
...Pasti banyak yang bertanya-tanya, kenapa sifat Tiya dibuat seperti itu? Padahal Arsya baik banget. Ya, memang di sini antagonis sebenarnya adalah Tiya. Ini juga kisah terinspirasi dari kisah nyata, dimana saudara sepupu yang menyukai sepupunya sendiri ๐คญ๐คญ...
Enjoy ya๐๐
Happy reading
Laura dan Arsya sedang berkunjung ke rumah Axelo. Mereka ingin mengunjungi Tiya karena putri keduanya itu tidak pulang selama berbulan-bulan.
Sebenarnya Arsya tidak enak hati melihat Tiya yang seperti ini. Laura juga tidak mengerti kenapa putri keduanya tidak mau tinggal serumah dengannya.
"Maaf ya Ra, Tiya jadi ngerepotin kamu terus," ujar Laura tidak enak hati.
Andara tersenyum, "nggak apa-apa mbak, lagian Tiya udah aku anggap seperti anak sendiri, dia juga nggak ngerepotin soalnya baju-bajunya dia dicuci sendiri, mungkin dia juga ingin mandiri mbak," jawab Andara.
Laura menghela nafas, dulu awal Tiya tidak betah tinggal dirumah karena kakaknya Putri. Tiya merasa jika dia dan Arysa lebih menyayangi Putri, padahal itu hanya sugesti Tiya sendiri.
"Kalau bisa kamu bujuk dia biar mau pulang, nggak baik juga lama-lama nginap di rumah orang meskipun itu rumah Omnya sendiri, aku takut tidak bisa menjaga Tiya karena jauh dari pengawasan ku, kamu juga sekarang punya bisnis kuliner, jadi jarang dirumah juga," Laura mengeluarkan uneg-uneg tentang putrinya itu.
Dia merasa jika ada suatu yang salah pada diri Tiya, terkadang Laura seperti tidak mengenal anaknya itu.
"Iya mbak, nanti kapan-kapan aku akan nasihati dia untuk sesekali pulang ke rumah karena Mbak dan Pak Arsya pasti sangat kangen sama Tiya," ujar Andara.
"Lebih tepatnya aku khawatir sama dia, Ra," jawab Laura.
"Iya mbak, aku sama mas Axelo jarang di rumah, kalau aku nggak di restoran nanti aku akan lebih mendekatkan diri sama Tiya," Laura tersenyum haru.
"Makasih Andara."
Setelah itu mereka berakhir makan malam bersama. Arie dan Tiya juga ikut makan malam, mereka semua mengobrol hangat dan mengenang 6 tahun
*****
Siang itu di kampus, terlihat Arie sedang menjemput kekasihnya. Ya, itulah rutinitas dia. Tidak mau terlewatkan sehari saja untuk tidak bertemu sang kekasih.
Arie benar-benar memanjakan Dian dengan penuh kasih sayang, sangat berbeda rasanya ketika bersama Serli.
Dian tersenyum melambaikan tangan saat melihat cowoknya yang sedang bersandar di bahu depan mobil. Arie langsung berdiri tegak dan menyambut kekasihnya itu dengan sebuah pelukan.
"Sayang, udah makan belum?" tanya Arie pada Dian ketika pelukan mereka terlepas.
"Belum, kan mau makan sama kamu," jawab Dian tersenyum.
Arie mendekat mengelus rambutnya kemudian ... cup!
Mata Dian melotot kesal karena tiba-tiba Arie mencium bibirnya. Benar-benar tidak tahu tempat saja.
"Awwww sakit sayang, kok dicubit!" teriak Arie mendapat kan cubitan keras diperutnya.
"Tuh bibir minta di sekolahin, biar sopan!" Sungguh Dian harus menjaga emosi jiwanya melihat kelakuan Arie yang messum tingkat tinggi.
"Iya sayangku, maaf ya? habisnya aku udah kangen banget tahu," jawab Arie sambil mengacak rambut Dian gemas.
Dian meskipun kesal tapi dia juga diperlakukan dengan begitu sayang seperti ini oleh Arie. Sungguh dia tidak pernah menyangka bisa menjadi kekasih seorang Arie Airlangga, salah satu keturunan Airlangga yang diyakini mewarisi hampir lima puluh persen harta keluarga konglomerat itu.
"Yuk, kita makan," Arie menarik lembut tangan Dian dan akan membuka pintu mobil.
Tiba-tiba datang seorang gadis cantik memakai jaket pink putih, membuka sebelah jaketnya dan memperlihatkan bahu mulusnya. Gadis itu menyapa mereka.
"Hai kalian mau pulang atau kemana?" tanya Tiya tersenyum ramah.
"Eh,, Tiya, kita mau makan siang dulu, nyari tempat makan yang dekat-dekat sini aja," jawab Dian.
Arie merasa tidak suka dengan kehadiran Tiya yang menurutnya selalu ingin mengusik kebersamaan nya dengan Dian.
Helo Arie! Apa kamu baru sadar jika Tiya selalu seperti ini saat kamu bersama dengan kekasihmu yang dulu-dulu. Apakah saat bersama Serli, apa Arie sama sekali tidak merasa jika kelakuan Tiya juga selalu mengusiknya?
"Ya udah ya, kita mau pergi dulu," ucap Arie merangkul Dian dan menuntun kekasihnya untuk masuk ke mobil.
Tiba tiya memegang kepalanya dan ... Bruukkk!
"Tiya!!" teriak Dian keluar dari mobilnya.
"Tiya, Lo gak apa-apa?" Arie memegang pundak Tiya menaruh kepala nya di paha, dia sangat khawatir. Begitupun dengan Dian.
"Kepala gue tiba-tiba pusing," lirih Tiya.
"Kita ke rumah sakit ya?" usul Dian
__ADS_1
"Eeh gak usah, ini gue cuma pusing aja, anterin gue pulang Arie. Gue gak kuat, kepala gue sakit banget," ucap Tiya memelas.
"Oke-oke, lebih baik emang harus segera pulang kalau kondisi lo kayak gini!"
Kemudian Arie dengan tergesa segera membopong tubuh Tiya dan memasukan kedalam mobil.
"Mobil gue gimana?" tanya Tiya yang sudah duduk di jok bagian samping kemudi.
"Biar aku aja yang bawa, kamu sama Arie duluan ya, kasihan Tiya," Dian yang menjawab.
Tiya tersenyum senang, lalu Arie mengemudikan mobilnya setelah Tiya memberikan kunci mobilnya untuk Dian.
Diperjalanan Dian mengemudikan mobil Tiya dengan mengikuti mobil Arie dibelakangnya. Setelah 20 menit mereka sampai dirumah Arie.
Tiya masih dengan mode manja minta di gendong, Arie hanya mengiyakan. Arie membawa Tiya ke lantai atas dan langsung merebahkan Tiya di ranjang nya.
"Masih pusing?" tanya Arie.
Tiya hanya mengangguk, tidak lama kemudian Dian datang ke kamar dan mengembalikan kunci mobil Tiya.
"Kalau masih sakit mending periksa ke dokter aja," ucap Arie memegang dahi Tiya mengecek suhu badanya tetapi tidak panas.
lalu Tiya mengambil tangan Arie dan menggenggam nya.
Dian melihat interaksi mereka dengan sedikit senyum. Ada rasa sakit di dada nya melihat Arie yang begitu perhatian dengan wanita lain. tapi Dian langsung mengeyahkan pikiran itu.
'Mereka kan saudara sepupu, ya jelas Arie pasti khawatir. Kamu kok mikir aneh-aneh gitu sih Di!' batin Dian mengingatkan dirinya.
Kemudian Dian menghampiri Tiya yang masih berbaring.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Dian.
"Udah mendingan, aku memang sering pusing karena anemia," jawab Tiya.
"Dia emang gitu, selalu mengabaikan kesehatan nya," timpal Arie seakan tahu banyak tentang sepupu nya itu.
"Tolong ambilin minum donk Rie, gue haus," ucap Tiya manja.
"Iya-iya, gue ambilin, dasar manja," jawab Arie berlalu mengambil air minum di dispenser.
"Iya, bagian situ Rie, terus ke bawah,, hemm,, kayak nya aku masuk angin juga, agak mual," ucap Tiya melirik ke arah Dian.
Arie masih mengoles minyak tersebut kearah perut yang ditunjuk oleh Tiya.
Dia menggerutu kesal karena tiya menyuruh-nyuruhnya. Tapi Arie tidak bisa menolak, karena biar bagaimanapun Arie memang menganggap Tiya sebagai saudara sepupu, seperti Arie menganggap Putri dan Evan. Tidak ada perasaan apapun untuk Tiya.
Dian masih terdiam melihat itu semua, rasa nya dia cemburu saat Arie menyentuh tubuh wanita lain. Tapi sekali lagi dia harus menepisnya. Dian sadar jika mereka adalah saudara.
Karena merasa diabaikan dan hanya melihat dua orang yang sibuk itu, Dian memutuskan untuk pulang.
"Aku pamit dulu ya, soalnya butik lagi rame karena banyak pesanan yang harus di packing," ucap Dian berpamitan pada Arie dan Tiya.
"Loh yank, kok pergi sih? kita kan belum makan?" Tanya Arie.
"Iya, tapi maaf aku harus segera ke butik, ini tante Dea udah chat terus," bohong Dian.
Dia tidak mau terus melihat adegan dihadapannya itu. Terlalu sakit, mungkin menurut Arie itu biasa. Tapi entah dia merasa kalau Tiya memang sengaja melakukan nya. maka dari itu Dian harus segera pergi.
"Ya udah kalau gitu, aku anterin ya?" tawar Arie.
"Nggak usah yank, aku naik taksi aja. Lagian Tiya kan membutuhkan mu."
Tiya tersenyum ke arah Dian, sebenarnya Arie ingin memaksa untuk mengantar kan Dian, tapi kekasihnya itu tetap menolak.
"Aku pamit dulu may," ucap Dian.
Dan hanya diangguki oleh Tiya.
'Lihat saja raut wajahmu itu Di, aku tahu kamu sedang cemburu melihat Arie perhatian sama aku. Aku gak akan melepaskannya. Kamu lihat saja, aku akan membuat kalian berpisah. Batin Tiya dengan smirk penuh dengan kemenangan.
*****
Dian memandang keluar jendela mobil. Dia naik taksi menuju butik. Entah apa yang dirasakan saat ini, hatinya bergejolak.
'Kenapa aku merasa Tiya adalah ancaman di hubungan ku dengan Arie, terlihat dari matanya yang mengatakan kalau dia menyukai Arie bukan sebagai saudara, melainkan sebagai seorang laki-laki,' batin Dian.
Feeling Dian memang mengatakan jika tatapan Tiya dan segala bentuk rengek manjanya adalah rasa suka terhadap lawan jenis. Dian paham betul bagaimana tatapan Tiya saat memandang Arie. Meskipun Dian tahu kalau Arie sama sekali tidak menyadari dan tulus menolongnya sebagai sepupu, tetap saja perasaan Arie sangat tidak enak.
__ADS_1
Tak terasa ternyata taksi sudah berhenti di depan butik. Dian yang sadar langsung membayar dan keluar dari dalam taksi tersebut.
Maya melihat kehadiran sepupunya itu yang terlihat sedih, lalu dia menghampiri nya.
"Kenapa wajahnya ditekuk?" tanya Maya langsung.
Dian menatap Maya dengan tatapan sendu. "Nggak apa-apa kok, oh ya gimana pesanan yang mau diantar?" Tanya Dian mengalihkan perhatian.
"Itu aku lagi membungkusnya. Kamu kenapa sih Di, jujur deh?" Tanya Maya penasaran.
"Ehmm bilang gak ya?" Dian memainkan telunjuk di dagunya.
"Harus bilang donk, kita kan janji gak kan ada rahasia-rahasia lagi!"
Dian memajukan wajahnya ke arah telinga Maya.
"Eehmm gini May,, sebenarnya aku lapar," jawab Dian sedikit berbisik seakan mengatakan sesuatu yang penting.
"Loh kan katanya tadi mau makan sama Arie, emang gak jadi?" tanya Maya terkejut.
Dian menggelengkan kepala. Lalu akhirnya dia mengambil ponsel di dalam tas dan memesan makanan online.
"Tiba-tiba Arie ada urusan, kami gak jadi pergi makan siang," jawab Dian sambil melangkah ke arah kamar mendi.
Maya hanya menghela nafas, setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terlihat seorang gadis cantik masuk kedalam butik.
Maya membelalak tajam, dia melihat Ana, sahabat sekaligus musuh yang telah merebut kekasihnya itu.
"Hai Maya 'kan? masih ingat aku gak?" tanya gadis itu yang melihat Maya langsung dan menghampirinya.
"Tentu saja aku ingat, kamu ana kan?" jawab Maya datar. Sebenarnya dalam hati dia ingin sekali menampar, menjambak dan mengusir wanita dihadapannya ini, tapi tentu saja Maya tidak akan melakukannya. Dia masih memiliki hari nurani.
"Ternyata kamu masih ingat ya, aku baru 2 bulan balik dari London. Setelah Lulus SMA orang tuaku menyuruh kuliah diluar negri, tapi setelah hampir 4 tahun aku gak betah dan balik lagi kesini," ucap Ana panjang lebar.
Maya memang menunda 1 tahun buat kuliah karena pernah sakit ketika setelah kelulusan,
Maya, Ana, Arie, riki dan Aldo sebenarnya mereka dulu pernah satu sekolahan pada waktu SMA. Tapi Ana tidak pernah sekelas dengan Maya. Mereka saling kenal dan pernah akrab karena pernah menjadi panitia di salah satu acara sekolah.
"Oh ya Maya, aku mau beli baju yang bagus, pas body dan terlihat cantik, karena nanti malam kekasih ku mengajak dinner, aku senang sekali bisa balikan sama dia lagi. Soalnya kita dulu putus karena dia gak terima aku tinggal ke luar negri. Sebenarnya gak putus juga sih, cuma lost contact aja, tapi aku senang sekarang bisa bersama dia lagi," ucap Ana berbinar.
Ana tidak tahu jika yang diajak curhat adalah mantan kekasihnya Reva yang juga dikhianati oleh cowok itu.
Maya langsung melengos mendengarnya, hatinya sakit. Dia tahu siapa laki-laki yang di ceritakan Ana itu.
Dian yang baru dari toilet melihat kedua orang itu, Maya memanggil Lani pegawainya untuk mengurus Ana. Dengan alasan sakit perut Maya pergi berlalu.
Dian yang melihat Maya pergi ke lantai atas segera menyusulnya.
"Ada apa May?" tanya Dian yang melihat Maya memandang kearah jendela kaca di ruangan itu sambil berderai air mata. Namun segera dihapus oleh gadis itu.
Maya hanya menoleh kemudian berlalu menuju balkon.
"Kenapa sakit banget ya Di rasanya di khianati itu, luka tapi tak berdarah,& ucap maya tiba2 meloloskan air mata yang sudah sejak tadi dia tahan.
Dia masih belum bisa lupa dan move on tapi mantannya Maya si Reva malah asyik merencanakan dinner romantis bersama kekasih masa SMA nya.
"Ada apa May, kamu kelihatan gak baik setelah bertemu gadis di bawah tadi," tanya Dian penasaran.
Gadis yang tadi itu selingkuhan nya Reva," jawab Maya sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.
" Apaa?!" Dian terkejut.
Rasanya dia ingin berlari ke arah gadis dibawah itu dan menjambak rambut nya.
"Biar aku samperin ke bawah May, kalau perlu aku tampar dia! dasar pelakor !" ucap Dian emosi. Namun Maya menatah lengan Dian.
"Gak usah Di, biarin aja, diakan pelanggan disini juga. Gak enakan kalau terjadi apa-apa sama kalian," cegah Maya
Dia tahu kalau Ana sebenarnya tidak salah, karena Ana juga tidak mengetahui kalau Reva dan Maya pacaran.
Jadi semua ini salah Reva, yang memainkan 2 hati wanita. Maya bersumpah akan menghapus semua ingatan tentang revan. masa-masa indah selama pacaran akan di kubur dalam-dalam.
Bersambung....
jangan lupa vote dan like nya ya.. Terimakasih๐๐๐๐
__ADS_1