Skandal Sang CEO

Skandal Sang CEO
BAB 59


__ADS_3

Happy Reading.


Andara sudah sampai di apotik dan membeli test pack dengan dua merek yang berbeda. Setelah membayar kemudian dia masuk ke dalam mobil dengan harap-harap cemas. Andara selalu berdoa berharap Tuhan mengabulkan permohonan nya.


Andara mengemudikan mobilnya tidak terlalu cepat, sedang-sedang saja, karena jarak apotik dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Dia tidak mau meminta tolong Bik Sum karena dia meminta pelayannya itu untuk memasak makan malam.


Andara sudah sampai di depan rumahnya dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah di samping mobil Axelo. Ternyata suaminya itu sudah berada di rumah.


Andara segera keluar membawa tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya juga kantong kresek berisi alat tes kehamilan. Kemudian menutup pintu mobil dan segera berjalan masuk ke dalam rumah.


Andara melihat Axelo yang turun dari tangga masih memakai pakaian yang kerjanya, berjalan ke arah sang istri sambil tersenyum.


"Dari mana, sayang?" tanya Axel saat sudah di depan sang istri.


Andara mengambil tangan Axelo dan mencium punggung tangan suaminya, membuat pria itu begitu berbunga dan merasa sangat di hormati. Axelo tidak mau kalah dari Andara, pria itu langsung menghujami pipi sang istri dengan ciuman.


"Ehmm, baru dari apotik, persediaan obat di kotak P3k udah habis," jawab Andara sambil memperlihatkan gigi-giginya.


Tentu dia berbohong masalah membeli obat itu karena Andara punya stok obat di kotak itu. Tapi dia juga tidak mungkin memberitahu Axelo tentang alat tes kehamilan itu, Andara sendiri belum tahu pasti apakah dia positif hamil atau tidak.


Mungkin ia akan memberitahukan pada suaminya kalau dirinya benar-benar sudah positif.


Kedua pasangan pengantin baru itu berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Axelo sambil melepaskan pakaiannya.


"Ehmm, keadaan? Aku gak apa-apa," Axelo menatap Andara, meneliti wajah istrinya itu yang terlihat sedikit pucat.


Tadi Bik Sum mengatakan jika Andara muntah saat mau masak.


"Syukur kalau kamu nggak apa-apa, aku cinta kamu, sayang!"


"Aku juga cinta banget sama kamu mas," jawab Andara memeluk suaminya. Axelo sekarang selalu mengucapkan kata cinta untuk Andara karena ingin mengatakan betapa cintanya pria itu.


"Terima kasih, terima kasih!" Axel mencium bibir Andara sekilas kemudian memeluk istrinya itu.

__ADS_1


"Mandi dulu, gih! Nanti abis itu kita makan malam, tadi aku udah nyuruh Bik Sum bikin omlet sayur," ucap Andara mendorong tubuh suaminya.


"Iya, bentar lagi, aku masih kangen, pengen mandangin kamu terus," mulai lagi mode manjanya.


"Masa mau liatin terus, nanti aja kalau udah mandi, udah wangi terus kamu pandang aku sepuasnya," jawab Andara tertawa. Axelo mencubit hidung Andara gemas.


"Oke deh, aku mandi dulu, ya?" Axelo melepas pelukannya kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Andara yang melihat suaminya sudah menutup pintu kamar mandi langsung segera mengambil sesuatu di dalam tasnya.


"Aku akan tes di kamar mandi lain, harus segera di cek biar gak penasaran," gumam Andara kemudian keluar dari dalam kamar dan pergi ke kamar sebelah untuk melihat hasil tes itu.


Tidak lupa membawa wadah kecil dan kresek yang dia beli tadi ke dalam kamar mandi.


Setelah menampung air seni di wadah dan kemudian mencelupkan alat tes kehamilan itu Andara benar-benar harap-harap cemas.


"Kenapa aku jadi gugup!" gumam Andara terus-terusan melihat benda yang di bawanya itu.


Andara menunggu harap-harap cemas, hitungan di menit 2 langsung membuat Andara tidak sanggup untuk tidak menutup mulutnya.


Dua garis merah yang tertera di alat itu membuat Andara benar-benar merasa sangat speechless. Akhirnya dia di beri kepercayaan oleh Tuhan. Tentu saja dia merasa sangat bahagia.


"Sudah tiga bulan aku menginginkan momen ini, dan akhirnya semua itu benar-benar terjadi," gumam Andara berkaca-kaca.


Tok, tok, tok!


Terdengar suara pintu kamar mandi diketuk. Andara segera menghapus air matanya.


"Sayang!! Apa kamu di dalam!" Seru Axelo.


"Iya, sebentar," Andara mengendalikan dirinya.


"Kenapa lama sekali, sayang!" seru Axelo yang baru saja selesai membersihkan diri. Dia tidak mendapati istrinya di dalan kamar, tentunya dia langsung pergi mencari Andara di kamar sebelah.


Andara tersenyum lebar dan segera membuka pintu kamar mandi itu. Axelo sedikit terkejut ketika melihat Andara tiba-tiba berhambur memeluknya.

__ADS_1


"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Axelo cemas, tapi Andara langsung menggeleng.


Dia hanya menyodorkan sebuah benda yang sejak tadi ia genggam.


Mata Axelo membulat sempurna kala melihat benda yang tidak asing itu.


"Ini-ini?" Axelo memandang Andara yang kali ini langsung mengangguk.


"I'm pregnant!" ujar Andara tersenyum. Axelo semakin menganga tidak percaya.


"Apa?? Kamu beneran hamil?"


"Iya mas, aku hamil," Axelo langsung memeluk istrinya erat. Dia benar-benar merasa sangat bahagia. Merasa kehidupan nya begitu sempurna karena diberi kepercayaan oleh Tuhan.


Tidak ada kata bahagia yang dirasakan oleh dua pasang suami istri yang baru tiga bulan menikah itu. Masih dengan rasa ketidakpercayaan yang menyelimuti hati mereka ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan tersebut.


"Doaku dikabulkan mas," ujar Andara.


"Doa mas juga sayang," Axelo mengecup bibir sang istri.


Kemudian mengajak Andara untuk kembali ke kamar, Axelo dan Andara duduk di sisi ranjang.


"Ternyata bibit ku unggul juga, ya?" ucap Axelo tersenyum. Membelai rambut Andara yang saat ini bersandar di dadanya.


Andara mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami, merasakan kebahagiaan yang begitu besar.


"Gimana gak unggul dan langsung jadi secepat ini, kan minumnya vitamin dan jamu kuat terus, tiap hari bercocok tanam tanpa ada kata libur," sungut Andara membuat suaminya tergelak.


Jangan kaget, Axelo memang sangat rajin menjaga kesehatan dengan meminum suplemen atau vitamin. Tapi setelah menikah dia menambahkan vitamin penambah stamina agar lebih greng lagi dan kuat berlama-lama menggagahi istrinya.


"Berarti nanti anak kita dan Arsya tidak beda jauh ya?"


"Iya, mbak Laura sekarang hamil 4 bulan, dan mungkin aku sudah sebulan lebih," jawab Andara.


"Jadi nggak sabar pengen lihat dia tumbuh besar," Axelo menunduk, mencium rambut sang istri. "Kalau cowok pasti akan ganteng seperti aku, kalau cewek juga akan cantik seperti kamu."

__ADS_1


Andara mendongak berusaha menatap wajah suaminya yang terlihat dari arah bawah, rahang tegas yang ditumbuhi jambang tipis, bibir merah tipis dan sedikit tebal di bagian bawah, serta hidung mancung ala-ala bule turki tidak besar dan tidak terlalu kecil. Memang kenarsisan suaminya ini adalah fakta, karena dia memang begitu tampan.


Bersambung


__ADS_2