
Happy reading.
Drrrt drrttt.
Ponsel Arie berdering, seorang wanita yang baru keluar dari kamar mandi mendengarnya. dia melihat sebuah panggilan dengan nama 'sayangku' dilayar.
Tiya hanya tersenyum miring melihatnya. Arie tidak menyadari bahwa hp nya tertinggal dikamar Tiya. Sedangkan Arie telah pergi menjemput Bundanya yang sedang arisan karena sopir yang biasanya mengantar Andara tengah sakit.
Tiya mengambil ponsel itu, melihat panggilan dari Dian sudah yang ketiga kalinya. Tiya mendiamkan nya hingga deringnya terhenti.
'Nggak ada yang boleh deket sama Arie, karena dia cuma milik gue!'
Sedangkan di sisi lain.
Dian menghela nafas pelan, sudah panggilan ke 3 tetapi Arie tidak mengangkat panggilan nya. Biasanya dia selalu mengabari misal tidak bisa menjemputnya di butik. Padahal tadi Arie sudah berjanji mau menjemput dan makan malam bareng, karena siang tadi mereka tidak jadi jalan.
Tapi semenjak pulang dari rumahnya, Dian tidak mendapatkan pesan apapun dari kekasih nya tersebut.
"May, aku ikut pulang bareng kamu ya, Arie gak bisa jemput."
"Iya-iya, lagian kita juga serumah, emang Arie kemana Di?" tanya Maya.
"Nggak tau, lagi ada urusan mungkin," jawab Dian muram.
Tapi dia masih berusaha berpikir positif, mungkin sedang tidur atau sedang dijalan pikir nya. Karena tidak biasanya Arie tidak mengangkat telepon darinya.
"Ya udah yukk, nanti makan dirumah aja," ajak Maya. Dian mengangguk dan berjalan keluar butik.
****
Sedang didalam mobil, Arie masih menggerutu kesal karena setelah mendapatkan telepon dari Bundanya, dia lupa menaruh ponselnya, dan pergi begitu saja. Padahal dia harus mengabari Dian tapi tidak bisa karena ponsel nya tertinggal.
"Kami tuh yang ceroboh, masa Bunda yang disalahkan sih?" Andara tidak terima sejak tadi Arie menggerutu terus.
"Ya, habisnya Bunda tuh bikin Arie cepet-cepet, bilangnya harus cepat, jadi lupa kan nggak bawa HP!" Andara tersenyum melihat putranya yang tengah marah-marah karena tidak bisa menjemput kekasihnya.
"Dasar bucin," ucap Andara.
"Biarin, lagian ini tuh tadi Arie udah janji sama Dian, karena tadi kita nggak jadi jalan, gara-gara Tiya sakit perut, jadinya kan Dian pulang," Andara langsung menoleh mendengar ucapan sang putra.
"Nak, sebaiknya kamu dan Tiya tidak terlalu dekat, kalian kan udah sama-sama dewasa, kalau dulu masih kecil tidak masalah, bahkan dulu sering mandi bareng di kolam renang, tapi sekarang kamu dan dia sudah dewasa, maksud bunda bukan apa-apa, wong Bunda juga nggak ngelarang kamu dan Dian pacaran asalkan tidak melampaui batas, tapi ...!"
"Bunda apaan sih, jadi maksud Bunda tuh takut kalau Arie dan Tiya bakalan suka gitu? Hahaha, ya nggak lah Bund, Tiya juga cuma menganggap Arie saudara, kita besar bersama, kan?" Sela Arie. Andara hanya menghela nafas.
Mungkin memang benar yang dikatakan putranya itu, tapi entah kenapa perasaannya tidak enak.
Arie masih saja gelisah karena kepikiran Dian, dia akan minta maaf setelah ini.
'Semoga saja Dian tidak marah,' batin Arie.
Setelah sampai rumah dan memarkirkan mobil, Arie berlari meninggalkan Bundanya, dia langsung masuk ke kamar dan mencari ponsel tapi tidak ada.
"Nie ponsel kamu, tertinggal di kamar ku." Tiya menyerahkan HP Arie.
"Oh makasih ya, pantesan di kamar gue gak ada," Arie akhirnya ingat tadi dia memang masih menemani Tiya yang sakit perut dan mengelus perutnya, sebelum pergi karena mendapatkan telepon dari sang Bunda.
Setelah itu dia membuka ponsel dan melihat beberapa pesan dan 3 panggilan dari Dian, Arie langsung menelfon balik. Tapi yang menjawab hanya operator, nomer Dian tidak aktif.
"Kenapa gak aktif, apa dia marah?" gumam Arie.
Cowok itu berusaha kembali menekan tombol panggil, mungkin saja sinyal nya pas jelek, tapi tetap saja nomor Dian tidak bisa dihubungi.
"Kenapa Rie? nomernya gak aktif?" tanya Tiya yang langsung duduk didekat Arie.
"Hmm mungkin baterainya habis," jawab Arie pelan.
Tiya menyilangkan kakinya, dia memakai tanktop kuning dan hotpants memamerkan paha mulusnya. Tapi Arie tidak melihat itu dan berlalu ke kamar mandi.
Tiya mendesah kasar melihat Arie yang benar-benar cuek. Akhirnya dia hanya berbaring di ranjang king size milik Arie dan menatap langit-langit kamar cowok itu. Tiya benar-benar terobsesi dengan sepupunya itu, dulu sejak kecil Arie selalu ada untuk melindunginya. Arie bagaikan pahlawan yang selalu ada untuk Tiya.
Tiya merasa terlindungi, dia tidak pernah menyangka jika perasaan memiliki itu sudah tertanam sejak kecil. Bagi Tiya, Arie itu miliknya dan tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya selain dirinya.
Setelah lima belas menit kemudian, Arie keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit tubuh nya.
Sesaat dia kaget karena melihat Tiya yang tiduran di ranjang miliknya.
"Tiya, Lo bisa keluar bentar gak, gue mau pake baju," ucap Arie.
Tiya yang melihat Arie bertelanjang dada menelan salivanya, rasanya dia ingin menyentuh dada bidang itu.
__ADS_1
Arie melihat Tiya yang tidak berkedip melihatnya hanya berdehem.
"Ehemmm!"
"Eh iya, baiklah aku akan keluar," jawab Tiya gugup. Bahkan sekarang dia berusaha beraku-kamu saat memanggil Arie, tapi sepertinya tidak berlaku untuk cowok itu.
Tiya malu sekali, wajahnya pasti sudah memerah seperti udah rebus.
Dia ketahuan karena telah memandang lama tubuh sepupunya itu. Meskipun malu tetapi setelah melihat tubuh atas Arie yang polos tadi, dia semakin tertarik dengan sepupunya. Akal sehatnya seakan menghilang. Entah kenapa rasanya dia benar-benar ingin menjadikan Arie miliknya.
'Aarrgghh! Aku harus merencanakan sesuatu, agar Arie menjadi milikku selamanya!'
batin Tiya berteriak dalam hati.
*****
Malam ini Dian benar-benar resah, dia tidak tahu kenapa Arie tidak memberikannya kabar, tapi dia juga tidak mau menghidupkan ponselnya. Dian sengaja mematikan ponselnya karena kesal dengan Arie.
"Biar tahu gimana rasanya dicuekin!" Gerutu Dian.
Begitupun dengan Maya. Dia juga mematikan ponselnya karena dari tadi dia di telfon dari nomer yang tidak dikenal. Dia tahu kalau itu adalah Reva dan cowok memakai nomer baru.
Entah apa yang di inginkan mantan nya itu. Maya mendesah dalam hati.
'Bukankah dia sedang dinner dengan kekasih nya, kenapa terus saja menggangguku. Aku sudah memutuskan untuk melupakan mu selamanya. Sebenarnya apa mau mu Reva? sakit hatiku belum sembuh, dengan sikap kamu seperti ini luka itu tambah lebar, Hiks!'
Batin Maya menangis.
*****
"Aku gak mau putus! kenapa kamu tega kaya gini Rev? bukankah kamu bilang masih mencintai ku!!" teriak Ana di dalam mobil Reva. Cewek cantik itu tidak terima jika Reva tiba-tiba memutuskannya begitu saja
"Iya Ana, tapi waktu mengubah segalanya, aku mengira masih mencintaimu, tapi ternyata itu hanya nostalgia. Maaf aku sudah mencintai wanita lain," jawab Reva tegas. Kini dia sudah memantapkan hatinya. Reva tidak bisa melupakan Maya dan masih mencintai gadis itu.
"Siapa wanita itu Rev, siapa wanita yang telah merebut cintamu dariku!"
"Tidak penting siapa wanita yang ku cintai, waktu 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menghadirkan rasa ini untuk wanita lain. Yang jelas aku sudah mengetahui perasaanku sebenarnya untuk siapa, maaf Ana, mengertilah!"
Ana menangis meraung tidak terima, dia masih ingin tetap bersama dengan Reva. Cintanya masih begitu besar untuk cowok itu.
"Aku nggak mau!! Aku cinta kamu Rev!"
"Terus apa artinya kita sebulan ini? Kamu masih menerimaku dan kita juga sering jalan bersama, apa arti semua kata kangen dan rindu yang kau ucapkan untukku, kalau nyatanya kamu udah nggak cinta lagi sama aku!!" Seru Ana.
Dia memukul lengan Reva berkali-kali mengungkapkan rasa kecewanya.
"Aku pikir juga begitu, tapi setelah ku selami ternyata rasa cinta itu sudah padam, maaf!" Ujar Reva. Ana menggeleng tidak percaya.
Akhirnya dia membuka pintu mobil dan keluar, Ana menutup pintu dan membanting dengan kasar. Mereka masih berada di parkiran sebuah cafe.
Makan malam yang menurut Ana akan romantis ternyata malah menyakitkan hatinya.
Reva memang sengaja mengajak dinner malam ini karena dia telah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya yang baru sebulan itu.
Setelah memantapkan hatinya, ternyata dia memang sangat mencintai Maya lebih besar dari pada Ana. Sejak tadi cowok itu menghubungi nomor mantan kekasihnya
'Kenapa kamu mematikan ponselmu Maya, aku ingin kembali sama kamu. Kasih kesempatan ke dua untuk ku Maya,' batin Reva.
Dia hanya memandangi ponselnya. Sejak tadi sore Reva memutuskan untuk mencari nomer baru agar bisa menghubungi Maya. Berharap jika Maya mengangkat panggilannya. Tetapi setelah mengetahui itu nomer Reva akhirnya Maya mematikan ponselnya.
****
Keesokan paginya, Dian dan Maya sudah siap untuk ke pergi kampus, tiba-tiba dari arah depan muncul mobil yang sangat Dian kenal dan berhenti di dekatnya.
"Tuh, udah dijemput sang pangeran," Maya menyenggol lengan Dian.
Dian tersenyum senang melihat Arie menjemputnya. Semalam tidak membuka ponsel membuat Dian merindukan kekasihnya tersebut. Dia juga sudah melupakan kekesalannya karena Arie tidak menjemputnya.
Arie turun dari mobil dan menghampiri sang pujaan hati terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Selamat pagi sayang, kenapa ... hemmm? marah sama aku karena gak ngajarin kamu?" tanya Arie sambil mengelus puncak rambut Dian.
"He,em.. aku kesel dan marah! habisnya gak ngasih kabar sama sekali!" jawab Dian cemberut.
"Iya-iya maaf, kemarin hp aku tertinggal dirumah pada saat aku menjemput bunda, tadinya mau ngabarin kamu, eh tau-tau nya hp malah gak ada. Maaf ya," jawab Arie mencubit hidung Dian gemas.
"Iya, udah aku maafin kok,"
"Hai kalian berdua melupakan aku sendiri disini! uhh jiwa jomblo ku meronta," kesal Maya melihat pemandangan didepanya.
__ADS_1
kemudian dia masuk ke mobinya dan meninggalkan ke 2 orang yang lagi kasmaran itu. Apa mereka tidak tahu kalau Maya sedang patah hati, tapi di pameri kemesraan yang membuat batinnya meronta.
Arie dan Dian hanya terkekeh melihatnya.
Disis lain...
Serli dan Aldo sedang berencana mengadakan pesta. Seminggu lagi adalah hari ulang tahun Aldo. Dia berencana mengadakan sebuah pesta di sebuah hotel. dan meresmikan ke semua temannya bahwa dia dan Serli akan bertunangan setelah wisuda.
Ya, akhirnya keduanya menemukan apa yang dinamakan cinta sejati yang tulus. Aldo benar-benar mencintai Serli, rasa yang selama ini dia tepis dan akhirnya setelah tersambut.
Begitu pun dengan Serli, ternyata kenyamanan yang selama ini di berikan Aldo benar-benar membuatnya merasa dilindungi.
Memang sepertinya Serli benar-benar sudah move on dari Arie dan mendapatkan pengganti yang tidak kalah baik dan tentunya juga tampan dan kaya.
"Hai bro, apa kabar kabar?" sapa Aldo kepada 2 teman nya yaitu Bily dan Arie.
"Kabar kita baik banget, tumben mau nyamperin," sindir Bily.
"Hahaha, jangan ngomong gitu lah, kita kan masih sahabat, sorry bukan maksud gue menghindar, cuma lagi melipir aja, iya kan ri?" tanya Aldo kepada Arie dengan kode mata.
"Tentu saja," jawab Arie tersenyum
"Gue minta maaf sama kalian kalau selama ini gue sama Serli menghindar, bukan maksud gimana sih, cuma mau bantu Serli move on aja dari loe rie," ucap Aldo jujur.
"Iya gue paham banget sob," Arie menepuk bahu Aldo.
"Oh ya, minggu depan dateng ke pesta gue ya, ni undangan buat kalian, disitu ada alamat yang tertera dimana gue ngadain pesta nanti."
"Pesta? wow party nie..!" seru Bily.
"Iya, tapi wajib bawa pasangan masing-masing."
"Kalau gue ada Desy, kalau loe rie sama siapa? ehmm atau ajak Tiya aja, kalian berdua kan belum ada pasangan," ucap Bily, dia memang belum tahu tentang hubungan Arie dan Dian.
Aldo memandang ke arah Arie yang hanya di tanggapi dengan senyuman.
"Tenang aja kalian, gue juga udah punya pasangan. Jangan kaget ya ntar kalau lihat siapa pasangan gue," ucap Arie tertawa.
Aldo sudah bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Arie. Sedangkan Bily hanya bengong karena tidak tahu apa-apa.
Sore itu Serli memutuskan untuk pergi ke butik membeli sebuah gaun yang akan dia pakai untuk acara pesta Aldo.
"Selamat sore kak, bisa saya bantu?" tanya Dian ramah.
"Saya mau membeli gaun untuk acara ulang tahun," jawab Serli.
"Baiklah, mari saya antar untuk melihat-lihat gaun yang cocok pas untuk anda." ucap Dian.
Dian mengarahkan Serli untuk memilih gaun yang berkualitas bagus. Setelah beberapa kali mencobanya dia akhirnya memutuskan pilihanya kepada gaun yang berwarna merah.
Serli membayar di kasir dan kemudian dia membalik ke arah Dian.
" Terimakasih sudah menemani saya memilih gaun, nama ku Serli," ucap serli sambil mengulurkan tangan nya kepada Dian.
"Itu sudah pekerjaan saya, nama saya Dian"
ucap Dian menyalami Serli.
"Oke Dian, kalau gitu aku pulang dulu ya. " pamit Serli.
"iya, hati-hati dijalan."
Tiba tiba dari arah pintu, masuk seorang laki-laki tampan. Serli yang ketika akan keluar tidak sengaja melihat kedatangan Arie.
Arie... batin Serli.
Arie tersenyum melihat Dian yang berada di belakang serli, begitupun dengan Dian.
Arie menyadari ternyata di depan Dian ada mantan kekasinya, Serli.
"Hai sayang, ayo masuk, kok cuma berdiri di depan pintu, kamu menghalangi pintu untuk jalan keluar," ucap Dian yang melihat Arie mematung.
Deg...
sayang....
apaan ini....
bersambung.....
__ADS_1