Shizuka Perempuan Tabah

Shizuka Perempuan Tabah
Berita Debi


__ADS_3

"Apakah mereka gak akan melihat kita di sini kak?" Tanya Zeexsa dengan cemas.


"Pelan kan suara mu Zeexsa. Mereka sedang kemari tu. Semoga mereka tidak melihat kita!" Ucap Shizuka menatap beberapa laki-laki yang kekar dan menyeramkan.


"Kita harus pergi dari sini setelah keadaan aman. Hei Shizuka, Zeexsa, lihat di sana ada mobil yang lewat," ujar Kamil menatap mobil sedan yang lajunya agak pelan.


"Iya pak. Bagaimana kita menghentikan mobil itu?" Tanya Shizuka memperhatikan kelima laki-laki yang hampir mendekati mereka.


"Hitung sampai tiga! Kita akan berlari sekencang-kencangnya dari pembuangan sampah ini. Ingat jangan bersuara! Kita akan menghentikan mobil di seberang jalan raya itu," titah Kamil.


"Baik pak," ucap Shizuka dan Zeexsa yang mengangguk serta bersiap-siap untuk berlari.


"Satu, dua, ti-ga!" Lirih Kamil duluan berlari.


"Hei lihat! Itu mereka!" Tunjuk laki-laki berkumis tebal.


"Woi berhenti! Teriak laki-laki gondrong.


Shizuka, Zeexsa, Kamil berhenti di tengah jalan. Mereka menghambat jalan mobil itu. Mobil itu nyaris menabrak mereka bertiga. Shizuka memicingkan matanya seolah-olah tak sanggup melihat mobil itu akan melindasnya. Sedangkan Zeexsa berteriak dengan sangat kencang dengan kedua tangannya menutup telinganya. Kamil sendiri terjatuh karena mobil itu berhenti dengan mendadak dihadapannya.


Dari mobil itu keluar sepasang suami istri. Mereka berlari menghampiri Shizuka dan Zeexsa. Keduanya memeluk Shizuka dan Zeexsa dengan sangat cemas. Ternyata orang yang di dalam mobil itu adalah Naoto dan Pertiwi. Zeexsa lega. Begitu pun Shizuka. Kamil yang masih terduduk di jalan membuatnya gemetaran. Ia mengira dirinya akan melayang akibat tabrakan yang dialaminya. Shizuka, Naoto, membantunya berdiri. Mereka saling menatap satu sama lain karena bertemu dalam keadaan menegangkan dan tak disangka-sangka.


"Kenapa kalian bisa di sini Shizuka, Zeexsa?" Tanya Pertiwi.


"Nanti saja kami jelaskan tan. Sekarang kita harus segera pergi dari sini," ajak Zeexsa terlihat takut.


"Ayo! Mereka semakin dekat!" Ujar Kamil menatap semua laki-laki kekar dan menyeramkan itu.


Naoto membuka pintu mobilnya. Disusul oleh Shizuka, Pertiwi dan Kamil.


"Mau kemana kalian?" Tanya salah satu laki-laki yang berbadan kekar berdiri di depan mobil.


"Bagaimana ini?" Tanya Zeexsa menutup mulutnya dan menatap Shizuka yang juga terlihat ketakutan.


"Tabrak saja pak!" Usul Kamil.


Naoto melajukan mobilnya dengan kencang dan hendak menyenggol badan laki-laki itu dari sebelah kiri. Tetapi spontan laki-laki itu menghindari mobil itu dengan berlari ke tepi sisi kanannya. Ke empat laki-laki yang baru saja tiba, memarahinya. Mereka sangat kesal karena gagal mendapatkan Shizuka.


"Akhirnya kita bisa lari dari mereka!" Ucap Zeexsa bersyukur.

__ADS_1


"Terima kasih tante, om. Kalau tidak ada tante dan om, kami pasti masih dikejar-kejar oleh mereka," ucap Shizuka tenang.


"Tapi kenapa kalian bisa di sini? Itu kan kawasannya dekat dengan rumah bordil Nona Kelly?" Tanya Naoto heran.


"Panjang ceritanya om. Intinya kamu ke sini untuk menyelamatkan kak Shizuka."


"Apa? Maksudnya bagaimana Zeexsa?" Tanya Naoto lagi menatap Zeexsa dari kaca dalam mobil.


"Hm nanti kami ceritakan di rumah ya om," ucap Zeexsa menatap Kamil yang sedang memijat kakinya.


"Oh yasudah Zeexsa."


"Oh ya kamu Kamil kan?" Tanya Pertiwi menoleh ke belakangnya.


"Iya Bu. Saya Kamil yang berjualan di dekat lorong rumah ibu.


"Kamu kok bisa bersama Shizuka dan Zeexsa?"


"Nah itu dia tan. Ada kaitannya dengan kami yang berada di sana tadi," potong Zeexsa.


"Oh begitu."


"Iya Bu. Saya minta maaf atas kejadian yang menimpa Shizuka dan Zeexsa. Maafkan saya bu, pak!"


"Saya cuma agak kelelahan aja bu karena berlari-lari tadi."


Di ruangan Haikal ada banyak sekali orang-orang yang memberikan motivasi dan doa atas duka yang dia alami. Mereka ada yang berdiri hingga ke luar pintu ruang Haikal dan ada juga yang mengelilingi Haikal. Semuanya satu persatu memberikan sebuah bunga dan ada juga uang santunan. Faiz yang merupakan manager nya tampak sedang bicara penuh keharuan. Ia tak abis pikir atas sikap Debi yang tak karuan itu.


"Haikal Debi adalah adikmu. Meskipun dia bertingkah yang membuat kamu dan ibu mu khawatir, tapi dia tetaplah adikmu. Aku juga punya adik. Adikku laki-laki. Dia sebaya kamu. Sifatnya itu persis seperti Debi. Suka diperhatikan dan agak sensitif. Padahal dia laki-laki loh. Nah itulah Haikal. Kamu belajar dari kesalahan mu. Sekarang kamu jagalah ibu mu."


"Iya Pak. Saya akan menjaga ibu saya."


"Haikal! Polisi datang ingin menemui mu," ucap Ian yang baru tiba.


Haikal menatap kepada dua orang polisi.


"Maaf mengganggu waktunya pak. Kami mendapatkan keterangan dari Tim kami dan Tim SAR bahwa jasad adik bapak sudah ditemukan."


"Sekarang jasadnya telah dibawa ke rumah bapak."

__ADS_1


"Apa? Jadi Debi sudah tak bernyawa lagi?" Gumam Haikal memegang buket bunga.


"Adik bapak kami temukan di pinggir Pantai Soucan. Setelah pencarian yang begitu lama, Alhamdulillah jasadnya bisa kita temukan," ucap polisi yang berbadan ideal itu.


"Apa kata bapak syukur? Kenapa kalian baru mendapatkan adik saya? Kenapa kalian menemukannya dalam keadaan yang sudah tak bernyawa? Tolong minta ambulans membawa adik saya ke rumah sakit!" Isak tangis Haikal teramat menyakitkan.


"Haikal kamu yang sabar ya. Debi telah berhasil ditemukan. Lebih baik kita sekarang ke rumah mu," ujar Faiz sambil menatap yang lainnya dengan mengisyaratkan pergi ke rumah Haikal.


"Kami minta maaf ya pak. Kami tahu bapak sangat bersedih atas peristiwa ini. Semoga adik bapak bahagia di sisi-Nya," tambah polisi yang berkulit sawo.


Haikal tak menjawab. Ia terus menangis dengan menutup kedua matanya dengan tangan tangan kanannya. Keyakinannya tentang Debi yang akan bertahan hidup pupus. Meskipun semua orang mengatakan Debi sudah tiada. Bagi Haikal Debi tetap masih bernapas. Ia merasa Debi masih hidup. Kesaksian polisi yang datang hari ini membuatnya sangat sedih. Hatinya tersayat oleh berita kepergian Debi untuk selamanya. Adiknya satu-satu itu pergi menghadap sang khalik. Ia tak dapat membuka matanya. Rasanya lehernya seperti tercekik oleh ketidakberdayaan. Sesal yang mengganjal sukmanya membuat tangisnya makin membelah suasana yang keruh.


"Haikal kuatkan hatimu. Kamu tak sendirian. Hm ada aku. Kamu jangan sedih ya!" Support Ian yang tinggal berdua di ruangan Haikal.


Semua orang sudah duluan pergi ke rumah Haikal. Mereka sadar bahwa Haikal masih tampak teriris hatinya. Jadi mereka berinisiatif untuk pergi tanpa mengganggu renungan Haikal. Ian mengajaknya pulang karena pemakaman Debi akan dilakukan hari ini. Hal itu sungguh tak dapat dipercaya oleh Haikal. Ia terus berjalan bersama Ian keluar dari perusahaan Elvis Presley dengan langkahnya yang tak bersemangat.


"Haikal ayo masuk ke mobil ku saja. Mobil mu nanti aku yang akan membawakannya ke rumah mu. Ayo masuk ke mobil ku Haikal."


Haikal patuh saja dengan perintah Ian. Dirinya sudah tak mampu berpikir lagi. Ia duduk di sebelah Ian yang menyetir. Mereka pun langsung berangkat menuju rumah Haikal. Di perjalan, Haikal terdiam saja bagai patung. Haikal yang dulunya aktif dan semangat menjalani hidup kini terlihat tak punya warna hidup lagi.


...****************...


"Radit! Apakah ini salahku?"


"Berhentilah menyalahkan dirimu. Untuk apa terus berpikir mengenai Debi. Debi sudah menghadap yang Maha Pencipta. Dia akan bahagia di sisi-Nya. Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Jadi kamu jangan terus suntuk memikirkan Debi."


"Maksudku dia begitu karena aku. Coba saja aku gak menghindari dan meninggalkannya."


"Jika berpura-pura cinta padanya membuatmu tenang, apakah dia juga tenang, bahagia, dan bersyukur? Tidak kan? Dia justru akan makin membenci mu karena kamu hanya kasihan padanya."


"Kita gak pergi ke pemakamannya kemarin. Debi pasti mencariku?"


"Udahlah gak usah dipikirkan. Kamu juga gak bisa melihatnya. Sekarang tu kamu harus bersyukur skripsi mu sekarang sudah benar semua dan bentar lagi kamu akan daftar wisuda. Terus skripsi ku juga sudah selesai direvisi. Jadi aku akan nyusul kamu. Sidang ku akan dilaksanakan besok. Jadi sebelum kamu daftar wisuda, kamu bantuin aku untuk persiapkan semuanya. Mulai dari selempang, pakaian, makanan, minuman, dan ajari aku mengenai hal yang biasa ditanyakan dosen penguji saat sidang."


"Kapan emang kamu mau belanja untuk makanan dan minumannya? Mending kamu pinjam dulu deh jas si Alfi. Dia kan punya tu banyak jas."


"Jas kamu aja aku pakai."


"Gak bisa. Badanmu kan agak besar dariku. Nanti rusak bagaimana?" Jawab Vikram menolak permintaan Radit.

__ADS_1


"Yaudah deh. Kamu temani aku minta ke si Alfi. Kalau makanan dan minumannya kita beli sore nantilah. Kan aku sidangnya pagi-pagi.


"Oke. Yaudah yuk kita ke toko Alfi sekarang!" Ajak Vikram.


__ADS_2