
Happy Reading.
Disebuah rumah megah berlantai 2, Bily yang baru saja mengatakan kepada orang tuanya untuk segera melamar Desy dan menikahkannya, disambut tangisan dari sang mama.
Setelah mendapat pukulan dari papa nya juga, juga pasrah karena memang itu semua salah dia, karena telah menghamili seorang gadis.
"Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi seorang lelaki yang suka merusak anak orang! Papa kecewa sama kamu, besok kita ke rumah wanita itu dan melamarnya!" Ujar Papa Bily sambil memijit pelipisnya.
Bily menunduk, dia memang menjadi cowok yang brengsek, tapi sekarang dia sudah ada niatan untuk insaf sebagai playboy dan player wanita.
Bily juga mengabulkan permintaan Desy untuk bertanggungjawab karena tidak mau jika wanita itu nekat bunuh diri.
Tapi setelah bayinya lahir dia merencanakan untuk menceraikannya. Entah apa yang dipikirkan oleh Bily. dia merasa sudah bertanggung jawab dengan menikahinya, tapi tidak untuk hidup dengan Desy. Karena sekarang yang dia inginkan hanyalah Dian, tidak ada wanita lain dihatinya.
Dian tunggu aku, aku akan segera mendapatkanmu setelah masalah ini berakhir.
****
Di sebuah taman kota yang di tumbuhi bunga-bunga nan indah. Lampu-lampu yang berkelip, dan sebuah air mancur di sekitar pinggir taman. Dian yang baru saja diantarkan Maya sedang duduk menunggu kedatangan Arie.
Sebuah mobil sedan hitam metalic datang. Keluar sosok tampan nan sempurna berjalan dengan sangat gagah menghampiri sang gadis yang tengah menunggunya.
"Hai," sapa Arie.
"Hai juga," Dian tersenyum.
"Ayo masuk ke mobil, aku akan membawamu ke sebuah tempat, kita makan malam disana, setelah itu kita belanja dan nonton," ucap Arie.
"Baiklah, pastikan aku bisa senang dan menikmatinya," jawab Dian terkekeh.
'Cantiknya!' batin arie
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, akhirnya Arie melajukan mobilnya menuju sebuah Mall dipusat kota tersebut. Di dalam mobil Arie melirik ke arah Dian, begitu pun sebaliknya. Pada saat keduanya menoleh bersamaan, merekapun tertawa bersama karena ketahuan saling curi pandang.
Tiba-tiba Arie menggenggam tangan Dian, gadis itupun pun tersentak kaget, dia melihat ke arah Arie yang masih fokus untuk menyetir. Sebenarnya Dian ingin menarik tangannya, dia benar-benar gugup setengah mati, tetapi Arie menggenggamnya sangat erat.
Akhirnya Dian hanya membiarkan tangan yang hangat itu menyentuh dan menggenggamnya.
Jujur, lama-lama Dian juga merasa nyaman.
Entah kenapa perasaanya bisa seperti ini.
Dia tipe wanita yang tidak bisa tersentuh sebelum nya, bahkan dia selalu tidak merasa nyaman apabila di dekati oleh laki-laki.
Tapi kali ini perasaannya beda, tentunya merasa sangat nyaman aman
Selama hidup nya dia pun hanya berpacaran 1 kali, pada waktu kelas 3 SMP. Berpacaran selama 4 tahun tentunya bukan waktu yang sebentar.
Tetapi karena perilaku sang pacar yang membuat Ayah Dian menentang hubungan mereka. Bahkan setelah diputus mantan pacarnya yang bernama Aldi itu, cowok itu juga pernah menculik Dian untuk diajaknya pergi ke kalimantan, istilahnya mereka kawin lari. Tapi berhasil diselamatkan oleh orang kepercayaan ayahnya.
Jadi semenjak itu, Dian di bawa ke kota ini, hanya untuk terhindar dari sang mantan.
jujur sangat sakit sekali, ketika dia berusaha merelakan orang yang dicinta, tetapi orang itu malah menculiknya, bahkan hampir memperk*sanya.
"Dian, kamu kenapa diem aja?" tanya Arie yang melihat Dian melamun.
Seketika lamunan Dian tentang masa lalunya buyar, ketika Arie mengelus rambutnya.
"Eh, aku gak apa-apa kok, cuma keinget ayah dan ibuku." Jawab Dian tersenyum
Tentu saja dia tidak akan menceritakan yang sebenarnya dia pikirkan.
"Kalau kamu kangen ya tinggal telepon kan?"
"Iya, habis ini aku akan telepon mereka," ucap Dian tersenyum. Arie mengelus tangan Dian, bahkan tangan itu tidak terlepas sepanjang perjalanan.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di sebuah Mall yang cukup besar. Arie memarkirkan mobilnya dan turun membuka kan pintu mobil Dian.
Wanita itu merasa sangat istimewa diperlakukan seperti itu oleh Arie. Setelah itu mereka masuk ke Mall dan mencari restoran di dalam sana.
Akhirnya mereka telah masuk ke dalam restoran dan memesan makanan.
"Jadi kamu nggak suka gudeg?" Tanya Arie penasaran.
Dian mengangguk, "iya, jadi meski asli Jogja, aku gak suka nasi gudeg!"
"Kalau aku malah suka, aku suka makanan yang manis-manis," ujar Arie terkekeh.
Akhirnya mereka menunggu pesanan makanan sambil diselingi ngobrol.
Setelah pesanan datang mereka makan dengan di iringi canda tawa.
sesekali Arie menyuapi Dian dan wanita itu menerima suapan dengan tersipu.
Disisi lain.
Serli sedang berada di sebuah club malam, dia pergi bersama temannya, dia merasa ingin menghibur diri setelah Arie membatalkan janjinya buat kencan. Serli sudah menghabis kan banyak sekali minuman. Lelaki yang sedari tadi di samping Serli hanya menatapnya dengan terus menenggak gelas yang berada di tangannya itu.
"Udah puas belum Ser minumnya, gak usah banyak-banyak ntar Lo gak bisa bangun besoknya," ucap laki-laki itu.
"Gue masih kuat!" rancau Serli.
"Lo udah lama gak main ke sini, kenapa tiba-tiba Lo ngajak gue kesini lagi?" tanya laki-laki itu.
"Ini semua karena sahabat Lo itu gak jadi jalan sama gue dan entah kenapa dia jadi sedikit beda sekarang! Lo tahu dia kenapa Do?"
Ya, Laki-laki itu adalah Aldo, sahabat Arie. Pertama kali Serli bertemu dengannya juga di klub malam ini. Dulu waktu mereka masih awal kuliah.
Dan itu sebelum bertemu dengan Arie tentunya. Mereka sudah saling kenal lama, hingga akhirnya Serli bertemu Arie dan mereka pacaran.
Mereka dulu memang pernah dekat, tetapi perasaan mereka hanya sebatas sahabat dan tidak lebih. Aldo yang selalu ada untuk Serli dan begitupun sebaliknya.
"Udah, cukup!" Aldo menarik gelas dari tangan Serli.
"Apaan sih Al!"
"Ayo ikut gue," Aldo menarik Serli dan membawanya keluar dari klub malam itu.
****
Dian dan Arie yang sudah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung menonton film, karena Dian tidak mau di ajak belanja. Padahal tadi Arie berniat membelikannya baju, tas, sepatu atau barang lainnya yang biasanya perempuan suka, tetapi Dian menolak nya.
Biasanya setiap cewek yang dekat dengan Arie pasti selalu meminta hal-hal itu, makanya Arie tahu.
Setelah membeli tiket dan menunggu beberapa menit, akhirnya film pun dimulai. Film yang mereka tonton adalah film romantis sedikit dewasa.
Dian dan Arie duduk di bagian pojok. Mereka pun hanyut dalam film tersebut. Ada adegan saat pemainnya melakukan ciuman.
Dian menjadi sedikit tegang bercampur malu, diapun hanya memejamkan mata saat adegan itu di mainkan.
Tak lebih juga dengan Arie, diapun merasa sudah gelisah lalu dia melirik ke arah Dian, Arie melihat Dian memejamkan matanya.
'Apa dia malu lihat adegan dewasa,' batin Arie.
Tiba-tiba Dian merasakan ada tangan yang memegang dagunya, dia pun menoleh dan membuka mata. Tiba-tiba wajah Arie sudah berada sangat dekat. Bahkan Dian pun bisa merasakan hembusan nafasnya.
Cup.
Arie mencium Dian, hanya sebuah kecupan dan masih menempelkan bibirnya. Seketika Dian terperanjat kaget dan mendorong dada Arie.
"Maaf Di, kamu jangan marah ya?" ucap Arie merasa tidak enak karena tiba-tiba mencium bibir Dian.
Dian hanya menggelengkan kepala dan sedikit memundurkan badan. Dia masih terlihat shock dan malu atas kelakuan Arie tersebut.
"Aku bukan wanita murahan Rie, kenapa kamu mencium ku tiba-tiba?" Tanya Dian ketus
"Maaf banget Di, maafin aku ya? aku gak sengaja, tapi jujur aku bukan mau melecehkan mu, tapi aku melakukan nya karena aku suka sama kamu," ucap Arie jujur.
Hal tersebut langsung membuat Dian menoleh seketika.
"Apa yang kamu bilang?" Tanya Dian kaget.
"Aku suka sama kamu.. hemm maafin aku ya?" Arie menatap Dian lekat, dia mengusap pipi Dian dengan ibu jarinya.
Dian pun tersenyum dan mengangguk kemudian. Arie merasa sangat senang karena Dian tidak marah padanya.
__ADS_1
Setelah itu Arie mengambil tangan Dian dan menautkan jemarinya. Entah kenapa mereka jadi tidak fokus menonton. Mereka masih sama-sama saling pandang. Jantung mereka berdua masih berdegup kencang.
Setelah 1 jam kemudian.
Drrtt!
Ponsel Dian bergetar, ternyata itu pesan dari Maya.
"Maya kirim pesan, kalau dia udah mau pulang," ucap Dian kepada Arie.
"Ya udah kalau begitu, kita balik aja."
"Iya," jawab Dian sekilas.
Dia masih merasa canggung dengan situasi ini, begitupun dengan dengan Arie. Tetapi mereka harus segera pulang karena Maya juga sudah selesai dengan kencannya.
Setelah beberapa menit kemudian Arie dan Dian sudah sampai di taman. Dian masih belum berani mengenalkan Arie kepada tante dan om nya. Jadi dia menyuruh Arie menurunkan di taman itu lagi.
"Makasih ya Di untuk malam ini," ucap Arie di dalam mobil setelah mereka sampai.
"Aku juga makasih banyak ya, aku seneng banget malam ini kamu mau menemani aku," ucap Dian tersenyum.
Tiba-tiba Arie melepaskan seatbeltnya. Dia memajukan tubuhnya kearah Dian,
wajah nya semakin dekat, Dian yang melihat itu langsung memejamkan matanya,
tiba-tiba Arie berbisik di telinga Dian.
"Kamu cantik banget Di, aku suka sama kamu."
Tangan Arie pun mengelus pipi Dian, wajahnya dimajukan lagi, tapi tiba-tiba ponsel Dian berbunyi. Dian yang tersadar langsung mendorong tubuh Arie kesamping.
Saking kerasnya kepala Arie terbentur kaca jendela mobil.
"Awww sakit Di," ucap Arie sambil mengelus kepalanya yang terbentur kaca jendela.
"Maaf Rie, aku gak sengaja. Aku kan kaget tiba-tiba ponselku berbunyi," ucap Dian sambil nyengir kuda.
"Astaga!" Padahal tadi Arie mau menyosor Dian lagi, tapi ternyata waktunya tidak pas.
"Nggak apa-apa kan kepala?" Dian memegang kepala Arie, membuat lelaki itu semakin salah tingkah.
"Nggak apa-apa kok," jawab Arie.
"Maya nelpon aku, aku angkat bentar ya?" Arie mengangguk.
"Halo Maya, aku sudah sampai di taman, kamu dimana?"
"Aku juga udah sampai di taman, aku di sebelah air mancur, mobilku dibelakang mobil sedan hitam metalik!"
"Sedan hitam ..!!!"
Dian terkejut dan melihat kearah belakang, Arie yang tidak tahu pun ikut menoleh
dan ternyata mobil Maya sudah berada tepat di belakang mobil mereka.
"Ya elah, gak usah teriak kali, udah ya, gua tunggu disini. Udah hampir jam 10 malam, nanti kalau terlambat kita dikunci di luar." Ujar Maya.
"Y-ya udah kalau gitu tunggu aku kesitu!"
Dian mematikan ponselnya.
"Itu mobil Maya," tunjuk Dian ke belakang.
"Ya udah kamu cepat turun, pulang dan istirahat. nanti kalau sampe rumah aku kabari " ucap Arie sambil mencium kening Dian
main nyosor aja bang, kalian kan bukan sepasang kekasih.
Ahirnya dian keluar dari mobil Arie, seketika maya yang berada di mobil nya melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
ini kenapa dian keluar dari dalam mobil mewah itu..?? wah wah Dian kamu menyembunyikan sesuatu ternyata...
Batin maya
....
Maya sedang menginterogasi Dian tentang kejadian tadi, Dian menceritakan kalau dia berkenalan dengan seseorang dan mengajaknya jalan-jalan, diapun berkilah karena demi Maya dia mau membuat rencana itu.
"Tapi seperti nya disini untung semua deh Di, kamu jalan sama cowok itu. Sedangkan aku sama pacarku, besok-besok kita bisa jalan bareng-bareng, kenalin aku donk sama temen kamu itu?" ucap Maya panjang lebar
"Iya-iya, besok aku kenalin."
"Kamu suka gak sama tuh cowok? " tanya Maya
"Eehm suka sih, tapi kita masih tahap pengenalan sifat dan karakter masing-masing," jawab Dian tersenyum mengingat bagaimana tadi dia berdua dengan Arie.
'Gimana gak suka coba, perlakuan dia yang seperti itu bikin aku meleleh,' batin Dian cekikikan.
"Hey, hey kenapa malah senyum cekikikan kaya gitu, hayoo lagi mikirin apa? apa jangan-jangan," ucap Maya tidak diteruskan karena Dian menutup mulut maya dengan tangan nya.
"Kamu ngomong apa sih May, udah deh Ya aku mau tidur udah ngantuk," ucap Dian sambil berlari ke arah pintu, lalu keluar dan turun menuju kamar nya yang ada di bawah.
Sedangkan Maya hanya tertawa melihat tingkah Dian yang malu-malu seperti menyimpan sesuatu.
Apa dugaanku benar ya? pasti Dian dan temen nya itu saling menyukai. Batin Maya.
*****
Sinar mentari pagi menyinari jendela kamar yang terdapat seorang gadis yang tepatnya siapa lagi kalau bukan Serli. Dia menggeliatkan tubuh polosnya yang di balut selimut.
Ada sebuah tangan yang menyentuh pucuk kepalanya. Bahkan hawa panas terasa di belakang tubuhnya.
"Bangun Ser, ini sudah hampir jam 9 pagi" suara laki-laki yang tak lain adalah Aldo.
"Haaa... aku dimana!!!!" teriak Serli.
"Nggak ak usah teriak-teriak ser, telingaku sakit!" Serli terkejut ketika melihat Aldo.
"Apa tadi malam kita melakukannya lagi?" tanya Serli memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Seperti yang lo lihat dan lo rasakan," jawab Aldo enteng.
"Kamu kan udah janji Al, kita gak kan melakukan itu lagi!" teriak Serli.
Memang sebelum Serli kenal dengan Arie, dia dan Aldo bisa dikatakan dekat. Bahkan Aldo lah yang merenggut kesucian nya, tapi diantara mereka tidak melibatkan perasaan. Mereka hanya saling menguntungkan saja.
Tetapi setelah Serli bertemu dan jatuh cinta pada Arie, dia dan Aldo sudah tidak melakukan itu lagi. Karena Aldo juga sudah menyukai gadis lain yang tidak lain adalah Desy. Alhasil hubungan mereka ini ditutup begitu saja.
"Ya habisnya lo mabuk dan gak mau berhenti minum, jadi terpaksa gue bawa pulang," jawab Aldo terkekeh.
"Awas aja lo Al, elo udah manfaatin gue yang lagi mabok!" teriak Serli sambil melempar bantal ke arah Aldo.
Aldo hanya bisa menghindar dari amukan bantal Serli, setelah dirasa tidak ada bantal yang terlempar lagi, barulah Aldo mendekat keranjang.
"Udah gak usah ngamuk lagi, lagian tadi malam loe teriakin nama gue! haha .. aw aw aw.." Aldo berhenti tertawa karena Serli mencubit pinggangnya.
Serli cemberut karena kesal, sedang Aldo mengacak rambut wanita itu gemas
"Nie, cepetan lo minum!" Aldo menyodorkan pil anti hamil. Jaga-jaga agar Serli tidak hamil diluar nikah.
"Iya-iya gue pasti minum. Sekarang lo keluar, gue mau mandi," ucap Serli mendorong tubuh Aldo.
Setelah Aldo keluar, barulah Serli masuk ke ke kamar mandi dan melakukan ritual nya.
****
Dirumah Arie.
"Arie..!!! cepetan, keburu siang..!" teriak Bunda Andara di dekat tangga.
"Iya bund, buru-buru amat sih, lagian masih pagi juga," jawab Arie sambil menuruni anak tangga.
"Ini hampir jam 10, sudah buruan kamu keluarin mobil, terus anterin Bunda ke suatu tempat."
"Iya Bund," jawab Arie lalu berjalan keluar rumah menuju garasi.
__ADS_1
Setelah Arie mengeluarkan mobil dari garasi, Bunda Andara masuk dan kemudian mobil pun melaju keluar dari gerbang rumah.
Di tengah perjalanan Arie mendapat telfon dari Serli.
"Hallo Ser?"
"Maaf gue lagi anterin Bunda!"
"Ini lagi nyetir, ntar gue telpon lagi."
Tut tut tut!
Arie mematikan telepon nya.
Andara sedang melirik putranya, dia tahu siapa yang menelpon barusan.
"Cewek kamu telefon Ar, mau main kerumah lagi?" tanya Bunda.
"Iya Bund," jawab Arie singkat
"Arie, sebenarnya bukan maksud Bunda gimana-gimana, cuma entah kenapa Bumda gak terlalu suka sama cewek kamu itu. Mending kamu putusin dia, terus ntar Bunda kenalin sama temen Bunda. Dia gadis yang cantik dan baik, gak kaya kekasih mu itu, dia gak sopan sama orang tua," jelas Bunda Andara. Karena pernah beberapa kali berpapasan di Mall atau jalan, Serli tidak menyapa sama sekali.
"Sebenarnya kenapa sih Bunda gak suka sama Serli? alasanya apa?" tanya Arie.
"Ya Bunda gak suka sama dia karena Serli gak pernah menyapa Bunda ketika berpapasan," jawab Andara.
"Tapi kan Bun ...!'
"Kamu tuch ya rie, dibilangin orang tua gak usah jawab terus, Bunda cuma gak mau kamu dapat kekasih yang gak bener!"
"Gak bener gimana sih Bun?" tanya Arie lagi.
"Kata Tiya, dia pernah lihat cewek kamu itu masuk club malam," jawab Bunda Andara akhirnya.
"Bunda gak usah ngada-ngada deh, aku tau Serli itu cewek kayak apa bund, dia cewek yang baik," jawab Arie.
"Kamu tuh, kalau udah bucin ya jadi bodoh kaya gini, terserah kalau kamu gak percaya, tapi Bunda tetep mau kenalin kamu sama temen Bunda, titik!"
"Bunda mau ngajak pergi Arie cuma mau nyari jodoh buat Arie? gak deh Bun, mending kita pulang aja!"
"Eh eh siapa bilang, Bunda mau beli baju, udah cepet bentar lagi setelah belokan itu sampai," tunjuk Bunda Andara.
'Bukanya ini butiknya Maya, Dea's collection.' Batin Arie.
Setelah sampai parkiran ahirnya mereka keluar dari dalam mobil. Bunda Andara menggandeng lengan Arie lalu menyeret anaknya itu memasuki butik.
Didalam butik, Andara langsung mencari sosok wanita yang mau dikenalkan kepada putranya itu.
"Bunda mau nyari baju apa nyari apa sih, dari tadi cuma celingak celinguk aja," ucap Arie kesal karena Bundanya gak milih baju malah nyeret lengan Arie kesana kemari.
"Bunda mau nyari cewek itu, nanti Bunda kenalin ke kamu, pasti kamu bakalan suka deh," jawab Andara.
"Bund, udah deh, Arie gak bakalan bisa suka sama temen Bunda itu, masa iya Arie disuruh kenalan sama tante-tante seumuran Bunda," tanya Arie ketus.
"Eh ini anak nya masih muda, seumuran kamu," ucap Bunda Andara. Pokoknya tidak mau kalah dengan Arie.
"Percuma Bun, mau muda, mau tua Arie gak bakalan suka sama temen Bunda itu!" jawab Arie meyakinkan diri.
Bunda Andara menoleh dan memicingkan matanya menatap putranya.
"Yakin kamu gak bakalan suka?"
"Yakin!" Jawab Arie mantap.
"Oke, kalau kamu bisa langsung suka sama temen Bunda, kamu janji akan putusin Serli, tapi kalau kamu gak suka, kamu boleh terusin hubungan kamu itu," ucap Bunda Andara membuat kesepakatan pada sang Putra.
Arie nampak berpikir.
"Boleh juga Bun, Arie setuju!""
Bunda kira bisa mudah gitu, aku akan suka sama cewek, yang ada mereka yang tergila-gila padaku! hufh Bunda nyusahin banget. Batin Arie.
"Nah itu dia temen Bunda!! Dian!" teriak Andara.
Dian yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri sosok wanita yang memanggilnya tadi.
"Tante, apa kabar?" Dian mencium punggung tangan Andara.
Deg!
Arie benar-benar terpaku melihat Dian dan Bundanya saling kenal.
Jadi Dian temen nya Bunda? kalau dia sih aku langsung mau Bun! Jerit Arie dalam hati.
"Dian kenalin, ini anaknya tante, namanya Arie" Andara menyenggol lengan putranya.
Diam melihat Arie dan tersenyum. Dia merasa agak canggung dengan kejadian tadi malam antara mereka berdua.
"Halo Arie, apa kabar?" Sapa Dian berusaha tenang, karena saat ini jantungnya deg degan.
"Hai, Di, kabarku baik!"
Aduh memeleh nie hati tiap lihat senyum kamu, bibir mu itu ahh aku jadi pengen nyentuh lagi. Batin Arie.
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Andara bingung.
"Eh iya tante, kami saling kenal" Dian yang menjawab.
Sedangkan Arie hanya menatap Dian tak berkedip. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Andara.
"Ehemmm," Bunda Andara berdehem karena melihat anaknya yang terus menatap Dian terpesona. "Arie?"
"Ah iya Bund, kami saling mengenal," jawab Arie gugup.
Gimana gak kenal Bun, wong tadi malam aja kita jalan bareng, aku juga udah mencium bibirnya. Batin Arie senyum-senyum sendiri.
"Wah, bagus kalau kalian saling kenal, sekarang tante mau milih baju buat acara ulang tahun temen tante, ayo Di bantuin tante. Arie kamu duduk disini aja," Andara menunjuk sofa menyuruh Arie duduk karena tadi Arie mau mengekori Dian.
'Hahaha, Bunda tahu kelemahanmu sekarang, nak,' batin Andara tersenyum.
"Bunda benar-benar ngerjain aku," gumam Arie menggerutu sambil duduk di sofa tunggu.
****
Bily dan Desy sedang mencoba baju pengantin untuk akad mereka besok, orang tua Desy dan Bily menginginkan anak mereka menikah secepatnya.
Bily masih merahasiakan tentang semuanya dari sahabat-sahabatnya.
Desy sangat senang, sekarang akhirnya dia bisa menikah dengan laki-laki yang dia cintai.
Saat ini Desy sedang mencoba baju pengantin. Desy terlihat sangat cantik dengan baju terusan warna putih dengan bahu sebelah terbuka
"Sayang bagaimana menurut mu penampilanku dengan baju ini?" tanya Desy.
"Terserah kamu aja," jawab Bily ketus tanpa melihat ke arah Desy.
"Sayang, kenapa wajah kamu seperti itu, apa kamu tidak senang?" tanya Desy lagi yang melihat Bily hanya memainkan hapenya dengan wajah yang sangat datar.
"Kalau sudah selesai aku mau pulang," ucap Bily beranjak dari duduknya.
Desy hanya mendengus kesal melihat Bily yang mengabaikannya.
Bily, lihat saja aku pasti bisa mendapatkan hatimu! batin Desy mengepalkan tangannya.
****
Dian, Bunda Andara dan Arie sedang makan siang direstoran milik Bily.
"Akhir-akhir ini aku jarang lihat Bily, padahal tiap hari biasanya mesti main kerumah," ucap Arie di sela makannya.
"Mungkin Bily sedang lagi ada masalah," jawab Dian.
"Masalah apa Di, apa dia masih sering hubungi kamu?" tanya Arie penasaran.
"Kamu kenal Bily, Di?" kali ini Bunda Andara yang bertanya.
__ADS_1
"Iya kenal tante, ehmm aku kurang tahu juga sih, tapi beberapa hari yang lalu pas Bily ngajak aku sarapan disini, tiba-tiba ada seorang cewek datang dan mengaku dia sedang hamil, lalu setelah itu aku pergi karena gak mau ganggu privasi mereka," cerita Dian.
"Apaaa??!! Hamil ??!" teriak Arie dan Bunda berbarengan.