
"Kenapa Zoya bisa kenal dengan Haikal? Apakah Zoya sudah mengetahui semuanya? Tapi tidak mungkin juga mereka saling kenal. Haikal tak pernah melihat Zoya. Mana mungkin mereka bisa saling kenal. Tapi kenapa tadi mereka ada di tempat yang sama?" Pikir Mark yang duduk di sofa kamarnya.
"Tunggu dulu deh. Mereka duduk di tempat yang sama dengan beberapa karyawan. Perusahaan Elvis Presley dan perusahaan Jetwoje Zoverga. Apakah mereka sekarang partner bisnis?" ujarnya lagi dengan bertopang dagu.
"Aku akan tanyakan hal ini pada Zoya."
...****************...
"Bagaimana skripsi lo Vikram? Aku perhatikan kamu bolak-balik terus ke ruang dosen. Apakah skripsi mu masih banyak yang salah?" Tanya Radit yang berdiri di sebelah kiri Vikram.
Vikram memegang skripsinya sambil berkata, "Tolong bantuin aku dong Radit!"
"Bantu apa? Apa kamu ingin aku memperbaiki skripsi mu? Jangankan skripsi mu, skripsi ku aja gak kelar-kelar."
"Bukan itu. Begini Radit pacar ku mau datang kemari. Tolong kamu cegah dia agar tidak masuk ke fakultas kita ya."
"Hah pacar kamu kemari? Buat apa? Ini kan masih jadwal kuliah. Gila tu cewek kamu. Main nyosor aja."
"Ssstttt jangan katain dia begitu. Mau gak kamu bantuin aku? Kamu cukup mengatakan padanya bahwa aku gak datang ke kampus hari ini."
"Tega banget kamu berbohong sama pacar sendiri. Emang kenapa sih kamu menghindarinya? Apakah kamu sudah menemukan cewek yang baru lagi ya?" Ledek Radit.
"Wah ngeri pikiranmu. Aku gak gitu Radit. Kamu percaya apa gak sama ku gak masalah. Intinya kamu katakan aja padanya begitu."
"Oh tidak bisa. Itu urusan mu. Aku gak mau terlibat. Lebih baik kamu temui aja kekasih mu itu apa susahnya sih?"
"Masalahnya aku harus perbaiki skripsi ku sekarang. Kesalahannya gak banyak. Aku udah mau masuk ke bab tiga. Tolong dong kerja samanya. Kamu gak peduli banget dengan teman mu ini."
"Hah oke deh. Tapi ingat ya kamu harus selesaikan skripsi kamu itu sekarang. Aku mau kamu juga bantu aku menyelesaikan skripsi ku juga entar."
"Nah gitu dong. Thanks! Kamu emang teman yang sangat peduli kepada temannya. Bye Radit!"
"Dasar bucin. Gak mau kehilangan ceweknya. Di sisi lain gak mau menjadi mahasiswa abadi. Vikram, Vikram!" Ucap Radit menggeleng-geleng.
"Bagus deh si Radit mau nemui si Debi. Mungkin aja dengan bertemunya Debi dan Radit, maka Debi akan melupakan aku. Maafkan aku ya Debi. Aku gak bisa lagi bersamamu," gumam Vikram berjalan ke parkiran.
"Itu kan Debi! Sejak kapan dia di parkiran? Dia gak boleh lihat aku. Aku harus sembunyi!" ucap Vikram menutup wajahnya dengan tas ranselnya.
"Sudah lama gak bertemu dengan Vikram. Lebih baik aku langsung masuk ke fakultasnya. Pasti dia udah nungguin aku," ucap Debi berjalan melewati Vikram.
"La-la, La-la kamu cantik, cantik dari hati mu," Debi melompat-lompat kecil seraya bernyanyi.
"Syukurlah dia gak lihat aku. Sekarang aku harus cepat pergi. Sebelum dia melihatku," ucap Vikram buru-buru melajukan motornya.
__ADS_1
"Aku hubungi Vikram dulu deh. Aku kasih tahu padanya bahwa aku udah nyampai di fakultasnya."
"Hai cantik!" Sapa Radit yang baru saja tiba di hadapan Debi.
Debi tersipu malu dan tak jadi menghubungi Vikram.
"Kamu Debi kan?" Tanya Vikram.
Debi mengangguk.
"Kamu mengenal ku? Apakah kita pernah bertemu?" Tanya Debi.
"Belum sih. Tapi aku tahu tentang mu dari Vikram."
"Cowok ini tampan sekali. Kulitnya putih bersih, wajahnya membuat ku damai, matanya indah, tingginya dan berat badan ideal, senyumannya begitu menggoda, dia gak sombong, beruntung banget aku bisa kenal samanya," lamunan Debi.
"Nih cewek kenapa lihat aku begitu? Aku kabur aja lah!" gumam Radit berjalan mengendap-endap.
...****************...
"Kakak apakah kakak yakin kita bekerja? Apakah kita gak nunggu om dan tante pulang dulu."
"Kita gak bekerja hari ini Zeexsa. Ga mungkin kita tinggalkan rumah tanpa mengabarkan mereka."
"Gak kemana-mana. Kakak hanya mau terlihat rapi saja."
"Hm ternyata kakak rapi itu bukan karena mau keluar ya? Kirain mau bekerja."
"Zeexsa kenapa foto itu bisa dengan Haikal ya?"
"Foto kemarin yang dia kasih itu ya kak?"
"Iya Zeexsa. Foto itu kan gak salah udah lama hilang. Kakak aja gak udah mencarinya kemanapun tetap gak ketemu."
"Jadi maksud kakak foto itu hilang?"
" Iya Zeexsa. Itu foto ada ketika ibu baru aja melahirkan mu."
"Ibu melahirkan ku dimana kak?"
"Di rumah dukun beranak lah. Rumahnya dekat dengan Pak Usman."
"Seram amat kak. Kenapa harus ke dukun beranak sih? Kenapa gak ke dokter aja?"
__ADS_1
"Kamu ini. Kan sama aja itu. Sekarang kan kamu juga sudah selamat hingga tumbuh sebesar ini," ucap Shizuka merapikan kamarnya.
"Benar juga sih!" Ujar Zeexsa tersenyum.
"Terus yang bernama Zoya itu kak? Kenapa dia gak pernah aku lihat? Kakak bilang dia teman ibu. Kok gak pernah aku lihat dia ziarah ke makam ibu?"
"Kalau itu kakak gak tahu Zeexsa. Semenjak ibu meninggal, Kak Zoya gak ada kabar lagi."
...****************...
"Haikal kamu menunggu siapa? Kamu dari tadi tampaknya menanti seseorang," ujar Kartika.
"Shizuka!" Jawab Haikal ketus.
"Kenapa kamu menanti dia? Dia kan gak bekerja di sini."
"Kamu yakin?" Tanya Haikal seraya mengambil ponselnya di mejanya.
"Jangan bilang kamu memintanya bekerja lagi di sini? Kamu gak melakukannya kan Haikal?"
"Kenapa emangnya jika saya membawa Shizuka lagi kembali ke sini? Apa masalahmu?"
"Dia itu gak bisa kerja di sini lagi. Bagian Desain kan sudah di isi oleh Alda, Rona, dan Wilda. Apanya lagi yang kurang," ujar Kartika.
"Emang mereka bertiga juga kerjanya bagus. Tapi tetap saja Shizuka harus bekerja di bagian desain. Apa masalahnya sih?"
"Ya masalah lah. Dia itu gak pantas bekerja di perusahaan ini."
"Saya gak butuh pendapatmu. Saya akan tanyakan pendapat Pak Faiz. Permisi!"
"Haikal! Tolong kamu jangan masukkan Shizuka lagi ke perusahaan kita," pinta Kartika menghambat langkah Haikal.
"Sorry Kartika. Keputusan saya sudah final. Minggir saya mau lewat!" Haikal menepis tangan Kartika yang memegangnya.
"Haikal!" Teriak Kartika.
"Ada apa sih Kartika? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Salwa.
"Shizuka akan kembali bekerja di sini lagi Salwa."
"Bagaimana bisa?"
"Haikal yang memintanya kembali bekerja. Aku sudah berusaha menahan Haikal agar tidak mengatakan pendapatnya ini kepada pak Faiz. Tapi dia tetap menolak. Sekarang pasti dia bisa membuat Pak Faiz menyetujui permintaannya itu. Sama seperti pertama kali ia membawa Shizuka kemari."
__ADS_1
"Terus kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Salwa khawatir.