emang mau membeli. Apakah gak boleh?"
"Tidak!"
"Kenapa? Ini kan semuanya untuk dijualkan?"
"Hai Cika kenapa kamu berdebat dengan pembeli?" Tanya Radit kaget melihat Renata.
__ADS_1
"Radit!" Sapa Renata.
"Hai Renata! Lama tak berjumpa. Kamu makin cantik saja!"
"Kamu selalu berkata begitu tiap bertemu denganku. Tak pernah melewatkan sedetikpun untuk mengajak ku bercanda atau pun mentraktir ku," ucap Renata tertawa dengan tangan kanannya menutup mulutnya.
"Ya iyalah karena sekarang kamu sudah di sini, ayo kita makan di luar. Kebetulan aku ingin nongkrong bersama Alfi di Kafe Harapan."
"Mohon maaf tuan dan orang baru, Alfi tidak ada di sini. Tolong keluarlah."
"Cemburu ya? Kamu cemburu kan karena Renata itu lebih cantik dari orang yang di hadapanku."
"Kok kamu ngomong gitu sih!"
Cika pergi sambil menghentakkan kaki. Radit menertawainya dan membawa Renata pergi bersamanya. Dari pintu kaca, Cika menatap Radit memperlakukan Renata seperti seorang Ratu. Ia membantu Renata berjalan dengan memegang tangannya karena High heels Renata sangat tinggi. Rambutnya yang lurus sepinggulnya terurai lembut bercengkrama dengan angin. Langkahnya juga seperti seorang ratu dari bangsawan Inggris. Begitu anggun dan elegan. Cika meruncingkan mulutnya sambil memukul meja kasir.
"Menjengkelkan sekali!" Gumam Cika makin kesal.
...****************...
"Kau lemah sekali!" Ucap Eman dengan sekali tendangan ke pintu ruang Mawar tempat Shizuka dan lainnya bersembunyi.
Semua anggota Eman tersenyum dan bertepuk tangan. Eman langsung masuk ke kamar itu. Ia berjalan ke jendela yang terbuka lebar dan ada seprai tergantung di sana. Ia berlari mendekati jendela itu. Ia melihat ke bawah. Tampak olehnya Haikal sedang menggendong Herlina. Sedangkan Shizuka, George, Mones sudah jauh dari Haikal dan Herlina. Ia berteriak menyebut nama Shizuka. Semua anggotanya mengambil tindakan dengan turun satu-persatu dari seprai yang dibuat oleh Haikal. Terakhir Eman turun, ia mendengar suara anak kecil menangis. Tangisannya membuat Eman terhenti untuk turun. Ia menatap Shizuka yang terus berlari, sedangkan tangisan itu makin mendekat. Lalu anak kecil itu tak sengaja melempar pulpen ke jendela. Eman makin bimbang. Ia mengintip anak kecil itu sedang menangis di lantai dengan posisi duduk. Ketika Eman hendak turun lagi, anak kecil itu menghampirinya. Ia mencoba mengikuti Eman. Tetapi karena jendelanya begitu tinggi, jadi ia pun menangis dengan sangat kencang hingga Eman tak sanggup membiarkannya sendirian.
__ADS_1
"Bos!"Panggil seorang anggota Eman yang menyadari Eman naik ke atas lagi.
Eman tak mendengarkan panggilan anggotanya. Ia mendatangi anak kecil itu. Lalu memperhatikannya berjalan-jalan. Eman tersenyum lebar melihat anak kecil itu yang bersembunyi dibalik gorden jendela karena anak kecil itu juga tertawa mengejutkan Eman. Sementara anggotanya sedang berusaha mengejar Shizuka. Awalnya mereka ingin menangkap Haikal. Tetapi karena tujuan utama mereka adalah Shizuka, jadi mereka hanya melewati Haikal dan ibunya begitu saja. Haikal dan Herlina saling tatap. Mereka menyadari bahwa Shizuka dalam bahaya. Haikal berusaha dengan kuat untuk mengejar para anggota Eman. Walaupun ia terlihat letih menggendong ibunya, ditambah lagi dia juga baru pulih dari operasi. Ia tak mau membiarkan ibunya sendirian dengan kondisinya yang memprihatinkan. Ia terus berjalan dengan sisa tenaganya. Berjalan hingga napasnya tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran, wajahnya makin pasi, kakinya telah gemetar, dan kedua mata Haikal sudah hampir terpejam. Ia melihat Shizuka yang terus berlari dan sesekali menatapnya dengan wajah menyemangatinya. Ia tersenyum. Tiba-tiba jatuh tersungkur setelah ia merasakan penglihatannya berkunang-kunang.
Herlina juga terjatuh dengan posisi memeluk anaknya. Haikal tak sadarkan diri lagi. Sedangkan Herlina berusaha membangunkan anaknya sambil menangis. Shizuka menghentikan langkahnya. Ia meneteskan air mata sambil menyebut nama Haikal. George dan Mones menggandeng tangan Shizuka. Mereka mengangkat Shizuka seperti anak kecil yang menangis karena mainannya tertinggal. Shizuka terus menjerit dan mencoba melawan George dan Mones yang membawanya naik ke delman.
"Kenapa kalian tidak membiarkan ku membantu Haikal dan ibunya?"
"Maafkan kami Shizuka. Jika kita menolong mereka, maka kita juga akan sama seperti mereka berdua. Terluka dan bahkan kehilangan nyawa kita. Kamu tidak usah khawatir polisi akan membantu mereka."
"Ayo jalan pak. Antarkan kami ke stasiun kereta api," ucap Mones.
"Tidak! Tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi," ujar Shizuka menangis menatap Haikal dan Herlina dari kejauhan.
"Haikal! Nak sadarlah!"
Anggota Eman menatap delman yang ditumpangi Shizuka dengan marah. Jadi mereka semua pun berusaha mencari transportasi untuk mengejar Shizuka. Namun tak ada satu pun transportasi yang lewat. Mereka kemudian berinisiatif untuk menelpon Eman. Salah satu dari mereka menghubungi Eman.
"Lapor bos kami kehilangan jejak Shizuka!"
Anak kecil itu mengambil ponsel Eman. Ia memencet semua tombol ponsel Eman sehingga telponnya terputus. Belum sempat Eman menjawab ucapan anggotanya, anak kecil itu sudah mengutak-atik ponsel Eman. Disaat anak kecil itu telah bosan memainkan ponsel Eman, ia pun melemparnya. Eman terdiam menatap tindakan anak kecil itu. Ia hendak marah. Namun kemarahan menjadi hilang karena anak kecil itu menatapnya dengan senyuman sambil melompat-lompat kecil ke luar ruangan. Eman mengejar anak itu. Ia menggendongnya dan berkata, "Apakah kamu senang telah merusak ponsel om?"
"Bos tak menjawab ucapan ku."
__ADS_1
"Berarti bos kita marah besar."
Kedua anggota Eman itu meninggalkan teman mereka. Mereka berlari menuju ruangan yang masih tergantung seprai di jendelanya. Mereka sangat takut jika bosnya marah. Mereka berlari dengan kencang hingga melewati Haikal, Herlina dan menertawai mereka yang sudah sama-sama tak sadarkan diri lagi.