
Kemarin salah naruh naskah, tapi udah aku hapus kok ðŸ¤
Happy Reading.
Suasana makan malam di kediaman Adam Airlangga nampak begitu tenang. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring dan itu membuat Andara sedikit merasa lega, karena dia pasti akan gugup kembali kalau sampai di interogasi oleh Adam dan Arsya.
Mungkin juga dia bisa tersedak saking gugupnya menjawab pertanyaan-pertanyaan random dari kedua pria yang begitu berpengaruh itu. Untung tadi dia sudah dikasih arahan sama Axelo tentang bagaimana dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang misal nanti akan dilontarkan oleh Adam ataupun Arsya.
Meskipun sejauh ini Ayah dan Kakak Axelo masih terlihat baik terhadapnya, tapi Andara kan tetap was-was.
"Ada saosnya," Andara tersentak ketika merasakan jemari Axelo mengelus sudut bibirnya sambil tersenyum.
'Astaga!! Pak CEO! Kenapa aktingmu maksimal sekali!' batin Andara terkaget-kaget melihat tingkah Axel yang di luar nalarnya.
Bisa-bisa dia nanti jadi baper beneran kalau di romantisin seperti ini.
'Sadar Dara, kita ini sedang akting, dan ingat uang 150 juta akan masuk saldomu tiap bulan dalam waktu 3 tahun, jadi jangan sampai kamu terbawa perasaan!'
__ADS_1
Andara harus mengingatkan dirinya jika pria yang sedang bersikap sok manis di sampingnya ini adalah seorang pebinor dan sedang melakukan akting di depan selingkuhan nya. Uppss, maksudnya mantan selingkuhan nya kalau dia benar-benar serius berhubungan dengan Andara.
Meskipun ada percikan bunga di hatinya, tapi Andara terap harus sadar diri dan jangan gugup.
Berbeda dengan Andara, Laura yang sejak tadi saat melihat Axelo membawa wanita yang dia kenalkan sebagai calon istrinya, moodnya langsung terjun bebas. Matanya sesekali melirik ke arah Axel dan Andara. Hatinya yang sudah seperti kobaran api bagai di siram bensin dan semakin membuatnya membara ketika melihat Axelo bersikap manis terhadap wanita itu.
Laura masih ingat dengan jelas siapa Andara itu, beberapa kali melihat wanita itu pernah masuk ke ruangan Axelo. Awalnya dia tidak curiga karena Laura menganggap jika Andara hanya mengantarkan laporan keuangan untuk Axelo.
Laura juga ingat kalau Andara adalah salah satu staff keuangan, anak buah Andre yang juga masih sepupu Axelo.
Lalu sejak kapan mereka berhubungan, Laura bertanya-tanya dalam hati. Wanita itu semakin kesal sendiri jika dia ingat bahkan seminggu yang lalu dirinya dan Axelo masih makan malam romantis di ruangan VVIP.
Terdengar suara kursi yang ditarik, dan itu adalah kursi Laura. Wanita itu berdiri dan otomatis memundurkan kursinya yang berbunyi begitu nyaring sehingga membuat semua orang yang ada ditempat makan itu menatap ke arahnya secara bersamaan.
"Maaf, aku sudah kenyang dan perutku terasa tidak enak, aku izin ke kamar dulu Ayah, Mas Arsya," pamit Laura.
Adam hanya berdehem, sedangkan Putri tetap anteng sambil disuapi pengasuhnya di meja samping sang ibu. Dan Arsya langsung ikut berdiri dengan raut wajah khawatir terhadap sang istri.
__ADS_1
"Sakit kenapa Ra?" Tanya Arsya memegang tangan istrinya.
Laura melepas tangan suaminya perlahan, "aku nggak apa-apa kok mas, biasa cuma nyeri datang bulan, aku ke kamar dulu ya?" Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Laura langsung pergi setelah mencium pipi Putri.
Wanita itu sedikit mempercepat langkahnya untuk sampai dikamar Arsya. Kamar yang dulu ditempati suaminya itu sebelum menikah. Laura memutuskan pergi secepatnya dari meja makan agar bibirnya yang sejak tadi gatal tidak mengeluarkan semuanya dihadapan Ayah mertua dan suaminya.
Hatinya sungguh sakit saat melihat bagaimana Axelo yang sama sekali tidak menatap ke arahnya lagi. Bahkan dihadapannya, Axelo memperlihatkan perhatiannya pada wanita lain.
Laura merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size itu, tubuhnya ia balik menjadi posisi telungkup. Perlahan air matanya mulai jatuh berlinang.
'Aku nggak bisa Axel, aku nggak kuat harus nahan sakit! Aku harus gimana!!'
Ceklek!
Laura bisa mendengar suara pintu dibuka dan langkah kaki yang terdengar perlahan menuju ke arahnya. Bolehkah dia berpikir jika orang itu adalah Axelo, mungkin saja Axelo menyusulnya karena merasa kasian terhadapnya. Ya, Axelo selalu perhatian dan tidak tega dengannya jika sedang sakit seperti ini.
Dia merasakan elusan di kepalanya yang begitu lembut, Laura tersenyum. Dia tahu jika Axelo pasti akan pernah tega dengan kondisinya. Laura merasakan pergerakan di sampingnya, sepertinya orang itu duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
"Sayang, gimana keadaan mu?"
Bersambung.